
Malam yang mencekam. Kedua pasangan yang sudah lanjut usia itu tengah berdiri di balkon belakang rumah dengan pikiran mereka masing-masing.
Laki-laki paruh baya yang sedang menghisap rokok itu kini membuang puntung rokoknya dengan frustasi. Ia menoleh dan menatap wanita yang ia sebut sebagai istrinya itu dengan resah. Bagaimana tidak? Sepulangnya ia dari acara pesta istrinya sama sekali tidak berbicara padanya. Bahkan mengacuhkan dirinya. Laki-laki itu kini tak hentinya memandang wanita di sampingnya hingga wanita itupun akhirnya unjuk bicara dan membalas tatapannya.
"Apa yang sudah kau katakan padanya?" Tanya wanita berambut ikal itu.
"Tidak ada." Jawab laki-laki itu.
"Jangan berbohong. Kau pikir aku tidak tau apa yang sudah kau katakan pada Arga."
Laki-laki paruh baya itu menghela nafas gusar. Sebelum kemudian ia mendesis.
"Itu bukan urusanmu." Ujar laki-laki itu hendak akan berbalik.
"Tentu saja itu adalah urusanku. Arga adalah anakmu, maka dia juga adalah anakku jadi aku berhak atas dirinya!"
Laki-laki itu diam. Namun kemudian berbalik menatap sinis wanita yang kini sama menatapnya sinis.
"Dia membencimu." Ucapnya dingin.
"Aku tau, tapi aku tidak. Bagaimana pun dia-"
"Cukup! Apakau tidak mengerti dengan segala usahaku dari dulu hingga saat ini Merlin? Kau tau, aku meninggalkan Ratna hanya untukmu!? Demi kamu aku memberikan segalanya dan meninggalkan keluargaku!" Teriak laki-laki itu terlihat sangat frustasi. Sedangkan wanita yang ia teriakki justru terlihat begitu santai.
"Itu semua salahmu."
Laki-laki itu mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Yah! Itu semua adalah salahmu! Kau pikir hanya kau saja yang berkorban? Tidak Albert! Akulah yang banyak berkorban untukmu!"
"Apa yang kau bicarakan Merlin? Apakau sedang menyalahkan apa yang sudah terjadi sekarang? Asal kau tau, semua itu tidak ada gunanya!"
Wanita paruh baya itu tidak lagi menahan dirinya untuk meneteskan airmata pedih dan penuh penyesalan. "Aku tidak tau, aku tidak tau lagi.. bahkan karenamu.. aku telah meninggalkan anakku satu-satunya. Aku menjadi ibu yang jahat semua karena kamu! Sungguh aku benar-benar menyesal!"
"Sudah terlambat Merlin, kita sudah melangkah sejauh ini. Dan kita tidak akan bisa mundur kembali."
Wanita itu menelengkup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya. Menahan rasa sakit dengan air mata yang tak juga henti-hentinya mengalir. "Seandainya... seandainya dulu aku tidak dibutakan oleh cintamu dan rayuan busukmu. Mungkin aku saat ini masih bersama anakku..."
"Cukup Merlin! Apa-apaan kau ini? Apakau menyesal telah hidup bersamaku? Jangan bodoh!"
Wanita itu menurunkan kedua lengannya dan menatap laki-laki yang kini tengah menatapnya penuh emosi. "Yah, aku telah menyesal. Sungguh aku begitu menyesal hidup bersamamu!"
PLAK!
"Jangan kurang ajar kau! Aku adalah suamimu! Dengar Merlin, aku tidak ingin lebih menyakitimu tapi jika kau berani membahas tentang anak sialan mu itu lagi, maka aku tidak akan segan untuk menghukummu! Untuk sekarang aku memaafkanmu tapi lain kali, tidak ada maaf bagimu."
Laki-laki paruh baya itu akhirnya melenggang pergi. Sedangkan wanita yang bernama Merlin itu hanya mampu duduk pasrah menahan rasa perih di pipi kirinya akibat pukulan keras suaminya sendiri Albert.
Airmatanya masih mengalir deras bersama rasa sakit akan bayangan indah seorang anak kecil cantik dan ceria berada di ingatannya saat ini. "Maafkan ibu nak,"
Ia tersenyum pedih bersamaan satu tetes airmatanya yang kembali terjatuh. Rasa sesak didadanya begitu menyiksanya saat penyesalan yang tidak mampu lagi ia perbaikki.
"Maafkan ibu yang telah menelantarkanmu.."
"Maaf.."
Satu bulir airmata kembali menetes. Dadanya semakin sesak dan sesak terutama saat ia mengingat satu nama itu dia benaknya. Nama indah yang ia ucapkan bahkan ia dambakan selama bertahun-tahun lamanya. Nama yang selalu ia rindukan dan nama itulah yang selalu membuatnya bahagia.
"Fika... maafkan ibu."
Angin malam berhembus kencang, mengibaskan rambut indah cokelat milik wanita yang kini tengah berada duduk di belakang jok motor milik laki-laki bernama Iqbal.
Tidak ada satu pun bercakapan di antara mereka. Hanyut dalam fikiran masing-masing keduanya mengisi perjalanan dengan bisu membisu.
Fika yang tidak juga melepas ingatannya akan sosok yang tak pernah hilang dalam ingatannya itu membuatnya semakin penasaran apa dan dimana laki-laki itu berada saat ini. Apa yang ia lakukan dengan perempuan bernama Aliasia itu? Apa sebenarnya hubungan mereka? Apakah dia sangat berarti bagi Arga?
Malam ini.. semuanya akan terungkap. Dan malam ini akan menjadi penentu bagi Fika. Akankah dia menyerah? Atau justru kembali berjuang.
Setengah jam lamanya mereka menulusuri jalanan yang sepi dan dingin. Iqbal yang sejak tadi tak henti-hentinya melihat Fika di balik spion motornya itu hanya mampu pasrah karena melihat Fika yang begitu murung. Sejujurnya, ini adalah kali pertemanya ia melihat Fika semuram itu karena yang ia lihat selama ini adalah Fika yang ceria. Bukan Fika yang saat ini, penuh tekanan, kekhawatiran dan kegelisahan.
__ADS_1
Ingin rasanya ia menghapus segala kesedihan yang Fika rasakan saat ini, namun apa yang bisa ia lakukan? Ia tau kebahagiaan Fika bukanlah dirinya. Melainkan saingannya, Arga Aldiano.
"Kita hampir sampai Fik." Ujar Iqbal yang langsung diangguki Fika.
Iqbal semakin mempercepat laju motornya, hingga diujung pertigaan ia membelokkan motornya memasukki sebuah perum yang luas dan mewah. Mata Fika terarahkan ke setiap deret perumahan yang berjejer rapih dibalik pagar-pagar besar itu.
"Rumahnya yang mana Bal?" Teriak Fika tak hentinya melihat setiap rumah disana.
"Disini."
Iqbal menghentikkan laju motornya disebuah rumah diujung perum. Rumah itu lebih kecil dari rumah-rumah sebelumnya. Namun rumah itu terlihat begitu nyaman dengan taman bunga disekelilingnya. Dan rumput hijau yang disinari lampu taman yang indah.
Fika turun dari motor Iqbal, ia menagamati seluruh bagian rumah itu. Namun ada hal yang membuatnya kembali terasa sesak. Mata cokelatnya kini tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di samping rumah itu. Mobil yang tentunya tidak asing bagi dirinya. Tidak salah lagi, itu memang mobil milik Arga Aldiano.
Entah bagaimana menjelaskannya, namun Fika saat ini masih mampu menahan airmatanya yang berusaha untuk keluar. Ia mencoba untuk tegar. Bahkan hanya dengan melihat mobil cowo itu saja sudah membuatnya tidak berdaya. Bagaimana jika ia melihat cowo itu disanauu dan bersama...
"Jangan lari!" Suara teriakkan itu, tidak asing lagi. Fika spontam menoleh dan benar saja. Orang itu adalah orang yang ia cari sejak tadi.
"Arga.." Fika hendak akan menghampiri Arga yang tengah berlari kecil mengejar anak perempuan yang berlari mendahuluinya. Namun aksi Fika tertahankan oleh lengan Iqbal yang justru menahannya untuk pergi.
"Jangan Fik."
"Kenapa?"
"Untuk sekarang jangan Fik. Please dengerin gue."
Mendengar permohonan Iqbal yang menurut Fika itu aneh. Namun Fika pun memutuskan untuk menurutinya kali ini. Ia kembali berdiri di samping Iqbal sambil memerhatikan Arga dari kejauhan bersama seorang anak kecil yang sedang bermain bersama cowo itu.
"Itu yang namanya Alisia?" Tanya Fika dengan senyuman manisnya melihat anak kecil yang begitu lucu itu.
Iqbal terdiam sejenak sebelum ia menjawab. "Bukan. Itu bukan Alisia."
Fika menatap Iqbal. "Lalu dimana Alisia?"
"ARGA!"
Suara teriakkan kembali terdengar keluar dari rumah itu membuat Fika beserta Iqbal sama-sama menoleh dan melihat orang itu.
Fika terdiam. Kedua matanya masih menatap lekat perempuan cantik dengan rambut hitam tergerai bebas hingga punggungnya. Senyuman manis terukir dibibirnya membentuk lesung di pipinya menandakan betapa bahagianya ia saat ini.
"ARGA!" Panggil perempuan itu lagi. Ia mengahampiri Arga dan Arga pun tersenyum menyambut dirinya.
Sesak dan sakit itulah yang kini Fika rasakan. Senyuman itu, senyuman tulus dari Arga sesaat sebelum ia pergi meninggalkannya. Senyumannya itu tertuju untuk dirinya sebelum ini. Namun sekarang? Senyuman tulus itu ia berikan pada wanita yang kini tengah mengalungkan lengannya di leher cowo itu.
Air mata tertahan Fika tidak mampu lagi ia tahan. Mungkinkah ini saatnya menghadapi sebuah kenyataan? Kenyataan yang selalu menyakitkan bagi dirinya. Bahwa ia tidak diinginkan? Bahkan untuk mencintaipun rasanya ia tidak berhak. Arga adalah cinta pertamanya sejak awal dirinya berjuang untuknya. Namun, inilah kenyataannya. Arga tidak akan pernah mencintainya. Cinta tulus yang ia bangun hanya berakhir dengan cinta bertepuk sebelah tangan.
Haruskah ia menyerah sekarang? Setelah perjuangannya selama ini? Apa mungkin Arga akan mencintainya suatu saat nanti? Tidak! Pada kenyataannya, Arga akan selalu membenci dirinya.
Cinta itu memanglah indah, namun cinta itu menyakitkan.
Tanpa ia sadari satu bulir irmatanya mengalir begitu saja. Hatinya terasa diremas kuat, sesak menghantamnya. Fika melangkah mundur dengan kedua tangan terkepal kuat di samping tubuhnya. Ingin sekali ia berteriak saat ini juga. Ingin sekali ia mengatakan perasaannya padanya. Ingin sekali ia menangis dihadapannya. Ingin sekali ia mengatakan bahwa 'Aku mencintaimu Arga'. Namun.. ia tak mamou melakukannya. Ia tidak bisa! Tidak bisa melakukannya.
Tangisan semakin menjadi, bahkan ia menutup mulutnya sendiri dengan satu tangannya. Menahan jeritan yang ingin ia keluarkan. Tanpa ia sadari secara spontan ia berlari menjauh dari rumah itu. Iqbal yang berada di sampinya pun ikut mengejar Fika.
"Fik tunggu!" Teriak Iqbal di belakangnya.
Setelah lumayan cukup jauh tubuh Fika yang lelah kini luruh terjongkok di balik sebuah pohon besar disana. Disanalah ia kembali menundukkan kepalanya dan menangis mengeluarkan rasa sakit dihatinya.
Iqbal yang tak mampu melakukan apapun ia hanya mampu diam membiarkan Fika mengeluarkan beban dihatinya. Tentu.. Iqbal sangat mengerti apa yang saat ini Fika rasakan. Pedih, sakit dan terpukul. Namun apa boleh buat, kebenaran akan terbongkar dengan sendirinya.
"Gue ngerti perasaan lo Fik. Tapi gue gak tega liat lo kaya gini." Iqbal mengelus pundak Fika yang gemetar hebat. Ia mengerutkan keningnya mendengar isakan Fika.
"Gue tau itu menyakitkan. Tapi.. lo harus belajar menerima kenyataan. Karena kenyataan memang menyakitkan."
Fika tak juga menghentikan tangisannya. Ia justru semakin meremas kuat dressnya. Melihat hal itu Iqbal mengepalkan lengannya sangat kuat. Seperti akan memukul orang dengan keras. Detik berikutnya terdengar suara helaan nafasnya. Iqbal mengambil posisi duduk di samping Fika yang masih tertunduk. Entah apa yang ada di fikiran cowo itu saat ini. Karena kedua matanya terlihat berbinar sambil menatap langit malam.
"Sejak awal gue tau lo suka sama Arga. Bahkan.. sakin cintanya lo sama dia, sampai lupa dengan orang yang mencintai lo selama ini."
Deg!
Fika terhentak. Seketika ia mengangkat wajahnya yang basah karena airmata. Ia mentap Iqbal penuh tanya. Sedangkan Iqbal sendiri tidak menatapnya namun mengerti tatapan Fika padanya.
__ADS_1
"Lo berjuang buat dia. Tapi lo gak liat siapa orang yang berjuang buat lo." Suara Iqbal terdengar parau. Antara sedih dan marah terpadu begitu jelas.
"Iqbal.." Fika angkat bicara. Sejujurnya ia tidak tau apa yang harus ia katakan. Tetapi ia berusaha meraih lengan cowo itu.
Saat tangan Fika menyentuh tangan Iqbal, barulah cowo itu juga menatapnya. Menatap dengan tatapan yang tidak di mengerti.
"Apa sekarang lo baru sadar, siapa orang yang tulus mencintai lo?"
Fika terdiam. Entah mengapa mendengar perkataan Iqbal barusan membuat Fika terasa sangat bersalah.
"Jawab gue Fik." Paksa Iqbal dengan tatapan yang sama.
Apa yang harus Fika katakan? Karena memang benar pada kenyataannya dirinya terlalu egois mengejar Arga yang tidak mungkin menjadi miliknya dan tidak mempedulikan orang yang justru berjuang untuk dirinya. Bodoh! Itulah yang kini ada di fikiran Fika untuk menilai dirinya sendiri.
"JAWAB GUE FIK!" Teriak Iqbal terdengar kesal dan tertekan. Sedangkan Fika merasa tertegun karena sebelumnya Iqbal belum pernah berteriak padanya.
"Apa lo inget siapa orang yang memeluk lo disekolah saat lo nangis? Lo inget siapa orang yang jemput lo ketika lo ditinggalin? Apa lo inget siapa orang yang selalu menawarkan kebahagiaan buat lo ? Apa lo masih inget janji kita? Janji gue! Janji lo! Janji kita bersama untuk saling melindungi satu sama lain... apa lo masih inget sama sumpah gue Fik!?"
Fika gemetar. Ia tak mampu lagi menahan airmatanya. Sungguh ia benar-benar tidak sanggup saat ini.
Iqbal tiba-tiba berdiri dan diikuti oleh Fika. Mereka saling berhadapan menatap satu sama lain.
"Sumpah.. dimana gue akan membahagiakan lo kapanpun dan dimana pun. APA LO INGET ITU FIK!?"
"Tapi... tapi lo!" Iqbal semakin frustasi ia mengacak rambutnya sendiri dan meremasnya sambil menggeram.
"TAPI LO SAMA SEKALI GAK MANDANG GUE! LO LEBIH MANDANG ORANG YANG TERUS NYAKITIN HATI LO! BAHKAN LO MAU BERTAHAN BUAT DIA KETIMBANG GUE YANG SELALU ADA BUAT LO FIK!"
Fika semakin terisak. Ia mengakui kesalahannya. "Iqbal.. " Fika kembali meraih tangan Iqbal namun cowo itu menepisnya.
"Apa hanya dengan cara ini lo akan sadar betapa berartinya lo buat gue?"
Iqbal berbalik dan secera spontan mencengkram kedua bahu Fika.
"ASAL LO TAU FIK! SELAMA INI GUE SELALU MENUNGGU LO MENYERAH! MENYERAH MENGEJAR DIA! APA LO GAK PERNAH SEKALIPUN MENGERTI PERASAAN GUE? APA LO SAMA SEKALI GAK PEDULI TENTANG GUE? FIK! GUE CINTA SAMA LO! GUE CINTA SAMA LO DARI SEJAK KITA MASIH KECIL!"
Fika tak mampu lagi menahan dirinya. Ia menarik dirinya sendiri ke dalam tubuh Iqbal. Ia memeluk Iqbal dengan erat dan penuh isak tangis. Sungguh, ia tidak tau. Ia tidak pernah mengerti perasaan Iqbal selama ini padanya.
"Maaf.. maaf Iqbal. Maafin Fika.."
Iqbal tak mampu berkata apapun lagi. Bahkan saat ini cowo itu pun meneteskan airmatanya guna mengeluarkan segala amarah dan beban dihatinya. Kedua tangan kekarnya membalas pelukan Fika sama eratnya.
"Gue akan selalu sabar sampai lo sadar sama perasaan gue. Meskipun pada akhirnya lo gak akan menjadi milik gue seutuhnya."
SIAPA TIM IQBAL?
SIAPA TIM ARGA?
Setelah baca bab ini pasti diantara kalian ada yang baper sama Iqbal ya kan?😂
Tapi sebelumnya maaf banget buat semuanya.. updatenya lamaaaa banget. Akhir-akhir ini aku lagi banyak masalah ketambah banyak kerjaan juga. Jadi suka bad mood gitu kalau mau nulis tuh. Maaf yah.. tapi aku jamin bab-bab selanjutnya bakal lebih menarik lagi.
Dan minggu sekarang mulai update 3 kali lagi deh. Maaf yah maaf banget buat yang selalu setia nunghuin up cerita ini.
Tapi makasih banyak loh udah setia banget😢
Kasih komentar tentang bab ini yah guys. Karena jujur entah kenapa aku nulisnya juga sambil nangis seriusan.
Jangan lupa likenya yah...
Penulis abal mencoba untuk berkarya
See you in the next chept》》
Covernya aku ganti.. menurut
kalian gimana?
__ADS_1