
Malam sudah mengganti posisi, dan Rangga masih berdiam diri di kamarnya. Sebelumnya ia mendengar percakapan Oma dan dokter Rahma yang sampai sekarang mengganggunya.
“Sebenarnya ada apa dengan Stella?” gumamnya penasaran.
“Apa dia masih marah padaku!”
“Aku akui itu memang salah ku! Aku yang tanpa pamrih sudah menciumnya, tapi itu kulakukan karena dia juga!” jelasnya merana, merasa dirinya tak bersalah.
Kring .... Kring ....
Suara deringan ponsel mengagetkannya. Dengan sigap ia menyambar ponselnya yang tepat di samping ia berbaring. Panggilan masuk atas nama ayah. Dengan desahan lemah seolah tau apa yang akan di lontaran ayahnya itu, Rangga menyambungkan panggilan.
“Rangga, papa ingin minta tolong!” ujar papa yang langsung meminta pertolongan tanpa basa-basi.
“Orang tua ini selalu saja.. kalau menelpon pasti ada maunya!” batin Rangga berdecak kesal.
“Jadi apa yang bisa ku bantu taun!” ujar Rangga pasrah yang sedikit bercanda, siap mendengar perintah apa yang akan di berikan padanya.
“Kau ini bisa saja! Be begini, Rina ingin meminta tanda tangan dari dokter Justin!” ujarnya.
“Do dokter Justin?”
“Ya, dia adalah dokter spesialis terkenal di rumah sakit dokter Bram!” tutur papa.
“Aku tau, tapi mengapa Rina ingin tanda tangannya?”
“I itu, terakhir kali Rina di rawat oleh dokter Justin, dan dia lupa meminta tanda tangannya waktu itu.. dan sekarang dia malu untuk memintanya, lalu menyuruh papa yang ke sana.. sekaligus berterima kasih pada dokter Justin!” jelasnya.
“Jadi.. Mengapa papa tidak pergi?” ujar Rangga yang mulai curiga.
“A.. Akhir-akhir ini papa banyak kerajaan di kantor, jadi tidak ada waktu! Kau tau sendiri kan adikmu itu bagaimana! Jadi.. masalah ini aku serahkan pada mu ya.. papa juga sudah memberi tau pihak rumah sakit akan membawa orang ke sana!” jelas Papa kemudian menutup panggilan tak ingin mendengar sanggahan dan penolakan dari bibir Rangga.
“Papa..” bentak Rangga yang masih ingin berbicara dan menolak perintah itu, tapi sambungan kian terputus.
Rangga mendesah kasar, tugas seperti itu malah di serahkan padanya, padahal masih banyak pelayan dan bodiguard di rumah keluarganya.
“Jadi.. sekarang aku yang harus meminta tanda tangan itu? Tapi mengapa Rina ingin, orang itu sama sekali bukan artis!” gumam Rangga.
Ia tau bahwa Rinaa sang adik tersayangnya suka mengoleksi tanda tangan serta foto dari beberapa artis dan juga orang-orang yang di kaguminya, sekali pun orang itu hannyalah lelaki tampan atau wanita cantik yang ia temui di pinggir jalan.
Rangga berpikir, pikirnya orang yang di maksud dokter Justin itu adalah orang tua renta. Bisa di bilang, menurutnya hobi Rina sangat aneh, tapi yang lebih aneh lagi orang tuanya tidak melarangnya akan hal itu, sekali pun Rina memenuhi kamarnya dengan foto idolanya.
Rangga mencari sedikit informasi mengenai dokter Justin yang terkenal itu di internet. Sungguh terkejut, dokter Justin yang di di duganya sudah tua renta, ternyata sangat tampan dan terlihat muda.
“Ini.. Pantas saja Rina ingin tanda tangannya! Dia sudah seperti oppa korea saja!” ujarnya tak percaya.
“Apa? U isinya sudah 34 tahun! Wahhh.. debak! Ini tidak adil, wajahnya terlihat lebih muda dari ku!” jelas Rangga lagi tak percaya saat membaca profil dari dokter Justin.
“Nak Rangga!” tutur Oma di depan pintu sambil mengetuk pelan.
__ADS_1
Rangga terkejut, dengan sigap ia menghentikan kegiatannya, beranjak dari tempatnya berbaring dan segera membukakan pintu.
“A ada apa Oma?” tanyanya sopan dan penasaran.
“Begini, kamu tolong jagaiin Stella ya, Oma mau keluar! Ingat.. Berikan obat yang ada di meja saat jam sembilan nanti!” tutur Oma memberi perintah.
"Dan ya, tolong jaga rumah juga, karena malam ini Oma sepertinya tidak akan pulang! Jangan lupa temani Reza, biasanya dia nakal kalau di biarkan sendiri!” tutur Oma yang belum selesai memberi perintah.
“I iya Oma, sesuai perintah, aku akan melaksanakannya!” tegas Rangga meyakinkan.
Jelaslah ia hanya harus menuruti perintah, tak ada penolakan atau kata tidak. Setelah merasa yakin, Oma kian beranjak dari sana.
Rangga kembali mendesah kasar, setelah Oma pergi, ia menghampiri kamar Stella dan mengintipnya sedikit. Di lihatnya Stella masih terlelap di sana bak putri tidur. Tak ingin mengganggunya, Rangga menutup kembali pintu itu, kemudian berlalu menuju lantai bawa bermaksud mencari sosok Reza di sana.
Dan benar saja di depan tv seperti orang pemalas, Reza memainkan ponsel nya sembari menikmati beberapa camilan. Tampak sampahnya kian berserakan di sekitarnya, tinggal menunggu para lalat dan semut tuk memenuhinya.
“Apa yang kamu lakukan?” seru Rangga mendekat, mengagetkan fokus Reza dari ponselnya.
“Apa?” jelas Reza bingung.
“Kamu ini, nonton tv atau main HP?” tanyanya.
“Ya.. Nonton tv sambil main HP!” jelasnya tersenyum polos.
Rangga hanya tertawa kecil akan penuturan itu, kemudian mengambil posisi duduk tepat di samping Reza. Sungguh anak muda yang lucu, pikirnya.
“Kak Stella udah baikan belum?” tanya Reza karena sebelumnya ia sempat melihat Oma terlelap bersama Stella dan tak berani mengganggunya.
“Hmm..” angguk Rangga pelan.
“Tapi apa Stella selalu seperti ini!” sambungnya bertanya.
“Seperi ini bagaimana?"
“Itu.. Sore tadi dia mengamuk, menangis dan berkata hal bodoh lainnya!”
“Aku pernah melihat di seperti itu, tapi hanya Oma yang bisa meredakan amarahnya!”
“Hanya Oma?”
“Begitulah.. Aku juga tidak tau kenapa, tapi hanya Oma juga yang tau pasti penyakit Kak Stella!” tutur Reza.
Mereka mengobrol, walau tampak heran Rangga mendengar penuturan itu. Jelas lah situasi Stella sangat serius dari apa yang di dengarnya dari Reza.
Di arah tangga pula, sosok Stella tengah berjalan luntai menyusurinya. Masih tampak pucat wajah itu, penanda bahwa ia baru bangun dsri lelapnya. Rangga terkejut menatapnya di sana, dan dengan sigap ia segera menghampiri Stella, membantunya berjalan.
Tapi bukannya menerima tawaran Rangga, Stella bersikap acuh tak acuh padanya.
Jelas ia masih kesal dan marah dengan Rangga atas tindakan itu. Tanpa mengucap satu kata pun, ia berlalu menghampiri Reza dan duduk di sofa. Rangga hanya pasrah mengikuti Stella, ia tau bahwa sosok itu sedang marah padanya, dan memang wajar jika Stella melakukan itu, pikirnya.
__ADS_1
“Oma mana!” tanya Stella menvari sosok itu, mengingat sebelumnya ia tidur bersama Oma dan tak sadar saat Oma sudah tak ada di sisinya.
“Sedang keluar, besok baru pulang!” jelas Reza ketus yang seolah tak ingin di ganggu dari fokusnya bermain game, sebelumnya ia juga bertemu Oma.
“Be besok? Memang ada urusan apa Oma keluar?”
“Aku mana tau, kakak telepon saja!” gerutu Reza kian resah mendengar pertanyaan itu yang menggagu fokusnya.
“Anak ini menyebalkan sekali..” gumam Stella menahan kesal atas sikap Reza ini.
Rangga mendekat, bergabung bersama mereka berdua. Walau tampak canggung suasana di antara mereka.
Rangga menatap jam tangan yang melilit di lengannya, “Sudah jam sembilan!” desahnya dalam hati, yang ingat akan pesan Oma untuk memberikan obat pada Stella di jam sekian.
Tanpa aba-aba, Rangga beranjak dari sana. Menghampiri kamar Stella dan mengambil obat. Stelah mendapatkannya ia berlalu menuju dapur, mengambil segelas air sebagai teman diri obat itu. Rangga mendekat, membawa perintah dari Oma.
“Ini.. Minumlah!” sodornya bersama segelas air.
Stella tampak terdiam, “Dari mana kau mendapat obat ini?” tanyanya sinis sedikit heran, lantaran ia sudah menghamburkan obat itu sebelumnya.
“Dari kamar mu!” jelas Rangga.
“Cepat minum.. Nanti aku yang di marahi Oma!” paksa Rangga yang mulai resah karena Stella tak kunjung meraih obat dan gelas itu.
“Hmm..” sedikit kesal Stella meraih obat dan gelas itu lalu meneguknya sangar.
Ting tong..
Suara bel bergema, sontak ke tiga sosok di depan tv menatap tajam pada pintu utama.
“Siapa yang datang malam-malam begini!” decak Rangga melihat jam tangannya kemudian bermaksud membukakan pintu pada sosok di baliknya, penasaran siapa yang datang di jam begini.
Krekk..
Pintu terbuka, Rangga terdiam sejenak menatap sosok di hadapannya.
“Dehan..” ujarnya terkejut, sosok yang di liatnya sekarang adalah Dehan, tak lain adalah senior kerjanya.
“Eee.. Kamu tinggal di sini?” tanyanya, jelas Dehan merasa heran mengapa Rangga ada di rumah besar keluarga Cornelia, kalau Stella dan Vivian mungkin saja tapi Rangga jelas bukan siapa-siapa dari keluarga ini.
“Aaa.. Itu, sekarang aku juga bekerja di rumah ini!” tuturnya menjelaskan dengan logis, tapi Dehan masih berekpresi sama.
“Bekerja? Bekerja apa lagi, bukankah kamu sudah bekerja di kantor keluarga ini!” tutur Dehan.
“Dia bodiguard ku!” sahut Stella yang kian mendekat dengan tatapan elang ia tujukan pada sosok yang masih berdiri di ambang pintu.
To
Be
__ADS_1
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.