
Warning!
Bab ini cukup panjang jadi mohon kesabaran dan kefokusannya dalam membaca😁😂
Happy reading...
________________________
"Fika mau nantangin Arga main basket."
Arga sedikit terkejut namun tetap terlihat tenang seperti biasa, ia menaikkan satu alisnya kemudian terkekeh geli.
"Lo gaksalah?"
Fika mengangguk pasti. "Kalo Fika menang, Arga harus ngerjain proyek kimia Fika yang udah hancur itu. Dan kalo Fika kalah..."
"Jauhin gue." Spontan Arga.
Fika sejenak berfikir namun dengan cepat menjawab. "Oke."
Entah mengapa Arga tiba-tiba kembali terkekeh menahan geli di perutnya. Bisa-bisanya cewe sepertinya berani menantanginya. Bahkan jika dipikir-pikir belum pernah ada yang menantanginya sebelumnya apalagi dengan sebuah syarat. Namun sekarang? Lihat saja siapa yang mencoba bermain api dengan seorang Arga Aldiano.
"Sebaiknya lo gakusah permaluin diri lo sendiri di sini." Kata Arga menahan geli.
Fika yang mendengarnya pun menyernyit dan melangkah selangkah lebih mendekat padanya.
"Siapa juga yang mau mempermalukan diri sendiri? Memangnya cuman Arga doang yang jago main basket? Tapi, makasih deh udah perhatian dan memperingati Fika buat jangan mempermalukan diri sendiri. Fika jadi lebih semangat buat ngalahin Arga."
Seketika ekspresi Arga berubah, cowo itu kembali ke muka datarnya kemudian mendengus. "Jangan kepedean lo."
"Pede itu penting. Jangan-jangan justru Arga yang takut kalah sama Fika yah?"
Arga menyipitkan mata tajam. Lalu mendecih. "Gakada kata takut dihidup gue."
"Ya trus kenapa Arga takut nerima tantangan Fika?"
Arga mengeraskan rahang. "Lo-"
"Wah ternyata seorang Arga Aldiano itu penge-"
"Gue terima tantangan lo."
Fika tersenyum puas, rencananya membujuk Arga telah berhasil. Namun sekarang pertanyaan terbesarnya adalah, apa dia mampu mengalahkan Arga? Secara Arga adalah kapten terbaik di sana sedangkan dia? Bukan siapa-siapa terutama dalam hal bermain basket.
Namun saat ini ia tidak ingin memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang ia harus bermain sebaik mungkin dan berusaha semampunya. Lagi pula apa susahnya bermain basket? Pikir Fika. Fika selalu percaya akan sebuah keajaiban dimana keajaiban itu akan selalu datang dikala segalanya terlihat tidak mungkin.
Fika mengulurkan lengannya ke arah Arga sebagai simbol kesepakatan. “Oke deal?”
Beberapa detik Arga hanya menatap lengan Fika namun detik berikutnya ia pun meraihnya. “Deal.”
PRRRIIIIIITTTTTT
"Oke, sebelum permainan dimulai. Kalian harus tau perutaran permainan ini." Ucap Willy mengarahkan. "Kalo buat Arga tentu lo pasti tau peraturan ini, tapi buat lo Fik, sebelumnya gue mau tanya apa lo udah yakin mau lawan si Arga?"
"Yakin!" Jawab Fika spontanitas penuh semangat.
"Lo tau gimana cara main basket kan?" Tanya Willy lagi.
"Tau dong, masa main basket aja nggak tau. Tinggal pukul-pukul bola, digiring trus lempar ke ring, masuk deh."
Sebenernya Willy tidak percaya sepenuhnya, karena pengetahuan Fika mengenai basket begitu mendasar bahkan jauh dari kata standar. Walaupun begitu, ia pun tidak akan bisa mencegah cewe itu.
"Oke, waktunya hanya 10 menit. Siapapun yang lebih banyak memasukkan bola dalam kurun waktu ini. Maka dialah pemenangnya. Namun ada beberapa peraturan lain yang mengharuskan kalian untuk tidak melanggarnya atau kalian akan terkena pelanggaran."
Willy menjelaskan beberapa peraturan secara garis besar dari mulai peraturan dalam mengambil bola, melempar, merebut dan sebagainya. Setelah selesai menjelaskan Willy pun bertanya kepada ke kedua pemain 'apakah sudah mengerti atau tidak' dan hal itu di angguki oleh Arga dan juga Fika menunjukkan bahwa mereka telah mengerti.
Baru saja Willy akan meniup peluitnya untuk memulai permainan namun tiba-tiba Fika mengangkat tangannya atas. "Kenapa Fik?"
"Eemm..Fika mau tanya, nanti ada istirahatnya gak?"
Willy dan Arga tiba-tiba terkekeh, entah terlalu polos atau memang tidak tahu, namun itu terdengar menggelikan. Bukan hanya kedua cowo tampan itu saja yang terkekeh tetapi semua yang sedang menonton. Bahkan ada yang terdengar meledeknya.
"Kenapa? Fika kan cuman tanya. Emangnya salah yah nanya gitu?"
"Nggak salah kok Fik, tapi waktunya cuman sebentar, jadi gakada waktu istirahat." Ujar Willy membenarkan.
Fika akhirnya menganggukkan kepala mengerti, dan Willy pun mulai anca-anca meniup peluit untuk melempar bola di tengah-tengah antara Arga dan Fika yang sudah siap dalam posisi saling berhadapan.
"Siap?" Tanya Willy melihat kedua pemain bergantian.
Fika mengangguk yakin dan Arga hanya perlu mengangkat satu alisnya menandakan ia lebih dari kata siap.
PRRRIIIIIIIITTTTTTT
Permainan dimulai.
Willy melempar lambung bola basketnya, yang langsung dengan mudah Arga tepis. Fika yang jauh lebih pendek dari Arga tentu sulit untuk menyeimbanginya.
"Arga! Arga! Arga!"
Suara-suara dukungan mulai terdengar. Fika berlari mengejar Arga yang tengah men-dribble bola dengan begitu lihai. Cewe berkepang itu mulai menghadangnya untuk mengambil bola, namun itu bukanlah masalah. Cowo itu dengan sangat mudahnya melewati Fika bahkan dari jarak sejauh itu Arga mulai melemparkan bolanya ke arah ring dan...
"Yeeeeyy!!!!..." Bola masuk tanpa meleset sedikitpun.
Kini skor satu untuk Arga, dan Fika masih nol. Arga memimpin dikala waktu telah menunjukkan setengah menit. Bahkan terlalu cepat, dan tentu terlalu mudah bagi Arga. Fika yang berdiri tak jauh dari Arga pun hanya bisa cemberut sambil menatapnya greget. Ia bahkan hampir lupa siapa yang kini sedang ia lawan, dia adalah pemain terbaik milik SMA Wijaya.
"Cih, dasar si culun! sok-sok an nantangin Arga basket. Nggak pernah nyadar diri apa?"
"Ha elah, kita liat aja nanti. lagian kita udah tau kok siapa yang bakal menang. Nggak mungkin juga Arga kalah sama si culun itu."
"Iyasih, gue jadi penasaran liat muka jelek si culun pas kalah nanti."
"True! Gue juga. Rasanya pingin gue ludain aja itu muka."
Suara-suara hinaan dari para fans Arga mulai menyebar membicarakan bahkan telah sampai ke telinga Fika saat ia melewati mereka. Meskipun begitu tampaknya Fika tidak peduli.
Ia terus berjalan melewati mereka dengan raut wajah serius manatap Arga yang sedang kembali men-dribble bola, tatapan cewe itu terfokus ke arah bola besar berwarna orange itu.
"Fika nggak akan kalah!" Gumam Fika.
Tanpa aba-aba sebelumnya, Fika berlari secepat mungkin ke arah Arga dan tanpa diduga ia langsung merebut bola di tangan cowo itu lalu berbalik membelakanginya. Arga pun terkesiap dengan kedatangan Fika yang secara tiba-tiba itu.
“Wih liat si cupu! Anjir si Arga kecolongan tuh.”
__ADS_1
“Tenang aja, si cupu nggak akan bisa masukkin bola ke ring kok.”
“Darimana lo tau? Kalo dia bisa gimana? Bolanya kan di lempar, otomatis bisa aja masuk iya kan?”
“Brisik lo! Lo liat aja si! Lagian gue yakin banget kalo si cupu nggak mungkin bisa ngalahin Arga!”
“Iya iyah, gimana lo aja deh Sher.”
Fika masih berusaha memblok Arga agar cowo itu kesulitan mengambil bola. Ia sedikit berputar-putar menghindari raihan tangan Arga di belakang tubuhnya.
Tanpa menunggu lama lagi, Fika melesat berlari men-dribble bolanya menuju arah ring. Masih tidak peduli meskipun sekarang banyak mulut yang menghinanya dari mulai memanggilnya culun ataupun cupu. Yang terpenting saat ini adalah ia bisa memasukkan bola itu ke dalam ring.
“Pret! Liat si Fika, anjir nggak nyangga gue dia bisa basket. Gile, cara nge-dribble nya lumayan juga.” Heboh Andre yang ikut tercengang melihat aksi Fika.
“Ho’oh Pret, gue juga gaknyangka. Padahal kita aja susah buat nyolong bola dari si Arga. Hehe.. Tapi cewe itu gesit juga yah, tercengang gue.” Timpal Riyan teman setimnya sambil terkekeh.
Willy yang sejak tadi terfokus melihat stopwatch pun kini justru hanya fokus melihat cewe berkepang itu berlari, ada sedikit rasa kagum yang terpendam di dalam hatinya karena itu sudut bibirnya mulai terukir melihat Fika yang sudah hampir dekat dengan ring.
“Fik, ayo Fik!” Teriak Willy secara spontan.
Sorak riak mulai ricuh antara si pendukung dengan si penghina. Namun tidak membuat Fika gentar. Ia masih fokus dengan bolanya dan gerakan tangannya.
“Sial!”
Sementara Arga berlari mengejar cewe di depannya yang berlari begitu lincah. Sambil menggurutuki dirinya sendiri karena dia terlalu meremehkan Fika hingga ia bisa lengah. Arga semakin mempercepat langkahnya, untuk menyusul Fika dan menghalanginya melempar bola. Arga menyelip hingga langkahnya kini sejajar dengan Fika. Namun cewe itu tidak memperdulikannya, ia tetap fokus dengan bola di tangannya.
“Fika bisa!” Ucapnya pelan lalu ia menghentakkan kakinya kuat ke lantai, dengan gaya memegang posisi bola yang ia atur ke arah ring. Kemudian melemparnya lambung sebelum Arga akan meraihnya dan..
“YES!" Willy berteriak antusias.
“Yeeeeeeeeyyyy… Masuk, masuk, masuk...” Fika berteriak sangat keras hingga menyusutkan suara-suara teriakan team cheerliaders dan para penonton lain. Bahkan dengan tidak segan Fika berlari menghampri Arga yang berdiri tepat di belakangnya. Raut wajah cowo itu terlihat kesal.
“Iyakan.. Fika bisa wlooee...” Ledeknya sambil menjulurkan lidah di depan wajah datar Arga.
“Jangan seneng dulu lo, baru aja satu udah bangga.”
“Tapikan skor kita jadi sama wloeee.”
“Lo cuman beruntung aja sekarang, bukan berarti lo mampu ngalahin gue.”
“Idih Arga kok jadi kepedean? lagian darimana Arga tau kalo Fika bakal kalah?”
Arga menggertakkam rahangnya. “Gue bakal pastiin itu sekarang.”
Fika tersenyum dan menyilangkan tangan didadanya. “Oke, tapi asal Arga tau. Fika juga nggak akan nyerah buat ngalahin Arga.”
“Lo liat aja.”
“Inih udah Fika liatin.” Fika sedikit melototkan matanya mentap Arga yang justru menyernyit aneh melihat jenis cewe di depannya.
Jauh dari dugaannya, Arga kini harus bermain serius untuk menghadapi si culun itu. Dan dimenit selanjutnya Arga harus lebih fokus, cukup satu kali ia kecolongan dan ia tidak akan membiarkan cewe itu mengambil lagi kesempatan.
PRIITTTTTT…
Fika kembali bagian men-dribble bola, baru saja ia memantulkan bolanya beberapa kali namun Arga secepat kilat merebutnya lalu berlari cepat ke arah ring dan melemparnya hingga berhasil masuk.
Arga mendelik namun tidak sedikitpun berkata. Ia justru kembali men-dribble bolanya yang langsung di susul Fika di belakang.
“Heh culun! Jangan sok jago deh. Mending nyerah aja buang-buang waktu lo!”
“Iyah! Gak nyadar diri banget si lo. Cih! Punya kaca gaksih dirumah? Biar lo ngaca betapa buruknya diri lo."
"Ngaca mamen NGACA!"
"Cewe gak punya otak!"
"Gak tau malu!"
“WOOOOOO.., dasar cupu, culun, kampungan! Keluar aja lo dari sini!"
“Nyerah aja! Lo nggak akan menang lawan Arga nya kita!”
PRIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTT
Willy meniup keras peluitnya hingga menyusutkan sorak-sorak hinaan dari para supporter di sampingnya. Mereka pun menatap Willy heran.
“Pada bisa diem gak?! Liat aja permainannya nggak usah kebanyakan bacot!”
Akhirnya para fans Arga terdiam karena sentakan Willy yang cukup keras sedikit membuat mereka kaget sekaligus takut.
“Waktunya tinggal 7 menit lagi.” Teriak Willy kemudian.
Mendengar hal itu Fika pun terkejut dan semakin mempercepat langkahnya untuk menyusul Arga di depan.
Arga kembali melempar bola ke tempatnya, dan masuk dengan mudah seperti biasa. Fika yang dari tadi terus berkelit mencari celah di belakang tubuh Arga mulai semakin kesal karena cowo itu tidak sedikitpun memberikannya kesempatan untuknya mengambil bola.
Akhirnya Fika dengan reflex sedikit menarik kaus belakang Arga alhasil cowo tampan itu pun menoleh melihatnya hingga memberikan kesempatan untuk Fika bisa mengambil bola namun..
BRUK!
"Fika!" Willy yang jauh disana berteriak kaget.
“AW!” Fika memekik.
Arga kehilangan keseimbangan karena kakinya tersandung dengan kaki Fika yang akan melangkah ke depannya hingga keduanya pun terjatuh bersama.
Semua orang terdiam melihat kedua insan yang tengah terjatuh di sana, sebenarnya tercengangnya mereka bukan karena jatuhnya Arga dan Fika, melainkan karena bagaimana posisi keduanya jatuh.
“Iiiihh..! Sumpah gue udah gak tahan! Si culun udah keluar batas. Gue gkbisa biarin lagi!”
Sherla yang merasa gemas melihat Fika yang tengah berada di atas tubuh Arga berniat akan melabraknya secara langsung namun langkahnya tertahan oleh Andre yang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.
"Sher Biarin aja, itung-itung kita lagi nonton drama korea gratis.”
“Apasih!? Gratis otak lo?! Gue gak rela liat Arga disentuh sama siapapun, apalagi sama cewek bego itu. MINGGIR! Jangan halangin gue!" Sherla menghempaskan tangannya namun lagi-lagi Nico yang kini justru menghalangi jalannya.
"Biarin aja.. jarang-jarang kita liat yang kaya beginian secara live. Jadi lo jangan ganggu kedua tokek itu oke. Mending lo sekarang diem disamping gue."
Sherla mendengus keras sambil mendorong Nico di depannya.
__ADS_1
"Dasar kalian otak mesum gakpernah bisa berfikir cerdas!"
Perkatana Sherla barusan membuat Nico beserta Andre menolot menatapnya. Namun tidak sedikitpun mempengaruhi cewe itu. Sherla justru kembali mendorong Nico untuk menyingkirkannya lalu melangkah maju dengan langkah seribu langkah menghampiri Fika dan Arga.
"Woi cupu! Culun! Bangun lo dari sana!"
Fika terkesiap termasuk Arga, mereka baru tersadarkan. Entah mengapa seolah mereka melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
"Tuli ya lo? Cepet bangun!"
Fika berusaha bangun namun terlihat sulit belum lagi tabuhnya yang benar-benar menempel dengan dada bidang Arga. Hingga membuatnya gemetar sendiri.
"Ih sumpah ya lo! Lama!" Sherla akhirnya turun tangan untuk menarik kasar Fika bangun dari tubuh tegap Arga. Ia menarik bahu kurus Fika sembarangan hingga ia kembali berdiri tegak.
"Aw!" Fika meringis karena sebelum itu Sherla telah mencubit tanganya.
"Ish!" Sherla membulatkan mata, lalu beralih ke Arga yang hendak akan angun dari posisinya. "Arga, kamu nggak papakan?"
Cewe berambut sedikit pirang itu pun menyentuh tangan basah Arga lalu melingkarkannya ke lehernya. Perlakuannya itu membuat Arga terkesiap menoleh sambil berkerut kening.
"Mau ngapain lo?"
Sherla tersenyum genit menatap Arga. "Kok mau ngapain sih, ya nolongin kamu lah. Aku anter ke UKS yah?"
Arga segera menarik lengannya lalu berdiri tegap. "Gak usah, lebay lo."
"Ih Arga, aku kan khawatir sama kamu. Pasti dada kamu sakitkan akibat ditindih sama makhluk astral itu!" Ucap Sherla seenaknya sambil melirik sedikit Fika di sampingnya.
"So tau lo. Mendingan lo keluar dari lapangan sekarang. Gue mau lanjut permainan." Ucap santai Arga masih dalam muka datarnya.
"Kok kamu ngusir aku si? Aku kan kesini buat kamu."
"Emang siapa yang nyuruh lo kesini?"
Sherla terbungkam, ia tidak menyangka jika Arga akan mengatakan hal itu padanya.
"Iiiih.. Arga gitu amat si! Udah di perhatiin malah mencampakkan."
"Lo bukan siapa-siapanya gue. Dan gue gakpeduli sama lo."
Sesaat itu Arga tiba-tiba melangkah keluar lapangan menuju ruangan ganti baju. Meninggalkan Fika dan juga Sherla di sana. Termasuk permainannya.
"Ini semua gara-gara lo!" Teriak Sherla menyalahkan Fika di sampingnya.
"Loh kok Fika yang di salahin? Bukannya kak Sherla yang bikin Arga marah?"
"Ooh.. Lo berani nyolot yah sama gue?"
"Siapa yang nyolot? Orang dari tadi Fika biasa aja."
Tidak ingin memperkeruh suasana, Fika berniat untuk menjauh pergi dari Sherla yang sedang kesal itu. Fika tahu memancing amarah Sherla bisa membuat malapetaka sendiri. Ia pun segera berbalik namun sepertinya Sherla tidak akan membiarkannya pergi.
Karena cewe itu terlihat sedang mencari
sesuatu disana yang berpasan sekali dengan bola basket di bawah kakinya. Ia tiba-tiba mengambilnya cepat lalu hendak akan melemparnya sebelum Fika melangkah jauh dari posisinya.
"Fik awas Fik!" Teriak Andre dan Willy bersamaan.
Karena kaget, Fika berbalik dengan reflex mata tertutup karena lemparan bola basket yang sudah melayang tepat di depan matanya. Dan..
BUG!
"Aaaaa..." Entah mengapa semua orang di ruangan ikut berteriak keras.
"Fik, lo gakpapa?" Willy mengahampiri Fika yang masih berdiri kaku di sana dengan mata tertutup rapat.
Kenapa gak sakit yah? Batin Fika.
Untuk menepis rasa ragunya Fika memutuskan untuk membuka perlahan kelopak matanya, ia menyerjap beberapa kali untuk mengontrol cahaya yang menerobos masuk melalui pupil matanya. Mata cokelat itu akhirnya terbuka sempurna. Remang-remang yang memenuhi inderanya kini mulai terfokuskan dan menampakkan sosok yang kini tengah berdiri tegak sangat dekat dengannya.
Fika tercekat bahkan terbelalak begitu menyadari siapa orang itu.
"A-arga."
Entah mengapa jantungnya kali ini berdebar begitu cepat lebih cepat beberapa kontinyu karena menatap sorot mata cokelat tajam dingin sedang menatapnya begitu dekat.
Dengan tatapan kosongnya, Arga hanya diam tanpa ada sedikitpun keluhan ataupun amarah yang keluar dari mulutnya. Tatapannya yang begitu misterius serta ekspresi yang tak mampu ditebak membuat aura menyeramkannya hilang musnah. Namun menimbulkan banyak pertanyaan.
Fika menelan salivanya ia bisa merasakan aroma mint dari tubuh Arga yang begitu membius gila. Tubuhnya seketika menegang dan tenggorokkannya mengering seketika. Benarkan itu Arga si cowo kejam? Benarkah dia cowo dingin itu?
"Arga ma-maaf, aku gak sengaja!" Sherla yang berada di belakang tubuh Arga berteriak karena kaget dengan kedatangan Arga secara tiba-tiba hingga bola itu mengenai tubuhnya.
Fika yang mendengar hal itupun menyernyit dan menyerjapkan matanya.
"A-arga nolongin Fika?" Dengan susah payah Fika melawan ngilu di lidahnya untuk berucap. Meskipun ia mengatakannya dengan sangat pelan, ia yakin Arga pasti mendengarnya. Tentu saja hal itu ia lakukan karena tidak ingin membangunkan kembali aura negatif si cowo itu.
Namun Arga hanya diam menatapnya kosong, dengan posisinya yang kelewat kalem ia memasukkan kedua tangan kedalam saku celana sedangkan pandangannya menatap lekat cewe berkepang itu yang justru menatapnya bingung sekaligus khawatir.
Dan di detik berikutnya Arga memalingkan tatapannya dan berlalu keluar lapangan menuju pintu keluar. Semua orang ikut terdiam sekaligus tercengang dengan keheranan termasuk Fika yang masih setia menatap punggung tegap laki-laki itu yang kian menjauh dari pandangannya.
"Apa itu Arga..?"
"Arga nolongin Fika? Itu beneran Arga kan?"
"Astagfirullah itu beneran Arga?"
"Anaknya tante Ratna?"
"Dan dia nolongin Fika? Fika loh Fika?"
"Ya Allah, Fika mimpi apa semalam?"
_______
Akhirnya di akhir juga...
Beri komentarnya yah, kesan-kesan kalian membaca bab ini?
Jangan lupa like nya..😍
See you next chept》》
__ADS_1