
Di panti asuhan, Stella dan Bella sedang mempersiapkan makanan siang sedangkan Adit bersama anak-anak bermain di taman.
Tapi Evan sedari tadi terus saja menempeli Stella. Stella jadi resah akan keberadaan Evan yang menghalang geraknya. Memang benar anak ini lucu, tapi Stella sudah tak melihatnya seperti itu jikala melihat situasinya sekarang.
“Evan, menjauhlah dari Vivian, dia tidak bisa bergerak karena mu!” seru Bella yang merasa serah melihat Evan sedari tadi mengekor dengan memeluk Stella dari belakang.
“Tidak akan, kecuali Kak Vivi memberimu sesuatu!” syarat Evan.
“Se sesuatu? Seperti apa!” ujar Stella yang kian heran, apa yang di inginkan anak kecil imut ini, moga saja bukan hal aneh, harapnya.
“Kakak harus pikirkan sendiri? Tidak ada hadiah aku tidak akan menjauh dari kak Vivi!” jelasnya lagi.
“Evan..” seru Bella, ia tau akan tingkah Evan sekarang yang tak lain sedang menggoda Stella, yang seperti biasa ia lakukan pada Vivian.
“Baiklah-baiklah, aku tidak akan mengganggu lagi, aku pergi bermain sekarang!” balas Evan yang langsung beranjak dari sana, tak mengganggu Bella dan Stella lagi.
“Anak itu..” ujar Bella menggeleng kepala.
“Maaf ya membuat mu repot!” sambungnya.
Stella terkejut akan penuturan itu, mengapa gerangan Bella meminta maaf, salah apa yang sudah ia lakukan “A ada apa? da dan maaf untuk apa?” tanya Stella gugup.
“Sudahlah, kamu tidak perlu menjadi Vivian lagi, sekarang kita hanya berdua!” jelas Bella.
Stella semakin terkejut, sungguh tak terduga bahwa Bella mengenalinya “Ka kamu tau dari mana?” tanya Stella canggung.
Bella tersenyum “Dari situ!” balasnya seraya menunjuk ponsel Stella yang bertuliskan pesan singkat dari Rangga, menampilkan walpaper yang tak lain foto keluarga Cornelia. Dan lagi, Bella tak melihat cincin yang sering di pakai Vivian, cincin berharga layaknya Vivian sendiri.
“Hehe.. Maaf, aku han..” ujar Stella malu.
“Sudah, jangan di pikirkan lagi, aku malah ingin berterima kasih padamu karena mau datang kemari, mau menemaniku melewati ini sebagai pengganti Vivian!” jelas Bella yang merasa tak masalah akan apa yang di lakukan Stella sekarang ini.
“Aihh, apa sekarang.. Aku seperti tidak tau malu saja, tapi biarlah jika itu membantumu, setidaknya tidak sia-sia aku di sini, wa walau sudah ketahuan, tapi tolong jangan bilang ke Adit ya.. plis..” jelas Stella yang kerap menunjukkan sisi dirinya karena Bella juga sudah tau akan sosoknya, harapnya Adit tidak tau tentangnya.
"Hmmm..." angguk Bella menyetujuinya.
“Dan lagi, dari tadi ponsel Vivian tidak bisa di hubungi! sebenarnya ada apa dengannya?” sambung Stella.
Tringg.. tringg..
Stella dan Bella terkejut akan deringan ponsel, mereka menatap ponsel masing-masing, kiranya salah satunya yang berbunyi. Tertulis nama Vivian di layar ponsel yang tak lain ponsel Bella.
“Hmm.. Baru saja di bicarakan, dia sudah menelepon!” serunya kemudian menyambungkan panggilan, dan dengan semgaja ia mengaktifkan spiker agar Stella juga mendengar suara Vivian.
“Halo Bella, di mana kau sekarang?” tanya Vivian saat panggilan tersambung.
“Aku ada di panti, ada apa?”
__ADS_1
“Tidak, aku hanya ingin minta tolong padamu, tolong bawakan beberapa pakaian bibi?”
“Pakaian? Di mana kau?”
“Aku di rumah sakit tempat bibi di rawat!” jelas Vivian.
“Kau di sana! Dengan siapa?”
“Aku bersama Rangga, oh iya, Rangga juga akan ke panti menjemput Stella, soalnya Oma mencarinya!” jelas Vivian memberi tahu, Oma menelpon Rangga demi mencari Stella karena suatu hal yang harus Stella lakukan.
“O oma mencariku! Kenapa?” seru Stella pula.
“Sudah, nanti kau akan tau saat bertemu Oma, kalau begitu aku tutup dulu, aku masih harus menemani bibi, aku menunggumu Bella!” jelas Vivian kemudian mengakhiri panggilan.
Stella dan Bella saling menatap, mereka masih mencerna situasinya sekarang.
“Jadi aku harus menunggu Rangga bukan?” seru Stella akhirnya, memecah keheningan di antara mereka.
“Sepertinya begitu, aku juga harus mempersiapkan beberapa pakian bibi” jelas Bella.
"Tapi, ada apa dengan bibi? mengapa harus menginap di rumah sakit, bukannya dia bilang hanya kelelahan!" tanya Stella, dan mereka mulai bertanya-tanya ada apa gerangan dengan Ratih.
"A aku juga tidak tau, semoga saja bibi akan segerah kembali!" harap Bella.
“Hmm.. Sebaiknya kita selesaikan ini, tapi aku hanya bisa membantumu sedikit, karena aku sama sekali tidak bisa memasak! Dari tadi aku sudah cemas akan memasak apa, bagaimana nantinya aku memasak, hal itu memenuhi otak ku!” gerutu Stella memberi tahu ke gundahannya yang terpendam beberapa menit lalu.
“Tidak masalah, bantu aku siapakan ini saja!” balas Bella memberi pengertian dan mulai memberi tugas pada Stella.
Sementara itu, di rumah sakit, tepatnya di depan kamar pasien tempat Ratih di rawat, Rangga dan Vivian masih berbincang. Pinta sebelumnya Oma tak lain adalah menyuruh Stella kembali untuk pemeriksaan mingguan, karena dokternya sudah menunggu di rumah.
Setelah mendengar itu, Vivian menelpon Bella, yakin bahwa Bella bersama Stella sekarang ini. Dan benar saja, dugaannya tepat. Setelah memberi tahukan itu pada Stella, Rangga juga meyakinkan Oma bahwa ia akan segera membawa Stella kembali.
Oma sendiri tak menelepon Stella karena tau bahwa Stella tak akan mengangkat panggilan darinya jika mengatakan tentang kehadiran dokter Rahma. Dokter yang tak lain orang terhebat dan ternama di rumah sakit yang Oma bangun sendiri, rumah sakit peninggalan dari sang putra dan menantunya, dan sekarang di pimpin oleh ayah Kevin sebagai direkturnya.
“Rangga, cepatlah kamu jemput Stella di panti asuhan Ratih! Entah apa yang dia lakukan di sana?” perintah Vivian.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, hubungi aku saja jika kau butuh jemputan nanti!” balas Rangga yang perlahan menjauh dari pandangan Vivian.
“Baiklah-baiklah, hati-hati!” jelas Vivian menatap kepergian Rangga.
Vivian menarik nafas dalam-dalam, kemudian kembali ke dalam ruangan di mana Ratih masih menunggu. Pertanyaan yang ditanyakan Rangga sebelumnya belum terjawab akibat panggilan Oma yang mencari Stella, cucu kesayangannya.
“Bibi, saya akan menemani anda di sini!” seru Vivian saat memasuki ruangan.
“Hmm.. Kamu tidak perlu pura-pura lagi Vivian!” jelas Ratih yang sudah tau bahwa sosok di hadapannya tak lain adalah kebanggaannya, Vivian.
“Vi.. Da darimana bibi tau ini aku?” tanyanya yang kian terkejut kaku.
__ADS_1
“Hmmm, memangnya Stella saudari mu juga memakai cincin yang sama dengan mu!” jelas Ratih memberitahu, sedari tadi ia tau karena melihat cincin yang melingkar di jari Vivian, cincin peninggalan orang tua angkatnya yang sudah di hafal betul oleh Ratih sendiri, baik bentuk dan ukiran cincin itu.
“Ja jadi bibi mengenaliku!” ujar Vivian, kiranya Ratih tak mengenalinya karena dandanannya sekarang.
“Jelaslah bibi mengenalimu, hanya saja bibi tetap diam di depan teman mu itu” jelasnya.
“Ternyata begitu!”
“Tapi, siapa pemuda tampan itu?” tanya Ratih yang sebenarnya belum bertemu Rangga sebelumnya.
“Tadi aku sudah memperkenalkannya Pada bibi!”
“Tapi Kamu hanya menyebut namanya saja!”
Vivian bernafas kasar “Baiklah, dia itu bodiguard Stella, kami tinggal serumah, lebih tepatnya bersebelahan kamar!” jelas Vivian.
“Oh begitu, dia anak yang baik!” puji Ratih.
“Saaangat baik!” tambah Vivian.
“Hmm, apa kau tertarik padanya?”
“Bibi jangan sembarangan, dia hanya temanku!”
“Terserah saja, tapi yang ku lihat kalian cukup. serasi!” goda Ratih.
“Sudah! Se sebenarnya bibi ini sakit apa, tadi bibi juga belum sempat menjawab pertanyaan Rangga!” tanyanya.
Ratih terdiam “Bibi hanya kelelahan saja!” balasnya yang tak ingin menceritakan penyakitnya.
Bib.. Bib..
Rangga sudah tiba di panti asuhan, ia memarkirkan mobil di taman. Suasana panti tampak sunyi, Rangga berjalan menghampiri pintu, berharap semua orang ada di dalam. Pada salah satu jendela, Rangga melihat Stella yang duduk di sebelah Adit, mereka sedang menikmati makanan bersama anak-anak dalam satu meja.
“Ga gadis itu bersama Adit? Pantas saja ponselnya tak di hiraukan, ada Adit di dekatnya!” jelas Rangga yang langsung kesal menatap mereka di sana.
Tok.. tok..
Rangga mengetuk pintu sebelum masuk, memberitahukan kehadirannya.
“Rangga, kamu masuk saja” seru Stella yang langsung tau bahwa Rangga sudah datang menjemputnya.
Rangga acuh tak acuh bersama raut wajahnya yang masam “Aku masuk, permisi!” jelasnya, kemudian menuju meja makan dimana Stella bersama yang lainnya menyantap makanan.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.