
Saat setelah Oma meninggalkan Stella dan Reza, ia menuju ke salah satu meja untuk mengambil ponselnya, kemudian menelpon seseorang. Tak lama setelah ia menelpon Stella datang dan menghampirinya.
"hei Oma.. apa yang harus aku lakukan agar kau memberiku uang.. apa aku harus menjual diriku..". ucap Stella dari belakang sembari memeluk Oma.
"dasar kau ini.. apa hanya itu yang terlintas di otak bodohmu.. akan lebih baik jika kau menikah saja..". balas Oma sembari memukul kepala Stella dengan tangan kirinya kemudian menyimpan ponsel yang sebelumya ia gunakan di sakunya sambil melepas pelukan tangan Stella.
"aku hanya bercanda.. aku tau kau sangat menyayangi ku.. tapi.. menikah.. apa harus secepat itu kau melepaskan aku.. Oma.. kau sudah tak mau cucumu ini..". ucap Stella manja kemudian menatap Oma dari samping dengan ekspresi imutnya.
"aku juga hanya mengusulkannya padamu.. bukankah Kevin baik padamu.. kau juga sudah kenal dengan keluarganya.. dia lebih baik dari pada laki-laki yang tidak kau kenal.. dia juga berduit..". ucap Oma memberi saran pada Stella sembari mengambil sebuah kecamata dia tas meja yang tepat didepannya.
"aduh Oma.. apa tidak ada pilihan lain.. Kevin itu sahabat aku.. kalau masalah uang dia yang paling boros.. dia juga playboy.. jangan jodohkan aku dengannya.. masa depanku akan suram..". balas Stella kemudian berjalan dan duduk di samping Oma.
"oke.. nanti aku Carikan calon yang cocok untukmu..". ucap Oma sembari memakai kecamata kemudian menatap Stella yang tepat di sampingnya.
"hmm.. Oma ngga usah bahas kayak ginian deh.. entar aku yang nyari pasangan sendiri..oke..". balas Stella ingin mengalihkan topik pembicaraan.
"terserah padamu saja.. yang pasti kenalkan padaku jika kau sudah yakin dengannya..". ucap Oma dari samping sembari sibuk memilah beberapa buku untuk di baca.
"Oma.. aku ini masih mau menikmati kejombloanku..". ucap Stella menatap Oma dari samping.
"hmmmm.. bagaimana keadaan mu belakangan ini apa kau minum obat Dengan benar?". tanya Oma mengalihkan topik pembicaraan dan mengingatkan Stella akan obatnya kemudian mulai membuka lembaran buku yang ingin di bacanya.
"aku baik-baik saja Oma.. apa kau tidak melihat aku sekarang..". jawab Stella meyakinkan Oma agar tak khawatir.
"hmm.. biklah-baiklah..". ucap Oma menyerah tak menghiraukan Stella di sampingnya dan melanjutkan bacanya.
"oh iya.. Oma.. besok aku ke kampus, aku ada kelas.. Kevin akan menjemputku..". ucap Stella teringat akan jadwal kuliahnya sembari menatap Oma.
"besok, tapi.. aku sudah menelpon bibimu untuk mengikut sertakan mu di kantor.. kau ada pertemuan di kantor.. sekalian kau belajar bisnis dari bibimu..". ucap Oma sembari menatap wajah Stella dari samping.
__ADS_1
"Oma.. aku kan sudah bilang aku tidak ingin terlibat dalam bisnis bibi, aku ini masih mahasiswa.. pokoknya besok aku ke kampus..". tegas Stella pada Oma tak mau mengalah sembari mengambil beberapa buku yang ada di meja.
"kau tak bisa menolak.. besok setelah dari kampus kau bisa ke kantor kan.. aku sudah mengatur pertemuanmu.. bukankah kau tak akan menolak uang..". ucap Oma membujuk Stella dengan sebutan uang.
"hmm.. baiklah.. aku akan kesana tapi Kevin harus ikut denganku.. tidak masalah kan?". ucap Stella spontan sembari memberi syarat dengan mata menatap Oma yang mulai serius membaca.
"oke.. yang pasti kau hadir.. jangan mengecewakan ku..". balas Oma setuju dengan syarat Stella dan melanjutkan bacanya.
*
*
*
pagi hari di kediaman Cornelia.
Dari kursi terdengar suara yang menceramahinya, ia merasa heran karena tak menemukan siapapun selaindirinya, setelah mengamati dan membuka mata lebar-lebar, tatapannya tertuju pada sebuah koran, yang ternyata adalah bibi Shinta yang sedang asik dengan kegiatan paginya sebelum berangkat ke kantor.
"Hei gadis nakal,apa kau akan datang ke kantor, aaa.. tidak, kau harus datang.. aku telah mengatur posisimu sebagai anak magang karena kau masih mahasiswa.. Jadi kurangi nongkrongmu yang entah dimana itu..". ucap Shinta pada Stella sembari membaca koran dan menyeduh teh di ruang tamu.
"ehee.. bibi.. apa aku akan mati jika tak datang kekantor hari ini.. atau kau sangat merindukanku hingga kau ingin mengirimku ke neraka bersama mu..". ucap Stella memulai sandiwara manjanya pada bibi Shinta, dengan sebuah apel yang ia pegang dan masker yang masih menempel tak karuan di wajahnya, ia merengek dan memeluk bibi Shinta dari samping.
Shinta mulai tak fokus pada apa yang ia baca, kemudian dengan sengaja ia mengucap sesuatu yang tidak tertulis di koran, seolah memang ia tujukan untuk menyindir Stella yang sedang memohon.
"seorang gadis remaja menghabiskan uang neneknya untuk berfoya-foya, karena sering dimanja, gadis itu bahkan tak bisa mencari kerja. hmm.. sungguh gadis yang bodoh..". ucap Shinta menatap koran yang ia pegang dengan santai.
"hei bibi.. apa kau baru saja menyebut tentangku.. aku ini tidak manja yaa..". ucap Stella tersinggung setelah mendengar ucapan bibinya kemudian melepas tangan dari memeluk tubuh Shinta.
"aku tidak menyebut tentang mu.. ini jelas tertulis di koran..". balas Shinta serius sambil menunjuk salah satu halaman koran.
__ADS_1
Stella terdiam sejenak seolah mempercayai perkataan bibinya, sembari memikirkan sesuatu.
"aku akan ke kantor saat kelasku selesai.. aku sudah janji pada Oma.. satu hal lagi.. aku juga mengajak Kevin.. sekalian saja bibi juga memberinya pekerjaan agar aku punya teman". ucap Stella tiba-tiba sembari melepas masker dari wajahnya kemudian memakan apel yang ia pegang sedari tadi.
"apa kau harus mengajak Kevin?". tanya Shinta seolah tak setuju sembari matanya masih menatap beberapa kata yang tertera di koran yang ia pegang.
Stella tak menanggapi pertanyaan yang di lontarkan bibi Shinta seolah sengaja sembari menggigit apel yang ada di tangannya.
"hmm.. baiklah kau ajak saja Kevin.. nanti aku tanyakan pada orang tua Kevin tentang ini.. kalau mereka setuju kau dan Kevin akan jadi anak magang di kantor..". ucap Shinta setuju dengan terpaksa sambil menghela nafas kecil kemudian meletakkan koran yang selesai dibacanya.
"kalau begitu aku akan siap-siap.. ingat.. kau harus datang.. jangan membuatku malu..". ancam Shinta sebelum pergi ke kamarnya dan meninggalkan Stella yang masih menikmati apelnya.
"iya aku ingat..". bentak Stella sembari menatap Shinta dari kejauhan.
karena penasaran dengan apa yang di baca Shinta di koran, Stella membuka lembaran-lembaran koran ingin memastikan keberadaan berita yang menyinggung Stella sebelumnya. lembaran terakhir pun ia buka, dan tak mendapati berita yang dimaksud. tersadar, ia mulai kesal karena tau bahwa ia sedang di kerjai.
"aaaaaaaa.. bibiiiiiii..". teriak Stella sambil menatap Shinta yang keluar terburu-buru dari pintu utama seolah tau bahwa Stella sadar akan kebohongan nya.
To
Be
Continue
jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
jangan lupa like dan komen..
salam sukses dan terima kasih..
__ADS_1