Unforgettable

Unforgettable
END!!!


__ADS_3

DOR!


"KAK GINO!"


Suara senapan bersamaan jeritan dari Alicia membuat keheningan di ruangan itu. Darah mengalir ke lantai dengan tergeletaknya seorang laki-laki di sana. Alicia menangis histeris sebelum kemudian bangkit dan menghampiri laki-laki yang ia sayangi itu telah tergeletak menutup matanya rapat.


"Kak.. bangun kak, jangan tinggalin aku..." Isak Alicia, perempuan itu meraih kepala Gino yang berlumuran darah. "Kak bangun.." lirihnya. Ia kemudian menatap laki-laki yang masih berdiri mematung di sampingnya.


"Arga, bawa kak Gino ke rumah sakit. Ayo Ga." Bujuk Alicia. Ia menarik-narik bawah celana Arga namun tidak sedikitpun membuatnya tergerak. Cowo itu hanya memandang datar kakaknya di bawah kakinya itu.


"Kamu tidak apa-apakan nak?"


Suara baraton milik seorang pria paruh baya menghampiri Arga disana. Pria itu kembali memasukkan pistol yang baru saja ia gunakan ke dalam sakunya.


"Untung saja papah masih sempat, kalau tidak. Gino pasti akan membunuhmu." Ucap Albert ayah Arga. Pria itu menepuk pundak Arga. Ia mencoba tersenyum ramah pada anaknya itu. Namun sayangnya tidak untuk Arga, dia hanya menatap tajam Albert.


"Kenapa kau menembaknya?" Tanya Arga berhasil menohok Albert.


"Dia akan menyelakai anakku, tentu saja aku harus menyelamatkanmu." Ujar Albert.


Arga mendengus. "Apa kau lupa kalau dia juga adalah anakmu?"


Ekpresi Albert seketika berubah. "Dia sekarang bukan lagi anakku. Dia-"


"Dia begini karenamu juga."


Albert terhentak. Ia menatap Arga tajam. "Apa maksud perkataanmu Arga? Jangan sembarangan kalau bicara."


Tiba-tiba Arga meraih kerah baju Albert seraya mendorongnya ke dinding. "Kau tau? Dia seperti itu karena kelakuan bajianganmu! Dia tidak sedikitpun mendapatkan kasih sayang darimu sialan!"


BUG!


Arga melampiaskan amarahnya dengan memukul Albert sekuat-kuatnya. Pria paruh baya itu terhuyung menyentuh wajahnya yang mulai terasa perih dan berdarah.


"Dulu saat kami masih kecil, kau hanya peduli dengan pekerjaanmu. Dan saat kami mulai dewasa, kau malah meninggalkan kami! Apakau lupa dengan semua itu hah!?"


"Arga, tenangkan dirimu nak. Papah bisa jelasin semua sama kamu."


Albert baru saja akan menghampiri Arga namun Arga langsung meleos pergi menuju Fika.


"Kita tidak ada urusan lagi." Ucap Arga dingin. Cowo itu kemudian membuka ikatan-ikatan yang melilit di tubuh Fika.


"Kita pergi sayang." Ucap Arga seraya mengecup pucak kepala Fika. Ia kemudian memangku Fika dan membawanya keluar.


Sedangkan disana hanya tersisa Albert, Angel, Alicia dan juga Gino yang sudah tergeletak.


Albert memandang ke arah Alicia yang sedang menangis tersedu di sana. Kedua matanya teralihkan ke arah Gino yang menutupkan mata.


Saat itu pula rasa sakit di hatinya mulai terasa. Air mata yang entah mendapat dorongan darimana tiba-tiba menetes begitu saja dari pelupuk matanya. Albert, ia melangkah lunglai dan tubuhnya mulai bergetar hebat. Tubuhnya meluruh ambruk sesaat sampai tepat di dekat mayat Gino yang terkulai.


"Maafin papah Gino.. ini memang salah papah, kamu seperti ini juga karena papah." Lirih Albert, pria itu kemudian menyentuh pipi Gino yang sudah mendingin. Aira mata penyesalannya menetes ke atas kulit Gino. Namun sayang, seberapapun menyesalannya. Tidak akan bisa mengembalikan Gino lagi.


*****


"Dok gimana keadaan Fika?"


Setelah membawa Fika ke rumah sakit bersama Iqbal dan seluruh temannya. Arga tidak juga berhenti mondar-mandi layaknya setrikaan sampai doktee akhirnya keluar dari ruang rawat.


"Begini, ada banyak sekali luka dan bekas tusukan di bagian tubuhnya meskipun tidak terlalu dalam-"


"Trus bagaimana dia sekarang?" Arga terlihat sangat panik.


"Kalian tenang saja, luka-luka itu sudah kami jahit. Dan sekarang dia pasti akan segera berangsur membaik."


Mendengar ucapan dokter barusan benar-benar telah melegakan hati seorang Arga. Ia mengucap syukur sebelum kembali melihat Fika di balik kaca.


"Apa boleh kami melihatnya sekarang dok?" Tanya Iqbal.


"Tentu, tapi untuk sekarang hanya satu orang saja. Karena takutnya nanti akan mengganggu pasien." Ujar dokter yang langsung di angguki semuanya.


"Yaudah lo aja Ga. Fika lebih membutuhkan lo." Usul Andre yang kemudian diangguki cowo itu.


Arga akhirnya memasukki ruangan dimana Fika kini tertidur. Bisa dilihat, kelopak matanya tertutup rapat disana. Arga meraih lengan Fika yang tertancap jarum infus, dengan perlahan cowo itu menciumnya lembut.


"Fik, gue kangen sama lo."


"Kapan lo bangun?"


"Gue kangen liat senyum lo. Gue kangen sama omelan lo."


"Dan gue kangen sama kepolosan lo."


"Lo kan udah janji sama gue kalau lo gak akan ninggalin gue. Jadi gue mohon.. buka mata lo sekarang Fik."


Arga menelengkup tangan Fika dengan kedua tangannya. Tangan kirinya terulur mengusap puncak kepala Fika.


"Gue sayang sama lo."


Saat Arga kembali menciumi tangan Fika sesaat itu pula suara lembut memasukki gendang telinganya.


"Aku juga sayang Arga."


Arga seketika mengangkat kepalanya dan kedua matanya langsung tertuju pada kedua manik mata yang sudah terasa lama ia rindukan.


"Fika!" Arga langsung memeluk Fika dan menciumi keningnya. Perasaannya buncah antara bahagia dan juga sedih.


"Makasih sayang." Ucap Arga kembali mencium kening kekasihnya.


Fika tersenyum manis pada Arga sebelum membalas pelukan cowo itu.


"Janji sama gue kalo lo gak akan ninggalin gue Fik?"

__ADS_1


Fika menatap Arga geli sebelum kembali mengurai senyumnya. "Janji."


*****


Beberapa bulan kemudian.


Malam penuh bintang, di puncak bukit belakang panti asuhan sudah berkerumun para orang-orang kepo yang sejak tadi terus mencari tempat bersembuci. Dikala malam ini adalah malam paling penting dan sangat disayangkan apabila terlewatkan.


"Heh tai ngapain lo disitu sih?" Ujar Willy menegur Andre yang sejak tadi berjongkok di balik pohon.


"Apasi lo, gue lagi ngintip gak liat lo?"


"Ya jangan disitu juga kalie toge.. yang ada lo ketauan Arga. Kalau dia tau bakalan abis lo ama dia."


"Bodolah. Yang penting gue liat adegan langka ini. Anjir penasaran gue."


Tanpa mengidahkan teguran Willy lagi, Andre dengan semangat 45 nya kembali mengintip ke arah puncak bukit yang menampakkan kedua insan yang sedang jatuh cinta.


Pletak!


"Anjir sakit bego!"


Pukulan keras mengenai kepala Andre. Cowo itu sontak berbalik dan menatap jengah kepada perempuan yang kini sedang memegangi satu batang kayu kecil.


"Bodo amat! Lagian suruh siapa lo disitu hah? Mau lo bintittan?"


"Nggak lah, lo aja sono yang bintittan jangan ngajak-ngajak gue." Sinis Andre sebelum kembali berdiri. "Lo ngapain sih ngintilin gue mulu? Kalau suka makanya bilang, entar juga gue terima kok."


Perkataan Andre yang kelewat PD itu membuat Lussy seketika merasa mual.


"Naudzunillah. Amit-amit dah gue suka sama makhluk astral kaya lo. Muka kaya kodok bengong aja blagu."


Mendengar tuturan Lussy yang berhasil menusuk tulang itu membuat Andre membulatkan kedua matanya.


"Apa lo bilang? Kodok bengong? Elu tuh udah kaya uler keket. Gak diem!"


"Idih masih mending gue uler dari pada lo? Udahmah bego muka kaya kodok bengong lagih. Gak frustasi lu hidup?"


"Anjir ni cewe! Minta gue kawinin lu?"


Seketika tawa Lussy pun pecah. Ia kemudian berlari karena Andre juga berlari mengejar dirinya.


"Tu anak dua kayanya bakalan jodoh nih." Ucap Nico seraya memandang ke arah Lussy dan Andre yang masih kejar-kejaran layaknya bocah yang sedang main petak umpet.


"Bagus nih kalo di jadiin cerita. Sejarah kodok bengong jatuh cinta sama ular keket." Ucap Willy beriringan dengan tawanya. Diikuti oleh Nico yang juga ikut tertawa.


*****


Di puncak bukit.


Kedua insan yang sejak tadi terduduk di hamparan rumput tinggi itu tidak juga mengalihkan pandangannya ke atas langit malam yang penuh dengan bintang. Pohon dan juga ayunan yang menggantung di sana berayun karena angin yang menggerakkannya.


"Apa kamu bahagia?" Tanya Arga kepada Fika seraya mengusap pipi halusnya.


"Iyah. Bahagia banget, aku gak nyangka aku bakalan bawa aku ke sini lagi."


Arga menghela nafasnya. Ia mengadahkan kepalanya menatap langit. "Tempat ini adalah tempat paling berharga buat kita. Di sinilah pertama kali kita dipertemukan... sekaligus terpisahkan."


Fika meraih tangan kekar Arga membuat ia menoleh padanya. "Sekarang tidak lagi. Kita sudah bersama kembali. Dan kita bisa memulainya dari awal lagi."


Arga tersenyum hangat dan membelai kepala Fika. "Iyah sayang. Tapi.. ada satu hal yang ingin aku katakan sejak lama."


Fika menyernyit. "Apa?"


"Tutup mata kamu." Titah Arga.


"Mau ngapain?"


"Tutup saja."


Setelah berfikir sejenak akhirnya Fika memutuskan menuruti Arga. Ia pun menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Jangan di buka sebelum di suruh." Ucap Arga yang diangguki Fika.


Dalam hitungan beberapa detik Arga mengintruksikan seluruh teman-tamannya untuk berkumpul di bawah bukit. Kali ini bukan hanya sekelompok anak basket dan chear melainkan hampir seluruh murid di SMA Wijaya yang Arga undang. Mereka membawa sebuah kembang api masing-masing di tangannya. Seraya berbaris dengan jajarannya masing-masing.


Arga sudah menyiapkan semua ini dari sangat lama dan ini adalah hari yang tepat untuk melakukannya. Arga terus mengintruksikan akan seluruh temannya itu tidak berisik agar Fika tidak mendengar keberadaan mereka semua.


"Ga? Kamu ngapain sih? Kok lama banget." Kata Fika. Dia sepertinya sudah tidak sabar lagi.


"Sebentar sayang."


Arga kemudian memandang Nico di bawah sana yang telah memberikan kode bahwa semuanya sudah siap. Tinggal Arga yang memulai pertunjukkannya.


"Oke, sekarang kamu boleh membuka mata kamu."


Sesaat kedua mata indah Fika terbuka lebar. Matanya sudah disilaukan oleh lampu yang berkelap-kelip mengelilingi pohon besar di hadapannya itu. Ia pun tersenyum bahagia. Sampai sesaat ia baru menyadari bahwa Arga sekarang sedang menekuk satu lututnya di bawah Fika.


"Arga kamu.."


Arga tersenyum. Kemudian membuka sebuah kotak kecil berwarna putih dan menampakkan sebuah cincin indah di dalamnya.


"Will you merry me?"


Sesaat Arga mengatakan itu lampu-lampu terang di bawah bukit mulai bersinar meneeangi luasnya padang rumput hijau di sana. Lampu-lampu itu membentuk tulisan WILL YOU MERRY ME? yang di lakukan oleh para siswa dan siswi SMA WIjaya.


Fika yang melihat hal itu tidak mampu menahan rasa bahagia yang menggeby di hatinya. Air mata bahagianya buncah begitu saja seiringan dengan tatapan tulus dari Arga dan peemintaan Arga yang membuatnya tidak sanggup menatap sosoknya.


"Arga ini... " lagi-lagi tangisan Fika pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ini indah sekali Ga."


Arga tersenyum manis. "Ini semua khusus untu kekasih yang sangat aku cintai." Satu tangan Arga meraih lengan Fika. "Menikahlah denganku."

__ADS_1


Di balik tangisannya Fika terkekeh, ia *** tangan cowo itu. "Arga.. kita masih sekolah." Ujarnya yang memancing tawa Arga juga.


"Apa salahnya? Aku hanya ingin kau menjadi milikku dari saat ini juga."


"Tapikan aku sudah menjadi milikmu Ga."


Arga menggeleng. "Itu belum cukup. Sebelum aku benar-benar menjadi imammu."


Fika tertawa kembali.


"Aku hanya ingin menjadi laki-laki pertama dan terakhir yang melamar mu. Dan di saat ini.. aku ingin membuktikan bahwa kau hanya milikku."


Ucapan Arga barusan membuat hati Fika tersentuh. Apalagi saat ia melihat teman-temannya bahkan semua murid SMA Wijaya hadir membuatnya ingin menangis sejadi-jadinya sekarang. Ia tidak menyangka jika Arga akan berbuat hal yang seromantis ini.


"Jadi?"


Fika menatap Arga. "Kamu harus tau Ga. Sekalipun tidak ada cincin di antara kita, aku tetaplah milikmu." Ujar Fika kemudian ia menggengam tangan Arga dan mengatakan.


"Aku bersedia."


Senyum Arga tidak mampu ia tahan. Tanpa menunggu lama lagi cowo itu segera memasang cincin itu di jari Fika. Sebagai simbol bahwa dia adalah miliknya. Setelah memasangnya Arga pun langsung memeluk Fika.


Saat itu juga suara sorakan meriah dari bawah bukit mulai terdengar.


"Ayo guys mulai dari sekarang. Hitung mundur!"


"TIGA!"


"DUA!"


"SATU!!!!!"


DUAR!


Semua orang terpana memandang ke langit yang tadinya hitam menjadi penuh warna meriah dengan letusan kembang api. Tidak hanya satu melainkan di setiap sudut bukit mengeluarkan kembang api yang meledak dengan indah.


Fika semakin menangis melihat hal indah itu di depan matanya sendiri. Dan Arga merasa bahagia karena berhasil membuat Fika kembali bahagia dan menjadikan dia miliknya.


"Itu hanya pembukaan. Guys! Mulai!" Teriak Andre memberikan intruksi yang kemudian langsung di turuti oleh semuanya. Mereka menyalakan kembang api yang sudah mereka bawa sebelumnya dan melakannya di sana.


Kembang api yang dari puluhan orang itu kini telah meluncur ke atas langit membuat cahaya yang teramat terang benerang penuh warna. Semua orang bersorak riak, dan tidak sedikit dari mereka yang mengabadikan moment langka itu.


Bahkan Andre dan Lussy pun kini sedang melakukan live streaming di IG nya masing-masing. Mereka mengapresiasikan kebahagiaan sahabatnya ke publik. Nico dan Iqbal pun sejak tadi sudah lebih dulu melakukan live streaming bahkan sekarang penontonnya sudah lebih dari satu juta penonton.


Maklumlah Iqbal dan juga Nico itu cowo popular yang pastinya banyak pengikutnya.


"Jadi guys gini yah, ini adalah akhir dari kisah cinta si cowo cool dan si culun. So.. bagaimana menurut kalian guys! Tonton terus yah guys sampai abis kembang apinya." Ujar Andre di live streamingnya.


"Wah guys meriah banget kan? Duh gue kapan yah dilamar kaya gini guys? Pengen deh guys." Ucap Lussy yang sama-sama sedang live di sebelah Andre.


"Sama gue aja beb. Nanti gue lamar lo di bulan mau gak?" Sosor Andre nongol di belakang Lussy membuatnya masuk ke dalam sorotan kamera.


"Ogah! Yang ada gue dilamar alien entar. Lo lamar aja tuh kodok betina jangan sama gue. Najis."


"Jangan gitu dong beb. Nanti aku lamar kamu online deh."


Lussy pun menjitak kepala Andre.


"Gila lo mau ngelamar online gue! Sekalian aja lu suruh gue hamil online!"


Lussy pun mendorong Andre. "Udah ah males gue deket kodok bego. Mending gue cari kak Willy." Ujarnya kemudian berlari pergi dari Andre.


"Eh beb! Jangan tinggalkan aku.. ku mohon kepadamu.. tak sanggup diri ini ... hidup tanpa dirimu..." lirih Andre seraya menyanyi riang mengejar Lussy yang justru menjerit histeris seperti di kejar setan.


"Guys! Ini perjuangan seorang pangeran kodok mengejar ular keket guys. Mohon doa dan restunya yah?" Ujar Andre masih di live sreamingnya, disela-sela berlarinya itu.


"Kak Willy tolongin ih, ada kodok minta kawin!" Teriak Lussy berlindung di balik tubuh Willy.


Sementara di atas bukit, Arga terus memeluk Fika dengan eratnya. Ia tidak hentinya menciumi Fika.


Inilah kebahagiaan yang ia tunggu selama ini, begitu pun dengan Fika. Ia sangat-sangat bahagia.


"Fik." Panggil Arga.


"Hem?"


"I love you." Ucapnya membuat kedua pipi Fika merona.


"I love you too."


Arga mencium bibir Fika sekilas sebelum terakhir ia mengucapkan.


"You Unforgettable."


_____________THE END_____________


Gimana guys? Gimana?


Ada yang butuh Extra part?


Jangan lupa LIKE AND KOMEN yah.


Terima kasih untuk semuanya yang sudah setia nunggu up dan juga setia pantau karya aku ini. Meskipun belum dalam deretan terbaik namun aku bangga bisa mencapai titik ini. Walaupun tidak terlalu banyak pembaca namun aku sangat bahagia karena kalian semua selalu mengapresiasikan dan juga memberikan dukungan buat aku dari awal sampai akhir. Ini perjuangan banget sih, tapi aku seneng banget.


Makasih yah semuanya.. Love you so much READERS!😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘




__ADS_1


__ADS_2