Unforgettable

Unforgettable
Malaikat Dingin 1


__ADS_3

Sore hari yang indah diwaktu seluruh bunga bermekaran bersama angin berhembus sepoy menerbangkan dedaunan dan rumput tinggi cokelat membentang hamparan bukit. Ayunan kosong mengayun pelan karena hembusan angin, hamparan danau biru dan tenang menandakan suasana semakin tenang dan indah.



Gadis kecil cantik dengan rambut panjang terurai belari riang menaikki bukit hamparan rumput tinggi di bawah langit biru membentang indah dan cerah. Tawanya tak juga ia hentikan seakan kebahagiaan tidak pernah lepas dari dirinya. Kedua lengannya ia bentangkan layaknya seekor burung terbang bebas di langit angkasa yang luas. Ia tertawa kembali sambil memejamkan matanya riang dengan kaki mungilnya ia terus berlari seolah tidak ada yang mampu menghentikannya untuk  meanikki bukit tinggi di sana.



"Terbang.. terbang.. terbang bebas.." Suara khas anak kecil ini menggema menghiasi gemerciknya air dan juga suara hamparan rumput yang bergoyang. Seakan seluruh dunia adalah miliknya, gadis itu berputar-putar saat ia berhasil mencapai puncak bukit dimana tempat ayunan bertalikan tambang dan beralas kayu itu berada.



Namun kedua kakinya tiba-tiba terhenti saat kedua bola mata cokelat indahnya menangkap sosok kecil yang sama seperti dirinya tengah duduk menangis dibalik pohon besar disana. Gadis kecil itu mencoba melangkah dengan tekad berani menghampirinya.



"Kamu siapa?" Tanya gadis kecil itu lembut hingga membuat anak itu mengangkat kepalanya.



Hal yang pertama yang ia takjubkan adalah mata anak itu, bergitu tulus, indah dan juga ketakutan. Anak itu masih tidak menjawab, ia malah menatap gadis kecil ini dengan tatapan yang tidak mampu ia artikan. "Hai.. aku Fika. Nama kamu siapa?"



Wajah mungil itu terlihat menderita. "Namaku?"



Ada rasa malu yang terpancar dari raut wajahnya saat gadis bernama Fika menundukkan kepalanya berjongkok untuk melihat jelas wajahnya.



"Iyah nama kamu, oyah kamu tinggal dimana? Kenapa kamu sendirian disini?"



Anak kecil bermata hitam pekat itu menatapnya penuh binar. "Aku, aku tidak tau. Aku.. aku tersesat."



"Tersesat? Lalu dimana orang tua mu? Maksudku dimana kamu tinggal?"



Anak itu menggelengkan kepalanya. "Aku lupa." Kedua tangan mungilnya memeluk erat kedua lutut sendiri. Ketakutan telah melandanya saat ini. Namun sentakan ditumbuhnya membuatnya kembali mengangkat kepala kecilnya menatap gadis manis yang kini tersenyum untuknya. Tangan mereka saling bertautan saling menenagkan satu sama lainnya.



"Jangan takut. Aku Fika Pricilla akan melindungimu! Aku berjanji!" Teriak gadis kecil itu bersaksi dengan mengangkat jari kelingking mungilnya sebagai simbol perjanjian. Tawanya kembali terurai, namun tidak untuk anak laki-laki yang kini juga menggenggam erat tangan gadis kecil itu. Sedikit demi sedikit rasa takut dihatinya menghilang seketika saat melihat senyuman manis dari gadis itu.



"Jangan tinggalkan aku." Ucap parau anak laki-laki itu. Ia menggenggam tangan kecil gadis di depannya semakin erat. Seolah takut kehilangannya. Dan gadis itu kembali mengurai senyumnya. "Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu."



Keduanya saling menautkan jari kelingking. Angin sepoy berhembus lembut menerpa keduanya. Seolah alam pun menjadi saksi berjanjian diantara mereka.



"Oyah aku belum tau namamu. Siapa namamu?"



Anak kecil itu tersenyum. "Orang-orang memanggilku Alan."



"Oke, Alan. Hem.. apa kamu mau main ayunan?"



"Boleh."



"Aku duluan yah. Nanti gantian."



"Hem."



Keduanya saling tertawa bersama hingga saling bergantian.



"Ayun lebih kencang! Lebih kencang lagi!"



"Alan, ini bahaya jangan terlalu kencang yah."



"Tidak! Dorong lebih kencang lagi!"



Meskipun ada rasa khawatir di hatinya namun gadis kecil ini tetap menurutinya hingga.. "ALAN!"



Ayunannya putus dan melempar tubuh mungil Alan hingga ke pinggir danau. Gadis itu berlari ketakutan. "Alan kamu nggakpapa kan?" Ia menarik lengan dingin mungil Alan. Anak itu diam saja semakin membuatnya takut. Kedua kelopak matanya tertutup rapat.



"Alan bangun, kumohon jangan tinggalkan aku.. Alan bangun, bangun Alan.."



"Kamu tadi berjanji akan bersamaku, kumohon bangunlah. Alan.."



Airmatanya mulai bercucuran saat ia mengangkat lemah kepala mungil Alan ke pangkuannya. "Alan bangun.."



"MAAFIN AKU ALAN!"



"ALAN!"



"ALAN BANGUN!"



"ALAN BANGUN!"



"BANGUN ALAN! KUMOHON BANGUN!"



"JANGAN TINGGALIN AKU ALAN.."



"ALAN!"



"ALAN!"



BYUUURR!



Uhuk! Uhuk!



"Lo yang harusnya bangun!"



Suara bass yang memasukki gendang telinganya membuatnya menoleh bebarengan dengan kedua matanya yang membulat lebar. "Arga?"



Cowo dengan baju bersetelan seragam sekolah itu duduk menumpang kakinya seperti seorang raja. Dengan kedua tangan mendekap dada dan satu ember besar di sampingnya. "Udah sadar lo? Liat udah jam berapa ini?"



Fika yang masih kebingungan di atas ranjang akhirnya menoleh melihat jam di atas nakas yang telah menunjukkan hampir pukul tujuh. "Astagfirullah! Fika telat bangun!" Fika meremas rambutnya sendiri.



Sedangkan disana terdengar suara decakkan seseorang, siapa lagi jika bukan dari cowo dingin itu. "Ngapain lo masih disitu? Cepet mandi!"



Teriakkan keras Arga membuat Fika terperanjat berdiri spontan di atas ranjangnya sendiri. Hal itu membuat Arga mendongkak menatapnya sambil menyernyit.



"Fika mandi dulu." Fika meloncat cepat dari ranjang dan tanpa basa-basi lagi langsung memasukki toilet setelah mengambil handuknya di samping lemari.



Dan Arga? Cowo itu terdiam penuh arti. Tatapannya kosong mengarah ke atas ranjang putih milik Fika. Seketika ingatannya kembali akan Fika yang terbangun bukan hanya karena ia menyiramnya dengan satu ember air dingin. Namun karena cewe itu memanggil satu nama dari bibirnya.



"Alan?" Arga bergumam. Kemudian kembali terdiam hingga detik berikutnya ia memutuskan untuk berdiri dan berjalan keluar kamar.



5 menit kemudian.



"Gue laper, bikin sarapan buat gue." Ujar Arga saat mengetahui Fika telah menuruni tangga.



"Iyah. Bentar yah Fika masakin dulu."



Fika melangkah menuju dapur, dan membuka pintu kulkas yang menyimpan berbagai bahan makanan.



"Loh, rasanya kemarin kulkasnya masih penuh. Kenapa sekarang kosong gini?" Fika keheranan, padahal dia sendiri masih ingat jelas kalau kembarin kulkas masih penuh. Namun kenyatannya sekarang kosong molompong, hanya tersisa telur satu butir disana. Fika meraihnya dan berbalik menatap Arga yang juga menatapnya jauh dari tempat meja makan sana.



"Telurnya cuman ada satu. Kita bagi dua yah?" Senyum Fika kembali memudar saat Arga yang seharusnya menjawabnya tetapi cowo itu justru terdiam menatapnya horor.



"Telurnya cuman ada satu?" Tanya Arga tiba-tiba dan Fika langsung menganggukkinya. "Itu artinya hanya ada buat gue."



"Trus Fika gimana?"



"Itu urusan lo."



Fika menghela nafas sabar, seharusnya dia sudah tahu bahwa Arga tidak mungkin akan berbagi sesuatu dengannya. Cowo itu memang kejam.



Beberapa menit sarapan yang dibuat Fika telah selesai. Ia menyiapkannya dengan sangat rapih dan hati-hati. Setelah itu membawanya ke meja makan. "Nih, udah selesai."



Fika meletakkannya diatas meja yang terdapat Arga di sana. Namun bukannya memakannya, Arga tiba-tiba berdiri hingga berhadapan dengan wajah Fika.



"Lama. Nafsu makan gue udah hilang." Arga menggeser tubuh Fika kasar dan melangkah untuk mengambil tas punggungnya kemudian berjalan keluar rumah.



"Loh Arga! Arga tunggu!" Fika mengejar Arga hingga keluar. "Arga kamu beneran gak mau sarapan dulu? Fika udah cape-cape masak!"



Arga menghentikkan langkahnya dan hal itu juga dilakukan sama oleh Fika. Cowo itu berbalik dengam tatapan tajam mengkilat.



"Suruh siapa lo lama? Gue males sama orang yang bertele-tele."



"Tapi sarapannya-"



"Lo makan aja sendiri."



"Tapi Fika buatin buat Arga," Suara Fika terdengar parau. Ia berkelit dengan jarinya sendiri dan menunduk tidak berani menatap Arga.



"Mau gue makan atau nggak, itu bukan urusan lo. Gue berangkat duluan." Baru saja Arga akan melangkah namun Fika berhasil menahannya.



"Fika ikut yah. Ini udah siang banget Fika takut telat."



Arga terdiam sejenak. Namun entah ada angin apa, Arga menyetujuinya dengan mengangguk sekali. Hal itu pun menuai senyum manis Fika. "Tunggu sebentar yah,  Fika ambil tas dulu."



Fika langsung berlari cepat kembali kedalam namun saat ia berpasan dengan meja makan ia kembali teringat dengan sarapan yang ia buat tadi. Ia pun mengambilnya dan memasukkannya cepat ke tepak makanan. "Mungkin Arga gak mau makan sekarang, tapi dia bisa makan di sekolah."



Setelah semua selesai Fika berlari kembali keluar rumah. Arga sudah menunggunya lama. "Arga maaf Fika-"



Langkah Fika tertahan saat justru tidak melihat mobil Arga lagi di sana. Tunggu! Arga meninggalkannya?



"Loh Arga mana?" Fika langsung berlari menuju pos satpam di depan rumah Arga. "Mang, Arga mana?"



"Wah neng, den Arga baru aja berangkat."



Tak disangka pagi ini Arga sudah mempermainkannya habis-habisan. Pagi saja sudah begini apalagi di sekolahan nanti? Apakah Arga benar-benar serius akan menghukumnya? Stop untuk pikirkan itu sekarang. Lalu bagaimana cara Fika ke sekolah sekarang?



Di tengah ke kalutannya, di benak Fika telah lewat satu nama. Tanpa lama Fika meraih ponselnya dan sesegera mencari kontaknya.



"Hallo Iqbal, kamu bisa jemput Fika sekarang gak?"



*****

__ADS_1



"Aaaaa!!! ARGA! Yaampun Arga datang guys!"



"Gila selain ganteng dia beneran tajir yah!"



"Jangan ditanya. Itu pastilah."



"ARGAAAA!"



Seperti biasanya, para fans fanatik Arga akan berjerit histeri sesaat mobil sport Arga sudah memasukki wilayah sekolah. Mereka tentunya tidak sabar melihat ketampanan pangeran mereka di pagi hari sebagai penyegar mata sebelum pembelajaran dimulai.



Namun kali ini berbeda, Arga tidak sendirian. Ada seseorang lagi yang ikut keluar dari mobilnya. Hal itu membuat jeritan diantara para cewe berakhir dengan saling berbisik membicarakan hal yang negatif maupun positif.



"Ah sial! Kenapa si Angel lagi sih."



"Iyah.. huhu.. My prince Arga apa bener mereka udah jadian yah? Huu.. demi apapun gue gak rela dunia akherat."



"Angel selalu menang selangkah jauh dari kita. Dia selalu bisa deketin Arga secara terang-terangan. Sebel gue."



"Tapi yah mau gimana lagi guys. Memang kenyataannya kayanya Arga juga suka deh sama dia. Buktinya gak ada tuh cewe yang deket sama Arga kecuali Angel."



"Hem.. bener tuh. Cuman gue sumpah gak rela kalo ayang Arga gak jomblo lagi. Bisa-bisa gue males sekolah."



"Gila lo, niat lo sekolah apa Arga?"



"Dua-duanya sih. Cuman cenderung Arga."



"Stres!"



Arga berjalan berdampingan dengan Angel setelah menekan tombol kuncinya mobilnya untuk mengunci. Arga seperti biasanya berekspresi datar dan tidak peduli. Sedangkan Angel layaknya sedang fetion show cewe itu melambai-lambaikan tangannya saat melewati cewe-cewe yang terjerit mendukung hubungan keduanya. Arga sendiri merasa risih namun apa boleh buat dia sendiri terlalu malas meladeninya.



"Lain kali jangan dateng mendadak." Ujar Arga tiba-tiba saat telah melewati kerumunan di lapangan. Kini mereka berada di lorong sekolah.



"Iyah maaf. Lain kali aku kasih tau kamu dulu."



Arga memang sedikit kesal saat  mengetahui Angel tiba-tiba datang ke rumahnya tadi pagi. Tepatnya saat ia sedang menunggu Fika keluar. Karena ia tidak ingin Angel mengetahui Fika tinggal bersamanya, mau tak mau ia harus berangkat lebih dulu meninggalkan Fika.



"Arga kamu marah yah?"



"Menurut lo?"



Angel meraih tangan Arga dan menggelayutkan lengannya di sana. "Enggak. Kamu gak mungkin marah sama aku kan?"



Arga tidak menjawab cowo itu melangkah tegap tanpa peduli pandangan semua orang padanya sekarang.



"Lo gak ke kelas?" Tanya Arga.



"Aku mau nganterin kamu dulu. Boleh kan?"



"Serah lo."



*****


[Tempat lain]



"Abis dari mana aja lo? Gue nunggu udah lama lo gak juga nongol." Teriakkan Lussy yang menggema hingga ujung aula membuat orang yang kini baru datang dengan nafas terengah itu kaget. Siapa lagi jika bukan cewe berkepang dua itu. Setelah beberapa menit lamanya Fika akhirnya sampai ke sekolah atas bantuan Iqbal. Dan untungnya cowo itu datang tepat pada waktunya. Untungnya juga mereka masih sempat masuk setelah gerbang sekolah hampir ditutup.



"Maaf, Lussy." Fika masih terengah karena telah berlari dari gerbang hingga ke dalam aula. "Lussy.. udah.. lama yah?"



Lussy terlihat masih kesal. Namun kemudian menghampirinya di ambang pintu. "Gue udah lama nungguin lo gak nyampe-nyampe, hampir serangan jantung gue disini karena gugup. Udahlah! Cepet bantu gue."



Tanpa basa basi Lussy menarik Fika ke dalam ruangan.



"Lo bisa cepet gak sih?!"



"Sebentar."



"Ah lama lo! Gue udah pegel nih."



"Sabar.."



"Sabar sabar, udah kaya patung liberty gue disini."



"Sabar Lussy, orang sabar dapet jodoh ganteng tau."



"Bodo amat! Cepetan!"



"Iyah, cuman kancingnya susah nyangkut nih."



"Gue nggakmau tau, pokonya baju ini harus pass di tubuh gue."




Perdebatan kecil dari kedua sejoli itu masih belum berhenti. Fika yang sejak tadi berusaha memasang kancingan baju belakang Lussy membuatnya kesulitan karena baju itu sedikit ketat di tubuhnya apalagi baju itu adalah baju khusus yang di gunakan oleh seorang mayoret. Dikarenakan hari ini ada perlombaan marching band, Lussy selaku mayoret begitu sibuk mempersiapkan diri terutama penampilannya. Dan Fika lah yang menjadi asisten pribadinya saat ini.



"Udah blom?"



"Udah.."



Lussy menurunkan tangannya, kemudian sedikit menarik roknya kebawah karena sejujurnya ia tidak suka bila memakai rok terlalu pendek apalagi yang di atas lutut. Namun ya.. beginilah baju mayoret. Mau tak mau ia harus tetap memakainya.



"Gimana penampilan gue?"



Fika mengacungkan kedua jempolnya kedepan sambil tersenyum lebar.



"Perfect!"



Lussy tersenyum manis. Rambutnya yang sudah mulai panjang, tergerai bebas hingga pundaknya. Memberi kesan manis pada wajahnya yang cantik. "Doain gue ya.. gue super duper nervous nih."



"Tenang aja, Lussy pasti bisa. Fika yakin kok."



Lussy memeluk Fika sebelum ia keluar dari ruang ganti. "Thanks yah.. " Namun sebelum ia melangkah lagi, Lussy kembali  teringat sesuatu dan berbalik.



"Oyah Fik, Kalo lo bosan mending lo liat aja pertandingan basket."



Fika termenung menyicingkan mata. "Pertandingan basket?"



"Jangan bilang lo gak tau?"



Fika menggeleng polos.



"Yaampun Fik! Sekarangkan ada turnamen basket antar kelas senior kita, dengan senior SMA sebelah. Massa lo gaktau sih? Kemana aja lo?"



"Oyah?"



Lussy memutar mata malas. "Hah.. lo liat aja gih, gue mau kumpul dulu."



Tanpa menghiraukannya Lussy langsung berlari keluar, sedangkan Fika masih diam di ruang ganti.



Fika mengeluarkan sebuah tepak berwarna hijau, berisikan nasi goreng khusus Ratna untuk anak laki-lakinya Arga.  Fika sudah menggenggam erat tepat itu dan tanpa berfikir kembali ia langsung berlari keluar ruangan. Ia tahu persis saat ini kemana ia harus pergi. Mau kemana lagi jika bukan untuk menemui cowo itu. Untungnya dia sekarang berada di lantai dua tempat lapangan basket itu berada.



Keringat mulai bercucuran, suara riuh berisik mulai terdengar dari jaraknya sekarang. Ia semakin memperlebar langkahnya hingga berhasil melihat pintu ruangan di sana. Kakinya terhenti saat sudah di depan pintu besar yang terbuka lebar penuh dengan ratusan penonton menghadang.



Saat ingin melangkah sedikit ada rasa ragu dan takut, namun segera ia tepis. Karena meskipun Arga sudah memperingatinya, itu tetap tidak akan menghalanginya untuk menyampaikan amanat dari tante Ratna.



Fika mulai melangkah masuk, berbaur dengan orang-orang yang sedang bersorak riak disana. Ia sedikit menutup telinganya karena suara berisik yang menusuk gendang telinga terutama para cewe yang sedang berjerit histeris tanpa memperdulikan pita suaranya seolah mereka sedang menonton konser K-pop secara langsung.



Ia terus berjalan hingga berada di ujung kursi penonton. Matanya masih sibuk mencari sesosok Arga disana. Hingga bola matanya terhenti ke satu titik menampakkan Arga yang sedang berlari memantulkan bola dengan lihai dan keren, tanpa ada satupun yang mampu menghalanginya. Arga mengoper bola dengan strategis ke temannya lalu ia kembali berlari menyusul ke sisi lain lapangan, temannya yang berlari mengalihkan perhatian lawan kemudian kembali memberikan bola itu ke Arga yang langsung sigap ia tangkap, dengan anca-anca dari jarak yang cukup jauh, Arga meloncat lalu  melemparkan bolanya lambung ke arah  ring. Dan...



"Yes!"



Berhasil! Lemparan Arga tidak meleset sedikitpun bola itu masuk mulus tepat ke tengah lubang ring. Fika yang berada di sudut sana cukup jelas melihat bagaimana bola itu masuk bahkan ia sedikit menjerit sebelum ia sadar dengan jeritan penonton di depan, samping dan belakangnya karena suara jeritan itu semakin meninggi, semua orang yang menyaksikan ikut berdiri bertepuk tangan heboh. Tidak sedikit dari penonton yang ikut berlari turun ke lapangan karena merasa senang.



Sedangkan Fika, dirinya masih belum bisa melepaskan tatapannya terhadap Arga yang sedang berempug di tengah lapang bersama teman setimnya merayakan kemenangan.



Tanpa ia sadari sudut bibirnya ikut terangkat menggambarkan bahwa ia ikut bahagia. Arga bukan hanya membanggakan sekolah tetapi ia berhasil membuat seluruh cewe disana berkali-kali terjerit kepanasan, merasa kagum melihat skill yang ia miliki dalam bermain.



Namun, bukan hanya itu saja yang membuat Fika tersenyum. Tetapi ini adalah kali pertamanya bagi Fika bisa melihat cowo berekspresi datar dan sedingin es itu tersenyum bahkan tertawa lepas. Pemandangan yang cukup langka baginya. Senyumnya terlihat manis namun tetap cool, tampan dan juga menawan, berkharisma sekaligus sexy. Deretan gigi rapih putihnya membuat setiap cewe yang melihatnya mengigit bibirnya sendiri karena menahan pesona yang memancar kuat dari seorang Arga Aldiano.



Tidak bisa ia bayangkan betapa bahagianya seorang cewe yang beruntung mendapatkan cowo itu. Bahkan membayangkannya saja ia merasa sangat kesakitan. Seandainya dia memiliki kesempurnaan yang sepadan dengan Arga. Mungkin dari saat ini juga dia akan memikat hati Arga dan tidak akan melepasnya kepada siapapun.



Namun sayangnya.. itu semua hanyalah mimpi belaka. Mana mungkin wanita culun, bodoh dan miskin sepertinya akan memiliki sesosok Arga yang begitu sempurna di mata semua orang. Seperti mimpi di siang bolong. Fika hanya mampu menerima sebuah kenyataan, bahwa kenyataan tidaklah selalu indah. Karena pada dasarnya kenyataanya sangat menyakitkan.



"Aw!"



Fika terhoyong ke depan saat ada seseorang menubruk punggungnya dari arah belakang dan kembali memyadarkannya dari dunia khayalan. Para penonton sudah mulai berhamburan keluar pintu. Namun Fika mencari Arga yang justru tidak ada disana.



"Fik,"



Fika menoleh. "Eh Andre."



"Ngapain lo disini? Pertandingankan udah selesai."



"Fika lagi cari Arga."



"Oh si kampret, noh dia lagi di ruang ganti. Kalo lo mau ketemu dia masuk aja."



"Oke, makasih Dre."



Fika berlari kecil menuju pintu diujung lapangan yang terbuka lebar, tanpa berfikir lagi Fika menerobos masuk, kakinya begitu semangat berlari kini justru terpaksa terhenti sekaligus terperanjat dan matanya terbelalak. Bagaimana tidak? Di ruangan itu ternyata dipenuhi banyak cowo tim basket yang gantengnya gak ketulungan. Ditambah mereka semua saat ini sedang telanjang dada. Hampir saja Fika akan menjerit, namun ia tahan dan langsung berbalik.


__ADS_1


"Eh coy! Ngapain tuh cewe masuk kesini?!" Teriak seseorang didalam menghebohkan semuanya.



Fika berdiri kaku di ambang pintu tidak tahu apa yang harus dilakukan.



"Woi! Kalo lo mau liat kita ganti baju kesini aja!"



"Jangan malu-malu!"



"Ahahahhahaahha..."



Gelak tawa mereka memenuhi ruangan.


Fika masih berdiri disana. Ia berfikir lebih baik menunggu Arga di luar saja. Namun suara berat dari arah belakang berhasil membuat Fika tertegun.



"Ngapain lo?"



Karena merasa hafal dengan suara itu Fika pun berbalik cepat.



"Ar-" Matanya terbelalak.



"Ya Allah! Ya Karim!"



Fika menjerit! Ia kembali menutup matanya dengan kedua tangannya. Karena shock melihat Arga yang sama telanjang dada menunjukkan kulit putih dan tubuh berotot sekaligus perut sixpacknya.



Arga menyernyit. "Gakusah lebay, ngapain lo disini?"



Fika menghentakkan kakinya greget.


"Lagian Arga kenapa gakpake baju si? Bajunya kemana? Ilang? Apa ketinggalan?"



"Bukan urusan lo, mau ngapain lo?"



"Fika mau ngasih ini." Ucap Fika sambil menyodorkan tepak hijau itu yang langsung Arga raih cepat.



"Cieee.. yang dapet makanan dari bebebnya.." Sorak-sorak teman Arga dari belakang membuat Arga menoleh sinis hingga membuat semuanya kembali bungkam karena tatapan tajam Arga yang menyeramkan. Arga kembali menatap Fika.



"Lo ngapain masih disini? Pergi!"



Fika mengangguk cepat dan berniat untuk kembali. Namun tubuhnya tertahan karena ada seseorang yang menahan bahunya dari belakang, tanpa di sangka orang itu mendorongnya hingga ia justru lebih masuk kedalam.



Fika terperanjat, saat ia menurunkan tangannya. Ia semakin shock karena ia telah berada di tengah-tengah para cowo yang kini menatapnya jahil.



"Jadi ini cewe lo Ga?" Tanya Vino lalu mendecak setelah melihat penampilan Fika dari ujung kepala hingga ujung kakinya.



"Gue gaknyangka ternyata selera lo rendah banget...ahahahaha.."



Lagi-lagi Vino berusaha memancing emosi Arga, namun tidak untuk kali ini. Arga terlihat tidak peduli dengan apa yang ia katakan, bahkan cowo itu sekarang malah melenggang masuk ke dalam ruang ganti baju tanpa memperdulikan Fika yang masih disana.



"Wah..kayanya si Arga nggak peduli sama ini cewe." Selah salah satu cowo di sana.



"Biasanya juga gitu dia." Tempas mereka lagi.



"Berarti boleh dong kalo kita mainin.. hahahahaha..."



Fika semakin gemetar mendengar tawa jahil dari mereka yang mungkin siap melakukan hal yang tidak baik padanya. Fika melangkah mundur ingin berlari kearah pintu. Namun Vino lagi-lagi menahan tangannya.



"Et.. mau kemana lo?"



Tiba-tiba semua cowo disana ikut berdiri mendekat. Mengepung Fika di tengah-tengah dan membentuk hampir setengah lingkaran.



"Yah.. meskipun penampilannya kuno. Tapi lumayan lah buat kita seneng-seneng."



Fika gemetar.



"Lo mau liat kita ganti baju kan? Makanya sini." Vino menarik Fika hingga ia bertubrukan dengan dadanya dan berhasil membuat Fika sedikit meringis.



"Lepasin!"



Fika berontak, namun sia-sia. Matanya mulai memanas ingin mengeluarkan sesuatu yang bening disana. Disisi lain ia juga harus memikirkan bagaimana cara keluar dari sana atau meminta pertolongan seseorang.



"ARRGGAAAA....!!!"



Hanya nama itu yang mampu Fika teriakki saat ini. Ia berteriak semampunya mamanggil Arga, namun percuma saja karena Arga tidak ada disana. Entah dia tidak mendengarnya atau memang pura-pura tidak mendengar.



Sedangkan Vino semakin mengecangkan tarikannya hingga Fika sendiri bisa merasakan perih di tangannya. Namun hal yang membuatnya semakin tercekat takut karena Vino tiba-tiba semakin mendempetkan tubuh mungilnya dengan tubuh basah cowo itu.



"Percuma sayang, Arga si kepala batu itu gak akan peduli sama lo. Mending lo sama kita aja, iya gak guys?... ahahahaha.."



Fika menggeleng-gelengkan kepalanya takut. "Lepasin Fika!"



Disaat Fika terus merengek ingin di lepaskan. Vino yang kini mencekal kedua bahunya justru mendorongnya hingga ia jatuh tergeletak di lantai.



"Sikat aja Vin! Sikat!" Teriak teman- temannya yang membuat suasana menjadi sangat panas dan menakutkan. Ruangan itu penuh dengan tawa jahil mereka.



Vino tiba-tiba berjongkok menunduk menatap intens wajah Fika yang memerah takut, cowo itu berniat akan mendekatkan wajahnya pada wajah Fika hingga cewe itu pun ikut memejamkan mata seraya berusaha menahan kuat dada Vino. Fika sekuat tenaga mendorongnya namun percuma saja, karena tenaga Vino dua kali lipat lebih kuat dari dirinya.



Vino menyeringai sesaat ia hampir berhasil menyentuh bibir manis Fika namun di saat itu juga ia merasakan sebuah tariakkan di lehernya yang memaksanya untuk berdiri seketika dan...



BUG!



Vini terpentalkan hingga tersungkut jauh, pukulan keras seseorang mengenai wajahnya membuat ujung bibirnya berdaray dan meringis kesakitan saat sebelum ia menyadari orang yang telah memukulnya itu. 



Semua orang terdiam suasana menjadi hening mencekam seketika, tatapan semua orang sekarang hanya tertuju pada orang yang kini tengah berdiri tegap dengan tatapan membunuh di sana.



Sedangkan Vino kembali berdiri sambil mengepal tidak terima dengan perlakuannya. Emosinya menyala-nyala siap meluapkan segala amarah.



"Anjing lo! Berani mukul gue!"



Cowo itu kembali melayangan pukulannya. Tanpa peduli perkataan Vino. Hingga tubuh Vino pun menubruk loker di bekalangnya. Vino tak sempat melawan karena cowo itu tidak sedikitpun memberinya kesempatan.



"Woi udah!" Teriak Andre begitu memasukki ruangan yang langsung berlari manahan cowo itu karena siap kembali memukul Vino meskipun dia sudah tergeletak lemah di lantai.



"Ga! Cukup bro!" Susul Willy menahan kepalan keras Arga.



Arga mendengus keras. Menghentakkan tangannya dari cekalan Willy. Lalu memukul keras loker hingga salah satu loker di sana sedikit penyok.



"Tahan emosi lo Ga, lo bisa bikin dia mati sekarat disini. Yang ada lo yang bakalan dalam masalah nanti." Ucap Nico kemudian. "Mending lo liat keadaan Fika noh, dia masih ketakutan!"



Fika? Iyah cewe itu masih ada disana, menangis ketakutan. Arga cowo itu pun segera berbalik badan sedangkan Vino sedang di tangani oleh Nico, Willy dan Andre.



"Berdiri lo!" Sentak Arga sesaat berada di depan Fika yang masih menunduk sambil menangis tersedu.



"Gue bilang berdiri!"



Fika mendongkak menatap cowo itu. Ia pun segera berdiri perlahan menahan gemetar teramat dahsyat di sejujur tubuhnya. Kini ketakutannya bukan karena Vino, namun berubah takut dengan orang yang kini berdiri di depannya dengan sorot mata menyala seperti vampire yang siap menerkam mangsanya.



"Sekarang lo kaluar dari sini! Dan jangan pernah lo injakkan kaki lo disini lagi. Ngerti lo!"



Fika gemetar, ia menunduk takut menggenggam erat kedua tangannya sendiri. Menahan gemetar teramat dahsyat dan mengontrol detak jantungnya yang berpacu begitu cepat.



"Heh tai! Lo jangan sentakin dia gitu, lo mau dia ikut kejang disini?!" Ucap Andre yang sedang melangkah menghampiri Fika.



"Lo bawa cewe ini keluar! Gue muak liat muka dia." Arga membuang muka dari Fika bahkan sema sekali tidak menatapnya lagi dan detik berikutnya ia melangkah pergi keluar ruangan. Dengan emosi yang menyala-nyala.



Fika membuang nafas berat melihat kepergian Arga dari sana. Perasaannya kini campur aduk. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sikap Arga barusan benar-benar menakutkan, tatapan Arga yang tajam mengintimidasi membuatnya semakin lemas. Perubahan emosi Arga benar-benar tidak pernah stabil, dan anehnya emosinya selalu dilampiaskan kepadanya. Apa dosanya sehingga selalu membuat cowo itu berubah menjadi iblis yang menakutkan?



"Fik, lo gakpapa kan? Gak ada yang lecet kan? Apa ada yang sakit? Kepala lo gimana? Pusing? Atau lo mau ke UKS?"



Fika hanya diam saat Andre mencoba beebicara padanya. Nico yang tau kondisi Fika pun ingin berusaha membantunya.



"Cia elah, udah kaya petugas PUSKESMAS aja lo, lebay!" Celetuk Nico kemudian pada Andre.



"Curut bin curut tolong diam. Gue lagi berusaha menjadi pria sejati yang selalu memberikan perhatian kepada seorang cewe. Emangnya elo, dasar jones!"



"Tai lo!" Nico melemparkan botol minum kosong tepat mengenai kepala Andre. "Lo juga jones anjing!"



Andre pun meringis, ia pun kembali melemparkan botol itu dan mengenai dada Nico. "Rasain lo nyet!"



Tingkah mereka berdua berhasil membuat Fika ******** senyumnya sedikit. Dan hal itu tertangkap jelas oleh Andre.



"Nah gitu dong senyum. Gimana perasaan lo sekarang?"



Fika menggeleng lemah. "Fika gakpapa kok."



"Yaudah gue anter lo ke kelas yak."



Fika mengangguk, lalu melangkah keluar diikuti Andre di belakangnya. Pikirannya sedikit melayang saat ini, karena kejadian tadi masih begitu membekas diingatannya. Terutama saat Arga datang menolongnya, meskipun dalam keadaan menunduk namun Fika bisa melihat jelas di wajah Arga yang begitu berbeda saat memukul wajah Vino. Terlihat amarah yang begitu membara dimatanya. Seolah dia menghajar orang yang telah mengganggu sesuatu miliknya. What? Sesuatu miliknya? Lagi-lagi Fika berkhayal di siang bolong.



'Jika kau memang membenciku, tolong jangan membuatku semakin baper karena sikapmu yang justru akan semakin membuatku mencintaimu'



_____________



Maaf nunggu lama.. padahal aku juga udah berusaha lanjut cuman kerjaan makin banyak maaf yah...



Kasih komentar buat bab ini yah...


Dan jangan lupa like nya


Makasih yang masih setia nunggu up cerita ini. Love u guys..



See you next chept》》》



__ADS_1


__ADS_2