
Rangga masih terlelap di sana. Sementara Stella hanya menatap lemah pada sosok itu.
“Ada apa dengan ku?” gumamnya lemah, berusaha ia menggerakkan tubuh tapi terasa berat.
Sekarang pikirannya sedang losong, tapi ciuman itu masih terasa di bibir mungilnya. Entah mengapa sekarang bayangan Rangga memenuhinya, padahal sebelumnya ia tak pernah memikirnya atau bermaksud lain pada Rangga. Selama ini Stella hanya menggagap Rangga sebagai bodiguard yang di pekerjaan Oma untuk menjaganya, tidak lebih.
Krriinggg .... Kringgg ....
Suara deringan ponsel bergema, Stella berusaha meraihnya di atas nakas. Tampak lemah ia menggapainya walau tak sampai, tapi bukannya berhasil menggapainya ponsel itu malah terjatuh dari sana, yang perlahan di susul Stella yang masih lemah karena merasakan badannya yang begitu berat.
Bukk ...
Stella terjatuh. Desahan kasar lolos dari nafasnya yang lemah, “Sial.. Mengapa tubuhku begitu berat!” batinnya berdecak kesal mendapati dirinya yang begitu lemah tak bisa apa-apa.
Deringan ponsel masih berbunyi, panggilan masuk atas nama Vivian. Stella menyambung panggilan dan menyalakan spiker karena tak kuat mendekatkan ponsel ke telinganya. Tubuhnya sungguh mati rasa dan berat tuk di gerakkan, bibirnya saja masih berat tuk bersuara.
“Halo Stella..” ujar Vivian.
“Ha halo!" balas Stella dengan nada berat.
“Apa kau baik-baik saja? Mengapa suara mu begitu lemah!” tanya Vivian yang mulai khawatir.
“A aku ba baik-baik saja!” balasnya yang tak ingin membuat Vivian khawatir.
“Ba bagaimana dengan bibi?” sambungnya bertanya.
“Dia baik-baik saja! Aku menelpon karena khawatir padamu, jadi.. ada apa Oma mencarimu?”
“Bu bukan apa-apa!” jelasnya.
Di balik telepon itu, Vivian tau bahwa Stella tidak baik-baik saja, hal itu jelas terdengar dari suaranya yang begitu lemah. Tapi Stella bersikap tak terjadi apa-apa padanya, jelas karena tak ingin membuat khawatir Vivian.
Sementara di sisi sofa, Rangga membulatkan mata dari tidurnya, lantaran baru saja bermimpi mengenai ciuman itu.
“A apa yang ku pikirkan sampai-sampai kejadian tadi terbawa mimpi!” batinnya terkejut kemudian berusaha menetralkan diri.
Rangga duduk dari baringnya, ia meneguk segelas air di atas meja tepat di depannya. Belum selesai ia meneguk air itu, ia di kejutkan oleh ranjang Stella yang kosong. Dengan sigap ia bangkit mencari sosok itu, takut Stella berbuat hal aneh lagi.
Rangga melangkah keluar bermaksud mencarinya di luar kamar, tapi langkahnya terhenti saat melihat Stella terbaring di sisi ranjang.
“A apa yang dia lakukan di sana?” batin Rangga terkejut mendapati Stella tergeletak di lantai.
__ADS_1
“Benar kau baik-baik saja?” tanya Vivian memastikannya lagi.
“A aku..” ujar Stella yang berusaha bersuara.
“Dia tidak baik-baik saja!” sela Rangga yang langsung meraih ponsel itu.
“Rangga? Ada apa dengan Stella?”
“Hmm, dia habis mengamuk!” jelasnya.
“Mengapa?”
“Aku tidak tau!” ujar Rangga dengan menatap sinis Stella yang terbaring lemah di depannya.
“Kalau begitu, jaga dia! Aku tidak bisa menemaninya sekarang!” pinta Vivian.
“Tentu saja!” jelas Rangga sebelum panggilan terputus.
Rangga meletakkan ponsel itu di atas nakas, kemudian menatap Stella yang tengah mengiriminya tatapan elang dengan raut wajah kesal.
“Ada apa?” tanyanya, ia merasa heran akan tatapan itu, “Ada apa dengannya?
Mengapa menatap ku seperti itu!” batin Rangga.
Stella berpaling dari pandangan Rangga, walau tampak lemah dan tak bisa bergerak bebas, ia berdecak kesal pada sosok itu. Rangga yang menatapnya hanya tersenyum, kemudian dengan sigap mengangkat Stella.
“A apa yang kau..” ujar Stella yang terkejut, ucapannya terhenti saat ia menatap Rangga yang begitu dekat di depan matanya.
Begitu pun sebaliknya, Rangga terkejut, nafas Stella jelas terasa menerpa wajahnya. Tatapan mereka saling bertemu, serasa terhipnotis akan tatapan masing-masing. Detak jantung kian memburu bersama kiriman tatapan yang menggebu.
Rangga berusaha mengalihkan pandangannya. Perlahan tapi pasti ia meletakkan tubuh Stella kembali di bidang empuknya.
“Hmmm.. Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai-sampai jatuh dari ranjang!” tanya Rangga dengan desahan di akhir kata.
“Hmm..” Stella hanya bergumam, tak peduli akan pertanyaan itu kemudian ia membalikkan badan memejamkan mata dengan paksa agar terlelap.
“He hei.. Ada apa denganmu? Apa sekarang kau marah padaku! Atau ada hal lain?” respon Rangga yang mendapat perlakuan seperti itu, entah masalah apa yang sudah ia perbuat yang menyinggung Stella ini.
“Ba baiklah-baiklah, aku tak akan mengganggu mu, tidurlah lebih nyaman!” jelasnya seraya berlalu dari kamar itu. Rangga kerap malu jika mengingat kejadian tadi yang secara lancang mencium Stella, pikirnya Stella marah karena hal itu.
Brak ...
__ADS_1
Pintu tertutup rapat, di depan pintu Rangga bertemu Oma bersama dokter Rahma.
“Nak Rangga, apa Stella sudah sadar!” tanya Oma.
“I iya Oma!” jelasnya.
Dengan sigap, dokter Rahma masuk ke kamar itu dan di ikuti Oma. Sementara Rangga hanya mendesah kasar kemudian menuju kamarnya sendiri.
“Stella, apa kau baik-baik saja?” tanya Oma, berharap Stella tak apa.
Stella berbalik, menatap sosok yang kian mendekatinya. Dengan sigap dokter Rahma memeriksa Stella. Oma sudah harap cemas menunggu diaknosa dokter Rahma. Stella hanya terdiam kaku, apalagi sekarang ini ia masih tak bisa leluasa menggerakkan tubuhnya yang begitu lemah.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Oma yang sudah tak sabar mendengar keadaan Stella ini.
Dokter Rahma mendesah lemah saat setelah selesai memeriksa. Ia berat hati menyampaikan diaknosanya. Dan lagi-lagi, dokter Rahma keluar dari ruangan bersama Oma, tak ingin jika Stella mendengarnya. Jelaslah hal itu membuat Stella semakin penasaran akan keadaannya, ada apa sebenarnya?.
“Oma.. Tampaknya ini lebih parah dari yang kita pikirkan! Diaknosaku mungkin saja salah, tapi ada baiknya kita segera membawa Stella ke rumah sakit! Aku sudah memberi tahu dokter Justin sebelumnya, dia akan merawat Stella dengan lebih baik!” tutur dokter Rahma, berat hati ia memberi tau bahwa keadaan Stella semakin parah jika tak segera di tindak lanjuti.
“Se sebelumnya aku juga sudah memberi tahu dokter Bram soal ini, dia akan mengatur segalanya untuk Stella di rumah sakit!” ujar Oma.
“Kalau begitu kita tunggu keputusan dokter Bram karena dia yang lebih tau! Saya undur diri, pasien saya masih menunggu! Dan ya, berikan obat yang baru saja saya resepkan pada Stella, itu akan membantu mengurangi sakitnya! Ingat.. 6 jam sekali!” jelas dokter Rahma sebelum berlalu dari sana.
“Baiklah dokter, terima kasih.. dan hati-hati di jalan!” tutur Oma.
Dokter Rahma kian menjauh dari pandangannya. Sementara Oma kembali ke kamar Stella. Di sana ia menatap Stella yang tengah bersusah paya untuk duduk. Oma mendekat, kemudian mencari obat yang baru saja di resepkan itu. Di atas meja Oma meraih sebotol air dan di berikan pada Stella bersama sebutir obat.
“Stella ... Minum ini!” sodor Oma.
“Oma, apa penyakitku begitu parah!” tanya Stella tampak sendu seraya mengambil obat itu.
Walau tampak lemah tak bersemangat, Stella meneguk obat itu. Ia tau ini demi kebaikannya, begitu pun soal penyakitnya yang di rahasiakan oleh Oma darinya. Terlebih lagi, Stella juga tau kalau Oma akan sedih dan terpuruk jika keadaannya semakin memburuk.
“Maafkan Oma Stella, Oma tidak ingin kau gelisah dan banyak pikiran. Terlebih lagi, setelah kau tau semuanya! Mungkin kau akan membenci Oma nantinya!” tutur Oma sendu. Ia berpikir untuk memberi tau Stella tentang semuanya, tapi takut jika kenyataan itu tak bisa di terima Stella yang pada akhirnya akan membuat nya terpisah.
“Istirahatlah Stella! Oma akan di sini menemani mu..” jelas Oma seraya berbaring bersama Stella di bidang empuk itu dan perlahan menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya.
Dengan kasih sayang, Oma menepuk lembut bahu Stella seperti yang selalu ia lakukan saat Stella masih kecil. Stella tersenyum, kehangatan ini yang selalu ia dambakan. Kehangatan yang membuatnya nyaman. Kehangatan yang sama sekali tak ia dapat dari sosok orang tua, tapi seorang Oma bisa mengisi kekosongannya ini, membuatnya tak kekurangan kasih sayang.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.