Twin Sister

Twin Sister
eps-11


__ADS_3

sebelumnya.


Beberapa menit saat Vivian sudah kembali ke tempat kerja nya, tiba-tiba dua orang dengan pakaian rapi bersetelan jas tengah menghampirinya.


Orang itu terus menatap selembar foto yang ia pegang dan sesekali menatap Vivian. Vivian hanya terdiam sambil tersenyum ramah mengira dua orang itu adalah pelanggan yang datang berkunjung.


Perlahan dua orang itu saling menatap seolah memberi kode kemudian mereka mulai menarik tangan Vivian dengan sedikit kasar, Vivian terkejut akan sikap mereka yang tiba-tiba ingin membawanya.


"heii.. heii.. apa yang kalian lakukan..". ucap Vivian sambil berusaha melepas tangan mereka yang memegan lengan Vivian kiri dan kanan.


"nona.. kita harus kembali ke rumah sakit.. nyonya nanti mencari anda.. saya takut dia akan memarahi anda yang kabur dari rumah sakit.. nanti kami juga ikut dimarahi atas kelalaian kami dalam menjaga anda..". ucap salah satu dari mereka menjelaskan dengan lembut sambil tangannya menarik Vivian dan berusaha membawanya.


"pak.. apa maksud anda.. saya tidak mengerti.. rumah sakit.. saya tidak sakit..".


"tolong lepaskan saya.. saya masih harus bekerja..". ucap Vivian memohon dan berusaha melepaskan diri.


Dua orang pengawal itu tak menghiraukan permohonan Vivian sama sekali. mereka masih berusaha membawa Vivian kembali ke rumah sakit dengan paksa.


Dari dalam toko, Bella yang masih melayani pelanggan, tak sengaja tatapan nya tertuju pada Vvivian, ia melihat Vivian yang tengah di tarik paksa oleh dua sosok lelaki yang tak di kenal.


Dengan sigap, Bella perlahan meninggalkan pelanggannya dan menghampiri Vivin dengan wajah yang mulai panik.


"apa yang anda lakukan pada teman saya.. ini temen saya mau di bawa kemana..". tanya Bella pada dua orang itu dengan tegas.


"kami akan memebawanya kembali ke rumah sakit.. ini perintah nyonya..". ucap salah satu pengawal sambil menatap Bella.


"rumah sakit.. rumah sakit sebelah.. untuk apa.. teman saya tidak sakit..". ucap Bella lagi ingin memperjelas.


"iya.. kami harus secepatnya kembali. mohon anda tak menghalangi..". balas salah satu dari mereka dan berusaha menyingkirkan Bella dari hadapannya.


"pak.. saya ngga sakit.. saya mau kerja.. nanti bos saya marah pak..". bujuk Vivian pada pengawal itu dan masih berusaha melepasakan diri.


"tidak nona.. anda harus kembali ke kamar pasien.. kami harus melapor apa jika anda tidak kembali juga.. sebentar lagi juga malam.. anda memang sudah harus kembali..". ucap salah satu dari mereka menjelaskan agar Vivian mengerti dengan situasi.


Dari belakang Bella masih mengikuti mereka, berharap dua orang itu tak berbuat jahat pada Vivian. Vivian berbalik menatap Bella sembari membuat keputusan.


"rumah sakit sebelah.. aku ngga mau ke rumah sakit.. tapi dua orang ini terus memaksa.. takutnya dia akan berbuat kasar jika aku tidak mengikutinya.. pasti ada kesalahpahaman di sini.. aku bukan pasien.. apa yang harus ku lakukan..". batin Vivian berfikir.


"pak.. boleh saya berbicara sebentar dengan teman saya.. sebentar saja.. setelah itu saya akan mengikuti bapak.. saya tidak akan kabur.. saya janji..". ucap Vivian memohon agar mereka menuruti permintaan kecilnya.


"baiklah Nona.. tapi hanya sebentar saja..". balas salah satu dari mereka memberi syarat kemudian perlahan melepas tangannya dari lengan Vivian.


Vivian mulai menghampiri Bella yang terlihat panik. perlahan bela juga menghampiri Vivian yang tengah berjalan ke arahnya.


"Vivi.. Lo ngga papa kan.." tanya Bella panik sambil meraih tangan Vivian.


"gue ngga papa kok.."


"oh iya.. Lo jaga toko aja.. gue ngikut mereka dulu.. gue ngga mau nantinya Lo jadi terlibat..". ucap Vivian menjelaskan.

__ADS_1


"tapi Vi.. buat apa coba Lo ngikutin mereka..". balas Bella.


"udah.. ngga papa.. pasti ada kesalahpahaman di sini.. kamu kembali aja ke toko takutnya bos marah lagi.. gue bakal balik kok.. gue janji.. oke..". sudah Vivian pada Bella.


"iya.. tapi.. bener ngga papa nih kamu ngikutin mereka.. kalau mereka ngapa-ngapain kamu.. aaa.. jangan sampe deh..". balas Bella masih ragu.


"udah tenang aja.. sana..". ucap Vivian kemudian mulai kembali pada dua orang yang tak di kenalnya itu dan meninggalkan Bella yang masih menatapnya dengan panik.


"hati-hati..". teriak Bella saat melihat Vivian pergi bersama dua orang itu tanpa menarik paksa tangan Vivian lagi.


*


*


Dan disini lah Vivian berada, ia tak tau apakah yang ia lakukan ini benar dengan mengikuti dua orang pengawal itu.


Vivian hanya terus termenung sambil berfikir untuk kembali ke tempatnya bekerja bersama Bella sahabatnya.


"apa yang harus kulakukan..". gumam Vivian kemudian ia bersandar dan berjongkok di dekat pintu sambil tertunduk.


"aaaaaa..". teriak seseorang dari samping yang mengagetkan Vivian yang sedang termenung dalam tunduknya.


Mendengar teriakan itu, Vivian mulai menengadah penasaran akan sosok dari suara itu. Terkejut, Vivian melotot menatap Stella.


"dia.. dia bukanya orang gila tadi..". batin Vivian.


Terkejut, Rangga mulai memperhatikan wajah Vivian dengan saksama, dan sesekali ia menatap wajah Stella. ia mulai tercengang mendapati kemiripan di antara mereka berdua, hanya saja sekarang wajah Stella di tutupi oleh alerginya yang membuat ia sedikit berbeda.


"kalian.. Stella dia siapa.. aku belum pernah bertemu dengannya.. aaa kenapa aku bertanya.. sudah jelas dia kembaranmu..". ucap Rangga sambil menatap Stella kemudian mulai menggaruk kepalanya tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"apa.. kembaran..". sahut Vivian yang mulai bangkit dari jongkoknya sambil menatap Stella.


Stella mendekat pada Vivian, menatap dekat wajah vivian dengan saksama dan mulai menggagguk.


"ya ya.. dia sepertinya memang kembaranku.. tapi aku tidak tau kalau aku punya kembaran.. Oma juga tidak pernah bercerita tentang saudaraku..". ucap Stella yang juga terkejut sambil menatap Vivian kemudian menatap Rangga sembari es krim di tangannya mulai mencolok.


Teringat Oma, Stella mulai mencari keberadaan ponselnya dan membuang es krim yang ia pegang ke tempat sampah dekat sofa.


"heii.. apa maksud kalian.. kembaran.. aku.. dengan siapa.. dia..". Tanya Vivian yang panik tak mengerti dengan apa yang ia dengar sebelumnya.


"iya.. siapa lagi yang ada di sini.. tidak mungkin aku kan..". sahut Rangga yang juga syok dengan situasi ini.


"tapi.. bagaimana bisa aku kembar dengan orang gila seperti dia.. kau lihat wajahnya kan.. siapa pun yang lihat juga tau.. aku tidak mungkin kembar dengan nya..". jelas Vivian tak percaya kemudian mulai menilai Stella dari penampilannya sekarang.


"ha-ha-ha.. kau memang benar.. itu tidak mungkin.." ucap Rangga tertawa mendengar penjelasan Vivian yang terdengar polos.


"heii.. kalian ini.. jangan menghinaku.. terutama kau..". tegas Stella dari samping sambil menatap sinis pada Rangga yang masih tertawa kemudian dengan panik ia mulai membuka kunci layar hpnya ingin menelpon Oma.


Tut..tut..

__ADS_1


"anak tengik, mengapa kau menelpon ku.. aku akan menjemputmu besok.. bukan sekarang..". jawab Oma langsung saat tau Stella yang menelpon.


"omaaaaaaaa.. bukan saatnya bercanda.. aku ada hal penting.. aku punya kembaran di kamarku..". ucap Stella panik tanpa basa-basi.


"apa maksudmu.. apa kau sedang melihat dirimu di cermin.. jangan menggangguku.. aku lagi sibuk bermain game bersama Reza..". ucap Oma tak percaya.


"Oma ini.. aku bilang aku punya kembaran.. dia bersama ku di sini.. apa Oma tau bahwa aku punya kembaran.. kenapa tidak memberi tahuku.. sampai kapan kau akan menyimpan banyak rahasia dariku.. kalau kau tidak datang kemari sekarang kau bukan Oma ku lagi..". ucap Stella mengoceh dengan kesal sambil mengancam Oma agar datang menjemputnya.


"heii.. kau bilang apa..". jelas Oma tak percaya.


"sudahlah..". balas Stella mengakhiri.


tut..tut..


Stella mengakhiri panggilan kemudian ia mulai menatap Vivian dan Rangga yang tengah melongo menatapnya.


"apa.. kanapa kalian menatapku seperti itu..". ucap Stella kesal kemudian duduk di kasur pasien sambil melempar hpnya.


"dasar gadis ini.. apa yang barusan kau sampaikan pada Oma.. dia mana percaya kalau berkata seperti itu.. dasar tidak sopan..". ucap Rangga menceramahi Stella dari sofa tempat ia sedang duduk.


"tenang saja dia akan datang.. tunggu lima menit dia akan kemari dengan panik..". ucap Stella yakin sembari menyeringai menatap Rangga.


Vivian hanya menatap mereka tak tahu harus berkata apa. ia hanya terdiam sembari pikirannya terus mencerna situasi yang ia alami sekarang.


"apa benar aku punya kembaran.. keluarga memang mungkin tapi.. kembaran.. aaakk.. kepalaku semakin sakit memikirkannya..". batin Vivian berfikir.


"hei.. kamu ngapain berdiri di situ.. kemari.. duduk denganku..". ajak Stella pada Vivian, ia masih ingin menatap wajah Vivian yang terus membuatnya penasaran.


"siapa namamu..". ucap Stella saat Vivian duduk di sampingnya dengan malu-malu.


"Vivian Pratiwi.. kamu bisa memanggilku Vivi..". balas Vivian menatap Stella.


"baiklah.. kalau begitu namaku Stella Cornelia.. kamu bisa memanggilku Stella saja..". balas Stella santai memperkenalkan diri kemudian meraih tangan Vivian.


BRAKKKKK


Pintu terbuka lebar, Oma berdiri di depan pintu dengan nafas yang masih terengah-engah dan wajah yang terlihat panik sambil menatap Stella dan Vivian yang tengah duduk bersama.


To


Be


Continue


jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


jangan lupa like dan komen ya.


salam sukses dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2