
Saat setelah mereka sampai di depan halaman rumah keluarga cornelia, Stella bergegas keluar tanpa menghiraukan Rangga sama sekali. Dengan kesal Stella menutup pintu mobil kemudian berjalan menghentakkan kaki menuju pintu utama.
Sampai di pintu ia berteriak keras dan mengagetkan seisi rumah.
"Omaaaaa..". Teriak Stella kesal seraya memasuki rumah.
Oma yang tengah menikmati tehnya dengan santai di ruang baca terkejut seketika saat mendengar suara Stella yang menggelegar memanggilnya.
"Uhuk.. uhuk..". Refleks Oma terkejut saat mendengar teriakan Stella dari ruang utama.
"Anak tengik itu.. apa dia marah besar.. bajuku jadi kotor karena teh..". Batin Oma menebak seraya berjalan mencari keberadaan Stella dan mengusap pelan bajunya yang basah akibat tumpahan teh.
Dari kolam berenang, Reza yang masih asik berbincang dengan Vivian juga terkejut saat mendengar teriakan Stella dari dalam.
"Aiihh.. si cerewet sudah datang..". Ucap Reza seketika.
"Si cerewet.. maksud mu Stella..". Tebak Vivian dari samping sambil mentap kedalam rumah mencari keberadaan Stella.
"Siapa lagi.. dia yang paling berisik di rumah ini..". Tegas Reza seolah tak peduli kemudian mengambil ponselnya dari saku bajunya.
Rangga yang juga baru saja memarkirkan mobil terkejut saat mendengar teriakan kesal Stella dari ruang utama kemudian ia berjalan menghampirinya.
"Hei cerewet.. apa kau sedang mengumumkan ke pulangan mu..". Sahut Rangga dari samping seraya menepuk bahu Stella seolah menegur.
"Jangan ganggu aku... Omaaaa..". Ucap Stella kesal tak peduli pada Rangga seraya menatap Oma yang mulai menghampirinya.
"Oma.. bagaimana bisa kau memberikan jingliku padanya..". Bentak Stella saat menghampiri Oma seraya mengaduh tentang mobilnya dan tangannya yang menunjuk ke arah Rangga yang sedang menatapnya.
"Memang kenapa..". Balas Oma ketus tak peduli pada Stella.
"Kenapa? apanya yang kenapa.. jelas-jelas itu mobilku.. jingliku..". Bentak Stella tak terima atas jawaban Oma.
"Itu bukan jinglimu lagi.. apa kau ingat.. kau sendiri yang merusaknya.. kau menabrak pohon di pinggir jalan.. aku yang memperbaikinya.. jadi terserah aku mau kasih ke siapa..". Balas Oma mengingatkan kecelakaan yang Stella perbuat sebelumya sambil berjalan menghampiri meja mengisi teh di gelas kosong.
"Tapi.. itukan masih mobilku.. kecelakaan itu memang aku yang salah oke.. oma ayolah.. berikan mobilku plisss.. yaa". Ucap Stella seraya mengikuti Oma sambil memohon.
"Tidak bisa.. kau kan masih bisa menggunakan mobilmu tapi tidak dengan menyetir.. jingli nanti tambah rusak..". Balas Oma ketus seraya duduk dan menikmati tehnya.
"Oma.. ayolah..". Ucap Stella manja sambil memeluk Oma dari belakang.
"Ku bilang tidak ya tidak.. titik..". Balas Oma tak peduli.
"Kau ini.. baru pulang dari rumah sakit sudah membuatku pusing saja.. beristirahatlah di kamarmu.. masalah mobil aku tak mengijinkan mu mengemudi lagi..". Lanjut Oma menegaskan.
Stella hanya terdiam, rayuan manjanya tak mempan pada Oma yang membuat ia semakin kesal. Dalam diamnya ia menatap sinis pada Rangga yang sedari tadi memperhatikannya.
Stella meninggalkan Oma tanpa satu kata pun dan dengan kesal ia menuju lantai dua ke kamarnya. Rangga hanya terdiam heran menatap Stella.
"Haaiihh.. apa apaan tatapannya itu.. mau marah silahkan saja.. aku tak takut.. Oma di pihakku. .". Batin Rangga seraya menatap Stella kemudian mulai mengobrol dengan Oma.
Modeun ge gunggeumhae how's your day oh tell me oh yeah oh yeah ah yeah ah yeah.
Nada dering ponsel Stella berbunyi saat ia menyusuri tangga dengan kesal. Dengan wajah masamnya Stella mengambil ponsel dari sakunya. Tertulis nama Kevin calling di layar ponselnya.
__ADS_1
"Halo Stella.. lo dimana.. gue udah di depan rumah sakit nih..". Ucap Kevin saat penggilan tersambung.
"Udah di rumah.. lo jemput lambat benget sih.. kering gue nunggu lo..". Balas Stella kesal seraya menghentakkan kaki menyusuri tangga.
"Sorry deh.. tadi gue ada urusan mendadak..". Ucap Kevin merasah bersalah.
"Udah.. gue tutup dulu..". Balas Stella kesal kemudian memutuskan panggilan.
Dengan langkah kesal Stella menuju kamarnya, dari belakang ia menyadari ke hadiran Rangga yamg sepertinya sedang mengikuti.
"Mau kemana lo.. ngikitun gue yaa..". Ucap Stella seraya menatap Rangga yang mulai mendekat.
"Ngapain juga ngikutin lo.. gue mau ke kamar". Balas Rangga ketus tak menghiraukan Stella.
"Kamar.. maksud lo..". Tanya Stella heran sambil menatap Rangga yang berjalan melewatinya dan mulai membuka pintu di ruangan sebelah.
"Ya kamar guelah..". Balas Rangga tak peduli sambil menatap Stella.
Terkejut, Stella menatap Rangga seraya mencerna situasi, Rangga hanya menyeringai polos menatap Stella kemudiam melangkahkan kaki masuk ke kamarnya dan meninggalkan Stella dengan pikiran lambatnya mencerna situasi. Stella menatap kamar Rangga dan juga kamarnya yang bersebelahan.
"Jadi.. sekarang dia tinggal di sini.. sebelah kamar ama gue juga.. bodyguard gue juga.. hehe.. mimpi apa gue semalam..". Ucap Stella kecewa seraya senyum pasrah terlukis di bibirnya.
Saat Stella akan membuka pintu kamar, ia mendapati Vivian yang perlahan mendekat padanya. Dengan wajah heran Stella menatap Vivian seolah tak percaya pada apa yang ia lihat seraya tangannya mulai mengucek kedua matanya.
"Hai Stella.. udah baikan belum..". Sapa Vivian yang membuat Stella melongo menatapnya.
"Heii.. kamu ngga papa kan..". Lanjut Vivian sambil melambaikan tangan di depan Stella yang tengah melamun.
"Ya gimana ya ngejelasinnya.. intinya mulai hari ini aku tinggal di sini..". Ucap Vivian santai menatap Stella.
"Di sini..". Tanya Stella lagi.
"Iya.. semoga kita akur ya.. kamu istirahat aja.. aku juga mau ke kamar..". Ucap Vivian seraya menepuk bahu Stella yang masih melongo menatapnya dan perlahan melangkah menghampiri pintu kamarnya yang tepat di depan kamar Rangga.
Stella hanya terdiam dan tatapanya mengikuti Vivian sampai ia masuk ke kamarnya hingga tak terlihat lagi sosok Vivian.
"Hehe.. jadi dia juga tinggal di sini..". Ucap Stella tak bersemangat dengan senyum pasrahnya lagi.
Krekk..
Pintu terbuka, Stella menatap sekeliling kamarnya yang bernuansa ungu dengan tatapan rindu. Saat ia akan melangkahkan kakinya, Reza datang dari belakang dan dengan sengaja ia menendang kaki Stella yang membuat Stella terkejut.
"Anak ini.. apa kau bisa berjalan dengan baik.. jangan menendang sembarangan..". Ucap Stella kesal saat mendapati Reza yang berjalan sambil memegang ponsel serta earphone yang menyumbat kedua lubang telinganya tak peduli pada Stella.
Kesal, tanpa pikir panjang Stella menghamapiri Reza dan menarik earphone yang dipakainya.
"Hei anak tengik.. apa belakangan ini kau tak punya seseorang untuk di kerjai..". Ucap Stella seraya menatap kesal pada reza dengan bibir manyunnya.
"Apa maksudmu.. jangan ganggu aku.. aku lagi main..". Balas Reza polos pura-pura tak mengakuinya seraya berlalu meninggalkan Stella yang kesal menuju kamarnya yang tepat di samping kamar Rangga.
"Aaakk.. anak ini.. membuatku emosi saja..". Batin Stella berteriak seraya berjalan ke kamarnya dengan kesal.
Perlahan tapi pasti, Stella mulai merebahkan tubuhnya di atas bidang datar empuk kesayangannya. Ia mentap langit-langit kamarnya yang berwarna ungu seraya berfikir mengingat Rangga dan Vivian yang tinggal bersamanya sekarang.
__ADS_1
"Kembaran ku sudah di sini.. senangnya.. aku harus mengakrabkan diri dengan Vivian.. Oma pasti lebih perhatian pada Vivian nantinya dari pada aku..". Gumam Stella berfikir untuk membuat Vivian berpihak padanya.
"Tapi.. apa vivian akan membelaku jika oma marah padaku.. seperti kakak yang membela adiknya.. ee.. tapi Vivian itu kakakku atau adikku yaa..".
"Sudahlah.. setidaknya aku ada teman seumuran di sini..".
"Tapi.. senior nakal itu juga disini.. dia jadi bodyguard ku, artinya menjagaku 24 jam.. apa di kantor dan di kampus juga?".
"Aaakkkk.. tidak boleh.. dia pasti akan melaporkan semua kegiatannku di luar pada Oma nantinya.. cukup bibi Shinta aja yang tau kalau aku selalu keluyuran di luar..".
"Aaakkkkk..." Batin Stella berteriak seraya menggulingkan tubunya kesana-kemari di kasur kesayagannya.
*
*
Makan malam tiba, dimana penghuni rumah ini duduk berjejer di kursi termasuk Vivian dan Rangga yang baru bergabung duduk tepat di samping Stella.
Stella hanya terdiam seraya menatap canggung pada dua orang di sampingnya yang mulai mengambil sendok dan sesekali ia melirik kursi bibi Shinta yang kosong karena bibinya masih di kantor dan selalu pulang agak larut.
Oma yang duduk di samping Reza menatap Stella dengan senyum sinisnya karena tau kebiasaan Stella yang unik saat makan di meja makan.
"Si tengik ini pasti malu makan seperti biasanya, Vivian dan Rangga ada di sini.. apa yang akan dia lakukan?". Batin Oma seraya menyaringai menatap Stella.
Saat semua orang mulai memakan makanan dengan elegan dan sopan dengan sendok masing-masing bertengger di tanganya, Stella juga mulai mengambil sendok dengan malu-malu.
"Hei gadis tengik.. kau kenapa.. makan makananmu.. kau kan baru pulang dari rumah sakit". Ucap Oma memerintah seraya menatap Stella.
"Aku akan makan.. jangan pedulikan aku..". Balas Stella terkejut dan tanpa pikir panjang ia mulai makan denga tangan kosong dan kaki yang ikut naik ke kursi yang membuat Vivian dan Rangga heran menatapnya.
"Anak ini.. sungguh tidak sopan..". Gumam Rangga dari samping.
Stella mendengar samar-samar gumaman Rangga yang membuat ia sedikit kesal dan berusaha tak memperdulikannya.
"Jangan pedulikan aku.. aku terbiasa makan seperti ini di sini.. tidak bisa elegan saat makan.. oke..". Balas Stella ketus sambil melanjutkan makannya.
"Makanlah.. pelan-pelan saja oke..". Sahut Vivian dari samping seraya menatap Stella kemudian menyodorkan beberapa makanan padanya.
Stella hanya mengangguk menatap Vivian dengan mulutnya yang penuh.
"Apa begini rasanya punya saudara yang perhatian.. memang cocok jadi kembaranku.. setidaknya ada hal baik datang padaku hari ini..". Batin Stella seraya mentap Vivian yang sedang makan.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
Jangan lupa like dan komen.
Salam sukses dan terima kasih.
__ADS_1