Twin Sister

Twin Sister
eps-08


__ADS_3

sehari sebelumya.


"bibi.. aku di terima.. mulai besok aku sudah masuk kerja..". ucap Vivian bahagia sambil memeluk bibi Ratih.


"bagus kalau begitu.. tapi kamu bukannya melamar kerja bareng Ella..". balas bibi Ratih mengingat Bella sambil melepas pelukan Vivian.


"iya.. aku lupa.. aku akan menelpon Ella dulu.. Evan liat hp kak Vivi ngga..". ucap Vivian teringat akan Bella sahabatnya kemudian mencari keberadaan Evan salah satu anak dari panti ini.


"di meja kak..". jawab Evan menunjuk salah satu meja di dekat jendela.


Vivian segera menghampiri meja itu dan benar saja ia mendapati ponsel nya bersama beberapa tumpukan buku.


Tanpa pikir panjang, Vivian membuka kunci layar ponselnya kemudian mencari nomor Bella sahabatnya.


Tut..tut..


"halo.. Vivi ada apa..".


"Ella.. aku di terima kerja.. bagaimana denganmu..".


"menurutmu..".


"apa kau juga..".


"tentu saja.. aku tidak akan meninggalkanmu dan bekerja di sana sendiri.."


"baiklah.. kita berangkat bareng yaa..".


"oke.. oh iya.. nanti aku akan ke sana.. aku akan bermalam.. aku ngga betah di rumah.. Mama lagi marah-marah sama nenek.. boleh kan..".


"heii.. Lo apaan sih.. kapan pun Lo mau pintu rumah ini akan selalu terbuka buat Ella ku yang satu ini..".


"makasih yaa.. kalau gitu gue siap-siap dulu.. bay..".


"okelah.. aku tunggu yaa.. bay..".


Tut..Tut..

__ADS_1


"hmm.. Ella ini menghindar lagi dari mamanya.. aku juga ngga bisa ikut campur urusan keluarga mereka terus.. sebagai sahabat aku harus mendukung keputusannya..". gumam Vivian meyakinkan diri.


Dari luar jendela Vivian menatap anak-anak yang tengah bermain. mereka adalah anak-anak panti asuhan bibi Ratih sekarang.


Ratih sebelumya adalah pengasuh vivian, ia mengasuh Vivian saat berusia lima tahun, dan membawanya kepanti asuhan ini saat orang tua angkat Vivian meninggal dalam kecelakaan mobil lima tahun lalu.


Orang tua anggakat Vivian berpesan untuk mencari kelurga kandung Vivian kemudian mereka menitipkan beberapa surat untuk Vivian simpan dan diberikan pada keluarganya saat mereka bertemu.


Sampai saat ini Vivian hanya menyimpan baik-baik surat itu, ia juga tak bermaksud mencari keluarganya sekarang karena merasa nyaman akan kehidupannya di panti asuhan bersama anak-anak asuhan bibi Ratih.


Keuangan panti asuhan kian merosot, yang mendorong Vivian untuk segera mencari kerja, sekarang ini ia bahkan tak melanjutkan kuliahnya karena masalah biaya dan tak mau merepotkan Ratih dalam masalahnya.


Bella juga biasanya datang ke panti asuhan walau sekedar menjauh dan tak ingin terlibat masalah orang tuanya.


Saat ini Bella tinggal bersama ibu dan neneknya, ayahnya kedapatan selingkuh beberapa bulan lalu, yang membuat retakan antara kedua orang tuanya semakin melebar.


Dan dalam dua bulan inilah yang membuat bella selalu menghabiskan waktu bersama anak-anak panti, menghilangkan stress yang ia bawa dari rumah.


BBIIIPPPP


Pintu mobil terbuka sosok lelaki keluar dari kursi kemudi dengan membawa beberapa kantong plastik yang bertengger di jari nya.


Ya, dialah Adit Pratama, salah satu teman Vivian sejak lima tahun lalu. seperti biasa ia selalu mencolok di depan anak-anak sekaligus mencari perhatian Vivian.


Dari jauh Adit menatap Vivian yang sedang menatapnya dari jendela. tersadar, Adit dengan sengaja mengangkat tangan memperlihatkan barang bawaannya dengan senyum polos menatap Vivian.


Perlahan ia mulai berjalan menuju pintu masuk dan diikuti anak-anak dari belakang. anak-anak itu meninggal kan permainannya menyambut kedatangan Adit dengan heboh.


Tersadar di ikuti, Adit teringat akan lolipop yang ia beli sebelumya, perlahan ia berbalik menatap anak-anak dan tangannya mulai merogoh salah satu plastik yang bertengger di jarinya yang membuat anak-anak semakin penasaran.


"tada.. bagi rata yaa.. udah sana.. kak Adit sayang kalian..". ucap Adit sambil memberikan lolipop.


Saat anak-anak tengah menikmati lolipop, Evan menghampiri Adit sambil membawa ponsel Vivian di tangannya.


"kak Adit.. main yuk..". ajak Evan sambil mengangkat hp yang ia pegang seolah sengaja.


"hei.. kau berani menantang ku.. aku akan mengalahkan mu hari ini..". ancam Adit sambil menatap sinis pada Evan dengan sengaja.

__ADS_1


"kalian ini.. kalau bertemu bawaannya ma..in..terus.. Evan.. kamu juga jangan terus-terusan ngajak kak Adit.. dia masih banyak kerjaan..". sahut bibi Ratih dari meja makan menghentikan Evan dan Adit yang ingin bermain.


"ngga papa kok bi..". ucap Adit kemudian meletakkan kantong plastik yang sedari tadi bertengger di jarinya di atas meja.


"oh iya bi.. Vivi mana.. bukanya tadi ada di sana..". lanjut adit mencari Vivian kemudian menunjuk meja dekat jendela yang sebelumya berdiri Vivian di sana.


"dia baru aja ke samping.. lagi jemur pakaian..". balas bibi Ratih sambil merapikan barang bawaan Adit.


"oke deh.. saya ke samping dulu mau ketemu Vivi..". ucap Adit dengan langkah perlahan keluar dari pintu samping.


"hmm.. Vivi itu.. apa tidak mau menerima nak Adit yang begitu baik..". gumam Ratih menatap kepergian Adit.


keluar dari pintu, perlahan Adit mengamati halaman samping mencari keberadaan Vivian. dari balik pohon ia menatap sosok Vivian yang tengah menjemur beberapa kain.


Adit mendekat dengan perlahan sambil menatap Vivian dari belakang yang begitu serius dan tak sadar akan kehadiran Adit di dekatnya.


Perlahan, Vivian berbalik dan terkejut mendapati sosok Adit yang berdiri di belakangnya. Terkejut, Vivian mundur selangkah dan tak sengaja menginjak sebuah batu berukuran besar yang membuat keseimbangannya tidak stabil.


Vivian memejamkan mata pasrah bahwa ia akan menghantam tanah, dengan sigap, Adit Manarik lengan Vivian dan tak sengaja membuat tubuh Vivian masuk dalam dekapannya.


deg..degg..deggg..


Tanpa sadar jantung Adit mulai berdegup tak karuan yang membuat ia semakin kaku berharap Vivian tak mendengar degupan jantungnya itu.


Dari ke jahuan ternyata sosok Bella sedang berdiri di lampu taman menatap Adit dan Vivian dengan cemburu.


To


Be


Continue


jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


jangan lupa like dan komen yaa.


salam sukses dan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2