Unforgettable

Unforgettable
Party


__ADS_3

Warning!


Dalam membaca bab ini, kalian harus lebih menguatkan hati. Karena bab ini akan membawa kalian ke perasaan yang campur aduk. Jadi tolong bersabar.. dan juga bab ini lebih panjang dari bab sebelumnya.


Langsung saja yah membaca...



Angin malam berhembus kencang, gemerlap lampu menyinari perjalanan mobil sport berwarna biru itu melewati jalan kota yang indah. Kedua insan yang sejak tadi hanya diam diselimuti keheningan hanya mampu berinteraksi dengan khayalan masing-masing.


Arga yang sedari tadi menyetir hanya terfokuskan ke arah jalan di depannya. Sedangkan cewe di sampingnya, hanya mampu tertunduk malu sambil berkelit dengan jari-jarinya sendiri.


Malam ini adalah malam yang penting bagi Arga sekaligus malam yang mengejutkan bagi keduanya. Arga telah lepas kendali saat ia tidak mampu lagi menahan dirinya untuk mencium Fika. Dia tau, Fika pasti masih shock dengan perlakuannya tadi. Namun, apa boleh buat? Semuanya telah terjadi. Jika boleh jujur, Arga sama sekali tidak menyesalinya.


Bahkan sejak pertama mobilnya ia jalankan, cowo itu sesekali mencuri-curi pandang pada Fika untuk melihat wajahnya yang cantik itu benar-benar telah menentramkan hatinya. Jiwa kutubnya telah meleleh layaknya es krim yang terkena hangatnya sinar sang surya.


Mobil Arga melaju dengan kecepatan standar, jalanan di malam hari ini cukuplah lenggang sehingga keduanya mampu melihat pemandangan kota yang indah.


Setelah satu jam lamanya diperjalanan yang cengkam bagi keduanya. Akhirnya mereka telah sampai ke tempat tujuan. Sebuah gerbang menjulang tinggi berwarna hitam dengan corak keemasan terbuka secara otomatis saat mobil sport Arga baru saja sampai disana. Arga menancap gas dan melaju kembali setelah kemudian gerbang itu tertutup kembali dengan sendirinya. Gerbang sebuah Mantion memang seperti itu gerbang yang menggunakan type sensor. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melewati gerbang itu.


Kebetulan plat nomor mobil Arga sudah memiliki identitas khusus tersendiri sehingga dapat memundahkan type sensor untuk mendeteksi siapa pemilil mobil itu.


Setelah melewati gerbang, jarak Mention tentu masih jauh. Karena itu Arga membutuhkan beberapa menit lagi hingga samapai ke Mention. Dari kejauhan sudah terlihat lampu-lampu gemerlap yang memenuhi taman menyala begitu terang sehingga orang bisa mengetahui ada sebuah pesta besar disana. Arga pun tidak ingin menunggu terlalu lama. Ia menambah kecepatan hingga mobil sport berwarna biru itu sampai tepat di depan Mention.


Fika yang merasa mobil Arga telah terhenti berinisiatif untuk segera turun dari mobil cowo itu, namun hal tak terduga terjadi saat Arga justru menahan lengannya hingga tatapan mereka saling bertemu.


"Tunggu sebentar." Titah lembut Arga, Fika masih diam, ia tidak tahu harus berkata apa. Saat justru Arga menunjukkan senyumannya lagi setelah kemudian segera kelur dari mobil.


Akhir-akhir ini rasanya jantung dan hati Fika benar-benar diuji habis-habisan. Belum lagi melihat senyuman cool, manis dan tampan dari Arga sudah berkali-kali membuat hatinya meleleh dan jantungnya meledak-ledak dalam waktu bersamaan. Kedua mata indah Fika yang berbinar itu belum juga ia lepaskan untuk memerhatikan Arga di luar sana. Cowo bersetelan tuksedo hitam itu berlari kecil memutari depan mobil dan berhenti di samping pintu keluar Fika.


Sungguh tak menyangka, Arga membukakan pintu untuk Fika dan mengulurkan satu tangannya padanya.


Ingin ku teriak! Batin Fika menjerit-jerit.


Tanpa harus menunggu lama lagi, secara spontan tangan halus putih mulus Fika pun meraih lengan kekar Arga dan Arga sigap meremasnya dengan lembut seraya Fika menurunkan kakinya dari dalam mobil dan berdiri sempurna berhadapan dengan Arga.


Lagi-lagi Arga kembali tersenyum hangat. Aaargh! Sungguh jangan lakukan itu, Fika benar-benar tidak sanggup lagi!


"Lo kenapa?" Tanya Arga dengan nada yang halus.


"Nggakpapa." Ujar Fika sambil tertunduk malu, ia tak mampu lagi menatap cowo itu apalagi dengan jarak mereka yang sangat dekat.


"Jangan takut. Gue bersama lo."


Mendengar tuturan Arga barusan, tidak memungkiri untuk Fika **** kembali senyuman malu-malunya. Entah setan apa yang merasukki Arga malam ini, perlakuannya sungguh lembut dan sangat manis didengar. Bahkan jika wanita lain yang mendengarnya pun pasti akan langsung jatuh cinta padanya.


"Ayo." Arga menekuk sikutnya di samping Fika. Ia memberi aba-aba untuk Fika berpegangan kepada lengan cowo itu. Hal itupun langsung Fika lakukan. Keduanya melempar senyum penuh arti dan kemudian melangkah memasukki Mantion.


Suara lantunan biola sudah terdengar jelas dari saat keduanya melewati pintu Mention yang megah dan mewah. Suara khas dari pesta orang kaya yang elegan dan juga terhormat memang sudah biasa Arga dengar. Sedangkan untuk Fika, hal itu adalah pertama kalinya ia alami.


Sesaat memasukki ruangan pesta, pemandangan interior mewah dari prancis begitu kuat dan lekat disana. Lampu-lampu kristal bersinar berjajar disetiap samping dengan jarak hampir berdekatan. Serta lukisan-lukisan kuno sejarah Prancis menghiasi setiap dinding atas atap yang berlapiskan warna emas. Kursi dan meja mewah telah tertata dengan begitu rapih. Serta orang-orang berbaju formal berbaur memenuhi ruangan itu.


Arga dan Fika menuruni tangga kecil dari dekat pintu masuk. Selain itu mereka disambut gelaran karpet merah sebelum mereka sampai ke tempat perjamuan.


Kesan pertama bagi Fika yang baru saja mengalami ini hanya mampu tercengang dengan penyambutan yang mewah ini. Selain itu dia juga merasa diperlakukan terhormat oleh semua orang.


Semua orang yang berada di sana pun merasa tertarik dengan kedua insan yang tengah berjalan seirama itu, mereka tersenyum hangat menatap keduanya seolah mereka tengah menyambut sepasang raja dan ratu yang bahagia.


Fika tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, dia tentu saja tidak menyukainya. Maka dari itu sejak tadi Fika sudah menyeratkan cengkramannya kepada lengan Arga. Arga pun mampu merasakan kegugupan Fika, ia mencoba tersenyum kepada semua orang yang mereka lewati untuk menghormati mereka. Sedangkan lengan kanannya meraih lengan Fika yang mendingin itu. Fika merasakan lengan Arga berada di tangannya. Terasa hangat dan tentram. Ia merasa terlindungi dalam kehangatan cowo itu. Kegugupan yang ia raskan tadi musnah begitu saja entah kemana.


"Tenang saja. Jangan gugup." Bisik Arga membuat Fika semakin merasa tenang.


"ARGA!"


Suara nyaring teriakkan seseorang membuat Arga beserta Fika menoleh bersamaan ke arah sumber suara.


Ternyata itu adalah suara Andre, cowo berambut kecokelatan itu melambai-lambaikan tangannya memberi intruksi untuk Arga menghampirinya. Disana ia juga tidak sendirian, melainkan seperti biasa formasi lengkap ada Nico dan juga Willy di sampingnya. Maklumlah ketiga cowo ini juga terlahir kaya, pesta seperti inu sudah sering mereka hadiri. Maka dari itu ke empat cowo tampan dan kaya itu bisa disebut type cowo idaman para cewe-cewe.


Arga pun menuntun Fika untuk berjalan menghampiri Andre dan yang lainnya disana.


"Weeeh si boss makin lama makin cakep aja nih? Tapi masih tetep gantengan gue lah. Lo masih di level rata-rata boss." Mendengar kenarsisan Andre barusan membuat Arga dan Fika terkekeh. Sedangkan Nico dan Willy mereka berdua sedang berusaha menahan diri untuk muntah.


"Eh, boss." Andre menarik lengan Arga tiba-tiba, membuat cowo itu menyernyit dibuatnya.


"Ngapain lo narik-narik gue?" Tanya Arga sinis.


"Kalem boss, gak bakalan gue cium juga lo."


"Gue sleding lo kalo ngelakuin itu."


"Hehe.. iyeh janji gue." Seringai Andre sambil mengacungkan telapak tangannya di depan Arga tanda bersumpah. "Galak bener si boss. Serem tau."


"Ada apa?" Tanya Arga masih ketus.


"Hehe.. nggak boss cuman mau nanya."


"Nanya apaan?"


"Itu boss, lo bawa bidadari darimana?"


Arga menoleh ke arah tatapan Andre, ternyata yang Andre maksud adalah Fika. Arga yang merasa tidak rela Andre menatapnya pun langsung menoyor kepala Andre hingga cowo itu meringis. "Aish!"


"Mata lo udah mau keluar tuh." Ucap asal Arga.


"Tega amat si lo boss. Cuman liatin doang pelit amat. Eh tapi seriusan boss dia siapa? Kok rasanya gue baru liat dia? Lo nyewa model yah?"


"Model pala lo! Masa lo gak kenal sama dia?"


Andre menyernyit ia kembali menatap Fika dari kejauhan, memerhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Berusaha mengingat siapa wanita beruntung yang dibawa Arga malam ini.


"Boss, gue gak bego. Gak usah halu lo boss entar kualat baru tau rasa lo."


"Lo yang halu bego!"


"Halu apanya si boss? Sumpah gue belom pernah ketemu cewe secantik itu, wah gila kalo dia ketemu sama gue duluan udah gue bungkus dah seriusan."


"Bungkus lo kira dia nasi uduk main bungkus aja? Mata lo yang udah katarak, jari gak bisa ngenalin dia."


"Boss, please yah. Mata gue sehat wal afiat mendingan lo jangan halu deh boss. Gue gak gampang ditipu."


"Serah lo. Gue mau kesana lagi." Arga hendak untuk melangkah meninggalkan Andre, namun justru Andre kembali menariknya.


"Tunggu dulu boss, etdah main cabut aja lo. Gue blom selesai ngomong."


"Apa lagi?" Geram Arga. Cowo itu memandang Fika kembali karena cewe itu terlihat tidak nyaman, karena sepertinya Nico dan Willy pun tidak menyadari kali itu adalah Fika.


"Gue boleh kenalan gak boss sama dia?" Seringai Andre membuat Arga memutar matanya malas lalu menghempaskan lengan cowo itu.


"Serah lo."


"Hehe.. gitu dong boss! Thanks yak." Andre berjalan mendahului Arga setelah menepuk pundak cowo itu. Andre terlihat begitu bersemangat dan ia langsung berdiri tepat di depan Fika. Bisa dilihat Fika pun sedikit terkejut dengan kedatangan Andre yang secara tiba-tiba itu.


"Hai." Permulaan yang bagus. Andre menunjukkan senyuman tergantengnya sambil melambaikan tangannya. Sedangkan Fika yang melihatnya justru menyernyit bingung dengan tingkah Andre padanya. Kesambet apaan ni anak?


"Ha.. hai." Jawab bingung Fika.


"Lo baru yah disini? Kita kenalan dulu boleh yah?"


"Hah? Em.." Fika berusaha mencari sosok Arga yang kini terlihat berjalan mendekatinya. Arga sudah bisa menebak ekpresi Fika itu. Ia terlihat sangat kebingungan, hingga Arga pun menahan tawanya.


"Gue Andre. Cowo paling tampan di SMA Wijaya, nama lo siapa?" Ucap Andre seraya mengulurkan tangannya.


Fika speechless, Andre sungguh tidak mengenali dirinya? Astaga sungguh hal yang aneh. Tapi itu terlihat sangat lucu bagi Fika. Apakah perubahannya terlalu drastis? Sehingga membuat sahabat-sahabat Arga tidak mengenalinya?


Alih-alih membalas uluran tangan Andre. Fika justru tertawa kecil membuat ketiga cowo di sampingnya menyernyit aneh.


"Andre, kitakan udah saling kenal. Memangnya kamu gak kenal aku?"


Perkataan Fika barusan membuat Andre menoleh pada Arga. Sedangkan cowo itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Nico dan Willy pun terlihat penasaran, mereka berdua saling bertatapan lalu kembali memerhatikan Fika yang masih juga tertawa.


"Lah emang lo siapa?" Tanya Andre akhirnya.


Fika menghentikan tawanya dan menggantinya dengan senyumana termanis yang pernah keempat cowo itu lihat. Ia membalas uluran tangan Andre dan berkata.


"Kenalin, aku Fika Pricilla."


"WHAT!!!" Teriak ketiganya bersamaan.


Andre menolot tidak percaya sedangkan Nico dan Willy tak juga mengalihkan pandangan dari Fika. Dan Arga sendiri dia hanya tersenyum miring melihat ekpresi ketiga sahabatnya yang shock mendadak.


"Jangan becanda lo!" Teriak Andre masih tidak bisa menerima kenyataan.


"Siapa yang becanda si?" Ucap Fika kemudian kembali tertawa.


Andre yang menganga itu melihat oenampilan Fika dan ujung kepala hingga kakinya kemudian menatap horor Arga disana. "Boss.. lo rombak si Fika dimana?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Andre, Arga justru meraih lengan Fika dan menariknya ke sampingnya. "Rahasia." Ucap Arga.


"Fik, kita beneran pangling banget sama lo sumpah!" Ujar Nico ikut mengomentari.


"Sama gue juga. Gue kira lo model yang di sewa Arga." Kata Willy.

__ADS_1


"Tuhkan bukan cuman gue aja yang curiga sama lo boss. Tapi mereka juga mikirnya kaya gitu." Ujar Andrr sarkastik.


Arga tersenyum miring. "Tapi sekarang kalian udah tau, jadi gak usah heboh gitu. Lebay lo pada."


"Fik, mau gue bawain minum gak buat lo?" Tawar Andre tiba-tiba membuat Arga menyipitkan matanya waspada.


"Hem.. eng.."


"Biar gue aja." Selah Arga.


"Apasi Ga, orang gue yang nawarin dia duluan. Kenapa lo yang nyosor." Gurutu Andre tak terima.


"Elo yang main nyosor!" Ketus Arga membuat Andre tercengir.


"Udah,udah gak usah debat. Fik mending sama gue aja. Kita ngambil kue disana yuk." Willy yang juga ikut nyosor itu malah tanpa basa-basi untuk menatik lengan Fika, tapi tenang.. Arga tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Arga justru meraih pinggang ramping Fika dan melekatkannya ke tubuhnya.


"Kita pergi dari sini aja." Ucap dingin Arga. Hal itu membuat Fika merinding,  namun ia tetap menyetujuinya.


Akhirnya Arga dan Fika berjalan menuju tempat berbagai jenis minuman berada.


"Lo mau minum apa?" Tanya Arga sambil menunjukkan banyaknya minuman disana.


"Terserah Arga aja."


Arga meraih jus melon untuk Fika, karena hanya jus minuman paling aman disana. Selebihnya telah dicampuri alkohol.


"Arga?" Suara bass seseorang memanggil Arga dari arah belakang membuat cowo itu menoleh.


"Eh om Hendra." Arga menyapa pria paruh baya itu dengan hormat dan sopan. Mereka saling berjabat tangan dan melemparkan senyum akrab.


"Sudah lama om gak liat kamu, bagaimana kabar kamu sekarang?"


"Seperti yang om lihat, Arga baik-baik saja. Om sendiri bagaimana?"


"Lebih dari kata baik."


Kedua laki-laki yang berbeda usia ini saling melempar tawanya. Mereka terlihat begitu akrab seperti seorang ayah dan anak. Fika yang menyaksikan mereka hanya mampu tersenyum terutama melihat Arga tertawa bahagia seperti itu membuat hatinya terasa tenang.


"Yah, mau bagaimana lagi. Semenjak om ke Amerika om memang jarang mampir lagi ke rumah kamu. Selain itu om juga selalu sibuk dengan kerjaan."


"Gakpapa om, Arga mengerti kesibukan om. Bertemu dengan om disini saja Arga sudah senang. Mungkin kita bisa bertemu lagi di lain waktu.


"Betul, betul sekali. Arga, kamu anak yang sangat berbakat. Kamu pasti akan menjadi laki-laki yang hebat suatu saat nanti. Seperti kakekmu."


Arga tersenyum. "Terima kasih om, tapi targetku adalah melebihi kakek."


Hendra tertawa. "Om percaya. Kamu pasti bisa melampaui kakekmu."


"Terima kasih om."


"Ngomong-ngomong, apa kamu tidak bertemu dengan ayahmu?"


Arga terdiam. "Dia disini?"


Hendra mengangguk setelah kemudian menepuk pundak Arga. "Temuilah dia nak, dia sempat kehilangan kendali tanpa kalian. Bagaimana pun dia tetap ayahmu."


Arga masih diam.


"Nak, temuilah dia untuk sekali ini saja."


Bagi Arga bukanlah hal yang mudah dirinya untuk menemui ayahnya, karena memang hubungan mereka telah renggang sejak lama sekali, semua orang yang dekat dengan Arga tentu saja mengetahuinya. Namun untuk kali ini, setelah ia berfikir untuk kesekian kalinya. Arga akan mencoba memeberikan kesempatan untuk ayahnya itu. Hingga akhirnya Arga menyetujui untuk menemui ayahnya.


"Baiklah om, hanya untuk kali ini saja." Ucap Arga serius. Hendra tersenyum dan menepuk bangga pundak Arga.


"Kamu memang anak yang dewasa Arga. Om selalu bangga sama kamu."


"Sekali lagi terima kasih om."


"Baiklah, om akan memberi tau ayahmu. Setelahnya om akan hubungi kamu."


Arga mengangguk, sesaat kemudian Hendra melenggang pergi.


"Arga.." suara lembut dari wanita yang sejak tadi berdiri di belakngnya itu membuat Arga kembali dari pikirannya yang rumit. Cowo itu berbalik dan menatap Fika penuh arti.


"Arga gakpapa kan?" Tanya Fika terlihat khawatir.


"Gue gakpapa. Lo tenang aja." Ujar Arga kemudian menarik lengan Fika. "Mau dansa?"


"Hah?" Fika terbelalak. Arga seriusan mengajaknya berdasa?


"Tapi Arga.. Fika gakbisa."


Astaga! Hampir saja Fika ingin menjerit sekencang-kencangnya. Namun ia tahan sekuat tenaga. Tangan Arga yang terasa hangat itu membuat Fika merinding seketika. Ia tak mampu lagi menatap tatapan elang Arga. Atau dia akan benar-benar mati rasa.


Arga mengajak Fika ke lantai dasar dansa, mereka berbaur dengan orang-orang disana. Arga menarik perlahan Fika dan Fika mengikuti irama dari gerakan tubuh Arga. Arga menarik pinggang Fika membimbingnya dan merangkulnya. Keduamya saling melempar senyum penuh arti.


"Kenapa?" Tanya Fika merasa penasaran dengan tatapan Arga yang tidak pernah melepaskan pandangannya.


"Lo cantik."


DEG!


Panas! Panas! Sungguh Fika tidak bisa menahan lagi senyumannya. Sudah kesekian kalinya Arga membuatnya merona seperti buah strowberry, kata-kata yang keluar dari mulut Arga walaupun sederhana namun dapat membuatnya melayang bersapa para kupu-kupu yang sekarang menggelitik di perutnya.


Arga menahan senyumnya karena ia juga bisa merasakan bahwa Fika telah baper dengan perkataannya barusan. Dan tiba-tiba saja sebuah ide liar terlintas di fikirannya. Arga tersenyum jahil sesaat kemudian tangannya meraih dagu mungil Fika, membuatnya mendongkak menatap wajahnya. Sungguh Arga sangat tidak tahan melihat wajah lugu dan polos Fika saat ini. Ia terlihat bingung, kaget, takut, malu semuanya bercampur aduk.


Hingga Arga semakin melancarkan keinginannya itu. Arga mendekatkan wajahnya dengan wajah Fika. Hidung keduanya sudah saling bersentuhan. Hingga bibir mungil Fika sudah hampir menyentuh bibir Arga. Sesaat itupun..


Cup!


Fika melotot. Ia reflex meremas tusedo Arga  sedangkan Arga semakin mengeratkan cengkramannya di pinggang Fika. Fika tak mampu bergerak dikarenakan Arga mengunci pergerakkan. Dan di saat itu pula Arga dengan seenak jidatnya mencium bibir Fika kedua kalinya.


Dert dert..


Suara getaran ponsel Arga telah membuyarkan kemesraan keduanya. Namun sebelum Arga meraih ponselnya, ia membelai lembut pipi Fika. "Sebentar."


Fika yang masih terlihat shock bertubi-tubi itu bisa mengangguk pasrah. Arga benar-benar memegang kendali atas dirinya. Bahkan lebib sering membuatnya serangan jantung.


"Fik, gue tinggal sebentar gakpapa kan?" Tanya Arga.


"I-iyah gakpapa."


"Gue cuman sebentar, lo jangan kemana-mana. Atau lo gabung sama Nico dan yang lainnya disana."


"Hem.. iyah."


Arga memberikan senyumannya, dan detik berikutnya ia melanggang pergi. Fika masih berdiri di dekat meja sebelumnya bernuat akan kembali menuju tempat Bico dan lainnya berada namun sesaat ia baru saja akan pergi. Tangan seseorang menahannya lebih dahulu.


"Fika?"


Merasa familiar dengan suara itu, Fika pun berbalik dan langsung beraksi senang melihat seseorang yang jarang ia temui itu.


"Kak Gino!"


Fika langsung reflex memeluk cowo bersetelan tuksedo silver itu, tawa keduanya pecah. Kerinduan Fika terhadap Gino memang tidak mampu dijelaskan lagi.  Baginya Gino adalah kakaknya dan Gino pun sudah menganggap Fika sebagai adik kandungnya sendiri. Walaupun ia jarang dekat dengan Fika namun Gino selalu memberikan perhatian bagi Fika selagi ia mampu.


"Apakau merindukanku?" Tanya Gino sambil memeluk erat Fika.


"Sangat kak."


"Me too."


Di tempat lain.


Arga berdiri diluar mantion tepatnya di samping mantion. Cowo itu masih diam sambil menikmati pemandangan luar mantion yang indah. Bersama hembusan angin malam menerpa wajahnya yang tampan.


"Kau sudah disini?"


Suara bass ciri khas dari seorang pria yang tak asing lagi bagi Arga menghampirinya dan berdiri di samping Arga.


"Ada apa?" Tanya Arga to the point.


Sedangkan pria disampingnya menyenderkan tubuhnya menghadap berlawanan arah dengan Arga.


"Kau tau apa yang ingin ku bicarakan."


Arga menggertakkan rahangnya dan kemudian mendesah.


"Bukan hal yang penting. Aku perhi dulu."


Arga hendak akan beranjak dan berjalan.


"Jangan kurang ajar kamu Arga. Bagaimana pun aku adalah ayah kandungmu!" Tegas pria itu sambil melempar kuntung rokoknya ke sembarang arah.


Entah sejak kapan, Arga telah mengepalkan lengannya kuat. Dan kemudian terkekeh garing.


"Laki-laki yang telah menelantarkan anak dan istrinya selama bertahun-tahun, apa kau masih tidak malu menyebut dirimu sebagai Ayah?"


Suasana menjadi lebih mencekam. Arga masih berdiri tegar membelakangi laki-laki yang kini menggertakkan rahangnya.


"Jaga ucapanmu Arga."

__ADS_1


Arga kembali terkekeh.  Dan kemudian berbalik menatap kuat laki-laki paruh baya di depannya.


"Memang benar kan? Kenapa kau marah dengan sesuatu yang memang benar kenyataanya?"


Pria bersetelan tuksedo hitam itu pun melangkah mendekati Arga.


"Jangan memancing amarahku Arga. Kau hanyalah anak ingusan yang tidak tau apa-apa jadi jangan berani menghakimi ayahmu!"


"Ayah?" Arga tiba-tiba saja tertawa, namun tawanya terdengar hambar lebih tepatnya tertawa meledek. "Kau bukanlah seorang ayah. Melainkan seorang penghianat!"


"ARGA!" Laki-laki itu berteriak. Suaranya terdengar bergetar penuh amarah.


"Jika aku tau ayahku adalah seorang bajingan. Lebih baik aku tidak pernah terlahir di dunia ini daripada harus menanggung malu dengan kelakuan bejat laki-laki sepertimu!"


PLAK!


"JAGA UCAPANMU ARGA! KAU BISA TUMBUH DAN LAHIR DALAM KELUARGA TERHORMAT KARENA AKU! MAKA BERSIKAP SOPANLAH!"


Arga menajamkan tatapannya. Lebih tajam dari biasanya. Seakan cowo itu menatap seorang musuh yang ingin ia musnahkan.


"APA KATAMU? KARENA MU? .. AHAHHAHA... BAGIKU KAU TELAH MENINGGAL SEJAK KAU MENINGGALKAN KAMI. BAHKAN MENGINGATMU SAJA ADALAH HAL TERHARAM YANG PANTRANG KU LAKUKAN. ASAL KAU TAU, KEHORMATAN DAN KEKAYAAN INI BUKANLAH DARIMU MELAINKAN DARI ALMARHUM KAKEK. SEDANGKAN KAU? APA YANG LAKI-LAKI SEPERTI MU BISA BERIKAN UNTUK KAMI? KAU HANYA MEMBERIKAN LUKA DAN KUTUKAN BAGI KELUARGA KAMI"


PLAK!


"ANAK KURANGA AJAR!"


Itu adalah tamparan ketiga kalinya yang Arga terima dari pria yang menyebut dirinya sebagai ayah Arga. Yang Arga sendiri tidak ingin menyebutkan namanya. Untuk kali ini Arga membiarkan laki-laki itu menempar wajahnya, namun untuk lain kali. Dia tidak akan memberikan kesempatan lagi untuknya bahkan untuk menyentuhnya saja. Dia tidak akan membiarkannya.


Pria paruh baya itu menatap tajam Arga. Tatapan keduanya sama-sama kuat. Namun Arga sendiri sudah merasa mual kali ini, ia muak melihat wajah pria di depannya.


"Jika tidak ada lagi hal penting, saya pamit." Ucap Arga dingin lalu berbalik dan berjalan masuk.


"Kau mau kemana Arga!?"


"Arga! Kembali atau kau akan tau akibatnya! Arga!"


"Dasar anak kurang ajar!"


Teriakkan pria itu masih sangat terdengar jelas di gendang telinga Arga. Namun ia tidak ingin menghiraukannya sama sekali. Baginya semua ucapan pria brengsek itu hanyalah penuh kebohongan. Yang tak lain hanyalah membuat luka lama semakin dalam.


"Arga?"


Fika berlari menghampiri Arga sesaat ia sudah melihat keberadaan cowo itu. Namun Fika kini terlihat khawatir karena ekpresi Arga yang sungguh berbeda dati sebelumnya. Bahkan Fika semakin shock saat mendapati bekas merah di kedua pipi Arga. Apakah itu bekas tamparan? Tapi siapa orang yang berani menampar Arga? Apa yang terjadi sebenarnya? Fikiran Fika berkelut tidak karuan.


Ia meraih wajah Arga, menelengkupnya dengn kedua tangan lembutnya.


"Arga pipi kamu? Kamu kanapa? Kamu habis di tampar?" Fika benar-benar khawatir saat ini terlebih Arga sama sekali tidak memberi respon untuknya cowo itu hanya menatapnya datar.


"Arga please ngomong! Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang ngelakuin ini sama kamu?"


Arga masih terdiam, namun cowo itu meraih tangan Fika yang berada di wajahnya. Membuat Fika semakin keheranan.


Tiba-tiba saja Arga menurunkan tangan Fika dari pipinya. "Arga.."


Fika tersontak. Saat Arga membuka kedua telapak tangannya lalu menciumnya dengan begitu lembut, sangkin lembutnya Fika bisa merasakan sebuah sengatan aneh ke tubuhnya. Arga mencium telapak tangannya begitu hati-hati seolah Arga tidak ingin melukai sedikitpun kulit Fika yang putih dan halus itu.


"Maaf." Ucap Arga lembut.


Fika tidak mengerti mengapa Arga meminta maaf kepadanya. Ia semakin kebingungan.


"Ma-maaf? Maaf untuk apa?" Tanya Fika.


Arga tidak menjawab. Cowo itu justru menarik tangan Fika dan membawanya keluar mantion.


"Arga tunggu! Kita mau kemana?"


Arga masih juga tidak menjawab. Cowo itu semakin mencengkram kuat pergelangan tangan Fika. Bahkan kali ini Fika mampu merasakan sakit ditangannya.


"Arga.. kita mau kemana?" Tanya Fika lagi.


Dan hal itu membuat Arga menghentikan langkahnya. Cowo itu berbalik, dan betapa terkejutnya Fika. Ekpresi dan pandangan Arga berubah drastis. Arga yang tadinya lembut dan manis kini telah kembali ke sosok Arga yang dingin dan juga kejam.


Arga memeberikan tatapan tajam pada Fika. Membuat Fika kembali takut saat melihatnya.


"Kita pulang." Ucap Arga ketus dan dingin.


"Tapi pestanya? Arga.."


Fika lagi-lagi ditarik oleh Arga. Cowo itu berjalan menuju mobilnya dan membukakan pintu mobil dengan kasar.


"Masuk." Ucap Arga. Fika terdiam ia menatap Arga penuh ketakutan.


"MASUK FIKA!" Sentak Arga.


Fika merasa terkejut bukan main, cewe itu kembali bergetar takut. Rasa itu adalah rasa yang sering ia rasakan disaat ia menghadapi Arga yang kejam. Dan saat ini kembali ia rasakan. Arga yang dingin dan kejam itu telah kembali. Sungguh Fika rasanya ingin menangis. Kemana Arga yang lembut dan manis tadi? Apakah kebahagiaan itu hanya bertahan sampai sini saja?


Fika tak mau lagi di marahi Arga. Ia pun langsung mengikuti intruksi Arga dan masuk ke dalam mobil. Setelah keduanya masuk, Arga langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan medium.


Fika tak mampu berkata apapun, keduanya saling terdiam. Larut dalam emosi dan fikirannya masing-masing. Jujur jika melihat keadaan Fika saat ini, dia benar-benar ketakutan. Bagaimana tidak? Dia yang sudah nyaman dengan sikap Arga yang begitu menghargainya lalu tiba-tiba kembali terjatuh dengan kembalinya sikap Arga yang sangat membuatnya tidak nyaman.


Suara dering ponsel milik Arga tiba-tiba saja berbunyi. Dan cowo itu langsung mengangkatnya.


"Ada apa Alisia?"


Fika menoleh menatap Arga.


Siapa Aliasia? Batin Fika.


"Apa!? Oke tunggu sebentar, gue akan langsung kesana. Jangan menangis, gue gak akan lama."


Ekpresi Arga terlihat begitu khawatir. Bahkan Fika pun bisa merasakannya. Karena rasa penasaran Fika pun akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Ada masalah apa Arga?"


Diam tidak juga menjawabnya. Cowo itu entah mengapa semakin mempercepat laju mobilnya. Dan ia kembali meraih ponselnya.


"Hallo Bal. Lo dimana?"


Fika semakin kebingungan, dan mengapa Arga menghubungi Iqbal?


"Gue ada di jalan xxxx, lo kesini jemput Fika. Gue ada keperluan penting."


Fika terbelalak. Tunggu, Arga akan menurunkannya disini? Dan meninggalkannya sendirian? Tapi kenapa? Mengapa dia sangat tega? Apakah seseorang bernama Alisia itu lebih penting baginya? Sebenarnya siapa orang itu?


"Oke." Setelah Iqbal menyetujuinya Arga pun menutup telponnya.


Dan benar saja, Arga menghentikan laju mobilnya dan berhenti di sebuah halte kecil yang gelap dan sepi.


"Turun." Titah Arga. Fika yang sudah pasrah dengan segala keadaan tak ingin lagi mengatakan apapun kepada cowo itu. Tanpa menunggu lama Fika membuat selbeltnya dan keluar dengan cepat.


Arga tak lagi mengatakan apapun padanya. Setelah Fika berdiri di halte. Argapun kembali menyalakan mesin mobilnya dan mulai berjalan pergi disaat yang bersamaan airmata Fika pun menetes melihat kepergian cowo itu.


Sebegutu tidak berartikah aku dimatamu Arga?


Beberapa menit Fika mengeluarkan emosi dan kesedihannya. Suara deruman motor menghampirinya.


"Maaf menunggu lama yah?"


Fika tersenyum terpaksa. "Gakpapa."


Iqbal si tyoe cowo peka tentu mampu merasakan bagimana perasaan Fika saat ini, ia pun meraih tangan Fika yang dingin dan berusaha menenangkan kembali hatinya.


"Mau langsung pulang?" Tanya Iqbal dengan hati-hati.


Fika terdiam sejenak. Tentu fikirannya msih tertuju dengan cowo yang telah meninggalkannya itu. Ia belum bisa melupakan kejadian tadi. Kejadian yang sama sekali tidak ia mengerti sedikitpun.


"Bal, apa kamu tau Arga pergi kemana?"


Iqbal menatap Fika tidak percaya. Namun detik berikutnya cowo itu kembali berekspresi lembut. Iqbal tau Fika pasti penasaran apa yang dilakukan Arga diluar sana. Meskipun ia sendiri ragu, namun ada saatnya Fika tau. Bagaimana pun nanti Fika harus menerima kenyataan yang ada meskipun itu menyakitkan.


"Gue tau."


"Kalo begitu, antar Fika kesana!"



Huaaa..😭😭


Aku nulisnya baper yah😂


Menurut kalian sendiri gimana di bab ini?


Kasih kometarnya yah dan jangan lupa likenya. Bab selanjutnya akan lebih seru lagi.


Oyah untuk up date karena harinya jadi gak nentu jadi aku up nya acak tapi aku usahain tetap update 3 kali satu minggu.


Cukup yah..


Penulis abal mencoba untuk berkarya


See you in the next chept》》》

__ADS_1


__ADS_2