
Di sisi lain, Rangga menghampiri Vivian yang tengah duduk bersama Kevin menikmati secangkir jus dan beberapa kue di salah satu meja. Rangga sudah tahu bahwa yang di hadapannya sekarang adalah Vivian, dengan sigap ia menyodorkan ponselnya yang masih terhubung dengan Stella.
Nama Stella terpampang jelas pada layar ponsel itu yang membuat Vivian membulatkan mata terkejut. Vivian menatap Rangga dan ponsel itu bergantian, ia juga kian merasa gugup akan hal itu.
“Ini maksudnya apa! Apa Rangga udah tau ya kalau aku Vivian!” ujarnya dalam hati dengan wajah yang tampak gelisah dan pucat.
“Ngapain bengong, seseorang ingin berbicara dengan mu!” desak Rangga yang mulai tak tahan akan kebisuan Vivian, ia meraih tangan Vivian dan memberikan ponselnya tanpa menyebut nama Stella, karena Kevin tidak tahu bahwa yang sedari tadi bersamanya adalah Vivian bukan Stella.
“Haihh, maksudnya apa coba?” gumam Vivian pasrah tak bisa menolak lagi.
Perasaan gelisah mulai menghantui Vivian, tak ada pilihan baginya selain menjawab panggilan dari Stella ini. Pikirnya Stella akan marah karena ia sudah ketahuan oleh Rangga. Tak ingin Kevin mendengar pembicara, Vivian berjalan keluar dari kafe, kafe yang letaknya bersebelahan dengan kampus.
Di tempatnya duduk, tatapan Kevin mengikuti gerak gerik Vivian, ia penasaran siapa gerangan yang ingin berbicara dengan sahabatnya itu hingga harus menjauh darinya.
“Ha halo Stella!” ucap Vivian gugup.
Tak ada jawaban dari Stella, Vivian makin gugup, pikirnya Stella sedang mempersiapkan semburannya.
Bruk...
Suara dentuman terdengar pelan di telinga Vivian, ia penasaran apa yang terjadi ada Stella.
“Hati-hati!” suara Stella akhirnya, mengucap satu kata yang membuat Vivian kebingungan.
“Stella, kamu baik-baik aja kan?"
“Kak Vivi ngga lupa kan sama aku?” ucap seseorang yang membuat Vivian terdiam kaku, jelaslah ia mengenal pemilik suara ini, bocah kecil yang selalu usil padanya, Evan.
“Aku kangen!” lanjut Evan sendu.
Vivian yang mendengar itu mulai berkaca-kaca, ia jiga merasakan hal yang sama “Ini Evan! Stella.. kenapa kamu bisa sama Evan?” ujarnya kian panik tak karuan, takut terjadi apa-apa pada bocah kecil yang di rindukannya itu.
Tak ada balasan sama sekali dari Stella, dengan panik Vivian masih melekatkan ponsel di telinganya, menunggu jawaban. Ingin sekali ia bertemu dengan sosok bocah yang membuatnya gelisa tak karuan.
“Kak Vivi, kami juga rindu!” terucap lagi kata rindu dari sana, membuat Vivian kian tak bisa membendung air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya.
Dari dalam kafe, heranlah Rangga dan Kevin yang melihatnya menangis di sana.
“Hei, siapa yang berbicara dengannya? Tidak biasanya dia menangis seperti itu!” ucap Kevin gelisah.
“Kau tak perlu tau! tapi memangnya Stella tak sering menangis?” tanya Rangga pula.
__ADS_1
“Menurut mu? Dia memang tak suka menangis, dia bilang tak ingin membuat orang lain kasihan melihatnya menangis! Dan yang sering membuatnya menangis adalah oma!” jelas Kevin, ia mulai tak tahan melihat sahabatnya menangis sendiri di sana.
“Oma!” gumam Rangga.
Kevin mulai beranjak dari tempatnya bermaksud menghampiri sang sahabat yang menangis sejadi-jadinya, tapi Rangga meraih tangganya, mengahalanginya agar Kevin tak kesana.
“Biar aku saja!” jelas Rangga kemudian berlalu menghampiri Vivian di sana.
Kevin terdiam, ia membiarkan Rangga menghampiri sahabatnya di sana.
Brakkk..
Tut.. tut.. tut..
Sambungan ponsel tertutup, tepat sebelum terputus suara dentuman terdengar keras di sana. Vivian kerap merasa panik, berusaha ia menahan air matanya yang terus mengalir.
“Vivian kamu ngga papa kan!” seru Rangga mendekat.
Mendengar namanya di panggil, Vivian tampak terkejut. Rangga terkejut melihatnya, ia kerap menenangkan Vivian dari tangisnya, mendekap perlahan sosok lemah itu. Pasti Stella sudah mengatakan tentang keadaan Ratih sehingga membuat Vivian bersedih seperti ini.
“Sudah, semua akan baik-baik saja! Bibi Ratih akan baik-baik saja!” ucap Rangga meyakinkan, yang perlahan mengelus pucuk rambut Vivian.
Rangga terkejut akan penuturan itu “Bukannya Stella sudah memberutahu kamu tentang bibi Ratih masuk rumah sakit! kau menangis karena ini kan?” ujar Rangga.
“Ru, rumah sakit! Stella ngga bilang apa-apa soal bibi Ratih atau rumah sakit! Kamu kenapa ngga bilang dari awal!” respon Vivian yang kian melepas diri dari dekapan Rangga, ia kembali panik, di rogohnya tas mencari keberadaan ponselnya.
“Stella belum cerita ya!” ujar Rangga merasa bersalah.
“Terus.. bibi Ratih di rawat di rumah sakit mana!” tanya Vivian lagi di sela sibuknya dalam memeriksa ponsel. Saat ponselnya sudah di tangan, Vivian mendapati beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Stella dan dua temannya, Bella dan Adit.
“A aku juga tidak tau!” balasnya pasrah, karena dirinya juga belum bertanya akan hal itu pada Stella.
Ia kerap mencari nomor Stella, ingin ia tanyakan tentang bibi Ratih, tapi terlebih dahulu ia sempatkan membaca beberapa pesan dari Bella. Dan benar saja, Bella memberi tahu keadaan dan dimana bibi Ratih di rawat melalui pesan singkatnya.
“Bibi Ratih ada di Dita hospital! Rangga.. boleh antar aku ke sana?” pintanya.
“Te tentu saja!” setujunya.
Mendapat persetujuan Rangga, Vivian kerap mendekati mobil lambhorgini yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Dari dalam kafe pula, Kevin buru-buru menghampiri mereka, berusaha mengejar mereka, menanyakan ada apa gerangan. Tapi terlambat, mobil yang membawa mereka juga kian menjauh darinya, menyusui jalan bersama pengemudi lain.
“Ada apa sih dengan mereka!” gumamnya.
__ADS_1
Sebelumnya ia terkejut akan perlakuan Rangga terhadap Stella. Padahal Rangga biasa berdebat dengan Stella. Baru pertama kali Kevin dapat melihat temannya itu akur dengan Rangga. Bukan akur lagi, lebih tepatnya mereka terlihat mesra bersama.
“Cih, aku di tinggal sendiri jadinya!” sambungnya yang kembali ke dalam kafe melanjutkan waktu sendirinya.
Selang beberapa waktu Rangga dan Vivian tiba di Dita hospital. Rangga mengikuti langkah Vivian yang buru-buru menyusuri tiap tangga dan lorong rumah sakit. Di salah satu ruangan tepatnya ruangan pasien nomor 15, Vivian membuka pintu, harapnya ruangan itu adalah tempat Bibi Ratih di rawat, seperti yang di katakan Bella dalam pesannya. Dan benar saja, mereka mendapati Ratih yang terduduk lemah di sana.
“Bibi” seru Vivian.
Ratih terkejut akan seruhan itu, ia heran mengapa Vivian di sini lagi, tapi setelah mengamati lebih dalam, ia tau itu bukan Vivian. Rangga juga mendekat, menatap sosok yang panggil Ratih itu.
Ratih mengerutkan dahi “Ini nak Stella ya!” tebaknya, mengingat Stella tak lain adalah saudari kembar Vivian yang pernah Vivian ceritakan.
Vivian terkejut, wajahnya yang sendu berusaha ia sembunyikan. Memang benar dirinya sekarang adalah Stella, pakaian dan tata rambutnya sekarang cerminan dari Stella, jadi jelaslah Ratih tak mengenalinya walau bwrat hati ia mengakuinnya.
Rangga menepuk bahu Vivian, ia tau apa yang tengah di rasakan Vivian sekarang. Vivian menatap Rangga, dan Rangga hanya membalas dengan anggukan pasrah, bermaksud agar Vivian mengaku saja sebagai Stella.
“Ya ampun.. Nak Stella mirip sekali dengan Vivian!” ujar Ratih yang kian meraih tangan Vivian, mengajaknya duduk di sisi ranjang kemudian pelan-pelan ia mengusap lembut pipi Vivian.
“Bibi tidak apa? Saya di kabari Vivian, jadi saya mengunjungi Anda!” ujar Vivian membalas sentuhan genggaman Ratih.
“Nak Stella baik sekali, bibi berterima kasih karena kamu mau menerima Vivian!”
“Bibi tidak perlu berkata begitu, bagaimana pun Vivian adalah saudariku!” balas Vivian, kemudian menatap Rangga yang masih setia di sana menatap mereka.
“Oh iya, dia teman saya bi, namanya Rangga!” sambungnya memperkenalkan Rangga.
“Maaf bi, kami datang kemari tak membawa sesuatu atau memberi kabar dulu!” ujar Rangga sopan.
“Tak apa nak!” belas Ratih mengerti.
“Tapi, bibi ini sakit apa?” tanya Rangga yang kian penasaran akan penyakit Ratih, karena dilihatnya sekarang wajah Ratih kian pucat dan lesu. Pikirnya, ini bukan hanya karena ke lelahan yang dapat membuatnya pingsan dan harus di rawat di sini.
Ratih hanya terkejut akan pertanyaan itu. Ia sungguh ingin merahasiakannya, dan tak ingin merepotkan anak muda ini, baik Vivian mampu Stella nantinya.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1