
"Makasih udah mau nganter gue."
"Apasih Bal, kamu kaya gini juga gara-gara Fika. Jadi gak usah berterima kasih gitu."
"Tapi gue maunya berterima kasih sama lo."
"Nggak usah Bal, kaya ke siapa aja."
"Fik,"
"Hem?"
"Gue pingin bawa lo ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Lo akan tau nanti."
"Tapi.."
"Gue maksa Fik."
"Tapi.."
"Gue gak akan macem-macem tenang aja."
"Hem.. tapi jangan kemaleman yah."
"Oke."
Setelah sepeninggalan Iqbal dan Fika dari Klinik terdekat, keduanya kembali melanjutkan perjalannya. Seperti yang baru saja Iqbal katakan, bahwa ia akan membawa Fika ke suatu tempat. Karena Iqbal memaksanya, Fika juga tidak mampu menolaknya.
Hembusan angin sore hari yang lembut dan terasa hangat menerpa tubuh keduanya. Iqbal melaju dengan kecepatan standar mencoba menikmati moment yang tidak pernah ia rasakan bersama wanita yang kini duduk di jok belakang motornya. Ada rasa bahagia tersendiri bagi Iqbal saat melihat senyum manis Fika. Bahkan ia tidak bisa henti-hentinya melirik wajah imut Fika dari balik spionnya.
Baginya kebahagiaan Fika adalah kebahagiaannya juga. Deretan gigi rapi Fika terlikis indah di wajahnya saat melihat beberapa pohon yang daunnya berterbangan terhembus angin, seperti di film drama romantis. Menikmati hal itu, Iqbal pun semakin memperlambat kecepatan motornya, membiarkan Fika menikmati hembusan angin sore yang menerbangkan poni depannya dan juga kepangan ciri khasnya.
'Gue udah nunggu moment ini selama bertahun-tahun. Gue gak akan lepasin lo lagi Fik'
Iqbal meningkatkan kecepatan motornya saat ia telah melewati deretan pohon rindang tadi. Dan membelokkan setir motornya ke arah kanan jalan. Sedangkan Fika hanya diam tercenung menatap sebuah terowongan gelap di depan, hatinya mulai terasa berguncang saat baru menyadari tempat yang kini sedang ia lewati. Ingatannya kembali ke masa 12 tahun yang lalu. Dimana ia masih berumur 6 tahun dan Iqbal bersamanya.
Tempat ini adalah tempat dimana dulu Fika dan Iqbal selalu bermain bersama, bercanda riang, bertengkar, menangis bersama dan disini pula tempat Iqbal mengucap janjinya. Fika meremas roknya, ia tidak tahu bagaimana mengutarakan anatara rasa sedih dan juga bahagia yang kini melandanya. Iqbal telah kembali dan mencoba mengembalikan kenangan mereka bersama, namun disisi lain ia juga membuka luka lama. Karena dulu Fika tidak rela Iqbal pergi hingga saat itu Fika tidak pernah kembali lagi ke tempat ini karena disana ia merasa kehilangan banyak hal dalam hidupnya.
Tapi... sekarang Iqbal kebali menemaninya.
Iqbal menghentikan laju motornya. Fika pun segera turun dan membuka helm. Mata cokelat indah berkilau Fika menatap takjub pemandangan yang kini menghiasi matanya. Tempat yang dulu ia ingat ternyata masih sama, indah dan menakjubkan. Banyak pepohonan hijau rindang menghiasi kawasan taman, dan berjajar berbagai jenis bunga yang ditata secara rapih di sepanjang jalan setapak. Selain itu rumput hijau yang membentang luas membuat suasana semakin asri dan nyaman saat mata memandang.
"Ayo." Iqbal mengulurkan tangannya membuat Fika juga reflex meraihnya. Keduanya saling bertukar senyuman dan Iqbal menuntun Fika menuju bentangan bunga disana.
"Lo masih inget kan?" Iqbal berucap menatap lurus kedepan. "Masa kecil kita yang indah, gue yakin lo masih inget itu."
Fika ******** senyumnya, sambil mengingat masa itu. "Tentu saja Fika inget. Fika nggak mungkin lupa sama kenangan kita di masa kecil. Yah, meskipun dulu kita berpisah, tapi Fika percaya sama janji kamu."
Iqbal menghentikan langkahnya. Keduanya berdiri di tengah-tengah rimbunnya bunga. "Makasih Fik buat selalu percaya sama gue. Gue emang gak salah milih cewe."
"Iya Bal, kita kan sahabat."
Entah mengapa ucapan Fika barusan telah berhasil merubah ekpresi Iqbal. Cowo itu menunduk sebelum tiba-tiba meraih tangan lentik Fika dan menggenggamnya erat, seolah takut tangan itu akan menjauh darinya.
"Fik, gue gak mau jadi sahabat lo lagi."
Fika mengerutkan keningnya keras. "Maksudnya?"
Alih-alih menjawab, Iqbal lebih dulu mengurai senyumnya. "Gue gak mau jadi sahabat lo lagi, tapi gue pengen lebih dari sekadar sahabat lo."
Fika semakin terdiam, ia mencoba mengerti maksud Iqbal. Namun apalah dia, seorang cewe yang tidak memiliki kepekaan yang tajam.
"Fik, lo ngertikan maksud gue?"
Fika menggelengkan kepalanya polos. Hal itu membuat Iqbal menghelas nafasnya. Kemudian menelengkup wajah Fika gemas dengan kedua tangan besarnya. "Ternyata lo masih sepolos Fika yang dulu. Bikin orang gemes."
"Fika emang gak ngerti." Ucap Fika jujur. Dan tentunya membuat Iqbal semakin tak henti-hentinya mengurai senyuman bagi cewe polos di depannya.
"Gue udah nunggu saat-saat kaya gini. Dan hari ini gue mau ngomong yang sejujurnya sama lo. Kalo gue.."
Tatapan Fika dan juga Iqbal saling bertubrukan. Mengartikan tatapan masing-masing dengan penuh arti. Fika menatap Iqbal penuh pertanyaan, sedangkan Iqbal menatap Fika mencari sesuatu yang berarti di dalam matanya. Sesuatu yang menandakan ketulusan akan keberadaan dirinya di mata indah cewe itu.
"Fik, lo mau gak jadi.."
Belum sempat Iqbal menyelesaikan kalimatnya karena suara dering ponsel milik Fika telah menghentikannya. Fika pun langaung merogoh sakunya dan melihat nama yang tertera di ponselnya. "Arga."
Fika sebelumnya menatap Iqbal meminta izin padanya untuk mengangkat telpon, apaboleh buat Iqbal pun mengangguk sebagai tanda ia mengizinkannya. Setelah mendapat izin Iqbal, Fika pun segera menggeser layarnya untuk mengangkat.
"Hallo-"
__ADS_1
"Lo dimana?"
Suara dingin Arga meresap ke kuping Fika, aura dinginnya langsung bisa Fika rasakan meskipun hanya sekedar telpon.
"Fika lagi-"
"Pulang."
"Tapi Fika sama Iqbal lagi-"
"Lima menit lo harus ada di rumah."
TUT!
Panggilan telah terputus secara sepihak oleh Arga. Fika yang menyadari itu pun hanya bisa mendengus kesal. Seperti biasanya Arga selalu keras kepala dan maunya sendiri.
"Iqbal maaf,"
Iqbal terlihat tidak senang, dari raut wajahnya saja sudah mampu di tebak bahwa cowo itu sedang kesal.
Namun detik berikutnya ekspresi Iqbal kembali melembut, cowo itu membuang nafas pelan. Senyumnya kembali terukir.
"Kita pulang sekarang." Kata Iqbal.
"Tapi kamu gakpapa kan?"
"Nggak Fik, lo tenang aja. Lagian, gue gak mau lo nanti kena marah Arga."
Iqbal menggandeng lengan Fika. Dan berjalan meninggalkan taman menuju motornya.
*****
"Akhirnya semua sudah beres. Kalian berdua jangan nakal yah, pokonya selama mamah di luar negeri kalian gak boleh musuh-musuhan. Dan inget, kalian harus saling membantu jangan pada jaim-jaiman. Selain itu, kamu Arga kamu harus jaga anak perawan di rumah kita dengan baik. Kalau seandainya Fika kenapa-kenapa, mamah pasti akan hukum kamu."
Sudah sekitar 1 jam setelah Fika datang, Ratna mengoceh panjang lebar antara memberi amanah dan juga peringatan bagi kedua manusia yang kini berdiri saling diam memerhatikannya. Arga yang memakai kaus berwarna putih longgar itu menyenderkan tubuhnya ke dinding dan mengangguk asal saat ibunda tercintanya memberikan intruksi.
"Fika, kamu jaga diri baik-baik yah di rumah. Kalo Arga jahat atau macam-macam sama kamu. Langsung aja hubungin tante yah."
"Mah-"
"Fika nanti sering-sering telpon tante yah. Jangan lupa loh."
Fika tersenyum manis sambil mengangguk pada Ratna.
"Mah-"
"By tante." Fika melambaikan tangannya sesaat Ratna telah melewati pintu. Sedangkan Arga ia hanya tersenyum tipis terpaksa saat ibunya memberi kiss by padanya.
Mobil yang di tumpangi Ratna telah berjalan dan pergi. Saat itu juga Arga langsung menutup pintu rumahnya dengan keras.
BAM!
Fika terperanjat. Ekpresinya berubah saat menatap Arga yang juga menatapnya dingin. Apalagi dengan jarak mereka kini terlalu dekat.
"Ar-arga .. Fika ke- kamar dulu." Baru saja ia akan berbalik namun Arga menarik lengannya dan menghempaskan tubuh Fika ke pintu. Arga mengunci posisi di antara mereka dengan cara memposisikan tangan kirinya di samping kepala Fika. Tatapan mereka saling bertubrukan, dan Fika sedikit mendongkak menatap tatapan tajam Arga.
"Arga.. Fika-"
"Kemana aja lo tadi siang?"
Deg!
Jantung Fika mulai berdegub kencang, ia meneguk salivanya berat. Apakah Arga akan memarahinya karena ia sudah menolak ajakan cowo itu dan memilih pergi dengan Iqbal?
"Jawab!"
Fika terhentak. Ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Arga. "Fika-" Fika terhenti merasakan sengatan aneh saat tiba-tiba saja Arga menyentuh dagunya dan membiarkannya untuk menatap cowo itu. "Lo apa?"
Hening sejenak.
"Fi-Fika tadi cuman ke klinik doang, trus.."
"Trus?"
"Ke taman bunga." Fika mengatakannya dengan suara yang begitu rendah, namun dengan jarak yang begitu tipis tentu saja Arga mampu mendengarnya dengan jelas.
"Ngapain aja?" Nada Arga tiba-tiba merendah, tidak seperti sebelumnya yang meluap-luap.
"Cuman liat bunga aja.. gak.. ngapa-ngapain." Fika begitu hati-hati takut jika Arga akan kembali menaikkan oktav suaranya. Namun hal yang tak terduga, Arga tiba-tiba saja memundurkan kembali posisinya. Lalu berbalik begitu saja meninggalkan Fika yang masih tercenung kebingungan dengan jantung masih berdegub kencang.
Namun disana Fika mampu kembali bernafas lega. "Dasar cowo aneh, gaktau apa Fika hampir kena serangan jantung barusan."
Setelah ia memastikan tidak melihat keberadaan Arga di tangga, Fika pun mulai berjalan menaikki tangga menuju kamarnya. Hari yang melahkan bukan? Sepanjang hari ini cukup menyedihkan namun ada juga kebahagiaan dibaliknya. Iyah, saat mengingat kembali Fika mampu tersenyum lagi. Yang pertama mengingat ternyata ibunya masih hidup membuatnya semakin bersemangat untuk terus menjalani kehidupannya sendiri.
__ADS_1
Entahlah, hari ini semuanya terasa campur aduk bagi Fika. Awalnya ia bersedih, kemudian bahagia dan juga menegangkan. Ingatannya kembali kepada kejadian tadi siang, dimana ia harus memilih Iqbal dan pergi bersamanya. Tidak dapat di pungkiri, Fika memang senang saat bersama dengan Iqbal, rasanya kembali mengenang di masa ia berada di panti dulu.
Pertama kali ia mengenal Iqbal, dia hanyalah seorang anak laki-laki lugu yang tidak memiliki siapapun seperti dirinya. Keduanya bertemu sesaat mereka sampai di panti asuhan. Disanalah Fika mulai berteman dengan Iqbal. Walaupun dulu Iqbal sangat jahil padanya, namun Iqbal lah yang selalu melidunginya. Dan semua itu tentunya sebelum ia di adopsi oleh keluarga kaya dan di bawa pergi ke Amerika.
Disanalah perpisahan sekaligus pertemuan terakhir Fika dengan Iqbal. Namun ia juga tidak pernah lupa dengan janji yang Iqbal janjikan untuknya. Bahwa cowo itu akan kembali menemuinya, dan benar saja. Iqbal telah menepati janjinya sekarang. Bahkan ia masih mengingat tempat dimana mereka selalu bersama. Rasa senang yang meledak-ledak ini rasanya tidak mampu Fika utarakan dengan sebuah kata-kata. Ia hanya bisa mengepresikannya dengan senyuman saja.
BRAKK!
"Astagfirullah!" Fika terperanjat dan bangun dari posisinya tidur. Ia menyentuh dadanya karena kaget. Tatapannya tertuju dengan orang yang sedang berdiri tegap di ambang pintu. "Arga kamu ngapain kesini?" Ucap Fika dengan nada kesal.
Fika berdiri dan berniat menghampiri Arga di ambang pintu. Namun terlambat, karena Arga telah melangkah masuk. Dan Fika menghentikkan langkahnya. Apa lagi yang akan cowo itu lakukan sekarang? Batin Fika ingin menjerit.
Tatapan Fika beralih pada sesuatu yang di pegang oleh cowo itu. Dan disaat itu juga Arga melemparkan benda di tangannya ke arah Fika. Bahkan hampir mengenainya.
Benda itu jatuh dan berceceran di lantai. "Ini apa?"
Arga memasukkan lengannya ke saku depan celananya. "Lo lupa? Gue akan jadi guru private lo. Jadi mulai sekarang lo harus ikutin semua perintah gue. Dan mulai dari sekarang juga, lo harus belajar mati-matian. Kalo nggak.."
Arga menghentikan perkatannya dan malah melangkah lebih mendekat hingga cowo itu berada tepat di depan wajah Fika. Menepis jarak di antara mereka hingga Fika sendiri mulai menahan nafasnya. Melihat ekpresi Fika yang begitu tegang, Arga justru tersenyum miring membuat Fika semakin berat meneguk salivanya sendiri. "Kalo nggak.. gue akan hukum lo habis-habisan."
Arga mengambil satu buku yang di lantai kemudian melempar kasar ke arah Fika. Fika pun sigap menangkap buku itu.
"Gue kasih lima menit buat lo baca, setelah itu gue akan tes lo."
Fika membelalakkan matanya, apa-apaan itu? Lima menit? Dikira main game. Mana mungkin dalam waktu lima menit Fika bisa mempelajari materi setebal itu. Bahkan waktu seminggu saja Fika masih kewalah apalagi hanya lima menit?
"Waktunya mulai dari sekarang." Ucap Arga sambil melihat jam tangan hitam di tangannya. Cowo itu tersenyum miring menatap Fika sebelum ia berbalik dan duduk menunpang kakinya di sofa kamar Fika. Cowo itu duduk santai menatap horor Fika yang masih menatap cengo dia.
"Sampai kapan lo berdiri melongo disana?"
Fika tersadarkan, ia menyerjabkan mata beberapa kali. Menepis segala kekagettannya dengan mulai mengambil buku-buku di lantai dan membawanya ke atas kasurnya. Arga masih setia memperhatikan Fika yang kebingungan di sana. Entah mengapa namun sepertinya Arga sangat menikmati ketegangan Fika saat itu. Cowo itu melipat kedua tangannya di dada lalu tersenyum sinis saat Fika mulai membaca buku tebal yang tadi ia berikan.
"Lo udah buang waktu setengah menit."
Ingin sekali Fika berkata kasar, perkataan Arga sama sekali tidak membantunya. Justru membuatnya semakin tegang setengah mati. Namun meskipun begitu, ia sama sekali tidak bisa melawan. Ia berusaha sefokus mungkin membaca tanpa menghiraukan keberadaan ataupun tatapan horor dari Arga di ujung sana.
5 minute later_
"Waktu habis."
Fika mengangkat kepalanya sambil meremas buku tersebut. Waktu lima menit sangatlah singkat seperti tebakkannya bahkan ia masih setengah membaca, boro-boro memahaminya ia sendiri bingung mau baca yang mana. Apalagi saat melihat wajah dan tatapan Arga yang kini mulai berjalan mendekatinya justru membuat otaknya blank seketika. Materi yang baru saja ia baca langsung hilang terformat di dalam otaknya. Bagaimana ini? Posisi Fika sangat terdesak, ingin rasanya ia menghilang saat ini juga untuk menghindari terkaman Arga.
Tatapan Arga seperti itu seperti seekor singa yang telah menemukan mangsanya dan akan siap menerkammya kapan saja. Bahkan menghabisinya secara sadis.
"Arga-" Fika berusaha berbicara terus terang kalau ia tidak siap. Namun sepertinya Arga tidak ingin ada alasan. Cowo itu malah merebut buku di tangan Fika dan membuka halaman pertama dari buku itu.
"Pertanyaan pertama."
Arga terhenti dan menatap Fika sekejap sedangkan Fika menegang menatap Arga gemetar.
"Sebutkan rumus-rumus statistika. Waktu lo dua puluh detik."
Blank. Keringat dingin dan panas menyatu tidak karuan. Fika mengerutkan dahinya keras berusaha mengingat apakah tadi ia menemukan rumus tersebut.
"Lima detik." Arga masih setia berdiri di depan Fika yang kebingungan. Fika masih diam, apa yang harus ia katakan sedangkan ia sendiri sama sekali tidak tahu rumusnya.
"Delapan."
"Sembilan."
"Sepuluh. Waktu lo habis."
Arga kembali melemparkan buku yang ia pegang pada Fika. Cowo itu memasukkan lengannya santai di dalam saku dan menatap Fika penuh misteri. Seakan ia telah berhasil dengan rencana untuk menghukum Fika.
"Seperti perjanjiannya. Karena lo gak bisa jawab, itu artinya lo harus menerima hukuman."
Fika menunduk pasrah. Apa yang sebenarnya Arga inginkan? Dan hukuman seperti apa yang akan dia berikan padanya? Mengapa ia begitu kejam? Bahkan memberi kesempatan pun hanya sedikit. Tega sekali.
"Hukumannya adalah." Arga tersenyum miring. Seringaian yang ia tunjukkan membuat Fika merinding sendiri. BahkN Fika harus sedikit mencondangkan tubuhnya saat Arga membungkuk dan hampir mendekati wajah polos Fika. "Mulai besok,"
"Lo harus jadi pelayan gue."
_____
Bagaimana nasib Fika menjadi pelayan Arga? Apakah Arga akan menyiksanya?
Menurut kalian Iqbal itu gimana?
Jangan bosen-bosen sama cerita ini yah.. akan ada banyak kejutan di nect chept. Maaf juga udah nunggu lama dan maaf juga kalo banyak typonya. Aku udah revisi cuman suka ada aja yang kelewat.
Jangan lupa like dan komennya yah😊 oyah aku seneng baca komenan kalian, hehe kadang suka ketawa sendiri.
See you next chept》》
__ADS_1