Unforgettable

Unforgettable
Tantangan


__ADS_3

Suara pantulan-pantulan keras dari bola basket yang bersentuhan dengan lantai dasar lapangan menggema memenuhi ruangan besar nan luas. Suara para lelaki yang tengah mengoper-ngoper bola tak kalah membuat suasana semakin ramai. Sekaligus sorakan supporter dari team cheerleaders menjadi hal yang biasa mengiringi mereka di pinggir lapangan meskipun hanya sekedar latihan.



"A-R-G-A. ARGA."



"Go Arga, go Arga go!"



"Go Argaaaaa......!"



Teriakan sekaligus jeritan mereka semakin menggila saat Arga melakukan dribble terutama saat berpasan melewati mereka.



"Yeeeeeyyy... Argaaa.. ! Love u!"



Sudah menjadi hal yang biasa disana ketika banyak cewe yang menyatakan cinta atau rasa sukanya terhadap Arga tanpa ada rasa malu sedikitpun. Bukan hanya dari team cheerlieaders saja, melainkan disana banyak juga cewe yang rela meluangkan waktu hanya untuk melihat team basket favorite ini latihan, terutama bagi mereka si ArLov (ArgaLovers) nama fans yang mereka bangun sendiri dan menjadi komunitas paling populer si SMA Wijaya.



Terdengar sangat aneh dan lebay, namun itu betul adanya. Setiap pulang sekolah mereka akan membeli minuman atau makanan untuk di berikan pada  Arga apapun bentuknya mereka akan memberikan sesuatu yang spesial untuk idolanya. Entah itu diberikan secara diam-diam, maupun secara langsung.



Tetapi seperti yang mereka tahu, Arga yang memiliki sifat keras kepala dan super duper dingin bak es itu tentu tidak akan dengan mudahnya menerima segala apa yang mereka beri. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang ditolak mentah-mentah oleh cowo itu secara terang-terangan. Sekalipun Arga menerima pemberian mereka, Arga pasti akan membagikannya atau memberikannya pada seluruh aggota teamnya. Sedangkan dia? Tidak menikmatinya sedikitpun, baik dalam bentuk barang maupun makanan.



"Bro! Gue break dulu yak. Pengap nih," Ujar Andre dengan nafas ngos-ngosan dikarenakan lelah telah berlari.



Arga yang diajak bicara pun ikut terhenti berbalik melihatnya yang sudah berjongkok di pinggir lapang.



"Tanggung Dre." Arga melangkah menghampirinya. Andre yang dalam posisi berjongkok pun kemudian berdiri sambil berkacak pinggang.



"Bentaran doang pelit amat, lo gak liat muka gue yang ganteng ini udah keringetan? Kalo gue tiba-tiba pingsan, emangnya lo mau ngasih nafas buatan buat gue?"



Celetukkan Andre barusan membuat Arga mendelik sinis berikut muka datarnya.



"Najis." Arga kemudian melemparkan bola di tangannya tepat mengenai tubuh Andre. "Homo anjing!"



Andre terkekeh. "Lah! Bukannya lo emang gak suka cewe?"



Arga mengambil bolanya kemudian melemparnya dari posisinya ke arah ring.



"Gue masih normal."



"Serius?"



Arga kembali mendelik, namun ia terhenti saat akan melempar bola kedua, karena Andre mengambil posisi lebih dekat. Membuat cowo itu menyernyit waspada.



"Gini bro! menurut penerawangan indera ke tujuh gue, kita itu udah sahabatan dari mulai fase embrio sampai gue lahir seganteng Zain Malik pun gue blom pernah liat lo jalan sama cewe. Kecuali emak lo. Jadi wajar dong kalau gue ngira lo itu HO.MO." Ucap Andre penuh penekanan.

__ADS_1



Arga mendengus dan terkekeh, kemudian melanjutkan melemparkan bolanya. Tanpa perduli perkataan Andre.



"Gue sebenernya bingung, udah banyak cewe yang ngebet pingin dapetin lo. Dari mulai kalangan gembel sampai kalangan artis tapi gakada satupun yang lo pilih. Kalo gue jadi lo, gue pasti udah kencanin mereka semua."



Arga menoleh. "Termasuk gembel?"



"Heeem.. tergantung juga, kalo gembelnya bisa gue rombak jadi kaya bidadari. Gue si yes!" Andre kemudian tersenyum sumriah sambil menatap langit-langit seolah sedang membayangkan sesuatu. "Gilee. Kalo sehari sepuluh cewe cantik plus bohay, beuuuh.. kira-kira yang abis gue apa cewenya yah?"



Tidak berniat sedikitpun menjawab, Arga kembali berlari menangkap bola pemberian Nico. Siap dengan aksinya Arga melewati pemain lainnya dengan lihai tanpa beban. Jeritan dari para supporter pun semakin meriah.



"Aaaa. Argaaaa! Ayo Arga! Arga! Arga! Arga!''



Arga berlari sudah semakin mendekat ke arah ring, namun ketika itu dua pasang bola matanya justru teralihkan ke arah sudut kanan ring yang menampakkan sosok cewe yang sedang memegang sebuah megafone atau bisa kita kenal sebagai TOA tengah meloncat-loncat riang disana. Arga mulai mersakan firasat buruk saat cewe itu tiba-tiba mengangkat megafonenya dan berteriak.



"ARGAAAAA!!"



Benar dugaan Arga, cewe itu berteriak sangat keras di tambah dukungan alat TOAnya membuat laki-laki itu terhenti bahkan hampir terjatuh karena menabrak salah satu temannya yang juga tiba-tiba terhenti karena kaget mendengar suara teriakan unik dan aneh di ujung lapangan.



Bukan hanya anak basket saja melainkan seluruh supporter dari mulai team cheerliaders hingga fans Arga semuanya terhenti seolah waktu telah menghentikan pergerakkan mereka.



"Anjir! Suara siapa tuh?" Sorak Andre yang berlari ke arah Arga.




Kini tatapan semua orang beralih tertuju pada Arga yang berdiri di tengah lapang dengan ekspresi bingung. Andre pun menatapnya curiga.



"Nyet! Lo hamilin anak orang?" Celetuknya. "Wah parah lo. Nggak nyangka, dibalik muka alim lo ternyata lo jantan juga bisa hamilin cewe."



Arga sama sekali tidak bergeming, cowo itu masih diam menatap tajam cewe berkepang di sana, bahkan Arga sudah menyadari kalau semua orang telah saling berbisik membicarakannya. Kelakuan bodoh apa lagi yang sedang ia lakukan sekarang? Pikir Arga geram.



Bukan hanya amarah yang menggulung hati dan otaknya, tetapi kebencian telah menjalar kesetiap aliran darah dan nadinya bahkan menusuk hingga sumsum tulangnya.



"ARGA! KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB!"



Arga mengepalkan tangannya kuat, kemarahannya telah di ujung ubun-ubun. Ia mulai melangkah maju ke arah cewe berkepang itu dan di respon senang olehnya. Lagi-lagi cewe itu belum juga bisa peka dengan sorot mata menakutkan dari Arga sekarang. Karena ia terlihat begitu tenang melihat Arga yang berjalan semakin mendekat bahkan telah sampai tepat di hadapannya.



Cewe itu tersenyum lebar menunjukkan sederet giginya menyambut Arga. "Nah gitu dong, Fika cape tau manggil-manggil Arga dari tadi eh-"



PRAKKKKKK



Semua orang diam dengan mata membulat lebar, suasana menjadi hening. Cewe berkepang yang sama terbelalaknya menatap Arga yang tengah menggertakkan rahang mulai merasakan hawa menakutkan darinya. Megafone yang tadi ia pegang kini telah hancur hingga keluar seluruh isi di dalamnya karena lemparan keras Arga.

__ADS_1



"Pergi."



"Nggakmau."



"Jangan sampai gue mengulang perkataan gue."



Fika menggeleng cepat.



"Fika nggak akan pergi, sebelum Arga tanggung jawab."



"Itu artinya, lo lebih memilih jalan kasar."



"Nggak juga, Fika memilih jalan lembut kok."



Arga menyernyit. "Lo udah berani lawan gue sekarang?"



"Dih, emang kapan Fika bilang kalo Fika takut sama Arga?"



Cowo tampan itu justru terkekeh sambil tersenyum miring mendengar kata yang keluar dari mulut cewe berkepang itu.


"Udah seharusnya lo takut sama gue."



"Tapi emang bener kok, Fika nggak takut sama Arga."



Entah kata apa lagi yang harus Arga keluarkan agar membuat cewe itu pergi. Namun sepertinya hal itu akan berakhir sia-sia. Saat ini Arga tidak bisa memperlakukannya lebih kasar karena banyak orang yang tengah melihatnya terutama teman seteamnya. Dan image-nya sebagai kapten pasti akan tercoreng jika dia berlaku gegabah.



"Fika kesini mau bikin Arga tanggung jawab. Dan Fika udah punya solusi agar Arga mau tanggung jawab."



Arga mengangkat sedikit dagunya sambil memasukkan kedua lengan ke saku. Berusaha menebak-nebak fikiran konyol apa lagi yang sedang direncanakan cewe di depannya. "Apa?"



"Fika mau nantangin Arga main basket."



_____



Tenang belum sampai sini..


Cerita masih panjang


Karena chapt yang ini panjang banget, jadi aku bagi 2 chapt.😊



Tapi kasih komentarnya yah.. bagian bab ini seru gak? Penasaran?


Like nya juga yah...


__ADS_1



__ADS_2