Twin Sister

Twin Sister
eps-24


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Rangga bergegas kembali ke kamarnya. saat mulai menyusuri tangga, ia mendapati Stella yang sedang berbincang bersama Vivian di depan pintu yang sedang menyodorkan ponselnya pada Adit.


"Cihh.. gadis aneh itu.. apa tidak tahu malu sedikit saja". Gumamnya ketus menatap Stella sambil menyusuri tangga.


Sedikit kesal, Rangga menuju kamarnya. Selang beberapa menit ia membaringkan badannya di atas bidang datar empuk berwarna merah kemudian menatap langit-langit kamarnya yang juga berwarna merah.Terlintas Stella dalam pikirannya mengingat beberapa hari belakangan ini ia sering bersama Stella.


Deg.. deg..


"Aaakk.. gue bukan orang mesum.. ngapain ngingat Stella yang lagi ganti baju sih?". Ucapnya seraya memukul kepalanya, menyadarkan dirinya diri lamunan singkatnya.


"Si cerewet itu.. dari tadi mandang temen vivi terus.. apa sih yang bagus dari dia? masih gantengan gue kok".


"Tapi.. dada gua kenapa ngga enak lagi sih.. angga mungkin kan?, gue masih muda masa jantung gue udah lemah kek gini". gumamnya seraya merabah dadanya merasakan detak jantung yang tak karuan.


"Aihh.. lebih baik gue hubungin papa.. udah lama juga ngga ngasih kabar..". Lanjutnya meraba kasur kesana-kemari mencari keberadaan ponselnya.


Dalam baringnya, tangan Rangga terus bermain di atas layar ponsel, tertulis nama papa di layar kiri atas ponselnya itu. Ya, Rangga sedang memberi tahu ayahnya mengenai dirinya belakangan ini.


Keasikan bermain ponsel membuatnya mulai lelah, tanpa sadar ia terlelap dalam keheningan kamarnya yang berwarna serba merah itu dengan lampu yang masih menyala terang benderang seraya ponsel masih melekat di tagannya.


Tak.. tak.. tak..


Tringgg..


Selang beberapa jam Rangga terbangun dari tidurnya karena deringan singkat ponselnya, yang tak lain adalah pesan notifikasi. Mata suntuknya mendapat cahaya menyilaukan yang menganggunya dan tak lain adalah cahaya lampu yang tepat di atasnya.


Menyadari ia lupa mematikan lampu, Rangga pun mulai duduk dari baringnya seraya menetralkan pikiran dengan mata yang masih suntuk. Tenggorokannya terasa kering, ia meraih botol air di atas nakas dekat ia duduk sekarang.


Merasa botol itu sedikit ringan ia mulai memperhatikan dengan saksama dengan mata lebar-lebar ia mendapati botol air yang kosong.


"Haihh.. gue lupa ngisi air sebelum tidur..". Gumamnya dengan desahan pendek sedikit kecewa.


Perlahan Rangga beranjak dari tempatnya dengan langkah luntai menuju pintu dengan maksud ingin kebawah untuk mengisi botol air. Ia mulai memasuki dapur dalam kegelapan dengan mata yang mulai terbuka lebar.


Saat Rangga melewati meja makan, ia terkejut akan kehadiran seseorang yang tengah mengacak kulkas dari samping meja makan tempat ia berdiri.


"Akk..". Teriaknya tercekik seraya menutup mulut mengingat malam sudah larut.


"Siapa sih..". Balas orang itu lemah.


"Haihh.. ternyata lo.. gue pikir hantu!!". Ucap Rangga sedikit lega menatap heran pada Stella seraya tangannya mulai lepas dari bibirnya.


"Temenin gue makan..". Ucap Stella tak bersemangat.


"Gadis ini apa masih bisa makan tengah malam bagini? Haihh.. terserahlah bukan urusanku..". Batinnya tak peduli seraya menghampiri dispenser mengisi botol airnya.


"Ngga gue ngantuk..". Balas Rangga ketus.

__ADS_1


"Gue juga ngantuk tapi perut gue minta makan.. bentar aja kok.. plisss..". Ucap Stella manja dengan wajah suntuknya menatap Rangga.


"Haih.. dasar gadis aneh, siapa suruh kau makan sedikit saat makan malam tadi..". Batinnya seraya menatap Stella mengingat makan malam sebelumnya.


"Baiklah.. tapi cepetan!!". Ucapnya ketus seraya menaruh botol air yang di bawanya di atas meja sambil menarik kursi untuk duduk.


Tak membuang waktu lagi, Stella melepas masker wajahnya yang sedari tadi melekat kemudian memulai ritual makannya. Dari samping, Rangga tampak menatap Stella dalam diamnya yang sedang makan dengan terburu-buru dan sesekali ia juga menikmati beberapa buah yang diambil Stella sebelumnya.


"Heii.. pelan sedikit, tidak ada yang akan merebut makananmu..". Sahut Rangga tiba-biba yang manghentikan Stella dari kegiatannya.


"Hmm..". Gumamnya mengangguk seraya melanjutkan makannya.


Selasai makan, Stella menikmati beberapa buah dan dengan dengan sengaja ia menyandarkan kepalanya di bahu Rangga karena mulai mengantuk, yang membuat Rangga rerkejut akan tindakannya.


"Apa dia sudah ngantuk..". Batin Rangga seraya melirik kaku pada Stella yang tepat di sampingnya.


Deg.. deg.. deg..


"Dia.. dia masih makan kah?".


"Heii.. apa kau sudah selesai.. aku ingin kekamar". Ucap Rangga seraya menatap Stella dan mendorong kepala Stella dari bahunya dan mendapati Stella yang ternyata sudah terlelap dengan apel yang masih di genggamnya.


"Haihh.. ternyata udah tidur.. dasar aneh.. ngga takut gendut apa makan tengah malam begini". Lanjutnya seraya menatap Stella dengan sedikit kaku kemudian ia membaringkan kepala Stella di atas meja seraya meraih apel yang ada di tangan kanan Stella.


Rangga berdiri dari duduknya sambil membereskan makanan di atas meja dan sesekali ia menatap Stella yang terlelap.


"Haihh.. dia bilang cuman di temani makan.. ini malah dia yang tidur duluan hmm..". Gumamnya seraya menatap Stella yang terlelap kemudian menggelengkan kepala dengan di ikuti desahan pasrahnya.


"Ini udah jam berapa yaa? aduh.. gadis ini berat sekali.. haihh..". Gumam Rangga pasrah dan berjalan menyusuri tangga membawa Stella kembali ke kamarnya.


Krekk..


Di sisi lain, Shinta yang juga baru saja keluar dari kamarnya yang ingin menuju toilet, dengan samar-samar, ia mendapati Rangga yang tengah memopong Stella menuju lantai dua.


"Ehh.. itu bukannya Rangga.. tapi dia menggendong siapa.. apa itu Stella? tidak mungkin.. jam segini Stella udah tidur dengan masker kesayangannya.. ataukah itu Vivian.. astaga!! apa mereka sedang menjalin hubungan.. dasar anak muda jaman sekarang..". Gumam Shinta yang tengah melongo menatap Rangga menyusuri tangga dalam kegelapan malam yang membwa kesunyian.


Krek..


Pintu kamar terbuka, suasana kamar yang agak gelap, menyisakan cahaya lampu berwarna ungu dari sela dinding yang melekat dan membentang dalam kamar Stella yang serba ungu itu, Rangga memasuki kamar Stella.


Tanpa pikir panjang, Rangga perlahan membaringkan Stella di bidang datar empuk berwarna ungu kesayangan Stella.


"Oma..". Gumam Stella pelan dalam lelapnya.


"Anak ini.. apa mengigau lagi". Batin Rangga seraya menatap heran pada Stella yang terlelap dan berusaha tak memperdulikannya mengingat sebelumnya Stella juga pernah mengigau.


Rangga menarik selimut hingga menutupi setengah badan Stella dengan lembut kemudian duduk berjongkok menatap Stella yang terbaring di atas bidang datar empuk itu.

__ADS_1


"Cantik.. dia lebih cantik jika tidur". gumamnya menatap sayu pada Stella seraya tangannya mulai membelai lembut pinggir rambut Stella.


Terhanyut akan seseorang yang di pandangnya, perlahan Rangga mulai mendekat, menatap dekat wajah Stella dalam diamnya hingga nafasnya mulai menerpa wajah imut Stella yang tengah terlelap.


Cuppp..


Bibirnya mendarat di kening datar Stella tanpa sadar. Terkejut sudah pasti, Rangga mulai menjauhkan dirinya seraya terduduk dari jogkoknya sambil memegang bibirnya dan menatap kaku pada Stella.


Rangga terdiam sejenak dalam posisi yang masih sama seraya terkejut akan apa yang baru saja ia lakukan. Tangannya bergerak merabah dadanya yang mulai berdetak tak karuan lagi.


"Aku.. tidak mungkin..". Gumamnya seraya berdiri dengan sigap dari duduknya kemudian menuju pintu dan kembali ke kamarnya.


Brak..


Rangga menutup pintu dengan sedikit kasar dan langsung menuju bidang datarnya kemudian termenung dalam diamnya.


"Apa.. apa yang baru saja ku lakukan..".


"Tidak mungkin.. aku tidak mungkin menyukai gadis cerewet itu..". gumamnya yang masih meraba dadanya.


"Apa karena ini.. karena aku menyukainya jadi dadaku seperti ini..".


"Tidak mingkin.. dia bukan seleraku.. aku.. aku tidak suka gadis cerewet..".


"Aku memang tidak menyukainya.. ya tidak.. ini hanya simpati saja.. simpati.. oke.. ". Gumamnya meyakinkan diri.


"Tapi.. kau baru saja menciumnya.. kalau bukan suka apalagi!!".


"Apa karena selama ini aku menjomblo?".


"Tidak tidak, aku tidak menyukainya, hanya simpati.. simpati..". Gumamnya yang gusar dan pusing sambil membaringkan badanya dan berguling kesana kemari dengan kesal.


"Kenapa begitu panas..". Ucapnya seraya mengibaskan kedua tangannya di depan wajah sambil mengatur nafas dalam-dalam.


Rangga mengamati sekitarnya mencari botol air yang di bawannya, tapi tak ia temukan. Merasa heran, ia mulai duduk dari baringnya seraya mengingat kemana gerangan botol air itu.


"Kok ngga ada, perasaan tadi gue bawa loh.. astaga.. di kamar Stella.. di atas meja..". Gumamnya terkejut mengingat botolnya ia letakkan di meja Stella sambil memukul pasrah dahinya.


"Aaakk.. terserah.. gue ngga mau balik ke kamar si cerewet itu..". Lanjutnya pasrah seraya membaringkan badanya sambil menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya dan berusaha terlelap.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


Jangan lupa like, dan komen.


Salam sukses dan terima kasih.


__ADS_2