
"Kalian ini.. keluar dari ruanganku.. bertengkar di luar saja.." ucap Shinta yang mulai kesal melihat pertengkaran kecil Dehan dan Stella.
Mendengar ucapan itu, Dehan dan Stella sama sekali tak peduli seraya mata mereka saling mentap tajam. Rangga dan kevin juga Vivian terkejut akan ucapan shinta. Dari belakang, Rangga mulai merasa sedikit canggung tak tau harus berkata apa.
"Anu.. saya datang untuk memperkenalkan karyawan baru.. ini perintah oma.." sahut rangga.
Mendengar ucapan canggung Rangga, Shinta menatap Vivian yang berdiri tepat di samping Kevin.
"Aaa.. aku hampir melupakannya.. dan kalian, keluar.." ucap Shinta memerintah seraya menatap Stella dan Dehan.
"Tidak.. aku masih ada urusan di sini.. kau saja yang keluar.." balas Dehan ketus menyuruh Stella keluar.
"Aku juga ada urusan.. dasar gila.." balas Stella tak terima seolah mengejek.
"Apaaa.. wanita aneh ini.. iii.." ucap Dehan seraya mengangkat tangan dan mengepalnya dengan kesal menahan emosi.
"Kalian berdua ini apa tuli.. aku menyuruh kalian keluar.. ke..luarrrr.." bentak Shinta yang membuat orang dalam ruangan terkejut bahkan orang yang sibuk bekerja di balik ruangan ini juga mendengar bentakannya.
Deg..
Stella terkejut, ia kemudian mundur beberapa langkah kemudian berbalik dalam diamnya meninggalkan ruangan dan di ikuti Dehan dari belakang.
"Gawat.. bos sudah marah.. apa gajiku akan di potong.. gara-gara gadis sial ini.." batin Dehan kesal.
"Bibi barusaja marah.. aku bahkan belum pernah di bentaknya seperti itu.. bibi tak akan mengadu pada oma kan.. bisa-bisa oma juga akan menghukumku.. sial.. ini semua gara-gara orang aneh ini.." batin Stella seraya menatap Dehan dengan kesal.
Saat setelah Dehan dan Stella keluar dari ruangan direktur, mereka mendapati para karyawan yang tengah menatap heran pada mereka.
"Tatapan apa ini.. apa mereka juga mendengar teriakan bibi.." batin Stella menebak seraya menatap canggung pada karyawan yang menatapnya.
"Cihh.. merepotkan saja.. ikut aku ke ruangan.." sahut Dehan yang juga sadar akan tatapan yang mengarah pada mereka seraya memberi perintah pada Stella dengan nada ketus.
"Kenapa aku harus ikut dengan mu.." ucap Stella menegaskan.
"Apa kau lebih suka berdiri di sini..". balas Dehan ketus.
Mendengar ucapan itu, tanpa pikir panjang Stella hanya mengikuti Dehan menuju salah satu ruangan yang yang lain adalah ruangan asisten direktur.
"Ohh.. pantas saja bibi bilang dia orang kepercayaan.. ternyata asisten direktur.." gumam Stella seraya memasuki ruangan.
"Apa ini.. kenapa ruangannya gersang sekali.. dukumen dimana-mana.. apa nantinya aku akan seperti dia.." ucap Stella yang melongo di depan pintu seraya mengamati seluk-beluk ruangan Dehan yang di penuhi tumpukan dokumen.
"Kenapa kau berdiri di sana.. dasar aneh.." sahut Dehan yang mulai duduk di singgahsananya.
"Jangan sebut aku aneh.. Stella.. namaku Stella, ingat itu.." balas Stella ketus seraya mendekat ke salah satu kursi.
"Baiklah nona aneh.. tapi siapa yang menyuruhmu duduk.." ucap Dehan ketus seraya menatap Stella yang mulai duduk di kursi.
"Apa maksudmu.. aku mau duduk.." balas Stella kesal dengan wajah masamnya.
"Apa kau lupa, sekarang ini aku seniormu.. kau ada di bawah perintahku.. ingat.. berdiri.. aku tak menyuruhmu duduk.." balas Dehan dengan senyum menyeringainya seolah mengerjai Stella.
"Aaakkk.. dasar si gila ini.. apa dia mau menindasku.. menyebalakan.." batin Stella kesal seyara berdiri dari duduknya.
"Kemari.. aku harus menjelaskan beberapa hal selama kau jadi juniorku.." ucap Dehan memerintah seolah sengaja.
__ADS_1
"Si gila ini.. apa rencana mu.. dia bisakan mengatakannya dari sana saja, tidak ada orang lain di sini.." batin Stella berfikir.
"Hmm.. mau mengerjaiku yaa.. baiklah aku terima tawaran mu senior.." lanjut Stella seraya menyeringai tajam merencanakan sesuatu kemudian perlahan mendekat pada Dehan yang duduk cantik di singgahsananya.
Saat Dehan mulai sibuk membuka lembaran dukomen mengenai peraturan yang telah ia tulis sebelumnya, dengan maksud ingin menunjukkannya pada Stella.
Tiba-tiba Stella duduk di atas meja dengan gaya seksinya dan tangan kanannya mulai menarik dasi dehan yang membuat Dehan terkejut dan tak fokus pada dukumennya. Perlahan Stella mendekatkan wajahnya menatap Dehan yang tercengang kaku.
"Gadis aneh ini.. apa yang dia lakukan.." Batin Dehan seraya menatap Stella yang mendekatkan wajahya.
"Hmmm.. apa kau bisa menolak pesonaku sekarang senior.. tapiii.. siapa pun yang melihatku sekarang pasti berfikir aku wanita penggoda.. akk.. aku hanya bermaksud mengusili senior gila ini.. ya tuhan maafkan aku.. aku tidak akan macam-macam.." Batin Stella.
Krek..
Pintu terbuka, bediri sosok Rangga yang tengah melongo menatap Stella dan Dehan, seraya pikirannya mulai menebak hal yang tidak-tidak.
"Gadis cerewet.. apa yang kau lakukan.." teriak Rangga kesal dari depan pintu.
Terkejut, Stella dan Dehan menatap Rangga. Perlahan Rangga mendekat kemudian dengan sigap memukul tangan Stella yang sedari tadi memegang dasi Dehan seraya memisahkan mereka.
Plak..
Pukulan mendarat di tangan Stella, kemudian Rangga menarik tangan stella agar turun dari meja.
"Aakk.. sakit.." ringis Stella saat setelah tangan Rangga mendarat dengan keras di tangan kanannya.
"Apa yang kau lakukan.. apa kau sudah gila.." bentak rangga kesal seraya menatap stella tanpa memperhatikan dehan yang melongo menatapnya.
"Aakk.. gila, aneh.. kalian ini selalu saja memanggilku seperti itu.. aku muak mendengarnya.." bentak Stella kesal kemudian ia keluar dari ruangan.
"Gadis ini membuatku kesal saja.. apa yang baru saja dia lakukan dengan senior.." batin Rangga.
"Apa gadis itu marah.. sungguh gadis aneh.. barusan itu.. dia mau melakukan apa.. jangan-jangan dia mau mencuimku.. dengan bibir kotornya.." Batin Dehan yang berusaha mengerti situasi.
"Haiihh.. senior.. maafkan saya atas sikap Stella.. tolong anda maklumi.. dia memang suka semaunya sendiri.." Sahut Rangga dari samping menjelaskan seraya menatap polos pada Dehan berharap Dehan tak marah akan sikap stella.
"Sudahlah.. aku tidak tau ada apa dengan dia.. tapi bisakah kau memanggilnya kembali.. banyak dokumen yang menunggu.. setidaknya ajak dia agar membantu.." ucap Dehan yang beusaha tak peduli.
"Baiklah.. kalau begitu saya permisi dulu.." balas Rangga kemudian meninggalkan ruangan mencari kebaradaan Stella.
Rangga menyusuri koridor dan sesekali mengamati tiap sudut ruangan berharap ia mendapati Stella.
Dan benar saja ia mendapati Stella di salah satu ruangan dan di temani dengan Kevin dan Vivian seraya memakan es krim. Rangga yang melihatnya mulai tak bisa berkata-kata.
"Haih.. gadis ini menyusahkanku saja.. oma sudah melarangnya memakan es krim.. tapi.. dari mana asal es krim itu.. di sini tak ada penjual es krim.." gumam Rangga seraya mendekat dan merebut es krim dari tangan Stella.
"Heii.. es krim ku.." ucap Stella saat es krimnya berada di tangan Rangga.
"Apa kau lupa.. oma melarangmu makan es krim.." ucap rangga mengingatkan.
"Oma tidak di sini.. kembalikan..". balas Stella ketus seraya merebut kembali es krimnya.
"Mengapa kau di sini.." lanjut Stella ketus.
"Senior menyuruhku memanggilmu.." ucap Rangga.
__ADS_1
"Tidak mau.."
"Stella.. sana.. apa kau mau di sini terus.. aku dan vivian juga sedang kerja nih.." sahut Kevin seraya menatap tumpukan dokumen di mejanya.
"Stella.. ini kan hari pertama mu kerja.. jangan meninggalkan kesan buruk.." sahut Vivian memberi saran.
"Haihh.. baiklah.. aku tak akan menggangu.. tapi biarkan aku di sini.. aku tak peduli pada bisnis sama sekali.." balas Stella ketus seraya menikmati es krimnya.
"kau ini.. apa begini cara kesal mu.." bentak Rangga yang kesal akan sikap Stella.
"Kenapa.."
"Ikut aku.." ucap Rangga seraya menuntun Stella keluar dari ruangan Kevin.
"Jangan tarik-tarik bisa kan.. tanganku sakit.." ucap Stella.
"Kau ini.. apa tidak bisa menurut saja.. jangan keras kepala begitu.." ucap Rangga seraya berbalik menatap Stella seolah membujuk.
"Aku memang keras kepala.. aku mau pulang saja.." ucap Stella ketus kemudian mulai berbalik.
"Haih.. apa kau marah karena selalu mendengar umpatan aneh dan gila.. atau karena aku memukulmu barusan.." ucap Rangga sendu seraya memegan tangan Stella, menahannya agar tak melangkah.
Mendengar ucapan Rangga, Stella serasa tersadar akan alasan kekesalanya, ia mulai sadar akan sikapnya yang menyusahkan Rangga seraya berbalik menatapnya.
"Haihh.. sudahlah.. kita kembali saja.." ucap Stella pasrah.
"Kembali? ke rumah kah.." balas Rangga menebak.
"Maksudku ke ruangan senior gila itu.." tegas Stella yang menyadarkan Rangga.
"Hmp.. kau mengumpat lagi.." ucap Rangga seraya mengikuti Stella.
"Haihh.. mulutku tidak punya rem.." balas Stella ketus.
Krek..
Stella membuka pintu seraya mendekat pada Dehan yang sibuk dengan dokumennya dan di ikuti Rangga dari belakang.
"Kau sudah kembali.. ini.. baca dan susun semua dokumen itu.." ucap Dehan memerintah saat Stella dan Rangga mendekat.
"Haih.. baiklah.. hanya baca dan menyusun saja kan.." ucap Stella seraya mengambil beberapa dokumen dan di bantu Rangga.
"Hmm.. gadis ini apa sudah mau menurut.." batin Dehan seraya menatap Stella kemudian mengingat kejadian sebelumnya.
"Apa yang aku pikirkan.." lanjut Dehan kemudian mulai fokus pada lembaran kertas yang menumpuk di mejanya.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tomoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1
Salam sukses dan terima kasih.