Twin Sister

Twin Sister
eps-28


__ADS_3

"Kamu.. bukannya itu kamar Stella?" tanya Bella seraya melepas dekapannya.


“Ya ampun aku lupa, sekarang aku adalah Vivian. Pantas saja dia merasa aneh melihatku masuk kamar ini.. Bagaimana ini, apa yang harus ku lalukan!” ujarnya dalam hati yang kerap panik mencari alasan berharap Bella dapat menerimanya.


“Itu.. Kamarku memang di sana, aku hanya mengambil beberapa barang yang tertinggal di kamar Stella, karena seharian ini aku menonton di kamarnya!” jelasnya kaku.


“Ayo kita berangkat, takutnya macet!” sambungnya kemudian meraih tangan Bella dan menuntunnya.


“Ba baiklah..” balas Bella, ia masih berusaha menetralkan diri dari kegundahannya.


Sedikit lega, Stella berharap Bella tak akan curiga tentang dirinya yang tengah berbohong. Mereka menuruni tangga, dari arah sofa, tampak Oma tengah asik dengan ponselnya, Oma sadar akan kehadiran mereka .


“Nak Bella, Vivian.. apa semuanya baik-baik saja!” tegur Oma, sebelumnya ia menyuruh Bella langsung mencari Vivian di kamarnya.


“Oma, aku akan ke rumah sakit, bibi Ratih tiba-tiba pingsan!” jelas Stella, yang juga berpamitan dan masih menarik tangan Bella bersamanya.


Walau sedikit menjanggal, Oma percaya pada apa yang dilihatnya, percaya bahwa yang bersama Bella adalah Vivian, “Hati-hati, oh iya suruh pak Amir mengantar kalian!” teriak Oma kerap menatap mereka yang terburu-buru dan kian menjauh dari pandangan.


“Iya Iya!” teriak Stella pula.


Di halaman depan, Stella menyuruh pak Amir mengantarnya. Tak merasa canggung layaknya Vivian, Stella mengajak Bella duduk bersamanya di kursi penumpang.


Setelah siap, pak Amir melajukan mobil ke tempat tujuan. Di tengah perjalanan, Stella sempatkan menghubungi Vivian, tapi tak ada respons sama sekali, banyak panggilan dan pesan berturut-turut ia kirimkan. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit Dita hospital di mana bibi Ratih di rawat.


Bella melaju saat setelah turun dari mobil, Stella sempatkan berpamitan pada pak Amir kemudian mengikuti Bella, langkah demi langahkah mereka usahakan, hingga akhirnya di salah satu ruangan mereka melihat sosok Adit yang tertegun dalam diamnya.


Bella menghampirinya, dan tanpa mengucap satu kata ia bergegas masuki ruangan. Stella juga mengikuti dengan perasaan gugup, tak tau harus berbuat apa nantinya, terlebih lagi ia juga tidak tau siapa sosok yang di temuinya.


Di pandangnya bibi Ratih yang terbaring lemah dengan selang infus yang melilit tangannya. Stella terdiam, menatap dalam sosok yang di sebut Ratih itu. Terliha wajah sendu pada Adit dan Bella, membuat Stella kerap merasakan hal yang sama. Walau Stella tak mengenal sosok itu, tapi pasti dialah orang terpenting bagi Vivian dan Bella, salah seorang yang bisa membuat mereka menangis jikala melihat keadaannya sekarang.


Stella mendekat pada sisi ranjang, sekali lagi ia menatap lekat sosok itu, sosok kebanggaan Vivian. Ia membayangkan bagaimana perasaan Vivian jikala melihatnya.


“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” batin Stella berpikir, karena sebelumnya ponsel Vivian sama sekali tak aktif. Ia juga meresa bersalah jika harus menjadi Vivian di saat seperti ini.


“Sebenarnya bibi sakit apa?” tanya Stella akhirnya, ia merasa penasaran, walau bukan haknya untuk ikut campur. Tatapan ia tujukan pada Adit yang tertegun sedari tadi, mungkin saja Adit tau ada apa dengan Ratih.


“Bibi.. dia, dia baik-baik saja!” jawabnya seolah pasrah, ia hanya tertunduk memainkan jarinya.


“Benaran ngga papa kan Dit?” jelas Bella yang juga khawatir, harapnya tak terjadi apa-apa dengan Ratih.


“I, iya ngga papa!” ujar Adit kian ragu.


Suasana sunyi melanda ruangan, di arah jendela yang terbuka lebar, angin menyapa, menyambar pipi bibi Ratih yang masih terbaring lemah. Perlahan secercap cahaya menyilaukan retina mata bibi Ratih, ia mulai mengontrolnya dan perlahan membuka mata. Dalam pandangan, ia melihat tiga sosok kebanggaannya.

__ADS_1


“Bi, bibi sudah sadar, ada yang sakit tidak!” tanya Bella langsung saat melihat bibi Ratih yang mulai membuka mata.


“Bibi ngga papa kan?” sahut Stella pula, ia meraih tangan Ratih, memulai aktingnya sebagai Vivian.


Dalam diamnya, Ratih hanya menggeleng kepala jawaban atas ucapan yang di lontarkan Bella dan Vivian. Ratih menatap lekat pada Adit, kemudian ia menguatkan diri agar duduk dari baringnya.


“Kalian tidak perlu cemas, bibi cuma kelelahan saja!” ucap Ratih yang tak ingin mereka khawatir padanya.


“Bibi ngga usah bicara lagi, istirahat saja, dan jangan banyak bergerak!” sahut Stella yang berusaha bersikap layaknya Vivian.


“Tapi, anak-anak? Siapa menjaga mereka kalau kalian di sini?” ucapnya yang langsung saja ingat akan anak panti, yang tak lain tanggung jawabnya.


“Me mereka pasti khawatir” lanjutnya.


“Kalian pulang saja, bibi bisa jaga diri, lagian ada suster yang jangian bibi di sini!” suruhnya.


“Tapi bi..” sanggah Bella yang tak ingin membiarkan Ratih sendiri.


“Sudah, tidak apa, tuh susternya sudah datang!” balasnya meyakinkan saat salah satu suster memasuki ruangan kemudian mengamati bibi Ratiah.


“Benaran ngga papa bibi kami tinggal dulu!” sahut Stella pula yang juga merasa tak yakin.


“Ngga papa kok nak! Kalian sana gih, yang ada kalian malah ganggu bibi istirahat!” perintahnya lagi.


Tampak Adit masih tertegun dalam diamnya, perlahan ia juga mulai beranjak mengikuti Bella dan Vivian dengan ragu.


“Nak Adit!” panggil Ratih yang membuat Adit menghentikan langkahnya.


“Nak Adit ngga bilang apa-apa kan soal penyakit bibi ke Vivian dan Bella?” tanyanya memastikan.


“Tapi kenapa? kenapa harus di rahasiakan dari mereka! Mereka juga berhak tau penyakit bibi kan?” sanggah Adit, menatap Ratih di ranjang pasien dengan wajah yang tampak pucat. Sedari tadi ia berusaha menahan diri agar tak memberi tau tentang penyakit Ratih pada Vivian.


“Sekarang bukan waktu yang tepat, lebih baik seperti ini dulu, nanti bibi sendiri yang mengatakannya pada mereka!”


“Tapi bibi..” sanggah Adit.


“Sudah, nak Adit jangan ambil pusing penyakit bibi, nak Adit jaga rahasia saja bibi sudah berterima kasih!” balas Ratih lagi yang kerap meyakinkan Adit.


“Udah sana, Vivian dan Bella menunggu mu!” suruhnya.


Tanpa pikir panjang lagi, Adit keluar dari ruangan dengan perasan kecewa. Di depan lift tampak Vivian dan Bella sedang menunggunya.


Bersama-sama mereka menuju parkiran, setelah siap Adit melajukan mobil ke tujuan. Tak selang waktu lama mereka sampai di depan panti asuhan. Sedari tadi Stella lagi-lagi berusaha menghubungi nomor Vivian, tapi sama sekali tak aktif. Panik sudah pasti ia rasakan, Stella tak tahu harus berapa lama ia menjadi Vivian.

__ADS_1


Mengingat Rangga, Stella langsung mencari nomor Rangga pada layar ponselnya, dikirimnya pesan bertubi-tubi menandakan kepanikannya. Adit dan Bella mulai beranjak dari dalam mobil, tampak anak-anak panti sedang menunggu di depan pintu. Sontak, Bella dan Adit langsung menghampiri mereka, meninggalkan Stella yang masih dengan ponselnya.


Tring.. tringg.. tringg..


Rangga langsung menelpon saat setelah membaca pesan yang di kirim Stella, dengan sigap pula Stella mengangkat panggilan seraya beranjak keluar dari mobil.


“Halo Stella, kamu..!” ucap Rangga saat panggilan tersambung.


“Kamu sama Vivi ngga, aku mau bicara sama Vivi!” sela Stella yang langsung mencari Vivian, ingin memberi tahukan tentang bibi Ratih dan keberadaannya sekarang.


“Oke, tunggu sebentar!” balas Rangga kemudian mendekat ke Vivian yang sedari tadi bersama Kevin di salah satu meja dalam sebuah kafe.


Sedikit menunggu, Stella lihat-lihat sekeliling lingkungan tempat ia berdiri sekarang. Di dapatinya sorot mata yang tertuju padanya dari arah pintu. Adit dan Bella juga berdiri di sana, berdiri bersama rombongan anak-anak yang tengah menatap heran padanya.


“Kak Vivi!” panggil Evan sambil berlari menghampiri Stella, mengira sosok itu adalah Vivian.


Stella terkejut akan seruhan itu, di tatapnya sosok mungil yang kian mendekatinya. Dengan kaki kecilnya, Evan berlari. Pada salah satu langkahnya Evan tersandung, hampir saja tubuh mungil itu menghantam tanah, tapi tepat sebelum terjatuh, kedua tangan Stella menangkap tubuh kecil itu.


“Hati-hati!” ujar Stella memperingatkan, menatap Evan dalam dekapannya, tapi ponsel nya malah lepas dari genggamannya.


Greb..


Peluk Evan yang membuat Stella terkejut. Pelukannya kian erat, tangan mungilnya melingkar sempurna di leher jenjang Stella. Evan tengah melepas rindu, berapa hari terakhir tak bertemu pada sosok yang di kaguminya ini.


“Kak Vivi ngga lupa kan sama aku!” ujarnya sendu yang kian mendekap erat Stella.


“Aku rindu banget sama kak Vivi” lanjutnya manja.


Tak tahu haru mengucap apa, Stella hanya membalas pelukan mungil itu yang membuatnya merasa tersentuh. Dari kejauhan, tampak anak-anak yang kian mendekat padanya. Tanpa pikir panjang, anak-anak itu juga mulai bergabung memeluk Stella.


“Kak Vivi, kami juga rindu!” ucap salah satu dari mereka sebelum memeluk Stella bersamaan.


Stella sudah berada dalam kerumunan anak-anak, ponselnya entah di mana. pikirannya sekarang tengah fokus pada anak-anak ini, ia juga membalas dekapan manis itu.


Ia terharu akan situasi yang di alaminya, walau sebenarnya pelukan itu bukan di tujukan untuknya. Tapi setidaknya perasaan ini yang akan di rasakan Vivian jika bertemu anak-anak, pikirnya.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen.


__ADS_2