Unforgettable

Unforgettable
Kembalinya Sahabat


__ADS_3

Setelah sarapan pagi ini selesai, Arga dan Fika langsung berpamitan kepada Ratna untuk berangkat ke sekolah. Arga lebih dulu keluar disusul Fika di belakangnya. Arga berjalan menuju mobil sport birunya beriringan dengan Fika yang berjalan melewatinya, hal itu pun sontak membuat Arga menegurnya.


"Mau kemana?" Tanya Arga. Membuat Fika berbalik.


"Ke.. depan." Jawab Fika merasa ragu dengan pertanyaan Arga yang menurutnya terdengar aneh itu.


"Ngapain?" Tanya Arga lagi. Ia kini bersandar di mobilnya seraya melipat tangan di dada.


"Ya.. nunggu angkot, emang mau ngapain lagi? Kan biasanya juga gitu." Ucap Fika kemudian memalingkan wajah dari Arga karena cowo itu terus menatapnya.


Mendengar suara helaan nafas Arga, Fika pun kembali menatapnya. Dan tiba-tiba saja Arga menariknya secara paksa hingga tubuh Fika kini menghantam tubuh Arga. "Kapan sih lo bakalan peka sama gue?"


Fika mengerutkan keningnya. "Peka? Peka.. kenapa?"


Merasa greget dengan tingakah polos Fika yang tidak pernah hilang sejak lahir itu membuat Arga mencubit kedua pipi cabi Fika dengan gemas hingga membuat Fika meringis kesakitan.


"Sakit ih!" Tepis Fika melepaskan tangan Arga di pipinya.


"Abisnya lo bikin gue gemes." Arga mengangkat satu lengannya dan mendaratkannya tepat di atas kepala Fika. "Sampai kapan otak cantik lo ini peka sama gue hah? Lo kan sekarang cewe gue, otomatis lo juga harus bareng gue terus."


Ucapan Arga terdengar terlalu krisis untuk di cerna oleh otak Fika. Lebih tepatnya ambigu. Apa tadi Arga bilang? Cewenya? Hellow.. sejak kapan Fika jadi cewenya Arga?


"Ayok." Arga menarik Fika yang kedua kalinya, namun kali ini ia menarik Fika menuju ke samping mobil miliknya. Ia membukakan pintu mobil  itu lalu mengintruksikan Fika untuk masuk.


"Arga mau ngajak Fika berangkat bareng?" Tanya Fika teramat polos.


Tidak ingin menanggapi terlalu jauh cewe yang ia suka itu, Arga hanya mengurai senyumnya yang tampan kemudian mengangguk seraya mendorong perlahan Fika untuk segera duduk. "Kalo lo terus nanya, kita pasti kesiangan." Ujar Arga kemudian menutup pintu mobilnya setelah memastikan Fika duduk nyaman di kursi mobilnya.


Arga berjalan memutari mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Ia kemudian menyalakan mesin mobil dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Karena ia tidak ingin membuat Fika shock jika dibawa ngebut olehnya, padahal biasanya Arga akan menggunakan kecepatan tinggi saat mengendarai mobil sportnya itu. Maklumlah namanya juga mobil sport, gak apdol kalo gak cepet.


"Arga nanti turunin Fikanya di depan gerbang aja yah."


Pertanyaan Fika yang secara tiba-tiba itu berhasil membuat Arga menoleh menatapnya. "Memangnya kenapa?"


Fika terlihat Ragu. Ia menunduk tidak berani membalas tatapan Arga padanya. "Gak papa, Fika emang maunya turun di situ."


Bukan Arga namanya jika tidak bisa mengetahui kegelisahan Fika, sudah bertahun-tahun Arga mengenal cewe di sampingnya itu. Tentu saja ia sangat tahu sifat Fika termasuk perasaannya saat ini.


"Lo takut orang-orang ngegosipin kita kan?" Tanya Arga berhasil menohok Fika. Namun hal itu mengundang tawa cool Arga. "Lo gak usah peduliin apapun komentar orang-orang, lagian kita yang ngejalanin ini. Dan gak ada hubungannya dengan mereka semua." Ujar Arga santai seperti biasa.


"Tapikan Ga, kamu tau sendiri kalau mereka semua benci sama Fika. Fika gakmau kalau nanti Arga kena imbas mereka." Nada bicara Fika terdengar sangat sedih di telinga Arga. Tentu Arga mengerti apa yang sedang ia khawatirkan. Arga juga jadi merasa sangat bersalah padanya. Jika saja dari awal ia terus melindunginya, pasti Fika tidak akan merasakan banyak kebencian dari orang-orang. Karena buktinya, kebencian yang ia tunjukkan saat itu berimbas kepada semua orang yang justru ikut membencinya.


"Maaf Fik."


Fika menoleh, menatap Arfga dengan kerutan di dahinya."Maaf? Maaf kenapa?"


Arga meraih lengan bebas Fika tanpa harus menatapnya. Ia menyelipkan jari-jarinya ke jari-jari tangan Fika. Memberikan kehangatan sekaligus ketenangan bagi Fika. "Maaf karena lo yang harus nanggung semua ini sendirian."


Sejujurnya Fika tidak terlalu mengerti apa yang Arga maksud. Mengapa dia meminta maaf? Namun dilihat dari ekspresi Arga seperti itu, Fika dapat memahami bahwa ada kekecewaan di sana. "Arga gak salah apa-apa kok. Arga gak usah minta maaf."


Fika mencoba membuat suasana hati Arga kembali senang. Namun kenyataannya mendengar ketulusan Fika yang selalu memaafkan segala kejahatan Arga padanya justru semakin membuat Arga semakin bersalah.


"Nggak Fik, gue udah jahat sama lo. Harusnya gue gak pantes dapet maaf dari lo. Lo terlalu baik buat gue." Arga menatap Fika penuh penyesalan. Sangat jelas dari kilat matanya yang tajam itu. Fika mengerti namun baginya hal itu salah.


"Apasih Ga? Justru menurut Fika, Fika yang gak pantes buat Arga. Karena Fika bukan cewe yang cantik ataupun cewe yang pintar. Malahan kebalikannya, Fika jelek dan podoh pula."


Mendengar tuturan Fika barusan membuat Arga semakin mengeratkan genggamannya."lo salah."  Arga mengangkat tangan Fika kemudian menciumnya dengan lembut. Fika pun bisa merasakan basah di punggung tangannya akibat bersentuhan dengan bibir basah Arga. Sensasinya sungguh luar biasa, terasa menggelikan namun mampu membuat jantungnya berpaju lebih cepat.


"Bagi gue.. lo itu sempurna. Lebih sempurna dari cewe manapun yang pernah gue temui."


Pekertaan Arga yang kelebihan manis itu tentu saja membuat rona merah di kedua pipi Fika muncul. Fika tidak kuat jika harus menahan senyumannya dikala Arga terus menatapnya dengan senyumannya yang terlihat lebih manis dari gula itu. Argh! Fika sungguh tidak sanggup mendengar hal-hal seperti itu dari Arga. Ya Allah kuatin Fika biar gak pingsan di mobil.. Batin Fika menjerit-jerit.


"Gue gak peduli lo itu cewe apa di mata orang lain. Karena bagi gue lo itu segalanya. Kekurangan gue adalah kelebihan lo, dan kekurangan lo adalah kelebihan gue. Selalu seperti itu, karena kita saling melengkapi satu sama lain."


"Gue juga gak pernah peduli dengan penampilan atau apapun yang lo pakai. Karena di mata gue lo tetap menjadi seorang bidadari."


*Ya Allah Fika pingin pingsan!*


"Janji sama gue, jangan berusaha tampil terlalu cantik saat di depan semua orang. Kecuali hanya di depan gue."


Fika tersenyum diiringi anggukannya.


Setelah menelusuri jalanan kota yang padat namun Arga dan Fika tidak merasa bosan dengan kebersamaan mereka, tentunya dengan lebih banyak kata-kata romantis yang Arga keluarkan membuat Fika hampir mati di dalam mobil. Sampai-sampai mereka tidak sadar kalau mereka sudah berada di depan gerbang sekolah.


Terlihat banyak sekali mobil dan motor yang melewati gerbang bersamaan. Arga pun membelokkan mobilnya menuju tenpat parkir. Setelah memarkirkan mobilnya Arga segera turun bersamaan dengan Fika yang juga ikut turun.


"Boss!"


Kedatangan Arga tentu saja mengundang setiap mata disana. Bukan hanya para cewe yang sejak tadi mengumpul menunggunya. Melainkan para cowo tampan yang kini berdiri di dekat mobil Nico pun ikut menyambutnya penuh antusias. Siapa lagi jika bukan trio tampan SMA Wijaya? Kalian pasti tahu siapa mereka.


"Boss! Tumben lu dateng pagi? Biasanya juga mepet pas bell mau bunyi." Celetuk Andre saat menghampiri Arga.


"Ho'oh boss, gue kira itu bukan mobil lo." Sambung Willy.


Namun kini bukan Arga yang membuat mereka penasaran. Tapi keneradaan Fika lah yang membuat mereka kaget dan juga bingung. Mereka baru menyadari adanya Fika di sana karena sebelumnya cewe itu berdiri di belakang tubuh Arga yang tinggi.


"What the f*ck boss? Maksudnya apaan nih? Bareng-barengan gini?" Sosor Andre dengan wajah sok polosnya.


"Wah roman-romannya ada yang udah jadian nih?" Celetuk Nico ikut menggoda Arga dan Fika.


"ANJIR PEJE LAH BOSS! Jadian gak bilang-bilang, takut di tagih lu bos?" Ujar Willy.


Arga dan Fika masih menatap diam ketiga cowo di depannya itu. Mungkin bagi Fika hal ini sungguh mengganggunya, tapi bagi Arga justru kebalikannya. Entah kenapa cowo itu terlihat senang saat teman-temannya menuduhnya telah berpacaran dengan Fika. Padahal kenyataannya enggak sama sekali.


"Boss, kita gak minta yang muluk-muluk kok. Cuman minta mobil lo aja dah. Iya gak guys?" Celetuk Andre membuat Arga tersenyum miring.


"Selain mobil emangnya lo mau apa?" Tanya Arga, seolah menantang ketiga sahabatnya itu. Andre, Nico dan juga Willy saling bertatapan. Ada gores jahil di wajah mereka yang akhirnya seringaian licik dari ketiganya pun muncul.


"Hehe.. kita sih maunya apartemen boss." Ucap Andre di susul Willy.


"Bener boss, sekalian buat ngumpul kita. Iya gak Nic?"


"Setuju gue. Yah.. secara lo pasti mampu Ga ngasih kita apartemen. Bagilah satu buat kita." Kata Nico dengan senyumannya.


"Arga.." Setelah sekian lama Fika terdiam membisu, akhirnya ia pun berbunyi dengan menarik kaus belakang Arga membuat cowo itu menoleh.


"Hem?"


"Jangan ih. Jangan diturutin." Cicit Fika. Ia menggelengkan kepalanya dengan alis tertekuk tajam menatap cowo itu.


"Memangnya kenapa?" Tanya Arga, hal yang membuat Fika semakin gemas.


"Sayang ih." Geram Fika. Sambil kembali menarik-narik kaus Arga.


"Iyah.. gue juga sayang sama lo."


Ya Allah Argaaaaaa Batin Fika berteriak. Sungguh Arga saat ini sangat menyebalkan. Seolah perkataan Fika adalah hal yang terdengar istimewa di telinganya. Ini gila!


Arga terkekeh melihat ekpresi kesal Fika. Ia pun meraih pundak kurus Fika lalu mendekatkannya ke tubuhnya.


"Lo tenang aja, bagi gue hal itu gak lebih berharga daripada lo. Lo adalah segala-galanya buat gue."


Perkataan Arga yang overdosis manis itu bukan hanya membuat Fika tersipu malu melainkan membuat ketiga sahabatnya pun menganga tidak percaya dengan perkataan manis yang keluar dari mulut pedas Arga.

__ADS_1


"Cuy, kayanya gue butuh dokter telinga nih. Telinga gue rada-rada conge gitu."


"Sama Dre, gue juga. Malahan rasanya gue butuh psikiater deh sekarang."


"Gue setuju ama lo Will." Kata Nico. Mereka bertiga masih melongo menatap Arga dan Fika bergantian. Sedangkan orang yang mereka perhatikan malahan memasanga wajah tanpa dosa, alias watados.


"Yaudah, gue mau nganter cewe gue dulu ke kelas." Ujar Arga kemudian menarik Fika menuju gedung sekolah.


"Gengs! Si Arga kok bucin si anjeng?!"


"Kelamaan jomblo dia makanya gitu."


"Enggak bro, menurut gue dia kebanyakan makan micin anjir."


"Gue setuju."


*****


"Ga, kenapa kamu ngomong gitu si? Kitakan belum jadian." Ujar Fika. Ia mengehentikan langkahnya saat ia baru saja di bawa oleh Arga menuju kelasnya.


"Arga ih!" Pekik Fika. Kini ia menyenggol pinggang cowo itu dengan kesal. Namun sayangnya Arga hanya tersenyum untuk menanggapinya.


"Memangnya kenapa si? Emang lo gak mau jadi cewe gue?" Pertanyaan Arga membuat Fika kembali terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.


"Lo diem itu tandanya lo mau."


"Fika gak bilang gitu." Serkah Fika. Dengan wajah cemberutnya.


"Yaudah, masuk kelas gih. Kalo ada yang macem-macem bilang aja oke?"


Fika belum sempat menjawab Arga namun laki-laki itu lebih dulu mencium keningnya hingga membuatnya membeku beberapa detik sebelum kemudian Arga melenggang pergi ke kelasnya. Tatapan Fika masih tertuju kepada punggung cowo itu. Ia speachless, tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi Arga.


"Ekhem, lo gak masuk?"


Suara seseorang dari ambang pintu berhasil menggugah kembali kesadaran Fika. Ia menoleh sekaligus terkejut dengan orang yang barusaja bicara padanya itu ternayata adalah Lussy. Sahabatnya atau lebih tepatnya mantan sahabatnya?


"Ngapain lo liatin gue kaya gitu? Kaya liat setan aja." Ketus Lussy. Cewe itu mendekap dada seraya bersandar di pintu. "Mau masuk kagak?"


Fika gelagapan, ia masih tidak terbiasa dengan sikap Lussy yang kasar itu. Ia hanya mampu terdiam hendak akan masuk.


"Eh tunggu dulu." Lussy menahan tangan Fika. "Ada yang mau gue omongin sama lo."


Fika memandang Lussy. "Lussy mau ngomong apa?"


"Ikut gue."


Tiba-tiba saja Lussy langsung menarik tangan Fika paksa. Ia membawa Fika ke arah lorong menuju toilet. Entah apa yang akan Lussy lakukan kali ini, namun Fika merasa ketakutan bukan main. Fika merasakan perih di tangannya karena cekalan Lussy terlalu kuat. Langkahnya pun tidak beraturan karena Lussy membawanya  dengan langkah tergesa-gesa. Fika tidak bisa melarikan diri sekarang, karena sekarang mereka sudah masuk ke dalam toilet.


BRUK!


"Lussy kamu mau ngapain?" Histeris Fika. Ia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh saat Lussy dengan kasarnya mendorong Fika ke dinding toilet.


"Lo diem!"


Fika terdiam ia menatap Lussy penuh ketakutan. Sedangkan cewe yang kini ada di hadapannya justru menyeringai jahil.


"Lussy, Fika minta maaf kalau Fika punya salah. Kita bisa omongin semuanya baik-baik. Jangan kaya gini. Fika mau kita kaya dulu lagi.. Lussy-"


"Fik!"


Teriakan Lussy berhasil membungkam Fika seribu kata. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada Lussy. Sepertinya Lussy sudah tidak mau penjelasan apapun dari Fika. Mau tak mau kali ini Fika harus menghadapi Lussy.


BRUK!


"Fik, maafin gue yah? Pleeeaaase.. maafin gue yang gak bisa apa-apa ini." Ucap Lussy tersedu-sedu. Entah apa yang sudah terjadi padanya namun Fika benar-benar kebingungan saat ini.


"Lussy kamu kenapa? Fika udah maafin Lussy kok, tapi kenapa Lussy bisa kaya gitu?" Tanya Fika seraya mengelus-ngelus punggung cewe itu.


Lussy mengurai pelukannya dan menatap Fika penuh airmata. Matanya sudah bengkak serta hidungnya yang memerah. Lussy meraih kedua tangan Fika dan menggenggamnya erat. "Fik maafin gue yah. Gue udah bohong sama lu, Huaaaa... maafin gue yah? Please maafin gue.. semua itu gara-gara si cowo tai itu."


Fika mengerutkan keningnya mendengar tangisan Lussy yang menjadi-jadi. Dan cowo itu? Siapa yang Lussy maksud?


"Suutt.. udah yah, Lussy jangan nangis lagi, Fika udah maafin Lussy kok. Tapi.. cowo yang di maksud Lussy itu siapa?" Tanya Fika penasaran.


"Tapi lo janji jangan ngambek yah? Trus jangan ngasih tau dia yah?"


"Iyah, aku janji."


"Oke good."


"Trus siapa cowo itu?" Tanya Fika lagi, kali ini ia sedikit gemas.


"Entar gue butuh nafas." Lussy berhenti sejenak untuk menarik nafas sedalam-dalamnya.


"Udah?" Tanya Fika.


"Udah." Angguk Lussy.


"Trus?"


"Trus apa?"


"Cowonya?!"


"Cowo?"


"Iiihh Lussy!" Geram Fika.


"Eh emang tadi gue mau ngomong apaan?"


"Allahuakbar Lussy!"


"Oh iyah.. hehe.. cowo itu yah? Cowo itu.."


Fika menatap serius Lussy.


"Gue gak akan sebut namanya, tapi asal lo tau yah. Mukanya itu ke pantat ayam pokonya. Najis banget gue sumpah. Tapi sayangnya lo udah sama dia sekarang."


Fika semakin mengerutkan keningnya. "Sama dia? Dia siapa si?"


"Yaelah masa lo gak tau sih, ituloh cowo yang suka ngintilin lo kaya tuyul penasaran. Buset dah eneg banget gue ama dia. Ya coba, masa gue di suruh musuhin dan jauhin lo. Kan sengklek tu orang. Dan begonya lagi.. gue nurut. Soalnya gue takut Fik."


Fika berusaha mencerna dengan jelas. Mungkinkah yang di maksud Lussy itu adalah Arga?


"Cowo itu Arga yah?" Tanya Fika menebak-nebak.


"Nah itu, itutuh nama yang udah gue format permanen di otak gue. Sebel banget gue ama dia bener dah. Asal lo tau Fik yah, saat pertama kali dia ngancem gue di lapangan basket.. gila gue kaget setengah mampus! Gue di keroyok sama satu geng basketnya coba. Kan edan tu cowo." Papar Lussy ngos-ngosan akibat amarah menggulungnya.


"Tapi kenapa Arga ngelakuin itu?"


"Tau dah, emang taik tu orang. Makannya aja kayanya taik kebo dah. Sumpah omongannya pedes banget kaya sambel geprek tetangga gue. Mana gue di suruh bilang kalau gue pernah jadi mantan dia lagih. Idih, kalo dipikir-pikir amit-amit dah gue, mending jomblo daripada sama cowo serem kaya dia." Cibir Lussy membuat Fika semakin ragu.


"Jadi selama ini Arga yang udah ngerencanain ini? Tapi kenapa? Bukannya dia bilang kalau dia-"

__ADS_1


"My honey bunny sweety, tolong yah.. princes syahrini yang cetar membahaya ini belom selesai ngomong oke? Gue blom kelar ngomong. Jadi please jangan di potong. Gue tadi cuman intro doang biar menarik di denger."


Fika melongo cengo.


"Gini yah Fik, awalnya juga gue tuh ngiranya si cowo datar itu cowo yang jahat. Tapi semakin lama gue kenal dia secara langsung. Sebenernya gue eneg yah ngomong gini Fik, dari tadi gue nahan mual sumpah. Cuman karena ini real fakta, jadi yah gue ngomong dah meskipun lidah gue rasanya pahit bener kalo udah ngomongin dia. Jadi gini.... eeeeuuu tadi gue mau ngomong apaan yah?"


"ALLAHUAKBAR LUSSY! Makanya langsung ke intinya aja jangan berbelit-belit!" Teriak Fika penuh kekesalahan. Ia rasanya ingin membanting Lussy saat ini juga.


"Sabar buk, gak usah nge gas dong. Hidup di Indonesia kan? Maka dari itu harus santuy."


"Lussy aku mau nanya ke Arga aja." Putus Fika akhirnya, ia langsung berjalan melewatinya namun hal itu langsung Lussy tahan.


"Iyeh gue ngomong buset dah, kenapa lo jadi ambekan si? Lagi dapet ya lu?"


Fika tidak ingin menanggapi Lussy lagi namun ia masih penasaran dengan kebenarannya.


"Gini Fik, gue langsung aja yah. Sekarang gak ada iklan lagi dah. Kita main skip-skip aja. Kasian durasi."


"Iyah apaan anjir!" Kini Fika pun semakin ngegas.


"Hehe.. gemes deh liat muka lo kesel Fik. Pingin gue gigit boleh gak?"


"GAK! Kapan ngomongnya si?"


"Lah Fik, dari tadi gue pan ngomong."


Ya Allah cobaan kali ini begitu berat. Aku sudah tidak tahan. Maafkan hambaMu yang ingin mengutuk orang ini Ya Allah.. batin Fika.


"Oke, sorry. Kayanya udah gak bisa gue ajak becanda. Gini Fik, gue emang awalnya ngira kalau Arga bakalan nyakitin lo atau melalukan hal buruk sama lo. Tapi ternyata dia punya alasan sendiri kenapa dia ngelakuin itu. Arga nyuruh gue musuhin lo bukan hanya semata-mata bikin lo di jauhin satu sekolah. Tapi karena dia... serius amat muka lo buk? Udah kaya bebek cengo tau gak?" Ucap Lussy seraya menoyor wajah serius Fika. Sungguh Fika merasa baru saja di jatuhkan dari gedung setinggi langit karena hal ini.


"Hehe.. gue lanjut gak nih? Jangan gitu dong liatinnya Fik, serem tau. Lo harus inget kita lagi di toilet. Ekspresi lo kaya gitu berasa gue lagi ngomong ama setan WC."


"Lanjut!"


"Oke, karena si Arga itu... tau kalau ada seseorang penguntit di sekolah kita yang bakalan ngancurin lo Fik."


Fika tertohok. Ia menatap serius Lussy. "Si-siapa?"


"Pokonya dia itu cewek. Dan punya gelar bagus di sekolah ini. Ciri-cirinya putih, badannya kaya duren montong, trus rambutnya kaya bule-bule nyasar gitu. Ah satu lagi.. dia suka banget sama Arga."


"Tinggal sebutin aja namanya apa susahnya si?"


"Oh sorry, gue hilang ingatan. Lo tebak aja sendiri."


Fika mencoba tidak memperdulikan Lussy saat ia berusaha menebak siapa cewe yang Lussy maksud.


"Ah lama lo. Kaya nunggu mantan yang gak balik-balik, sampe kiamat juga gak bakalan bisa! Masa lo gak bisa nebak gitu doang?"


"Ya siapa? Cewe dengan ciri-ciri kaya gitu tuh banyak Lussy. Yang suka sama Arga juga banyak." Cecar Fika. Ia sudah menyerah saat tadi juga.


"Oke gue kasih klu lagi buat lo. Gue yakin lo pasti tau.. dia itu ratu kecantikan di sekolah kita sekalugus.. pemimpin chearleaders."


Fika melotot. Tentu saja ia tahu siapa orang itu. "Angel? Dia yang mau nyelakain aku? Ta-tapi bagaimana bisa? Diakan selama ini baik sama aku, bahkan dia bantu aku buat ke pesta. Tapi dia-"


"Itu cuman rencana dia aja Fik. Dia ngelakuin itu biar dapet perhatian cowo seklek lo. Selain itu dia juga baik-baikin lo ada tujuan lain. Dia pingin lo menderita Fik."


"Darimana kamu tau itu?"


"Gue? Semenjak gue gabung sama komplotan cowok-cowok kurang belaian itu gue jadi tau banyak hal masalah bulus membulus. Gue tau soal itu dari Arga, Iqbal sama Rico. Katanya sih si Angel kerjasama sama bokapnya Arga buat nyingkirin lo dari hidup Arga."


"Gue sih gak tau yah, gimana cara mereka misahin lo sama Arga. Cuman rencana Arga yang misahin lo sama gue membuat Arga tau kalau yang sering jailin lo di sekolah itu bukan setan tapi justru setan jadi-jadian yaitu si Angel. Namanya aja Angel tapi kelakuan kaya setan."


"Trus apa Angel tau kalau kamu cuman pura-pura?"


"Weh ya enggak dung.. apa kata dunia kalo seorang Lussy gak bisa akting? Kalo cuman gitu doang mah upil aja lewat Fik."


"Trus setelah Arga tau Angel yang jahatin Fika dia-"


"Beuh kalo lo tau ya Fik, pokonya seru abis dah sumpah. Pas si Angel di kepung tuh ya sama gue, Arga dan anak-anak lain di lapangan basket. Beuh harusnya gue foto waktu itu muka dia kaya gimana. Sayangnya gue lupa bawa hape cuy. Pokonya gini nih, mukanya itu tuh pucet kaya abis donor darah 10 ember. Badannya panas dingin. Dan kakinya gemeteran kaya nahan ngompol 2 hari anjir. Gila Fik gue pingin ngakak setengah mampus disana. Cuman gue tahan aja biar keliatan sok cantik gitu. Masa iya cewe cetar kaya gue ngakak kaya orang gila."


"Hem trus?"


"Trus yah, si Arga kan nge gas tuh sambil ngeliatin dia. Sumpah demi apapun itu mata apa padang? Tajemnya ampe nusuk sampe tulang. Gue aja merinding liat si Arga kaya gitu. Dia tuh kayanya emosi setengah mampus. Apalagi pas denger si Angel mau nabrak lo malam pas lo abis dari pesta. Tapi untungnya si Arga manggil Iqbal buat jagain lo. Jadi gagal deh rencana bulus bin bulus dia. Alhamdulillah kek Fik, NGOMONG NAPA! Capek tau gak gue ngebacot dari tadi. Mending kalo lo bayar ini mah enggak."


Fika terkekeh dibuatnya. "Iyah alhamdulillah."


"Fik, gue masih nahan muntah dari tadi. Tali ada hal yang pingin gue ucapin ke elo."


"Apa?"


Lussy menepuk pundak Fika dengan kedua tangannya. Ia tersenyum manis. "Lo beruntung dapetin cowo kaya Arga."


Fika terkejut. Ia merasa terharu dengan ucapan serius Lussy itu.


"Gue yakin, Arga pasti bisa jagain lo dengan baik. Gue rela sahabat gue yakin lugu ini buat cowo itu.. namun dalam syarat,"


"Apa?"


"Dia gak boleh nyakitin lo lagi. Kalau sampai dia nyakitin lo, lo tenang aja. Gue siap kok nyeret dia ke kandang sapi."


"Ngapain ke kandang sapi?"


"Ngawinin dialah sama sapi tetangga gue."


Tawa Fika dan Lussy bucah disana. Persahabatan yang sempat hilang itu kembali bersama dengan fakta yang mengejutkan kembali.


"Lo tetep sahabat gue Fik, tenang aja. Jangan galau gitu, gue janji akan jadi sahabat lo selamanya." Ujar Lussy kemudian memeluk Fika erat.


*****


"Ga! Abis dari mana lo?" Teriak Andre sesaat melihat cowo bersetelan baju basket itu memasukki ruangan ganti baju. "Ada telpon nih dari Alisia. Dari tadi gak berhenti bunyi kesel gue. Brisik!" Cibir Andre seraya menyerahkan ponsel milik Arga padanya.


Arga meraih ponselnya dan memang benar ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Alisia disana. Karena merasa khawatir Arga pun menelponnya balik.


"Alisia-"


"Arga! Aku udah di depan gerbang sekolah kamu. Kamu kesini yah.. aku tunggu, jangan lama!"


"Tunggu Alisia-"


Panggilan terputus. Arga menatap heran ke layar ponselnya. "Kenapa Alisia kemari?"


________


Maaf telat updatenya... aku agak pusing akhir-akhir ini jadi baru bisa up sekarang.


Kasih komentarnya yah


Jangan lupa LIKE nya oke?


Menurut kalian gimana Lussy?


See you in the next chept》》

__ADS_1


__ADS_2