Twin Sister

Twin Sister
eps-26


__ADS_3

Mobil berhenti di parkiran. Rangga keluar dari mobil dan di ikuti Vivian yang kini menyamar sebagai Stella. Sedikit tercengang, Vivian menatap gedung kampus yang tinggi menjulang mengaguminya dalam diam.


Siswa kampus juga mulai berdatangan memasuki gedung dengan almamater berwarna orange yang seragam.


"Mereka memakai almamater.. Stella tidak memberiku almamaternya.. apa tidak apa aku tidak memakainya!!". Batinnya yang sedikit gugup seraya menatap tampilanya dan melangkah mengikuti Rangga.


"Hei.. apa yang kau lakukan?". Sahut Rangga dari depan yang tengah berbalik menatap heran padanya.


"Apa? aku melakukan apa?". Batin Vivian terkejut kemudian terdiam kaku menatap Rangga seraya menebak perbuatan apa yang telah ia lakukan.


"Apa dia tidak mengerti, dari tadi dia mengikutiku.. biasanya kan dia yang berjalan lebih dulu". Batin Rangga heran.


Mata mereka saling memandang, tatapan Rangga yang heran tengah menatap Vivian, di pikirnya Stella nampak berbeda dari biasanya, sedari tadi ia juga tak mendengar ocehan cerewetnya.


"Apa dia kurang enak badan?". Batin Rangga menduga.


Vivian yang membalas kaku tatapan Rangga mulai membuatnya gugup berharap dirinya tak ketahuan.


"Apa Rangga udah sadar ya kalau aku Vivian..". Batinnya menduga yang tengah gugup dengan tangan yang mengepal.


"Stellaaa..!". Teriak seseorang dari samping yang tak lain adalah Kevin, ia berlari menghampiri Vivian seraya melewati Rangga seolah tak menghiraukannya.


Greb.


Tanpa pikir panjang, Kevin langsung memeluk Vivian yang membuatnya terkejut kaku. Dekapan kevin semakin erat seolah memang disengaja, membuat Vivian juga semakin tak bisa mengatur nafas dengan baik.


Rangga yang masih berdiri di samping mereka mulai merasa tak tahan melihat Kevin yang seperti itu.


"Heii.. lepaskan dia.. apa kau bermaksud membunuhnya secara perlahan!!". Sahutnya ketus seraya menepuk bahu Kevin dengan keras, melampiaskan kekesalannya.


"Akk.. ahh sorry sorry.. gue pikir lo ngga bakal dateng.. hampir aja gue mau jemput lo.. hari ini lo ingatkan, jadi pacar sehari gue..". Ucap Kevin girang seraya melepas dekapannya menatap Vivian yang terdiam kaku dan tengah mengatur nafas dalam-dalam, berusaha menetralkan diri.


"Apaa..". Sahut Vivian lemah terkejut ingin memperjelas ucapan Kevin.


"Lo ngga lupa kan.. pokokya hari ini lo jadi tameng gue.. gue kan populer di kampus, biasanya lo juga kan yang nyolotin mereka.. jadi hari ini gue minta jasa lo lagi.. gue bakal lakuin apa aja kemauan lo!!.". Ucap Kevin memperjelas yang mengingatkan soal peran Vivian hari ini.


"Stella kok ngga bilang sih hari ini aku jadi pacar sehari Kevin.. aku mana tau harus ngelakuin apa!!". Batin Vivian gelisah.


"Jadi pacar sehari?? bukannya temenan aja udah baik.. dasar aneh". Batin Rangga yang kesal.


Seperti acara kampus sebelumya, biasanya Kevin akan di kerumuni banyak gadis, yang mana dari mereka merupakan mantan, gadis yang pernah ia tolak, dan pengagum rahasiannya. Ya, dia memang popoler di mata para gadis.


Untuk menghindari dirinya dari cacian kesal para gadis itu, ia selalu melengket pada Stella. Tentu saja dengan sifat Stella yang pemarah, arogan dan cerewet membuat para gadis itu tak ingin berdebat panjang dengannya.


Dan, hari ini Kevin juga bermaksud menempel pada Stella, berharap para gadis itu tak akan mengangunya. Tapi ia tak tahu bahwa yang di hadapannya bukan Stella melainkan Vivian, bagaimana bisa Vivian bersikap arogan pada gadis yang bahkan belum di kenalnya.


"Hei.. maksud lo apaan?". Tegas Rangga yang kesal mendengar ucapan Kevin.


"Ngga ada.?". Balas Kevin ketus yang mulai menarik tangan Vivian berusaha menuntunnya dan beranjak dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


"Mau kemana?". Ucap Rangga ketus yang juga tengah menarik tangan Vivian yang membuat Kevin menghentikan langkahnya serta Vivian yang sedikit kaku mulai menceran situasi, dengan wajah masih nampak gugup dan bimbang takut dirinya ketahuan, dengan kedua sisi tangannya di pegang Rangga dan Kevin.


"Ini bukan urusan senior..". Balas Kevin yang juga ketus kemudian melepaskan tangan Rangga dari memegangi tangan Vivian.


"Memang bukan urusanku.. tapi dia harus selalu ada dalam pandanga ku.. aku bodyguardnya!!". Seru Rangga memperjelas dengan tatapan sinisnya kemudian melepas tangan Kevin darinya.


"Kalian..". Sahut Vivian lemah yang membuat Kevin dan Rangga terfokus menatap padanya.


"Haihh.. baiklah.. senior juga boleh ikut!!". Ucap Kevin pasrah kemudian menarik tangan Vivian agar berjalan di sampingnya.


Dengan kesal Rangga mengikuti dari belakang dan menatap tajam pada tangan Kevin yang tengah menggandeng tangan Vivian, menandakan kecemburuannya.


"Padahal cuman temen.. kok mesra banget, gadis cerewet itu juga diam saja.. bikin kesal aja.. apa dia lagi marah ama gue..". Gumam Rangga kesal seraya menebak perbuatan salah apa yang telah ia lakukan yang menyinggung Stella.


Saat mereka mulai memasuki gedung kampus, tiga sosok gadis terlihat menghampiri mereka dengan tatapan yang langsung tertuju pada Kevin dengan senyum cengirnya.


Mereka mendekat, yang membuat Kevin mengangkat tangan meragkul mesrah leher Vivian dan perlahan mendekatkan wajahnya pada telinga Vivian.


"Mereka datang.. yang di tengah itu Lisa, kemarin dia nembak gue tapi gue tolak.. gue sih ngga ada rasa ama dia, lo tau kan harus ngapain!!". Bisiknya yang membuat Vivian membulatkan mata menatap kaku gadis itu yang kian mendekat.


"Emangnya aku harus ngapain?". Batin Vivian gugup.


"Terus yang dua itu siapa?". Tanyanya berbisik pelan.


"Lo udah lupa.. mereka berdua terobsesi ama gue.. mereka minta aku ngajakin kencan, bulan lau lo juga udah ngasih peringatan ke mereka.. tapi kemarin meraka masih maksa gue buat kencan bareng". Ucap Kevin serius.


"Sekarang aku harus gimana?". Tanya Vivian polos tak tau harus mealakukan apa.


"Maksud lo? yang biasa lo lakuin ke merekalah!!". Balas Kevin yang menatap tiga gadis itu yang kian mendekat.


"Yang biasa aku lakuin apa?". Tanya Vivian lagi dengan wajah polosnya.


Kevin sedikit terkejut mendengar ucapan polos itu, ia kemudian melotot menatap Vivian dalam diamnya. Sejenak ia berfikir bahwa Stella sedang bercanda dengannya.


"Lo salah makan apa sih..". Ucapnya mengejek.


Dari belakang, Rangga mengikuti mereka, menjalankan tugasnya sebagai bodyguard, yang juga tengah menatap pada Kevin dengan kesal, rasanya ia mulai tak tahan ingin memisahkan Kevin dari Stella.


Tiga gadis itu berhenti tepat di depan Kevin dan Vivian yang tengah menghalangi jalan seraya menatap Kevin dengan sinis.


"Vin.. gue pengen bicara ama lo". Ucap Lisa langsung tanpa basa-basi memulai pembicaraan.


"Kevin.. kok kamu ngga dateng sih ke kafe kemarin.. aku nunggu ampe jamuran lo". Sahut Tina dari samping kanan Lisa. Dan di samping kirinya ada Sena yang hanya terdiam menyimak situasi mengingat dirinya yang hanya menemani kedua teman liarnya itu.


"Kalian ngga ada kegiatan lain apa? aku kan ngga ada hubungan apa-apa sama kalian!! udah.. aku sibuk sama Stella". Ucap Kevin dengan wajah masamnya seraya senyum paksa menatap tiga gadis itu.


Tatapan mulai tertuju pada Vivian, yang membuatnya terkejut heran mengira yang di hadapannya adalah Stella. Terdiam, Vivian hanya menatap polos pada tiga gadis itu dengan kaku.


"Stella, Stella Stella lagi.. di kampus ini yang deket ama Stella cuman Kevin.. tapi Kevinkan ngga mungkin suka sama cewek arogan kayak gini?". Ucap Lisa yang memang sudah lama menjadi rival Stella dengan tatapan sinis menatapnya kemudian mendorong tubuh Vivian dengan sedikit kasar.

__ADS_1


Semua siswa kampus juga tau kalau Stella hanya punya Kevin sebagai temannya. Walau Stella dan Kevin teman semasa kecil, tapi Stella tidak bisa bergaul dengan baik, dan sebaliknya Kevin yang ahli dalam bergaul malah berakhir jadi playboy seperti sekarang.


Kevin mulai kesal akan tindakan Lisa yang baru saja mendorong sahabatnya. Dari samping juga tampak Tina yang kian mengulurkan tangan mendorong kasar tubuh Vivian yang membuat keseimbangannya goyah.


"Lo bisa ngga sih jauh-jauh dari Kevin!!". Seru Tina kesal mendorong Vivian.


Sedikit kesal, Kevin memegangi tangan Lisa yang akan mendarat pada tubuh Vivian yang bermaksud ingin mendorongnya lagi. Dari belakan juga tampak Rangga yang kesal seraya meraih tubuh Vivian yang hampir saja tersungkur.


Vivian terkejut akan Rangga yang tiba-tiba melingkarkan tangan di pinggannya, matanya mulai menatap lekat sosok Rangga dari samping. Ia tercengan mendapati wajah Rangga yang begitu dekat dengannya.


Deg.. deg.. deg..


Suara detak jantung Vivian seakan memburu, ia mulai hanyut akan sosok yang di pandangnya.


"Rangga menolongku!!". Batinnya.


"Lo ngga papakan?". Tanya Rangga seraya melepas tangannya dari pinggang Vivian


"Aaa.. ngga papa". Ucap Vivian terbata dengan sedikit malu dan mulai menetralkan diri.


"Kalian apa-apaan sih.. kalau kalian ngga suka Stella, buat apa juga aku sama kalian.. jangan kalian pikir karena aku baik sama kalian jadi kalian bisa semema-mena sama Stella.. sana.. gue udah ngga pengen liat wajah kalian lagi". Ucap Kevin kesal seraya menatap sinis pada Lisa dan Tina yang membuat mereka terkejut akan sikap yang di tunjukkan Kevin.


Tanpa mengucap satu kata, mereka berlalu meninggalkan Kevin yang kesal. Kevin langsung menatap Stella, desahan lemah mengikuti nafasnya berharap sahabatnya tak akan marah padanya akan apa yang baru saja terjadi.


"Lo ngga marahkan..". Ucapnya sendu.


"Eehh.. marah kenapa?". Tanya Vivian heran.


"Aihh.. sudahlah.. kita masuk aja, bentar lagi jam sembilan, acara juga bakal mulai!!". Ajak Kevin seraya mengandeng tangan Vivian dengan senyum polosnya seolah tak terjadi apa-apa.


Vivian hanya mengikuti ajakan Kevin. Rangga juga tampak mengikuti dari belakang dengan wajah datarnya.


Ting..


Notifikasi ponsel Rangga berbunyi, dengan penasaran ia membuka layar ponselnya. Di dapatinya pesan dari Stella yang membuat ia melotot heran.


"Aku minta tolong ya Vi.. kalau pulang nanti beliin aku pembalut!!". Isi pesan yang di baca Rangga pada layar ponselnya dengan wajah yang nampak heran seraya menatap Vivian yang tengah berjalan dengan Kevin tepat di hadapannya.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


Jangan lupa like, dan komen.


Salam sukses dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2