
Oma mulai menatap Stella dan Vivian yang tengah duduk bersama. tanpa pikir panjang ia melangkah menghampiri keduanya.
Stella menatap Oma yang mulai menghampirinya berharap oma akan menjelaskan situasi ini.
"Oma.. aku ingin pulang.. jelaskan ini di rumah saja oke..". ucap Stella manja ingin kembali.
Oma tak menghiraukan Stella dengan sikap manjanya, ia hanya terus fokus menatap Vivian. Vivian yang sedari tadi hanya terus terdiam menatap Oma yang mulai mendekat padanya.
"apa benar.. tidak.. kau memang kembarnya..". ucap Oma sambil meraih tangan Vivian seolah tak percaya.
"kau lebih cantik dari anak tengik ini..". lanjut Oma menyindir Stella.
"Oma ini.. sekarang coba jelaskan padaku mengenai ini.. benar aku punya saudara kembar?". tanya Stella dari samping dengan sedikit kesal karena tak di hiraukan Oma sama sekali.
"hm.. benar.. benar.. benar..". ucap Oma seolah bercanda sambil menatap polos pada Stella.
"omaaaaaaaa.. jelaskan dengan se..de..tail mungkin.. mana bisa aku mengerti dengan situasi ini..". ucap Stella yang masih menahan kesal sambil menatap Oma.
"aku tidak bisa.. belum saatnya kau tau..". balas Oma cuek kemudian mulai menatap Vivian sembari menyentuh dengan lembut wajah Vivian.
Vivian hanya terkejut dalam diamnya, sedari tadi ia juga ini melontarkan banyak pertanyaan, tapi karena sikap Oma yang seolah sengaja menyembunyikan rahasia, ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"siapa namamu nak..". tanya Oma lembut kemudian menggenggam tangan Vivian sembari menatapnya.
"Vi.. Vivian Pratiwi.. anda bisa memanggil saya Vivi..". balas Vivian agak canggung.
"kau tidak perlu formal padaku.. aku juga Oma mu..". ucap Oma yang membuat Vivian tercengang menatapnya.
"kau tak perlu menatapku begitu.. mulai sekarang aku ingin kau ikut bersamaku.. bersama saudara tengik mu ini..". lanjut Oma seolah memerintah semabari menatap Stella dengan cuek.
"Omaaaaaaaa..". bentak Stella tak terima.
"apa.. saya tinggal dengan anda.. tapi saya juga masih punya keluarga.. saya juga belum memberi tahu mereka tentang ini.. berikan saya waktu untuk berfikir..". ucap Vivian menatap Oma seolah berharap Oma akan mengerti dengan situasinya.
"hm.. kapanpun kau mau.. kau bisa datang ke kediaman ku.. aku akan merasa lebih baik jika kau ada..". ucap Oma seraya berharap agar Vivian ikut dengannya.
"dan yaa.. aku juga ingin bertemu keluarga mu.. bagaimanapun mereka telah merawat mu..". lanjut Oma.
"tapi.. keluargaku sekarang adalah panti asuhan.. apa pantas anda..". ucap Vivian terbata.
"tidak apa.. aku akan ke sana untuk melihatmu..". balas Oma yang menyelah ucapan Vivian.
"apa kau sudah makan..". tanya Oma lembut.
"be.. belum.. sedari tadi saya hanya berdiam diri di sini.. orang di luar yang membawa saya kemari..". ucap Vivian sopan sambil matanya tertuju pada dua orang yang tengah berjaga di depan pintu.
Dari luar, dua orang penjaga Oma mendengar perkataan Vivian dengan samar-samar, yang membuat mereka semakin tegang karena salah membawa orang ke rumah sakit. Yang sebenarnya sedari tadi mereka sudah merasa tegang saat melihat Rangga dan Stella yang datang bersama.
Oma menatap dua orang pengawal yang berdiri di luar, dengan senyum senang terlukis di bibirnya kemudian mulai menatap Vivian.
__ADS_1
Rangga yang sedari tadi hanya menatap oma dan Vivian dalam diamnya dari sofa tempat ia duduk sekarang. kemudian perlahan Oma mulai menarik tangan Vivian dan perlahan mengajaknya keluar bersama seraya ingin membahas sesuatu bersama Vivian dan Bu Desi mengikuti dari belakang.
"omaaaaaaaa.. bawa aku juga.. aku ingin pulang..". teriak Stella saat melihat Oma mulai keluar dari pintu bersama Vivian.
"Oma ini.. apa kau sudah melupakan ku.. baiklah.. jangan salahkan aku jika berbuat aneh..". ucap Stella seolah mengancam sambil membuka plastik berisikan es krim yang di bawa Rangga sebelumnya.
"heii.. kau jangan berani berbuat aneh.. jangan merepotkan ku..". balas Rangga tegas saat mendengar ucapan Stella dengan tatapan sinis menatap Stella yang mulai menikmati es krim.
"aku tidak peduli denganmu.. bwekk..". balas Stella tak peduli sembari mengejek Rangga dan menikmati es krim nya.
"dasar gadis ini.. sungguh menyebalkan..". ucap Rangga sedikit kesal kemudian dengan sengaja ia melempar bantal yang ada di sofa dan mengenai Stella yang terduduk di atas ranjang yang tengah menikmati es krim nya.
Stella terkejut saat bantal mengenai wajahnya yang membuat es krim juga ikut tercecer di wajah merahnya itu. kesal mulai menghiasi wajah Stella kemudian ia melempar kembali bantal itu pada Rangga.
Rangga menghindar seolah tahu bahwa stella akan membalasnya sambil mengejek dengan ekspresi jeleknya dengan sengaja.
Stella mulai tak tahan akan wajah jelek Rangga yang sedang mengejeknya, dengan sigap ia beranjak dari kasur tempatnya duduk dan menghampiri Rangga yang tengah duduk santai mengejeknya kemudian dengan es krim yang ia pegang, Stella mendaratkan es krim itu ke wajah Rangga dengan sengaja dan sedikit puas.
"ups.. sorry.. sengaja..". ucap Stella seolah mengejek dengan rasa puas di wajahnya.
"aaakk.. dasar gadis ini.. sungguh kekanak-kanakan..". ucap Rangga menahan kesal kemudian mengambil tissue yang ada di meja untuk membersihkan wajah nya.
"kau yang anak-anak..". balas Stella cuek sambil menghampiri tempat sampah.
Stella membuang es krim di tangannya kemudian mengambil es krim baru dari kantong plastik yang ada di atas ranjang pasien.
"iiiii.. kalau mau yaa ambil sendiri dong..". ucap Stella kesal sambil mengambil es krim lagi dari kantong plastik.
"heii.. buka bajumu..". ucap Rangga tiba-tiba yang membuat stell berhenti dari kegiatannya yang sedang memilah es krim.
"apa.. apa maksud mu..". ucap Stella terkejut dan perlahan tangannya mulai menyilang di dadanya dengan es krim yang ia genggam di tangan kanannya.
"apa.. aku menyuruhmu membuka baju..". tegas Rangga sambil menikmati es krim kemudian menatap stella yang tengah melongo menatapnya.
"heii.. apa yang kau pikirkan.. aku menyuruhmu melepas topi dan switer mu.. apa kau tidak gerah..". ucapnya memperjelas dengan kesal.
"kenapa kau tak bilang dari tadi..". ucap stella kesal kemudian mulai melepas Silangan tangannya.
"aku sudah bilang.. kau yang salah paham..". balas Rangga dengan kesal menatap stella yang mulai melepas topi dan switer nya.
Pintu terbuka, Oma dan Vivian memasuki ruangan dan perlahan menghampiri Stella, saat berjalan, tatapan Oma tertuju pada sekantong es krim yang ada di ranjang pasien kemudian ia mulai menatap stella. tanpa pikir panjang, Oma mengambil sekantong es krim itu.
"dasar gadis ini.. apa kau memakan semua ini..". ucap Oma kesal menatap Stella.
"tidak.. aku hanya makan sedikit.. Rangga yang memberikannya padaku.. dia yang membeli.. lihat saja..". ucap Stella membela diri sambil menyalakan Rangga yang tengah memegang es krim sembari tangannya menyembunyikan es krim yang ia pegang sebelumnya.
"dasar gadis ini.. licik sekali.. apa dia sedang membalasku.. kau juga.. mengapa harus makan es krim sekarang..". batin Rangga bergejolak.
Oma menatap Rangga sekejap kemudian mulai menatap stella yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"gadis tengik.. kau jangan makan es krim lagi.. apa kau lupa gigimu akan sakit.. aku sungguh tak tahan mendengar rintihan sakit gigimu itu..". ucap Oma memperingatkan sstella kemudian mendekati Rangga dengan sekantong es krim di tangannya.
"nak Rangga.. ini es krim mu.. kau boleh memakannya tapi tidak di depan gadis tengik ini.. dia punya masalah dengan giginya jika kebanyakan makan es krim..". lanjut Oma sambil memberikan sekantong es krim pada Rangga seraya memperingatinya.
Rangga hanya terdiam tak tau harus berkata apa karena telah disalahkan dalam hal ini, ia hanya mengangguk mengiyakan ucapan Oma. kemudian tatapan kesalnya tertuju pada Stella yang sedang membuang muka.
"oh iya.. nak Rangga saya mau minta tolong.. tolong kamu antarkan Vivian pulang.. ini sudah larut..". ucap Oma memberi perintah.
"baiklah..". balas Rangga.
"pulang.. tunggu sebentar.. ". ucap Stella sambil mengambil hpnya dan mendekat pada Vivian.
"apa.. apa yang kau lakukan..". tanya Vivian heran.
"Selfi.. dengan kembaran ku..". ucap Stella polos sambil mengangkat hp ingin mengambil foto.
"heii.. tunggu sebentar.. wajahku terlihat jelek di kamera..". ucap Vivian sambil menatap kamera dan Stella langsung berfoto tanpa aba-aba.
"oke sudah.. kau boleh pulang.."ucap Stella sambil menepuk bahu Vivian dengan senyum polosnya kemudian melangkah ke kasur dengan menatap foto yang baru saja ia ambil.
Rangga dan Oma hanya menatap heran akan tingkah Stella yang terasa aneh.
"hei tengik.. buat apa kau berfoto..". ucap Oma penasaran.
"aku ingin melihat wajahku yang cantik dari Vivi..". ucap Stella menatap layar tak peduli pada Oma.
"aiihh.. sudahlah.. jangan hiraukan dia.. dia memang gila..". ucap Oma tak peduli sambil menatap Rangga dan Vivian yang juga heran.
Perlahan Oma mengajak Vivian meninggalkan Stella seraya Rangga mengikuti dari belakang. Teringat akan es krim yang sebelumya di pegangang Rangga, Stella menghampiri Rangga yang tengah menenteng kantong es krim itu. dengan sigap stella menarik kantong plastik dari tangan kanan Rangga yang membuat Rangga terkejut.
"akkkk.. gadis ini.. apa mau membuatku dalam masalah lagi..". batin Rangga kemudian menatap kesal pada stella.
Mengingat Oma yang sebelumnya menceramahinya rangga berusaha merebut kembali kantong itu, Stella juga tak mau kalah, ia berusaha mengambil kantong itu seraya menariknya sekuat tenaga.
Rangga mulai kesal sehingga dengan kasar Rangga menarik kantong itu yang membuat kantong es krim itu robek dan es krim mulai berhamburan.
"aaakkk.. es krim ku..". batin stella berteriak menatap es krim yang berceceran di lantai.
To
Be
Continue
jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
jangan lupa like, dan komen ya.
salam sukses dan terima kasih.
__ADS_1