Twin Sister

Twin Sister
eps-18


__ADS_3

Pagi hari di kediaman cornelia.


Kringggg.. kringgg..


Suara alarm bergema dalam kamar Stella yang membuat ia tak tahan akan bisingannya. Dengan setengah sadar ia meraih jam weker yang tepat di atas meja di sampingya.


Stella menekan tombol off dan melempar jam itu ke kasurnya seraya melanjutkan tidurnya.


Kringgg.. kringgg..


Suara alarm masih terdengar di telinga Stella kemudian dengan kesal ia mengambil jam wekernya kembali dan menekan off lalu tertidur mengira jamnya yang berdering.


Kringgg.. kringgg..


Baru saja ia mematikan jamnya, terdengar lagi suara deringan di telinganya. Stella mulai terganggu, dengan wajah suntuk ia duduk dari baringnya seraya mentap jam wekernya dengan mata setengah tertutup tapi sepertinya bukan jamnya yang sedang berbunyi, lalu ia kembali membaringkan tubuhnya lagi.


Kringgg.. kringgg..


Belum beberapa menit Stella membaringkan tubuhnya, ia mendrngar suara deringan itu lagi yang membuatnya mulai kesal.


"Aaaaa.. itu siapa sih.. matiin dong jamnya.. gue masih mau tidur..". Teriak Stella dengan suara serak seraya duduk dari baringnya dengan wajah suntuknya.


Kringggg.. kringggg..


Suara jam terdengar lagi, Stella mulai tak tahan akan bisingan itu. Dengan kesal dan wajah suntuk serta rambut acak acakan dan masker yang memenuhu wajahnya, ia melangkah membuka pintu kamar mencari asal suara bisingan jam itu.


Kringgg.. kringgg..


Dengan langkah luntai, ia menghampiri kamar Vivian yang sedari tadi jam wekernya terus berbunyi.


Tok.. tok.. tok..


"Vivian.. udah bangun belum.. jamnya matiin dong.. kedengeran sampai kamar gue..". Ucap Stella di depan pintu dengan tak bersemangat.


Tak ada jawaban dari dalam yang membuat Stella sedikit penasaran.


Kringgg.. kringgg..


Suara deringan terdengar lagi yang membuat Stella kesal dan dengan sigap ia membuka pintu.


Krek...


Pintu terbuka, Stella mendapati beberapa orang yang tengah berdiri di samping bidang datar empuk Vivian seraya menatap Stella.


Stella membuka mata lebar-lebar dan mendapati Oma dan Reza yang tengah melongo mentapnya.


"Kalian ngapain di kamar Vivian..". Tanya Stella tak bersemangat.


"Membangunkan vivian.. dari tadi dia belum bangun.. apa dia baik-baik saja.. aku sudah membunyikan jam ini beberapa kali tapi dia tak merespon..". Ucap Oma seraya menatap Vivian yang terlelap dengan jam weker yang ia pegang.


Seperti sebelumnya, Vivian memang susah di bangunkan di pagi hari, apa lagi sekarang ia tinggal di lingkungan baru yang tentu belum tau kebiasaan tidur paginya.


"Kalian bukan membangunkan Vivian tapi aku..". Gumam Stella seraya mendekat.


"Kalian ini dia mana bisa bangun hanya dengan susra alarm.. setidaknya tepuk bahunya". Ucap stella menjelaskan seraya menatap Vivian yang terlelap dengan mata sayunya yang masib ingin tertutup.

__ADS_1


"Aku sudah melakukannya.. tapi dia seperti kebo..". Jawab Reza ketus.


"Haihh.. baiklah biar aku saja..". Ucap Stella.


"Vivi.. bangun.. vi.. kalau lo ngga bangun gue nginkut tidur aja yaa..". ucap Stella lembut sambil menepuk pelan pundak Vivian.


"hhmmm..". Gumam Vivian yang masih terlelap.


"Heii.. dia mana bangun jika kau berkata begitu.. apa kau sedang merayu. .". Ucap Oma seraya memukul kepala Stella.


"Aakk sakit.. haihh.. baiklah.. kucoba lagi". Ucap Stella tak bersemangat.


"Vivi.. bangun.. udah pagi.. bangunnnnnn..". Teriak Stella tiba-tiba seraya mengguncang tubuh Vivian yang membuat Oma dan Reza terkejut dan menutup kedua lubang telinganya.


Terkejut, Vivian langsung duduk dari baringnya dengan mata yang masih tertutup. perlahan ia mulai membuka mata dan mendapati Stella, Oma dan Reza di sampingnya.


"Dia sudah bangun.. aku akan kembali ke kamar.. masih ngantuk..". Ucap Stella saat melihat Vivian sambil berjalan keluar menuju kamarnya, meninggalkan Oma dan Reza yang melongo mentapnya.


Stella keluar dari pintu kamar Vivian dengan wajah yang suntuk dan masker yang masih melekat memenuhi wajahnya serta rambut yang acak-acakan.


"Aaaakkk.. ini zombi dari mana..". Teriak Rangga terkejut yang baru saja keluar dari kamarnya dan mendapi Stella yang berjalan lungtai dengan mata setengah tertutup.


"Berisik..". Bentak Stella pada Rangga dengan mata yang masib ingin tertutup kemudian memasuki kamarnya.


"Gadis ini.. aneh sekali.. barusan dia berteriak dan sekarang dia seperti hantu saja..". Gumam Rangga seraya mentap pintu kamar Stella kemudian menghampiri Pintu kamar Vivian yang terbuka lebar dan mendapati Oma dan Reza seraya berdiri dan bersandar di pintu menatap mereka.


"Oma dari tadi di sini.. aduh.. Oma pasti kesulitan bangunin aku.. kebiasaan kalau tidur susah di bangunin.. semalam kan aku udah bilang ke oma..". Ucap Vivian seraya menetralakan pikiran dan pandanganya kemudian menatap Oma dan Reza yang sedari tadi mentapnya.


"Haiih.. iya sih susah di bangunin.. tapi aku pikir tak sesusah ini..". Batin Oma seraya menatap Vivian dengan senyum polos.


"Untung aja ada spiker berjalan di rumah.. gue ngga mungkin kan setiap hari di suruh Oma ngabagunin kak vivi..". Batin Reza berharap.


"Aaa itu.. dia pasti datang ngebangunin gue.. teriakannya bagus juga jadi alarm..". Ucap Vivian dengan polosnya yang membuat Rangga melongo heran mentapnya begitu juga dengan Oma dan Reza.


"Baiklah.. kamu siap-siap dulu baru ke bawah untuk sarapan pagi.. nanti kamu juga ke kantor bersama Rangga dan Stella..". Ucap Oma seraya memegang tangan Vivian


"Ke kantor.. aku.. aku mana tau soal kantor Oma..". Jawab Vivian heran.


"Udah.. kamu kan masih bisa belajar dari Shinta.. kamu juga masih anak magang seprti Stella dan Rangga jadi masih bisa belajar kok..". Ucap Oma seolah merayu.


"Tapi..". Sanggah Vivian.


"Ngga ada tapi.. kamu coba aja dulu.. oke.. Oma tunggu di bawah yaa..". Ucap Oma seraya keluar dari kamar.


"Kalau gitu aku keluar juga ya kak..". Ucap Reza berpamitan pada Vivian dan Rangga kemudian meninggalkan kamar.


"Aduh.. kantor.. aku mana pernah kerja di kantor..". Gumam Vivian gelisah.


"Kamu santai aja.. masih ada pembimbing kok yang bakal bantuin.. hari ini juga hari pertama Stella masuk kantor..". Ucap Rangga meyakinkan Vivian dari pintu.


"Iya deh gue coba dulu..". Balas Vivian ragu.


"kamu siap-siap sana.. aku ke bawah dulu..". Jawab Rangga seraya meninggalkan Vivian.


"Nak rangga.. Stella tolong di bangunin.. pasti tidur lagi..". Teriak Oma dari bawah saat Rangga akan menuruni tangga.

__ADS_1


"Haduhh.. iya Oma..". Balas Rangga saat mendengar teriakan Oma kemudian melangkah kembali seraya menghampiri kamar Stella.


Krek..


Rangga membuka pintu, tatapanya langsung tertuju pada Stella dalam ruangan yang bernuansa ungu itu. Perlahan ia mendekat seraya menatap Stella yang terlelap.


"Hei cerewet.. bangun.. samapai kapan lo mau tidur.. bangun.. entar telat ke kantor lo..". Ucap Rangga seraya kaki kananya menendang lengan Stella dan berusaha membangunkanya.


"Aduhh.. nanti aja.. 5 menit lagi.. gue masih ngantuk..". Balas Stella kemudian menepuk kaki Rangga dari lenganya.


"Ngga ada nanti.. bangun sekarang..". Ucap Rangga memaksa seraya duduk di samping Stella.


Dengan sigap Rangga menarik selimut yang menutupi tubuh Stella kemudian menarik lengan kanan Stella agar terduduk dari baringnya. Stella terduduk perlahan dengan mata masih tertutup karena tarikan Rangga dan tanpa sengaja dari mereka bertemu.


Wajah Stella yang masih di balut masker menempel sempurna di dahi Rangga yang membuat Rangga sedikit terkejut. Hembusan lemah nafas Stella bisa ia rasakan terhampar di pipinya.


Deg.. deg.. deg..


Dengan sigap Rangga berdiri dan mendorong tubuh Stella serta melapas genggaman tanganya.


"Lo cepetan bangun.. kita ke kantor sebentar..". Ucap Rangga refleks kemudian meninggalkan kamar Stella dengan terburu-buru.


"Lagi.. jantung gue kenapa lagi..". Batin Rangga bertanya seraya berjalan cepat menuruni tangga.


Perlahan Stella mulai bangkit dari duduknya seraya membuka mata lebar-lebar kemudain meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.


"Rangga kenapa sih.. mau ke kantor.. buru-buru amat..". Gumam Stella.


*


*


Mereka bertiga berangkat ke kantor barsama dengan jingli mobil stella yang di kemudi olah Rangga. Saat sampai di gedung cornelia compeny, Stella dan Vivian berjalan bersama dan menuai banyak mata yang sedang memandag ke arahnya.


Stella berusaha bersikap netral dan tak menghiraukan sekelilingnya, ia berjalan lebih dulu dari Rangga dan Vivian seraya tertunduk.


Bug..


Tak sengaja stella menabrak seseorang, yang membuat ia hampir terjatuh, dan orang yang ia tebarak sedang memungut hpnya yang terjatuh akibat bertabrakan dengan Stella.


"Heii.. kalau jalan liat-liat dong.. jangan jalan sambil nunduk..". Bentak orang itu seraya mentap Stella yang tertunduk.


Tak terima, Stella mulai menegadah menatap sosok yang ia tabrak di depanya. Terkejut, Stella melongo menatap orang itu yang tak asing baginya.


"Kauuuu..". Ucap Stella seketika seraya menunjuk orang di depannya.


"Kau lagiiii..". Balas orang itu yang juga tengah melongo mentap Stella dengan kesal.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen.


Salam sukses dan terima kasih.


__ADS_2