
Beberapa menit kemudian Stella dan Kevin sudah sampai di Cornelia compeny. Dengan sedikit grogi Stella mulai melangkahkan kaki menuju lift dan di ikuti kevin dari belakang.
Tak lama setelah Stella dan Kevin memasuki lift, dan saat lift hendak tertutup otomatis, salah satu tangan menjulur masuk dan menghentikan lift tertutup, tapi tangan itu tak sengaja menampar wajah Stella dari dalam.
Terkaget Stella mulai merasakan sakit di pipi kanannya ia juga menahan kesal serta malu di depan beberapa orang yang memperhatikan dari belakang.
Dari samping Kevin juga mulai tak bisa menahan tawanya.
"ha-ha-ha.. Lo ngga papa Stella.. sini gue liat muka Lo.." ucap Kevin perhatian sembari memperhatikan wajah Stella yang sedikit memerah.
Stella hanya terdiam kesal sembari memegang wajahnya. dan beberapa orang yang ada di dalam lift juga mulai tertawa kecil sambil tertunduk.
Saat setelah pintu terbuka orang itu langsun memasuki lift sambil mengatur nafas yang ternyata adalah Rangga.
Stella menatap Rangga dengan kesal seolah tau jika ia bertemu dengan seniornya ini ia akan selalu sial.
"iiiii.. dasar nyebellin.. kenapa Lo lagi sih..". ucap Stella kesal menatap Rangga.
"so.. sorry.. gue.. ngga.. sengaja..". ucap Rangga yang masih berusaha mengatur nafas karena berlari sebelumnya.
"sorry sorry.. ini muka gue cacat gara-gara Lo..". ucap Stella kesal dengan mata melotot pada Rangga.
"tapi.. senior kok bisa di sini juga..". tanya Kevin dari samping dengan menatap sopan pada Rangga.
"saya ada interview di lantai sembilan..". balas Rangga stabil kemudian mulai merapikan pakaiannya.
"oohhh.. tapi.. Stella bukanya kita juga ada janji di lantai sembilan.. hei..". ucap Kevin dengan menatap Stella dari samping, tapi karena lift sudah terbuka Stella keluar lebih dulu tanpa menghiraukan Kevin.
Lift pun tertutup, Stella menuju ruangan yang dimaksud bibi Shinta sebelumnya sembari Rangga juga mengikuti dari belakang.
"heii.. Lo ngapain ngikutin gue..". ucap Stella sadar akan ke hadiran Rangga.
"apaan sih.. gue juga mau ngikut interview kali..". jawab Rangga dengan kesal.
__ADS_1
"apa.. Lo interview juga..". ucap Stella tak percaya.
"udah dong Stella.. biarin aja..". sahut Kevin dari samping.
mereka masuk ke salah satu ruangan untuk interview. Beberapa menit kemudian mereka keluar dan telah dinyatakan lulus.
"kalian bertiga sudah mulai kerja besok tapi ingat jangan sampai terlambat di hari pertama..". ucap salah satu pegawai yang menginterview mereka sebelumnya.
"iya.. kami akan berusaha..". balas Kevin dengan senyum sok ganteng.
"apaan sih Lo.. senyum-senyum sendiri.. entar kesambat Lo..". ucap Stella dari samping sembari menatap Kevin.
"ganggu aja sih.. lo itu emang ngga ada romantisnya tau.." ucap Kevin kesal pada Stella sembari mengejek dengan sengaja.
Rangga mengikuti dari belakang dan berusaha tak menghiraukan obrolan Stella dan Kevin, sembari memegang handphonenya untuk menghubungi papa mengenai interview.
Saat menunggu lift Stella juga menghubungi bibi Shinta.
"bibi.. aku sudah selesai interview.. apa aku bisa bertemu denganmu.. aku ingin bicara banyak hal mengenai rekanku.." ucap Stella manja.
Tut.. Tut..
"haduh.. bibi ini.." desah Stella sembari memasukkan hp ke saku bajunya.
Lift terbuka, dengan sigap Kevin melankah lebih dulu di ikuti Stella dari samping kemudian Rangga dari belakang yang masih asik dengan ponselnya.
Suasana sunyi mulai melanda. hingga akhirnya mereka tiba di lantai bawa, tanpa basa-basi Stella melangkah lebih dulu kemudian berhenti sejenak memperhatikan sekeliling.
"ada apa Stella.. kok berhenti sih..". tanya kevin dari belakang sembari mengikuti arah tatapan Stella.
"Kevin.. beli es krim yukk.. gue pengen.." ucap Stella tiba-tiba manja pada Kevin sembari tatapnya tertuju pada gerobak es krim di luar gedung.
"haduh.. oke deh.. oke..". balas Kevin pasrah yang tau pasti ia yang akan membayar.
__ADS_1
Dengan sigap Stella berlari menuju gerobak es krim meninggalkan kevin yang berjalan dengan santai.
Saat menunggu pesanan, hp Kevin berdering, ia menerima telpon dan dan dengan perlahan mulai menjauh dari Stella.
Dari belakang tiba-tiba sepasang kekasih tangah bertengkar masing-masing dari mereka tengah memegang sebotol soda dengan memakai baju yang couple berwarna biru.
Pertengkaran mereka tak kunjung reda malah semakin buruk. karena emosi salah satu dari mereka menyiramkan air soda ke tubuh pasangannya dengan keras.
Stella yang sedari tadi berdiri di belang mereka juga ikut terkena cipratan air soda itu. Stella terkaget akan siraman yang mengenainya.
"permisi mba.. mba kalau nyiram liat-liat dong.. saya jadinya juga ikutan basa mba..". ucap Stella menerobos pertengkaran pasangan itu tidak terima dirinya ikut basah.
"ini.. soda..". ucap Stella tersadar melihat botol soda di tangan perempuan itu yang telah kosong.
Perlahan Stella mulai mencari keberadaan Kevin tapi sebelum ia bertemu Kevin tubuhnya mulai tak bisa ia kontrol, kesadarannya juga perlahan menghilang serta penglihatannya mulai gelap.
BBRRUUKKK.
Stella terjatuh pingsan tak sadarkan diri sembari sekujur tubuhnya mulai memerah.
Dari kejauhan Rangga yang tengah menunggu ojek online melihat Stella yang tergeletak tak sadarkan diri kemudian orang-orang mulai berkerumun. tanpa pikir panjang Rangga menghampiri Stella.
"hei.. gadis cerewet..hei..". ucapnya panik sambil menatap tubuh Stella yang memerah.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
jangan lupa like dan komen yaa..
__ADS_1
salam sukses dan terima kasih..