Twin Sister

Twin Sister
eps 31


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan?” tanya Rangga saat tiba di sana.


Stella terkejut, Rangga sekarang seolah mengingatkannya akan dirinya yang mengganti Vivian di sini.


“Rangga ini kenapa sih, apa sengaja bertanya begitu, sudah tau aku di sini jadi Vivian dia masih bertanya!” batin Stella.


Stella beranjak dari duduknya menghampiri Rangga di sana. Dengan sigap ia menarik Rangga keruang tamu.


“Apa yang kau lakukan, ayo pergi sekarang!” jelas Rangga yang kerap menuntun Stella bersamanya.


“Tu tunggu dulu, bisakah kita pergi setelah makan? Kau juga ikutlah!” jelas Stella mengulur waktu agar ia dan Oma tak bertemu secepatnya.


Rangga terpaksa menerima ajakan Stella itu, mata sedari tadi memandangnya dan ia hanya membalas dengan senyum cengirnya. Ia juga ikut bergabung dan ikut makan dalam satu meja bersama anak-anak itu. Rangga mengambil tempat duduk tepat di samping Adit, tempat Stella duduk sebelumnya.


“Kak Vivi, dia siapa? Tidak mungkin pacar kakak kan? Aku lebih suka jika kak Adit yang jadi pacar kakak!” sahut Evan yang sedari tadi mengamati Rangga, ia langsung mengungkapkan ketidak sukaannya pada Rangga.


“Evan, jangan seperti itu! Kakak Rangga ini juga taman kakak, ya walau Kak Adit memang lebih baik sih!” tambah Stella yang kerap mengagungkan Adit dan menatap Rangga dengan seringainya.


Mendengar itu, Rangga membalas tatapan Stella dengan senyum terpaksa, menahan kesalnya atas sikap Evan dan Stella ini, tapi tetap saja ia berusaha bersabar hingga makan siang ini selesai.


“Sudah.. Kalian makan saja!” lerai Bella dengan senyum sopan.


Selang waktu singkat mereka selesai dari kegiatan makan siang itu. Beberapa menit Rangga duduk di sana saat makan siang selesai, dan suasana di meja ini masih riuh akan tawa anak-anak yang bercanda bersama Stella.


Pada layar ponselnya, pesan kerap berdatangan dari Oma yang mulai tak sabar menunggu kepulangan Stella. Rangga kian mencari cara agar bisa membawa Stella kembali, dan langkah pertamanya sekarang adalah memisahkan Stella dengan anak-anak itu.


“Hmm.. Hari ini Vivian sungguh lucu!” ujar Adit yang kerap tersenyum menatap Stella di sana, ia masih belum tau bahwa yang di lihatnya itu adalah Stella.


Rangga mendengar penuturan itu “Apa dia akan tersenyum seperti itu jika tau kalau Vivian yang dia lihat adalah Stella” batin Rangga berdecak kesal.


“Dia juga sama saja, bahagia bersama anak-anak itu, sampai-sampai tak melihat ku sama sekali yang sedari tadi menunggunya di sini!” sambung Rangga kesal.


Sesekali Rangga memberi kode, tapi Stella sama sekali tak menggubrisnya. Rangga juga semakin kesal lantaran pesan Oma terus berdatangan menanyakan keberadaannya dengan Stella sekarang.

__ADS_1


Sebisa mungkin Rangga mencari alasan untuk mengulur waktu. Perlahan ia mendekati Stella di sana. Tanpa pikir panjang ia menarik tangan Stella. Stella terkejut, berusaha ia melepas tangan Rangga darinya yang terus saja menarik dan memaksanya ikut bersama.


Di tempatnya duduk pula, Adit melihat mereka, sikap Rangga yang memaksa membuatnya tak suka. Dengan sigap, Adit meraih tangan Stella yang satunya. Stella tambah terkejut begitu pula dengan Rangga. Sekarang dirinya berada di tengah dua pria ini dan dua pilihan.


“Apa yang kau lakukan?” tegas Rangga bertanya, Adit yang menghentikannya sekarang makin membuatnya kesal di tambah lagi, tangannya masih memegangi tangan Stella.


“Seharusnya aku yang bertanya begitu, apa yang ingin kau lakukan pada Vivian?” Adit malah bertanya kembali.


“Hmm.. Vivian? Jadi kau masih mengira dia ini Vivian! Kau salah besar, dia Ste..” ujar Rangga yang terhenti karena tangan Stella sudah mendarat di bibirnya.


“Hampir saja..” batin Stella lega karena masih sempat menyumpal mulut Rangga agar tak menyebutkan namanya.


“A ada apa?” tanya Adit heran melihat tingkah mereka berdua yang sedang beradu dalam diam dengan tatapan elang.


Sekuat mungkin Stella terus menempelkan tangannya dia bibir Rangga “Haha, tidak ada apa-apa! Kalau begitu aku permisi dulu, Oma sedang menungguku sekarang, jaga anak-anak ya!” ujarnya dengan senyum cengirnya menyelesaikan perkara kemudian berjalan tertatih bersama Rangga keluar dari sana.


“Hati-hati di jalan!” jelas Adit seraya menatap kepergian Rangga dan Stella yang meninggalkan seribu pertanyaan baginya.


“Mereka ada urusan!” jelas Adit.


“Tapi, sebenarnya apa maksud Rangga tadi!” gumamnya ia ke pikiran akan ucapan Rangga yang belum selesai tadi.


Sekarang Stella dan Rangga sudah di mobil, Stella kesal lantaran masih ingin menikmati waktunya di sini tapi Oma sudah mengutus Rangga kemari untuk membawanya pulang.


“Kamu ini apa tak ingin pulang, Oma sudah menunggu di rumah bersama dokter Rahma, dan aku sudah bersabar menanggung kekesalan Oma untukmu!” jelas Rangga.


“Do.. Dokter Rahma? Tidakkkkk, aku tidak ingin pulang, lebih baik aku di sini saja!” jelas Stella, ia baru ingat akan hari ini, tak lain hari pemeriksaan untuknya yang di adakan sekali seminggu, entah mengapa dan untuk apa pemeriksaan ini dilakukan tapi Stella selalu rutin menjalankannya atas kemauan Oma.


Tapi akhir-akhir ini dokter Rahma dan juga Oma semakin tegas dan membatasi ruang geraknya, sehingga ia menolak melakukan semua pemeriksaan itu lagi.


“Tidak ada penolakan, kita harus pulang sekarang!” tegas Rangga yang seolah tak peduli akan penuturan Stella, susah payah ia sampai di mobil, tak mungkin lagi ia membiarkan Stella kembali ke panti itu dan bermain bersama anak-anak itu lagi, ini mencakup tugas dan tanggung jawabnya dalam menjaga Stella.


“Tidak.. Ku mohon aku ingin tu.. run!” ujar Stella yang masih menolak dan ingin membuka pintu tapi Rangga sudah lebih dulu memasangkan sabuk pengaman padanya.

__ADS_1


Stella terkejut akan Rangga yang tiba-tiba melakukan itu, sedekat mungkin Rangga menatap tajam pada Stella, membuat Stella terdiam kaku membisu.


“Kau.. Jangan bergerak kalau tidak..” ujarnya dengan serius dan kerap mendekat.


“Ka kalau tidak apa..” balas Stella yang kian gugup dan tak berani menatap mata Rangga.


“Hmm.. Tidak ada!” jelas Rangga seraya menyentil dahi lebar Stella kemudian mulai melajukan mobil.


Rangga tersenyum, ia puas menggoda Stella barusan, tapi rasanya jantungnya ingin melompat keluar saat melakukan hal tadi.


Mendapati sentilan itu, Stella terdiam hingga mobil melaju, ia tak sadar dengan apa yang terjadi barusan “Aaaaaa.. Kau ini sudah berani ya menggoda ku!” kesal Stella dengan penuh amarah saat otaknya mulai encer.


“Hmm.. Sudah diam!” senyum Rangga kemudian menatap kesal pada Stella.


“Hmm..” balas Stella dengan menatap kesal kemudian memalingkan wajahnya menatap keluar jendela.


Stella menatap lesu setiap tempat yang di lewati. Pada salah satu trotoar tepatnya di dekat lampu lalu lintas, sepasang ke kasih tengah bertengkar. Dan Stella terkejut saat mendapati mereka yang tiba-tiba berciuman di sana, layaknya ia tengah menonton drama romans korea.


Stella terbawa suasana, ia menggigit bibir bawahnya bersama dahinya yang kian berkerut, respon atas apa dilihatnya itu.


“Be berani sekali mereka melakukan itu di pinggir jalan! Tapi.. Itu sangat romantis! Kapan aku bisa mendapat pangeran berkuda putih!” gumam Stella akan imajinasinya yang mulai merajai otaknya.


Matanya Stella masih saja menatap sepasang ke kasih itu hingga mereka tak terlihat lagi. Dari sampingnya, Rangga samar-samar mendengar gumaman itu.


“Pangeran berkuda putih? Kalau begitu, tunggu aku datang bodoh!” batinnya yang kerap tersenyum, pikirnya hanya ia yang bisa menjadi pangeran berkuda puti untuk Stella nantinya.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


__ADS_2