Twin Sister

Twin Sister
eps-16


__ADS_3

"Apa.. siapa..". Ucap Stella dengan mata setengah sadar seraya menatap Rangga yang kesal menatapnya.


"Ohhh.. kau.. Jangan pedulikan dia..". Lanjut Stella saat menatap Rangga kemudian menatap Kevin seraya mengucek matanya kemudian menyodorkan tangannya meminta bakso yang di bawa Kevin.


"Nih..". Ucap Kevin memberikan bakso itu pada Stella dari meja.


"Gadis cerewet ini.. membuatku emosi saja..". Ucap Rangga kesal tak terima perlakuan Stella sambil melempar bantal dari sofa ke arah Stella.


"Aakk.. apa kau bisa diam dan tak menggagu ku.. aku lapar, biarkan aku makan sebentar.. oke..". Balas Stella ketus saat bantal mendarat di punggungnya seraya menatap Rangga dengan kesal.


"Aiih.. senior.. tolong biarkan gadis cerewet ini makan.. dia bisa mengamuk kalau di ganggu..". Sahut Kevin seolah memberi perintah pada Rangga.


"Ciihh.. aku tidak menggagu..". Balas Rangga ketus seraya kembali duduk dan bermain dengan ponselnya.


"Stella sepertinya wajahmu mulai membaik.. apa kau sudah bisa pulang hari ini..". Ucap Kevin polos seraya menatap stella yang tengah menikmati baksonya.


"Akk.. jangan ingatkan aku akan hal itu.. aku tidak boleh pulang hari ini.. oma menghukumku..". Ucap Stella kecewa seraya mengunyah bakso dalam mulutnya yang penuh.


"Eehh.. kenapa..". Tanya kevin lagi penasaran.


"Jangan bertanya lagi..". Jawab Stella ketus tak mau membahas alasan oma yang tak membolehkannya pulan hari ini seraya menikmati baksonya.


"Baiklah..". Balas Kevin sedikit kecewa.


Dari sofa, Rangga menaha tawa mendengar ucapan Stella yang tak mau memberi tahu Kevin alasan ia di hukum sambil sibuk memainkan ponselnya seolah tak peduli pada Kevin dan Stella.


"Apa dia malu memberi tahu Kevin.. gara-gara es krim.. hahaha..". Batin Rangga mengejek seraya menahan tawa.


"Oh iya.. hari ini pertama kerja loh.. beruntung gue dapet senior pembimbing yang cantikkk..". Ucap Kevin bangga seraya mengingat seniornya di kantor.


"Haaihh.. baguslah buatmu..". Balas Stella tak peduli dan membereskan mangkuk dan sendok yang ia gunakan.


"Terus.. pembimbing gue?". Tanya Stella seraya menunjuk dirinya mengingat ia tak masuk hari ini.


"Lo ikut sama gue..". Sahut Rangga singkat dan masih fokus pada ponselnya.


"Ee.. napa jadi ikut lo..". Tanya Stella seraya menatap heran pada rangga.


"Lo lupa, sekarang gue ini bodyguard lo.. jadi selama kerja lo ngikut sama gue.. di bawa bimbingan senior Dehan.. ini perintah ceo..". Balas Rangga ketus tak menatap Stella sama sekali.


"Perintah ceo.. bibi Shinta.. perintah Oma.. sudah ku duga..". Batin Stella dengan bibir manyun.


"Terus.. senior Dehan ramah tidak..". Tanya Stella penasaran.


"Jangan tanya.. kau bisa bertemu dengannya baru menilai.. intinya dia itu gila bersih.. tidak cocok dengan wanita jorok sepertimu..". Ucap rangga ketus seraya mengejek Stella.


"Dasar aneh.. aku bertanya tentang sikapnya bukan ingin mencari pasangan.. jorok.. kau memanggilku jorok.. iii..". Ucap Stella kesal akan jawaban Rangga kemudian ia melempar bantal dan mengenai Rangga yang serius.


"Kau ini.. kau memang jorok.. belum mandikan..". Balas Rangga mengejek Stella dengan wajah jelek mengingat sedari pagi Stella hanya tertidur.


"Biarin.. gini-gini gue masih cantik..". Balas Stella kesal seolah membela diri.


"Cantik-cantik jorok..". Balas Rangga ketus.


"Hahaha.. kalian ini lucu sekali..". Sahut Kevin terbahak menyimak pembicaraan Stella dan Rangga.

__ADS_1


"Jangan tertawa.. ini tidak lucu..". Balas Stella ketus seraya memukul pundak Kevin dari samping.


"Baiklah-baiklah.. kalau gitu gue pamit dulu.. soalnya mau bantu papa di lab..". Ucap Kevin seraya ingat papanya yang bekerja di lab Oma.


"Okelah.. tapi lo bisakan jemput gue besok.. anterin pulang.. gue nitip salam aja sama uncle bram..". Ucap Stella seraya mentap Kevin yang mulai berjakan menuju pintu.


Ucapan Stella hanya di balas anggukan dalam diam Kevin seraya tangannya melambai berpamitan pada Stella dan menghilang di balik pintu.


"Heii.. apa maksudmu, aku yang akan mengantarmu.. perin..tah Oma..". Sahut Rangga menegaskan.


"Akkk.. terserah..". Balas Stella ketus dengan bibir manyun.


*


*


Di sisi lain, Vivian yang tengah merapikan barangnya di kamar yang bernuansa pink yang tak ia sukai. Sebelumnya ia ingin memberitahu bahwa ia menyukai warna biru, tapi karena takut merepotkan ia mengurungkan niatnya.


Tok.. tok.. tok..


Seseorang tengah mengetuk pintu kamar dari luar yang membuat Vivian terkejut dan menghentikan ke giatannya seraya menghampiri pintu penasaran akan sosok di baliknya.


Krek..


Pintu terbuka, Vivian mematap heran pada orang di depanya, nengenakan seragam sekolah yang masih lengkap dengan tas yang ia tenteng yang sepertinya baru pulang dari sekolah.


"Oma ini.. baru pulang udah di suruh aja.. tak apalah.. yang pasti uang jajan aman.. Eehh.. ini bukannya ratu cerewetnya oma.. tapi.. bukannya si cerewet ada di rumah sakit?.". Batin Reza bertanya seraya melongo menatap heran pada vivian dan menduganya.


"Halo kak.. Oma menyuruh saya memanggil kakak untuk makan siang..". Ucap Reza sopan seraya masih menatap vivian dengan heran.


"Ayo..". Ucap Vivian menatap Reza yang terdiam heran menatapnya.


"Heii.. ayo..". Lanjut Vivian lagi seraya melambaikan tangan di depan wajah Reza yang hilang konsentrasi.


"Aaa.. iya.. ayo biar aku antar..". Balas Reza terkejut dan tersadar dari lamunannya.


"Oh iya.. kak perkenalkan saya Reza cucu oma yang di nomor dua kan.. kakak ini kembaran si cerewet kan.. mirip soalnya..". Ucap Reza memulai pembicaraan agar tak canggung seraya berjalan menuntun Vivian.


"Kamu bisa panggil kakak Vivian atau Vivi aja.. tapi si cerewet siapa..". Balas Vivian sopan menatap Reza.


"Nanti kak Vivi juga tau.. tunggu sebentar aku menyimpan tasku dulu di kamar..". Balas Reza seraya berlari menuju pintu kamarnya yang tak jauh dari kamar Vivian


"Aihh.. anak ini langsung memanggilku Vivi.. aku semakin gemas ingin memcubit pipinya.. sungguh anak yang manis..". Batin Vivian seraya mentap Reza yang terburu-buru menyimpan tas kemudian kembali menghampirinya.


"Sepertinya kak Vivi lebih bisa di andalkan dari pada si gila yang satu itu..". Batin Reza senang seraya menatap Vivian sambil mendekat.


"Ayo kak vivi.. aku antar..". Ajak Reza sambil berjalan di samping Vivian seraya menyusuri tangga.


Vivian dan Reza banyak mengobrol yang membuat Oma sedikit lega, karena biasanya Reza tak bisa langsung akrab dengan orang baru.


"Sepertinya Reza bisa menerima Vivian juga..". Batin Oma seraya tersenyum mentap cucunya yang tengah mengobrol saat setelah makan siang.


*


*

__ADS_1


Esoknya.


Sesuai perkataan Oma, Stella keluar dari rumah sakit tepat pukul 15:56, yang menandakan hari mulai sore. Wajah dan tangannya sudah sembuh dari alerginya. Pengawal oma juga sudah kembali ke kediaman cornelia lebih dulu dari Stella atas


perintah Oma.


Perlahan tapi pasti, Stella berjalan keluar dari gadung rumah sakit, ia menunggu Kevin di depan supermarket yang tak jauh dari lingkungam rumah sakit. Satu jam berlalu, minuman dingin yang Stella pesan juga telah kosong melompong, tapi Kevin tak kunjung datang yang membuat ia mulai kesal.


"Iii.. kevin ini.. tidak mengangkat telpon juga tidak membaca pesanku.. apa dia lupa.. gue udah cape nungguin.. aiihh.. terpaksa deh naik taksi aja". Batin Stella seraya menatap ponselnya.


Biiipppp... biiippp..


Suara klakson mengagetkan orang-orang yang berlalu lalang termasuk Stella yang duduk kesal menatap layar hpnya. Stella dengan sigap mencari sumber bunyi dari klakson itu. Seketika ia tercengang menatap mobil lamborghini yang terparkir di pinggir jalan.


"Itu.. itu bukannya mobil gue yaa.. tapi.. mobil gue udah rusak..". Batin stella seraya mengingat mobil kesayannganya sambil mendesah.


Kaca mobil terbuka dari kursi kemudi, tatapan Orang yang duduk di kursi kemudi tertuju pada Stella yang tengah melongo, yang ternyata adalah Rangga.


"Si cerewet itu.. ngapaai diam aja.. bukannya langsung mauk.. malah benggong..". Batin Rangga seraya menatap Stella dari dalam.


Biiiipppp..


Suara klakson mengejutkan Stella lagi. Terkejut, ia mendapati Rangga yang duduk di kursi kemudi. Tanpa pikir panjang Stella bergegas menghampiri mobil dengan kesal.


"Mobil gue kok bisa dibawa ama dia sih..". Gerutu Stella seraya mendekat.


"Sejak kapan lo bawa mobil gue..". Tanya Stella kesal saat masuk kedalam mobil dan duduk tepat di samping Rangga.


"Ini mobil lo.. gue mah di kasih oma pas jadi bodyguard lo..". Balas Rangga dengan nada mengejek.


"Apaaa.. ngga mungkin.. jadi sejak itu mobil gue udah di bengkel.. Oma nyebellin..". Ucap Stella kesal mengingat Oma yang selalu melarangnya membawa mobil.


"Rangga.. tukar.. gue mau nyetir.. gue kangen sama jingli.. yaa.. boleh yaa..". Ucap Stella seketika manja sambil menatap polos pada Rangga seraya tangan kanannya memegan stir mobil. Jingli yang tak lain adalah nama yang Stella berikan untuk mobilnya ini.


"Ngga ada.. gue yang nyetir..". Balas Rangga ketus dan dengan sigap ia menyalakan mobil dengan wajah yang mulai sedikit merona.


"Pliss.. boleh yaa..". Ucap Stella memohon dengan wajah imut.


"Ngga.. lo diam aja..". Balas Rangga kesal yang mulai salah tingkah seraya memalingkan wajahya yang merona dari wajah imut Stella kemudian memjalankan mobil.


"Ciihh.. oke.. gue diam..". Balas Stella ketus kemudian memperbaiki posisi duduknya seraya menatap keluar jendela tak peduli pada Rangga lagi.


Deg.. deg.. deg..


"Gue kenapa lagi.. apa sakit jantung.. ngga mungkin.. gue masih sehat kok..". Batin Rangga seraya tangan kirinya mulai meraba dadanya merasakan degupan jantungnya yang begitu cepat.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


Jangan lupa like, dan komen yaa.

__ADS_1


Salam sukses dan terima kasih.


__ADS_2