Twin Sister

Twin Sister
eps-13


__ADS_3

Stella berdiam diri dalam kamar pasien dengan kesal, sedari tadi ia berusaha menutup matanya agar terlelap tapai tak bisa, bayangan es krim yang sebelumnya terus terngiang di pikirannya.


"es krim ku..".


"dasar.. si nakal itu membuatku dihukum..". gumamnya.


Sebelumnya.


Es krim berhamburan di lantai, suara gaduh terdengar sampai di luar yang membuat Oma dan Vivian kembali dan mendapati Stella yang tengah berusaha memungut es krimnya dengan terburu-buru.


"heiii.. gadis tengik.. sudah kukatakan padamu jangan makan es krim..". bentak Oma kemudian memukul bahu Stella dengan kesal yang membuat Rangga dan Vivian terkejut akan bentakannya.


"omaaaaaaaa.. aku akan membatasinya.. oke..". balas stella memohon saat setelah pukulan Oma mendarat di bahunya.


Rangga terdiam dan dengan sigap ia mulai memungut es krim yang berceceran sembari di bantu Vivian yang juga mulai takut akan Oma yang kasar pada stella.


"sudah.. kemarikan es krim yang ada di tanganmu..". ancam Oma yang sedikit emosi sembari berusaha mengambil es krim dari tangan stella tapi Stella juga tak mau memberikannya.


"baiklah.. kau berdiam diri di sini selama dua hari.. aku tak akan menjemputmu..". balas Oma mengancam kemudian mulai melangkah keluar tak memperdulikan Stella dengan es krimnya.


"omaaaaaaaa..". bentak Stella saat menatap Oma keluar dari pintu bersama Vivian dan Rangga, saat akan keluar, Rangga menatap sinis pada stella seraya membawa es krim yang di pungutnya.


Dan disinilah Stella, yang mendapat hukuman dari Oma, dengan segala cara ia pikirkan agar bisa kembali. Teringat akan bibi Shinta ia mulai mencari ponselnya untuk mengaduh.


tut..tut..


"Halo.. Bibi.. tolong aku.. aku ingin pulang.. rawat aku di rumah saja oke..". ucap Stella dengan manja berharap Shinta akan membantunya.


"kau ini.. aku tidak bisa.. siapa suruh kau membuat Oma kesal.. aku tidak mau berakhir sepertimu..". balas Shinta tak peduli pada stella.


"bibi.. tidak bisakah.. tolonglah.. atau setidaknya bujuk Oma agar menjemputku besok.. mana betah aku di rumah sakit terus..". ucap Stella yang masih manja memohon.


"aiihh.. biklah-baiklah.. sudah dulu..". ucap Shinta mengakhiri panggilan.


tut..tut..


"aaakkk.. Bibi ini.. tidak bisa diandalkan..". ucap Stella kesal sambil melempar hpnya ke sofa.


*


*


Di sisi lain, Rangga yang tengah menemani Vivian menunggu Bella di depan mall. Seraya menunggu


Rangga teringat dengan Stella yang masih berdiam diri di kamar pasien.


"gadis itu.. pantas mendapatkan hukuman agar jera..".


"untung saja aku juga tidak di hukum Oma.. Oma sangat menyeramkan jika marah.. iii.. keluarga yang aneh..". batin Rangga.


Rangga menatap ke luar jendela, menatap Vivian yang tengah berdiri dengan sedikit gelisah seraya sesekali menatap ponselnya. Dari pintu keluar, sosok wanita tersenyum kearah Vivian sembari berlari kecil menghampiri Vivian.


"Vivi.. Lo ngga papa kan..".


"gue ngga papa kok.. santai aja..". balas Vivian sambil memegang tangan Bella.


"balik yuk..". lanjut Vivian menuntun Bella ke arah mobil Lamborghini yang terparkir di pinggir jalan dengan Rangga yang menatap ke arahnya.


"Vi.. kita balik naik ini..". ucap Bella saat sampai di depan mobil dengan heran.


"iya.. udah.. naik aja.. aman kok..". balas Vivian meyakinkan sambil membuka pintu.


Saat setelah Meraka naik, Bella menatap heran pada Rangga di kursi kemudi.


"siapa orang ini.. apa kenalan Vivian..". batin Bella.

__ADS_1


"mau di antar ke mana nih..". ucap Rangga seraya berbalik menatap vivian dengan penasaran.


"ke panti asuhan Ratih.. liat kan..". balas Vivian santai.


"ohh..oke.. oh iya.. namamu Vivian kan.. kenalin nama gue Rangga..". ucap Rangga memperkenalkan diri seraya mulai menjalankan mobil.


"Rangga.. kamu bisa kok panggil Vivi aja..". balas Vivian dari kursi penumpang.


"oh iya.. ini temen aku.. namanya Bella..". ucap Vivian memperkenalkan.


"ohh.. kalian ini tinggal bersama..". tanya Rangga.


"kadang-kadang..". balas Vivian santai.


Dari samping, Bella hanya menyimak pembicaraan Vivian dan Rangga dalam diamnya. ia tak kenal dengan orang yang tengah menjalankan mobil ini yang membuatnya penasaran akan hubungannya dengan Vivian.


"kalian ini.. saling kenal kah..". tanya Bella dari samping.


"baru aja kenalan..". balas Rangga.


"aku baru kenal kok sama Rangga.. oh iya aku punya saudara kembar..". sahut Vivin dari samping seraya menatap Bella.


"apaa.. saudara kembar.. kau bertemu dengannya.. dimana..". ucap Bella terkejut dengan mata melotot pada Vivian.


"nanti aku ceritain.. oke.. kita juga udah sampai..". balas Vivian menatap Bella yang tengah heran menatapnya.


Rangga menghentikan mobil tepat di depan gerbang panti asuhan. kemudian Vivian dan Bella mulai membuka pintu dari kursi penumpang.


"oh iya.. Vivi.. katanya Oma mampir kemari besok..". ucap Rangga menyampaikan pesan Oma.


"besok.. tapi aku masih kerja..". balas Vivian terkejut.


"udah.. kamu ngga usah kerja lagi.. Oma nyuruh kamu cepet datang ke rumah..". balas Rangga kemudian mulai menyalakan mobil.


"ngga ada tapi.. besok Oma mampir.. gue duluan..". ucap Rangga kemudian mulai beranjak dari tempatnya meninggalkan Vivian yang masih ingin bertanya.


"aduh.. Oma ini maksa banget..". gumam Vivian.


"kenapa sih.. Vivi.. Oma siapa..". sahut Bella yang berdiri di sampingnya.


"masuk dulu.. nanti aku ceritain..". balas Vivian kemudian mengajak Bella berjalan bersamanya.


Saat setelah anak-anak mulai tidur, vivian menceritakan semua yang ia alami hari ini pada Bella Dan bibi Ratih di meja makan.


"Vivi.. kamu harus ikut dengan keluargamu.. bukankah ini pesan dari orang tua angkat mu..". ucap bibi Ratih memberi saran.


"tapi bi.. aku masih nyaman di sini.. mereka juga baru bertemu aku hari ini.. aku masih butuh waktu untuk mengenal dan hidup bersama mereka..". ucap Vivian seolah menolak.


"Vi.. bukannya kamu bilang punya saudara.. apa kamu ngga mau tinggal dengan nya..". sahut Bella.


"aku mau.. tapi.. bukan sekarang.. aku butuh waktu mempertimbangkan ini..". balas Vivian.


"baiklah-baiklah.. pikirkan baik-baik.. bibi tidur dulu..". ucap bibi Ratih seolah mengalah kemudian ia mulai melangkah menjauh dari meja menuju kamarnya.


"sudahlah.. kita tidur juga.. aku udah ngantuk.. hoaammmm..". balas Bella mengajak Vivian seraya beranjak dari duduknya.


"Lo duluan aja..". balas Vivian.


"hmm.. jangan tidur terlalu larut..". balas Bella sambil membuka pintu kamar.


Vivian hanya terdiam termenung di meja makan mengingat sebelumnya Oma mengajaknya berbicara.


falasback on


Sebelumnya saat di rumah sakit, di salah satu kursi Oma dan Vivian duduk bersama.

__ADS_1


"Vivian.. sebenarnya Oma sudah lama mencari mu.. tapi tak pernah ketemu.. terakhir kali saat lima tahun lalu.. aku kehilangan jejakmu saat orang tua angkat mu meninggal.. aku pikir kau juga..". ucap Oma serius memegang tangan Vivian.


"jadi Oma.. selama ini tau keberadaan ku..". ucap Vivian terkejut.


"sejak kecelakaan itu aku tinggal bersama pengasuhku di panti asuhan bersama anak-anak yang ia tolong..". lanjut Vivian dengan nada sedih.


"makanya Oma ingin bertemu dengannya.. lima tahun terakhir aku mencari mu berharap kau baik-baik saja.. dan sekarang kau bersamaku.. bisakah kau ikut denganku.. kembali ke rumah.. dengan saudaramu..". ucap Oma seraya memohon.


"tapi.. bagaimana aku bisa berpisah dengan keluargaku.. dengan Oma..". tanya Vivian penasaran.


"Vivian.. Oma minta maaf untuk itu.. belum saatnya kau tau.. tiba saatnya nanti aku akan memberitahumu bersama Stella..". ucap Oma dengan lembut menatap Vivian sambil memegang tangan Vivian.


"baiklah.. tapi beri aku waktu.. aku akan kembali tapi tidak dalam waktu dekat ini.. bisakah..". ucap vivian seolah memohon.


"hmm.. baiklah.. tapi aku tidak bisa menunggu lama.. kau harus segera kembali.. oke..". ucap Oma sedikit memaksa.


falasback off


"apa yang harus ku lakukan sekarang.. jika aku meninggalkan panti sekarang.. keuangan panti siapa yang urus.. aku juga belum ingin berpisah dari bibi Ratih..". gumamnya.


"haaaihh.. Oma ini membuatku tak punya pilihan.. aku harus membujuknya agar menunggu dan memberi ku sedikit waktu lagi..". gumam Vivian kemudian melangkah perlahan menuju kamarnya.


*


*


Di sisi lain, Stella yang berada di rumah sakit dengan perasaan kesal masih menghiasi wajahnya. Sesekali ia melirik ponselnya berharap seseorang akan menelpon atau sekedar mengirim pesan menanyakan tentang keadaannya.


munca Pong pong(notifikasi).


Mendengar hpnya berbunyi ia segera menatap layar dengan penasaran yang ternyata hanya pesan spam. Dengan kesal dan kecewa ia meletakkan ponselnya dengan kasar.


"iiiii.. apa tak seorang pun yang mengingatku sekarang..". gumam Stella kesal.


Stella berusaha membuat dirinya terlelap, tapi tidak bisa, matanya seakan belum ingin terlelap. Dengan perasaan kesal ia menatap langit-langit kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Tiba-tiba dari luar pintu, terdengar suara percakapan. Dari dalam, Stella tak peduli kemudian berusaha terlelap dengan keadaan kesal dalam selimut yang menutupi dirinya.


Pintu terbuka, suara langkah kaki terdengar mendekati Stella yang tengah berbaring dalam selimutnya.


"heii.. aku datang menjenguk mu.. aku juga membawa pesanan mu.. ceker ayam kan..". ucap orang itu santai dengan menatap Stella kemudian meletakkan bawaannya di samping Stella dengan sedikit kasar.


Stella hanya terdiam dalam selimutnya sembari menebak siapa orang yang datang menjenguknya tiba-tiba.


"siapa.. Kevin.. bukan.. Kevin bilang dia tak bisa datang.. Kevin sibuk dengan gadisnya..". batin Stella menebak.


"heii.. sungguh tidak sopan.. aku datang menjenguk mu tengah malam begini.. tapi kau bersembunyi dalam selimut..". ucap orang itu sedikit kesal kemudian dengan perlahan ia menarik selimut dari tubuh Stella.


"aaaaaa..". teriak orang itu terkejut saat setelah membuka selimut dan mendapati Stella dengan wajah merahnya kemudian ia mundur perlahan seraya menjauh dari Stella.


Stella terduduk dari baringnya seraya menatap orang itu dengan kesal.


"aaaaaa.. orang gilaaaa..". lanjut orang itu dengan panik saat menatap Stella.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


Jangan lupa like dan komen.


Salam sukses dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2