
Dari dalam rumah, Vivian mengajak Bella dan Adit duduk di salah satu ruang tamu dengan dinding kaca yang transparan.
"Vi.. itu kembaran kamu?" tanya Adit yang masih heran seraya menatap Stella dari balik kaca itu.
"Iya.. sebelumnya aku belum cerita ke kamu.. sorry deh.." sahut Vivian kecewa.
"Bukan itu masalahnya, tadi gue langsug peluk dia, gue pikir itu lo.. apa kembaran mu itu berfikir aku ini mesum.." balas Adit yang serius seraya mulai duduk menatap Vivian dan Bella dengan sedikit kecewa.
"Hmp.. itu sih salah kamu sendiri.." balas Vivian meresa lucu.
"Tapi.. mereka berdua deket banget yaa.." sahut Bella yang menatap Stella dan rangga yang saling menjahili.
"Yaa..gitu deh" ucap Vivian tak tau harus berkata apa.
"Wah.. rumah lo gede juga..". ucap Bella seraya menatap ruangan yang luas nan megah.
"Bukan rumah gue.. ini rumah oma" balas Vivian menyanggah.
"Ya kan sama aja, sekarang lo tinggal di sini juga.." balas Bella.
"Aihh.. bedalah Bella" sanggah Vivian lagi.
"Kalian ini.. jangan berdebat, aku masih butuh penjelasan.. kapan kau bertemu dengan kembaran mu itu.. kau juga tak memberi tahuku saat kau pindah kemari.." tanya Adit seraya menatap Vivian dengan serius.
"Oke oke gue jelasin.." balas Vivian yang mengerti kebingungan Adit.
Seraya menikmati seduhan teh dan beberapa cemilan, Vivian menceritakan semua kejadian mengenai pertemuan singkatnya dengan Stella sampai akhirnya ia berada di kediaman cornelia ini.
"Ohh.. lucu juga.. tapi.. kamu belum nanya gitu ke Oma soal keluarga kamu.." Ucap Adit penasaran.
"Itu.. oma ngga mau ngomong.. katanya belum saatnya gue tau.." balas Vivian seraya ingat dengan Oma yang menolak pertanyaan Stella sebelumnya.
"Tapi kapan-kapan kamu balik ke panti yaa.. anak-anak kangen loh sama kamu.." sahut Bella manja seraya mengingat Evan yang selalu usil pada Vivian sebelumnya.
"Iya deh iya.. gue hampir lupa.." balas Vivian berusaha membujuk Bella.
"Oh iya.. kalian makan malam di sini aja yaa.. soalnya bentar lagi udah magrib.. Oma juga ngga ngelarang kok" lanjut Vivian seraya menatap senja yang mulai tenggelam.
"Gue sih terserah Adit aja.." balas Bella ketus seraya menatap Adit yang asik menatap Stella dan Rangga.
"Gimana Dit.." tanya Vivian seraya menepuk tangan Adit.
"iya iya.." balas Adit yang masih fokus menatap tingakah Rangga dan Stella seraya sesekali senyum kecil terlukis di bibirnya.
"Kalau gitu kita ke bawa.. entar gue yang masak buat kalian.." ucap Vivian seraya berdiri dari duduknya sambil mengajak Bella.
"Heii.. kamu laiatin apa sih.. senyam-senyum sendiri.. entar kesambet loh.." sahut Bella seraya menepuk bahu yang mengagetkan Adit.
"Ngga ada sih.. cuman liatin kembaran vivi sama temennya itu.. lucu banget.. kayak tom and jerry aja.." balas Adit seraya manatap Vivian kemudian mulai beranjak dari duduknya.
Di sisi lain, di halama rumah, Rangga dengan sengaja mengoleskan busa sabun ke wajah Stella degan senyum smiriknya yang sedikit merasa puas mengerjai stella.
"Iii.. apa-apaan sih loh.." ucap Stella kesal seraya mendorong tubuh Rangga agar menjauh darinya.
__ADS_1
"Siapa suruh lo nyiram gue.." balas Rangga dengan wajah jeleknya.
"Lo nyebellinnn.. rasain nihh.." balas Stella dengan mengarahkan selang air yang mengalir pada Rangga.
Byurrr..
Siraman air mengenai tubuh Rangga yang membuatnya basah kuyup. Tak terima perlakuan Stella ia bergegas membalas dengan menarik selang yang di pegang Stella dan dengan sengaja menyiram Stella juga.
Stella menghindar dari siraman seraya mengitari mobil yang penuh dengan busa, tapi Rangga selalu mengikutinya yang membuat Stella merasa lelah dan mulai kedinginan.
"Udah.. gue nyerah.. gue mau lanjut nih nyuci mobil.." ucap Stella yang pasrah seraya mencari alasan agar Rangga tak mengiramnya lagi.
"Aihh.. gue pikir lo mau lagi nih gue siram.. hahaha.." ucap Rangga bangga seraya menyiram mobil yang penuh sabun.
Selang beberapa menit mereka selasai mencuci mobil walau keadaan mereka sedikit dekil dan kotor di tambah lagi tubuh dengan yang basah layaknya seekor kucing dari got.
Dari kejahuan, Adit berjalan bersama Vivian seraya membawa beberapa kantong sampah di tangganya, perlahan mendekat pada Stella dan Rangga yang tengah membereskan beberapa barang.
"Heii.. kalian kok bisa basah kayak gini.." sahut Vivian yang menghentikan kegiatan mereka seraya menatapa heran pada Rangga dan Stella.
"Aa.. hahaha.. jelas lah karena air.." balas Stella sedikit canggung seraya menatap Adit yang berdiri di samping Vivian.
"Haih.. kalian masuk gih.. udah mulai gelap loh.. jangan lupa mandi yang bersih.. entar masuk angin.." ucap Vivian seraya melangkah meninggalkan mereka dan di ikuti Adit dalam diamnya.
"Iya.. iya.." balas Stella ketus seraya masih fokus pada Adit.
"Aihh.. memang ganteng bak oppa minho.." Lanjutnya berhayal.
"Aakk.. sorry yah.. biarpun dekil kayak gini gue masih cantik tau.." balas Stella bangga seraya meninggalkan Rangga dengan sedikit kesal.
"Cihh.. mana ada orang dekil cantik.." balas Rangga kemudian mengikuti Stella yang menuju pintu samping.
"Ada.. ya Gue.. bwekk" balas stella bangga seraya berbalik menatap Rangga dan menunjuk dirinya sendiri kemudian berlari menuju kamarnya.
"Cih.. nih anak gila yaa.. hahaha.. tapi lucu juga.." balas Rangga terbahak seraya mengikuti Stella yang menyusuri tangga ingin ke kamarnya.
Dari meja makan, Bella yang duduk bersama Oma dan Reza menatap Rangga dan Stella dengan sedikit heran. Oma dan Reza menyadari tatapan heran Bella seraya desahan pasrah keluar dari nafas mereka.
"Kak Bella ngga usah heran deh liat dua orang gila itu.." sahut Reza yang tak peduli seraya mulai fokus pada ponselnya.
"Ee.. ngga.. aku hanya.." balas Bella terkejut.
"Hmm.. nak Bella.. ngga usah di pusingin.. mereka berdua itu tom and jerry.. barusan aja tu kompak.." sahut Oma yang menyeduh teh seraya membantu Bella mengupas beberapa buah.
"Engga.. cuman lucu aja liatnya.." balas Bella dengan senyum polosnya.
Dari depan pintu, Adit dan Vivian mulai mendekat setelah mereka membuang sampah. Tanpa basa-basi, Vivian duduk di samping Bella seraya mulai membantu Bella menyiapkan bahan makanan untuk makan malam. Adit juga ikut duduk di samping Reza seraya mengintip Reza yang serius dengan ponselnya.
"Vivi.. biar bu Ina saja yang masak.. kamu duduk diam saja sama Bella dan Adit di ruang tamu.. lagian mereka ini kan tamu kamu.." sahut Oma yang menatap Vivian dan Bella yang sibuk memilah sayur.
"Ngga papa Oma.. lagian justru karena temen Vivi di sini.. jadi sesekali deh Vivi masak, ini juga pertama kalinya Vivi masak di sini.." balas Vivian seolah membujuk Oma.
"Haih.. terserah kamu saja.. Oma ke kamar dulu ya.. oh iya.. Shinta bentar lagi pulang.. kalau ada apa-apa kamu minta tolong sama bu Ina aja ya.." ucap Oma mengigatkan seraya meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Iya oma.." balas Vivian santai dan masih fokus pada bahan masaknya kemudian beranjak menuju dapur ingin memasak dan di temani bibi Ina dan juga Bella.
"Aduh.. kak Vivi memang beda sama si cerewet.. oh iya.. kak Adit udah kenal kak Vivi berapa lama.." sahut Reza seraya masih fokus menatap ponselnya.
"Aihh.. udah lima tahun.. kenapa emanggnya.." balas Adit santai.
"Ngga ada, mau tau aja sih.. tapi, kak Adit ngga suka apa sama kak vivi.. dia baik loh.. aku aja udah suka sama kak vivi.." balas Reza dengan polosnya seraya masih fokus pada ponselnya.
"Ee.. hmm.." gumam Adit yang terkejut akan ucapan Reza seolah menyayat hatinya yang rapuh apa lagi sekarang ia sedang berusaha melepas Vivian.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara mobil dari halaman yang tak lain adalah Shinta. Ia mulai memasuki pintu utama dan langsung mendekati meja makan, dengan makanan yang tersaji mulai memenuhi meja.
"Wah.. ini yang masak siapa.. kok menunya beda.." sahut Shinta yang menatap makanan di meja kemudian menatap dapur dan didapatinya Vivian, Bella, dan bibi Ina yang masih sibuk memasak.
"Ohh.. itu kak vivi yang masak.." Sahut Reza dari sofa dekat meja makan dengan posisi yang tengah berbaring dan masih fokus pada ponselnya.
"Ohh.. pandai juga ya dia masak, kelihatannya enak.. ah.. aku ganti baju dulu.." ucap Shinta seraya meninggalkan Reza dan Adit yang tengah bersantai dengan ponselnya.
Selang beberapa menit makanan siap di meja, penghuni rumah mulai berdatangan dan memenuhi meja makan termasuk Adit dan Bella. Tersisa Rangga dan Stella yang belum juga turun dari kamarnya.
Saat Reza ingin beranjak dari kursinya dengan maksud memanggil Stella dan Rangga untuk di ajak makan, dari tangga sosok Rangga mulai terlihat sedang menyusuri tangga.
"Kak Rangga.. kak Stella mana.." ucap Reza dari meja makan.
"Masih di kamar.." balas Rangga ketus.
"Ohh.. kalau gitu aku panggil dia dulu.." ucap Reza yang mulai beranjak dari tempatnya.
"Kamu di situ aja.. biar aku yang panggilin.." balas Rangga ketus seraya berbalik menuju lantai dua.
"Haihh.. apasih yang dia lakukan.." gumam Rangga seraya menuju pintu kamar Stella.
"Stella.. di bawah udah nungguin.. ngga lapar lo.." ucap Rangga di depan pintu tanpa mengetuk pintu sama sekali.
"Be.. bentar.." balas Stella pelan.
"Apa.. lo bilang apa, gue ngga dengerrr.." ucap Rangga sambil membuka pintu karena penasaran.
Pintu terbuka, Rangga masih memegang gagang pintu seraya terdiam melongo menatap Stella yang sedang mengganti pakaian.
"Aakkkkkk.." teriak Rangga dan Stella bersamaan karena terkejut.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
Jangan lupa like, dan komen.
Salam sukses dan terima kasih.
__ADS_1