
Arga si cowo cool itu sejak pertama masuk ke area permainan ia hanya duduk termenung sambil memerhatikan ketiga orang yang hingga saat ini belum juga selesai berdiskusi perihal permainan apa yang akan mereka coba terlebih dahulu. Ia sendiri tidak berniat ataupun tertarik dengan diskusi mereka. Karena apapun permainannya, apapun wahananya seorang Arga Aldiano akan selalu siap dalam keadaan apapun. Sejak beberapa menit yang lalu Arga hanya merubah-ubah posisi duduknya dan sesekali menguap akibat ngantuk dan jenuh.
Sedangkan Iqbal setelah membelikan es cappuccino untuk Fika dia malah bergabung diskusi dengan Fika dan Alisia. Selain ingin menemani Fika tapi karena cow itu juga malas jika harus duduk bersebelahan dengan Arga.
“Jadi mau yang mana dulu nih?” tanya Alisia tidak sabaran, cewe itu teus memberikan masukkan permainan apa yang bagus untuk dimainkan bersama, namun hal itu justru membuat Fika dan juga Iqbal kebingungan.
“Aku.. gimana kalian aja.” Ujar Fika, jujur dia memang tidak pernah tau tentang semua permainan itu. Bahkan ke tempat seperti ini pun ini adalah yang pertama kalinya.
“Kalo lo Bal? Menurut lo gimana?”
Iqbal mengedarkan pandangannya ke setiap permainan yang ada, hingga akhirnya ia megangguk. “Menurut gue sih, lebih baik kita main permainan yang mudah dulu.”
“Gue setuju.” Suara berat itu berasal dari Arga. cowo itu tiba-tiba saja megheampiri mereka dengan raut sok cool nya cowo itu menatap ketiganya bergantian.
“Gue gak minta pendapat lo.” Sewot Iqbal. Cowo itu entah megapa mulai waspada.
“Terserah, yang jelas gue setuju.” Kekeuh Arga.
“Aku juga setuju kok!” Ucap Alisia penuh antusias. Cewe itu tesenyum sumringah menunjukkan sederet giginya yang rapih di depan Arga dan Iqbal.
“Beb, lo setuju gak?” Tanya Iqbal membuat Fika mendongkak menatapnya.
“Setuju.”
Iqbal megangguk kemudian tersenyum. “Okelah, kalo yang beb gue udah setuju, gue juga setuju.”
Terdegar suara helaan nafas dari Arga. cow itu memutar matanya malas, dan hal itu membuat Iqbal kembali menatapnya tajam. “Kenapa lo? Kelilipan?”
Arga membalas menatap Iqbal. “Gue jenuh liat tingkah bucin lo.”
“Ngomong aja lo syirik!”
“Sorry, gak ada kata syirik di hidup gue.”
Percakapan akhir itu disudahi degan tatapan dingin keduanya. Tingkah mereka yang seperti itu memang seperti anak kecil, namun bagi Fika hal itu membuatnya sangat khawatir. Ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak diingkan pada Iqbal. Secara ia sendiri tau bagaimana Arga, cowo kejam dan dingin itu pasti akan melaukan apapun yang dia ingin hingga tercapai. Dan tidak aka nada orang yang bisa menghentikannya.
Setelah berunding sebentar Fika dan lainnya setuju untuk main permainan tembak sasaran terlebih dahulu. Mungkin bagi sebagian orang permainan ini cukup sulit, namun bagi Iqbal permainan ini adalah permainan ter enteng secara ia juga sering memainkan permainan ini sewaktu ia masih SMP dulu. Teknik dan starteginya pun sudah ia kuasai di luar nalarnya maka dari itu ia merasa percaya diri bahwa dialah yang akan menang dalam permainan pertama ini.
Sedangkan lawannya sendiri Arga, cowo itu tidak juga menunjukkan ekspresi lain selain wajah datarnya. Arga terlihat sangat tenang seperti biasa, ia bahkan tidak ragu sedikitpun saat Iqbal menantangnya untuk berduel.
“Masih ada kesempatan kalo lo mau nyerah sekarang.” Iqbal tersenyum senis sambil menyodorkan satu pistol mainan pada Arga.
“Siapa yang mau nyerah?” Arga meraih pistol mainan itu dari Iqbal. “Justru sejak tadi gue nunggu lo bilang nyerah.” Arga terkekeh kemudian mulai memasukkan pelurunya bersmaan dengan suara degusan dari Iqbal.
“Jangan harap. Gue gak bakal nyerah.” Iqbal muali memasang pelurunya, namun sebelum mulai cow itu memandang Fika telebih dahulu. “Beb, kalo gue menang lo mau hadiah apa?”
Fika tercenung, ia kemudian menatap deretan boneka yang ada disana. Sampai kedua matanya tertuju pada satu boneka tedy bear berukuran besar yang bewarna pink soft dengan syal cokelat di lehernya.
“Aku mau yang itu.” Tunjuk Fika dan langsung dibalas seyuman Iqbal.
“Siap beb. Apapun gue kasih dah.”
“Arga aku juga mau dong!!” Alisia tiba-tiba merangkul lengan Arga, cewe itu meregek layaknya anak kecil yang ingin dibelikan sebuah mainan. “Boneka yang Fika pilih.. aku juga mau.. menangin buat aku yah please..”
“Iyah, apapun gue lakuin buat lo.”
Hal tak terduga yang sangat langka terjadi, Arga tersenyum hangat menatap Alisia yang merengek di sampingnya. Bahkan cowo itu sempat mengusap puncak kepala Alisia dengan sangat lembut. Tentu hal itu menjadi sebuah peyiksaan bagi Fika, kenapa semua ini harus terjadi? Bahkan hanya melihat Arga terseyum pada wanita lain saja sudah membuat nafas Fika terasa sesak. Apalagi melihat perlakuan Arga yang seperti itu, sungguh Fika rasanya ingin lari saja dari sana. Ia tidak sanggup jika harus melihat kemesraan mereka berdua lebih dari itu.
Setelah semua siap Arga dan juga Iqbal megambil posisi masing-masing, keduanya fokus dengan pistol yang mereka pegang dan orang yang pertama kali menembakkan peluru adalah Iqbal. Cowo itu sepertinya sudah tidak sabra untuk menang bahkan dalam hitungan detik cowo itu sudah menjatuhkan banyak penghalang yang artinya tepat sasaran.
Arga di sampingnya masih juga diam, cowo itu tanpa memperdulikan cengengesan Iqbal dia hanya terfokus dengan satu objek utama disana. Objek itu adalah sasaran utama Arga, meskipun dikelilingi lebih banyak jebakan dan juga halangan namun Arga tetap akan mengincarnya, hingga saat itu ia menarik pelatuk pistol itu dengan cepat dan..
“Yey! Kita menang!” Alisia tidak bisa mengrontrol dirinya saat meyaksikan Arga menembak teapt pada sasaran, cewe itu langsung begelayut di leher Arga degan manja dan bahagia.
“Sial!” Iqbal mengumpat, harapan untuk menang telah hilang musnah. Ia terlalu meremahkan Arga, ia tidak menyangka jika Arga ternyata jago juga dalam hal menembak. Siapa yang tau? Ternyata Arga yang memiliki julukan raja talent itu memang benar-benar berbakat. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Iqbal bukan hanya marah namun ia juga merasa bersalah karena janjinya pada Fika tidak bisa ia tepati.
Arga meraih boneka yang tadi Fika maksud dan degan girangnya Alisia melompat-lompat seperti anak kecil yang akan di kasih permen saat Arga memberikan boneka itu padanya. “Makasih Ga, kamu emang the best!”
Arga meresponnya dengan senyuman, namun dalam sesaat tanpa ia sadari ia melirik Fika yang berada di belakang Alisia. Fika tidak menatapnya tetapi ia hanya menunduk sambil meminum kembali es cappuccino pemberian Iqbal.
“beb maaf.” Ucap Iqbal menghampiri Fika. “Maaf yah, gue gak nepatin janji.” Iqbal telihat melas, melihatnya saja membuat Fika bersimpati. Oleh karena itu untuk menenangkan kembali Iqbal, Fika tersenyum sangat manis padanya bahkan ia meraih lengan Iqbal seraya menatap cowo itu.
“Gak papa, lagian Fika juga gak terlalu mau kok. Kita kan bisa beli nanti, jadi jangan sedih yah.” Fika kembali mengurai seyumnya, dan hal itu membuat Iqbal merasa lega sekaligus bahagia.
“Seriusan gak papa?” tanya Iqbal, cowo itu menelengkup kedua pipi cabi Fika.
“Iyah serius.” Keduanya saling melempar senyuman.
“Arga kita ke permainan selanjutnya yuk.” Suara itu datang dari Alisia, cewe itu berusaha mengembalikan perhatian Arga yang sejak tadi terus memerhatikan Fika dan juga Iqbal yang tengah bermesraan. “Arga ayo..” Alisia menarik paksa tangan Arga hingga cowo itu pun akhirnya megikuti langkahnya dan diikuti oleh Fika beserta Iqbal di belakang mereka.
Beberapa lama kemudian setelah mencoba berbagai macam permainan dan wahana yang menantang, keempat insan ini akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum mereka mengakhiri mala mini.
“Arga aku beliin es yah?”
“Boleh.”
“Gue juga dong sekalian.” Ucap Iqbal, cow itu telihat kelelahan. “Alis, gue nitip es dua yah, buat gue sama Fika.”
“Oke, tunggu bentar yah.” Alisia segera pergi membeli minuman. Sedangkan ketiga orang ini mereka duduk di bangku taman yang menghadap ke wahana bianglala.
Beberapa menit berlalu hanya ada keheningan di antara mereka, hanya sesekali Iqbal menanyakan keadaan Fika selebihnya dia juga terdiam juga. Sedangkan Arga dia juga tidak beniat sedikit pun untuk membuka obrolan.
“Selamat yah.” Ucap Arga tiba-tiba. Fika dan Iqbal yang mendegarnya pun langsung menatapnya bingung.
“Selamat apaan lo? Ngaku kalah dari gue?”
Arga tiba-tiba terkekeh. “Lo sendiri yang gak mau ngakuin kekalahan lo. Mala mini adalah malam keberuntungan gue.”
“Gak usah sombong lo. Lo cuman beruntung doang, bukan berarti lo akan selalu menang.” Sewot Iqbal, cowo itu mendelik Arga sinis sebelum kembali sewot. “Trus tadi barusan lo ngomong selamat buat siapa? Buat diri lo sendiri?”
Entah megapa namun senyuman Arga tiba-tiba meghilang. Cowo itu meyenderkan punggungnya ke papan kursi di belakangnya. “Gue ngucapin selamat buat hubungan kalian.”
Entah mengapa namun mendegar Arga mengantakan hal itu membuat Fika sakit hati. Apakah tidak ada sedikitpun kecemburuan dari cow itu untuk nya? Bahkan untuk sekali saja?
Iqbal tersenyum sumringah, ia mendongkak dan tersenyum bangga sebelum merangkul pundak Fika.
“Makasih bro, doain aja kita langgeng sampai pelaminan. Iyakan beb?”
Fika terseyum untuk merespon pertanyaan Iqbal. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
“Kalo itu gue gak bisa jamin.” Ucap Arga, cowo itu telihat serius. Bahkan melihatnya saja Fika sudah bisa menebak ada ambisi tersendiri di dalam perkataan cowo itu.
“Maksud lo?” Iqbal mengeutkan keningnya. Cow itu beralih menatap tajam Arga.
“Gue gak bermaksud apa-apa. Gue cuman bilang, gue gak bisa pastiin kalian sampai pelaminan.”
“Kenapa gak bisa?” Iqbal semakin gencar untuk mendesak Arga. cow itu telihat kesal dikarenakan Arga teus saja membuatnya merasa tertantang.
“karena suatu hubungan tidak akan selamanya bertahan.” Perkataan Arga berhasil membuat Iqbal bungkam. Ia tau sebuah hubungan memang tidak akan selamanya seperti itu, namun ia percaya asalkan ada sebuah mereka bertahan untuk bersama maka semuanya bisa saja terjadi.
“Hai guys, maaf yah lama. Inih inumannya.” Alisia kembali membawa minuman yang baru saja ia beli.
“Makasih yah Alis.” Ucap Fika.
“Oke.” Alisia tersenyum manis, ia kemudian mengambil posisi duduk di samping Arga. “Arga, aku nyobain punya kamu dong.”
Arga meyernyit. “lo kan juga punya.”
Alisia cemberut, cewe itu mendekap kedua tangannya di dada layaknya anak kecil yang sedang merajuk. “Tapikan punya aku rasanya beda Ga. Aku pingin nyobain punya kamu..” Alisia bersih keras, cewe itu kini malah menatap Arga melas berharap cowo itu akan bersimpati. Namun lagi-lagi hal tidak terduga, Arga menghela nafasnya pelan kemudian meyondorkan minumannya pada Alisia.
Hal itu pun langsung membuat ekspresi Alisia berubah drastis, tidak menunggu lama cewe itu langsung meraih minuman Arga dan menyedot minumannya peuh suka cita. “Heem.. enak. Makasih yah Ga, kamu juga mau nyobain punya aku?” Arga menggelengkan kepala.
“Setelah ini kita mau kemana lagi nih?” tanya Alisia, cewe itu malam ini begitu mendominasi bahkan sepanjang permainan berlangsung hanya dialah yang terus menghebohkan suasana.
“Kita naik bianglala lah, itukan wahana yang belom kita coba.” Ujar Iqbal menjawab.
“Iya juga yah, yaudah kita kesana yuk buat antri.” Alisia kemudian berdiri, dan langsung diikuti ketiga orang di belakangnya. “Fik bareng gue yuk!”
__ADS_1
“Eh tapi-“
“Udah AYO!” Alisia dengan paksa menarik lengan Fika, alhasil Fika pun terhuyung saat cewe itu menariknya ke sebrang menuju tempat bianglala berada.
“jangan cepet-cepet Alisia, banyak kedaraan!” Fika merasa ketakutan ia merasa pusing karena bukan hanya banyak sekali orang yang saling berkerumun namun disana juga banyak kendaraan bermotor yang lewat, sedangkan ia sendiri tidak bisa mengontrol langkah kakinya sebab Alisia terus menariknya bahkan cewe itu sama sekali tidak meghiraukan ringisan Fika saat ia mulai merasakan pusing.
Alisia tiba-tiba semakin mempercepat langkahnya bahkan bisa dibilang sedikit berlari. Ia seperti tidak peduli degan apapun bahkan Fika yang sudah mulai sempoyonganpun ia tidak peduli. Arga dan juga Iqbal pun mereka berusaha mengejar Alisia dan Fika karena sepertinya mereka berdua pun sudah mulai khawatir.
“Fik ayo dong, nanti antriannya keburu banyak!” Alisia terus menarik Fika. Sampai Fika sendiri sudah merasa lemas untuk berjalan.
“Alisia berhenti dulu, Fika..”
“Cepet Fik!”
Alisia mulai berlari, entah megapa kali ini dia seperti kerasukan sesuatu. Seperti ada antusia tersendiri baginya. Fika tidak mengerti, ia terlalu lelah dan pusing ia tidak sanggup lagi untuk berjalan sampai suara keras klakson motor berhasil membuatnya terhetak dan menyadari sebuah motor kini bejalan meghampirinya.
“FIKA AWAS!” secara spontanitas Arga dan juga Iqbal berteriak keras di tengah banyaknya kerumunan orang. Hingga motor yang hampir saja menabrak Fika dan Alisia pun berhenti tepat di samping mereka.
Entah dorongan darimana namun Arga langsung berlari menghampiri Fika sebelum Iqbal. Arga menarik lengan Fika hingga tangan Alisia pun terlepas darinya. Cowo itu terlihat marah sampai langsung berteriak.
“LO BEGO YAH? Motor itu baru aja mau nabrak lo!” Arga terlihat sarkastik, namun Fika sendiri hanya mampu menatapnya lemas tidak berdaya, tentu saja ia merasa sangat shock terutama saat Arga tiba-tiba menariknya dan membentaknya seperti itu.
“kalo lo mau mati jangan di depan mata gue! Lo jauh-jauh dari gue baru lo boleh mati!”
Mendengar tuturan Arga barusan membuat Fika menyernyit bête. “Jadi Arga mau Fika mati?”
Arga tiba-tiba saja merasa geram sendiri, sampai ia menelengkup kedua pipi cabi Fika degan gemasnya. “Siapa yang bilang gue mau lo mati? Gue cuman bilang kalo lo mau mati!” sewot Arga semakin garang.
Fika pun akhirnya terdiam, tidak ingin lagi meladeni Arga sampai saat Iqbal langsung merebutnya dari dekapan Arga. “Jangan sentuh cewe gue.” Ujarnya sinis.
Arga antara kesal dan tidak ikhlas pun ia tetap membiarkan Iqbal mengambil alih Fika darinya. Bagaimana pun dia sekarang adalah pacarnya.
“Lo gakpapa kan beb?”
“Gak papa.”
“Syukurlah, gue khawatir banget sama lo.” Tanpa basa-basi lagi Iqbal langsung saja memeluk Fika dengan sangat erat. Fika sendiri merasa sesak dibuatnya, namun ia sendiri mengerti bahwa Iqbal begitu mengkhawatirkannya. Keduanya terlihat sangat romantis.
Lalu apa kabar dengan Arga? Arga si cowo dingin itu kini hanya termenung menatap Iqbal dan juga Fika yang masih berpelukan di depan matanya. Ia tak bisa melakukan apapun, bahkan ingin memisahkan pun itu bukanlah haknya.
“Arga..” Suara lembut dan juga terdengar parau itu berasal dari Alisia yang kini berdiri lesu di belakang Arga. Arga benar-benar melupakan keberadaan Alisia karena saking khawatirnya dengan Fika tadi.
Sial! Batin Arga. Ia langsung berbalik dan menatap Alisia yang sama juga menatapnya.
“Alisia, ma-maafin gue, tadi gue-“
“Aku gak papa kok Arga.”
Arga terdiam, cowo itu benar-benar merasa bersalah. Tidak seharusya ia khawatir pada Fika sampai harus melupakan Alisia yang bersamanya. Kenapa? Bahkan Arga pun tidak tau penyebabnya kenapa. Saat ini dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Sedangkan Alisia sendiri masih menatapnya penuh harapan.
“Alisia, sekali lagi gue minta maaf sama lo. Gue tau gue salah, dan gue minta maaf.”
Ini adalah yang kedua kalinya Fika mengdengar Arga mengucapkan kata ‘maaf’. Karena ia tau Arga bukanlah orang yang mudah dalam mengucapkan kata ajaib itu. Dan pertama kali ia mendegar kata maaf tulus dari cowo itu adalah saat dimana sebuah kebahagiaan kecil direnggut darinya, yaitu masa dimana Arga kembali berubah dan meninggalkannya.
“Aku udah maafin Arga kok. Maafin aku juga yah karena tadi gak hati-hati.” Alisia tanpa harus meminta lagi persetujuan dari Arga, cewe itu melemparkan tubuhnya ke dekapan Arga dengan begitu agresif. Dan Arga pun sama sekali tidak menolak atau pun protes dengan perlakuannya. Cowo itu hanya terdiam tanpa membalas kembali pelukan Alisia.
“Ga kita pulang duluan yah.” Ucap Iqbal akhirnya. “Fika kayanya masih shock, gue takut nanti dia pingsan.”
“Oh oke, gue gak masalah.” Ujar Arga. “Lo pergi aja, Alisia kayanya masih mau naik iya kan?”
“Yaudah gue balik duluan.”
“Jangan Bal.” Fika tiba-tiba saja menahan Iqbal saat cowo itu hendak akan membawanya berbalik. “Kita kan udah setuju naik bianglala buat penutup malam ini. Fika gakmau cuman gara-gara Fika rencana kita harus dibatalin.
Iqbal mendesah. “Tapi beb, lo harus istirahat sekarang.”
“Fika gak papa kok, Fika baik-baik aja… please jangan dulu pulang. Lagian Fika juga masih mau naik itu.”
Wajah memelas dan memohon Fika sungguh tidak bisa Iqbal tahan. Cowo itu rasanya tidak lagi bisa menolaknya. Hingga akhirnya ia pun mendesah kembali. “Oke, tapi cuman sekali yah?”
Iqbal membalas senyuman Fika. “Oke.”
Fika yang terlihat bahagia itupun secara langsung mengajak Alisia untuk bersamanya. “Yu Alisia kita kesana.”
Entah mengapa raut wajah Alisia telihat berubah, ia tidak seperti sebelumnya. Ia menatap Fika penuh arti, meskipun begitu detik berikutnya ia pun terseyum padanya.
“Yuk.”
Setelah menunggu antrian yang begitu banyak, akhirnya Fika dan yang lainnya mulai masuk ke dalam bianglala. Keempatnya masuk dalam satu kurung yang sama. Mereka begitu antusias terutama Fika dan Alisia merasa sangat girang saat bianglala itu mulai bergerak.
“Eh kita sambil main permainan yuk.” Ujar Alisia.
“Permainan apalagi?” tanya Iqbal dia terlihat sangat risih dengan saran Alisia kali ini.
“Heem.. main truth or dare yuk?"
“Serius lo? Masa main yang kaya gituan disini? Gila lo.” Iqbal semakin merasa tidak senang.
“Ayolah.. kalian jangan cemen gitu dong, permainan ini mudah kok.”
“Alisia, jangan maksa mereka kalo mereka gak mau.” Ucap Arga. namun dari ucapan Arga barusan sepertinya Iqbal mengartikannya berbeda hingga ia merasa terendahkan.
“Apa maksud lo Ga? Gue gak takut yah kalo mau main itu. Gue cuman kasian sama cewe gue.”
Iqbal sangat menyala-nyala, etah megapa semenjak kejadian tadi cowo berubah seperti cewe yang lagi PMS.
“Fika mau kok main itu.” Ucap Fika, dia sebenarnya tidak terlalu mengeti namun ia tetap ingin mencobanya.
“Tuhkan Fika aja setuju kok Bal.”
Iqbal mendengus, ia pun mau tak mau akhirnya menyetujui permainan itu.
“Aku akan muterin botolnya, dan siapapun yang kena dia harus menerima tantangannya.”
Alisia memutarkan botol minumannya dengan cepat, sampai kemudian ujung botol itu berhenti dan menunjuk pada salah satu orang yaitu Iqbal.
“Iqbal, truth or dare?” Tanya Alisia.
“Truth.”
“Oke, heem.. apa kamu pernah berciuman dengan Fika?”
Pertanyaan Alisia itu membuat semuanya tediam canggung. Iqbal pun harus terdiam sejenak sampai akhirnya menggeleng. “Blom pernah.”
“Serius?” Alisia telihat antusias dan penasaran namun Iqbal disana menatapnya malas.
“Emangnya lo kira pacaran itu harus wajib ciuman? Gue niat pacaran bukan karena pingin mengalakuin itu, tapi karena gue suka sama dia.”
Penjelasan Iqbal yang panjang kali lebar itupun membuat Alisia terseyum puas. “Oke, aku percaya kok.”
“Next lah!” tempas Iqbal, dia terlihat tidak sabaran.
Alisia pun langsung memutar kembali botol minumnya, dan moncong botol itu berakhir di dirinya sendiri.
“Nice! Giliran gue.” Ujar Iqbal. Entah mengapa seringaian cowo itu telihat sangat jahat kali ini.
“Alisia, truth or dare?”
Tanpa ragu Alisia mengucapkan. “Dare.”
Seperti yang Iqbal harapkan cowo itu lagi-lagi meyeringai licik. “Oke, cium Arga sekarang.”
Bukan hanya Fika yang terkejut melainkan Arga sendiri terkejut dengan tantangan Iqbal barusan. Namun jauh dari ekspektasinya, Alisia justru terlihat senang bahkan berani untuk melakukannya. Ia pun segera mendekatkan tubuhnya dengan Arga, Arga pun terdiam saat Alisia mendaratkan ciuman lembutnya di pipi cowo itu namun dalam sekilas satu detik atatapan Arga beralih pada Fika yang terlihat sangat kecewa berikut tidak percaya.
“Wah wah, kayanya kalian udah sering ngelakuin itu?” kata Iqbal mencoba menebak-nebak. Namun hal itu dikomentari seyuman Alisia yang terlihat malu-malu.
“Kamu juga tau lah.” Ucapnya tanpa malu.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Alisia, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil kembali memutar botol minuman itu. Dan orang yang beruntung kali ini adalah Fika. Fika antara siap dan tidak siap, ia hanya bisa meneguk salivanya perlahan.
“Karena Iqbal dan aku udah saling ngasih tantangan, jadi sekarang giliran Arga yang ngasih tantangan buat Fika.” Kata Alsia.
Demi appaun, Fika saat ini sangat tegang. Apalagi saat kedua manik mata Arga kini meatapnya tajam.
“Truth or dare?” tanya Arga serius.
“Truth aja Fik.” Ujar Iqbal menyarankan. Ia telihat khawatir dengan Fika.
“Ih Iqbal diem! Jangan mempengaruhi Fika, biarin dia yang milih sendiri. Lagian apapun kedaannya dia pasti milih truth. Gak usah dipaksa gitu.”
Entah megapa ucapan Alisia barusan seperti menantang Fika, sekaligus meledeknya kalau dia tidak akan berani jika memilih ‘dare’ hal itupun membuat Fika merasa ingin menantang dirinya sendiri sekaligus membuktikannya pada Alisia.
“Dare.” Tegas Fika, ia terlihat sangat percaya diri dengan menatap Arga yang juga menatapnya.
“Fik! Jangan pilih dare.” Iqbal tak juga menyerah cowo masih merasa khawatir dan curiga.
“Wow Fika, ternyata kamu cukup berani yah.” Alisia terseyum licik.
“Fika berani kok, kenapa harus takut?” Fika masih tetap meyakinkan dirinya untuk berani, ia yakin bahwa dia bisa melakukan segala tantang dari Arga.
“Oke, rupanya lo cukup berani malam ini. kalo gitu gue tantang lo sekarang buat…”
Perkataan Arga terjeda beberapa saat karena cowo itu tiba-tiba saja meyeringai licik mentap wajah polos Fika. “Buat apa?” Fika yang terlihat tidak sabaran pun akhirnya bertanya.
“Buat… cium gue.”
BRAAAK!
Suara keras itu berasal dari Iqbal yang tiba-tiba saja memukul dasar besi, ia telihat sangat emosi sampai ia menatap tajam Arga dan mencekal kerah Arga dengan kasar.
“APA MAKSUD LO HAH!? BERANINYA LO DI DEPAN GUE!” Iqbal hemdak akan memukul Arga namun Arga berhasil menahan kepalan cowo itu.
“Apa yang salah? Permainan ini sudah di setujui oleh semuanya, dan lo juga setuju! Di permainan ini semua bebas memberi tantangan apapun tanpa adanya peraturan yang harus dipatuhi. LO HARUSYA TAU ITU!”
Arga mendorong Iqbal sekuat tenaga hingga cow itupun terlempar membentur kursi besi di belakangnya. Di tengah putaran ke dua bianglala ini justru tejadi perkelahian diantara kedua cowo tampan itu.
“Cukup! Kalian jangan rebut lagi!” Fika beteriak saat melihat Iqbal terlihat kesakitan, ia pun mencoba membangunkan Iqbal dengan hati-hati.
“Arga, Fika minta Arga jangan kasar sama Iqbal. Kasian dia!”
Arga mendecih. “Terserah gue. Dan disini gue gak ngerasa besalah, ini permainan yang lo sendiri setujui, bahkan lo terlihat sangat berani kan saat gue tantang lo? Kemana keberanian lo tadi?”
“Fika berani kok!” Fika sudah tepancing emosi, bahkan sekarang dia telah berdiri. “Jangan metang-metang Arga bisa melakukan apapun tapi bukan berarti Fika bakal takut sama Arga! Fika gak takut sedikit pun sama Arga!”
“Oyah? Lo gak takut?”
“Iyah Fika gak takut!”
“Berarti lo gak takut buat cium gue?”
Fika sedikit gugup ia sempat menelan ludahnya berat, dan di saat bersamaan Arga tersenyum.
“Kemari!” Arga mengacungkan teunjuknya dan memberi aba-aba bagi Fika untuk meghampirinya.
“Fik gue mohon jangan, please demi gue.” Iqbal mencoba meraih tangan Fika menahannya untuk mendekati Arga. namun sayangnya untuk kali ini Fika sama sekali tidak menghiraukannya.
“Arga.. kamu yakin?” Alisia juga merasakan hal yang sama seperti yang Iqbal rasakan, ia terlihat sangat gelisah terlebih ia juga merasa masih shock saat Arga menantang Fika untuk menciumnya, sungguh jauh dari eksprektasinya ia fikir Arga akan membuat Fika menderita namun nyatanya? Dia telah salah menilai Fika dimata Arga. Alisia sudah kecolongan sekarang, bagaimana pun dia tidak akan membiarkan Arga dan Fika melakukan hal itu.
Lagi-lagi Arga sama sekali tidak menghiraukan Alisia, cowo itu tidak megalihkan sedikitpun tatapannya pada Fika. Hal itu membuat Alisia emosi bertubi-tubi dan frustasi tingkat dewa. Bagaimana ini?
“Lo ma uterus berdiri disitu sampe pagi?” ucapan Arga membuat Fika seketika melangkah lebih mendekat padanya. Arga masih dalam posisi duduk, sedangkan Fika mencoba teus melangkah perlahan.
Bagi Arga pergerakan Fika sungguh lama hingga ia pun langsung menarik paksa Fika membuatnya terhetak dan menubruk tubuh Arga lebih tepatnya diatas tubuh Arga.
Fika tetunya merasa panas dingin, dia tidak begitu gugup berada sangat dekat dengan Arga. bahkan dalam posisinya seperti itu ia sudah menempel pada Arga.
Fika terasa tersengat sesuatu saat Arga menyentuh sebelah pipinya. “Kapan lo cium gue?”
Entah mengapa pertanyaan Arga terdegar sangat meyebalkan bagi Fika.
Fika seketika menutup matanya rapat-rapat, dia mecoba untuk berani walaupun dia juga ragu. Sampai saat ia mendekatkan wajahnya, Arga justru menahan belakang kepalanya hingga Fika tidak bisa menarik lagi kepalanya, itu artinya ia hanya bisa bergerak maju. Disaat Fika masih melakukan pemanasan, Arga yang sudah merasa jengah pun akhirnya mendorng kepala Fika hingga kini bibir keduanya telah menyatu.
Fika sedikit berontak saat Arga semakin menekankan bibir Fika ke bibirnya. Ini bukan hanya sebuah ciuman singkat namun Arga benar-benar megambil kesempatan ini.
Arga menahan tubuh Fika dengan cara memegang pinggang Fika dengan tangan kirinya. Namun hal yang membuat Fika semakin terkejut adalah saat Arga menggerakkan bibir bawahnya dan megusap lembut bibir bawah Fika, terasa lembut dan kenyal. Arga meraih wajah Fika dan menyetuh bibir Fika membuatnya sedikit terbuka, dan hal itu ia manfaatkan untuk menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Fika. Fika terkejut bukan main ia mecoba berontak namun tidak bisa. Disaat bersamaan Arga semakin memperdalam ciumannya perlahan demi perlahan. Fika tidak bisa melakukan apapun selain hanya diam merasakan bibir kenyal dan lembut Arga yang tengah menjajah di bibirnya.
Terasa hangat dan semakin memanas, nafas mereka terengah sampai tiba saatnya Arga melepas ciumannya. Keduanya saling menatap penuh gairah.
“Manis.” Arga mengusap bibir Fika yang sedikit bengkak akibat ulahnya, ia tersenyum bangga saat melihat bibir merah mungil Fika membangkak karena ulahnya. Bahkan rasanya ia ingin kembali mengulangnya. “Gue masih mau.”
Fika melotot, tidak kali ini tidak lagi. Fika mendorong kuat Arga dan membuatnya kembali berdiri. Namun Arga justru tersenyum penuuh arti.
“Fika, asal lo tau. Seberapa jauh lo pergi dari hidup gue, lo pasti akan tetap kembali kedalam dekapan gue.”
Guys, aku mau survei nih... mohon bantuannya...
Apasih yang bikin kalian suka dengan novel ini? Atau cerita ini?
Please kasih jawabanya di kolom komentar yah... soalnya ini sangat membantu aku buat mengupload ceritanya ke setiap aplikasi. Atau bisa juga diterbitkan mohon bantuannya yah para pembaca yang baik hati dan penuh kesabaran..
Untuk episode selanjutnya akan segera di update..
PROMOSI NEXT NOVEL
1
Coming soon_
Gendre : Fantasi
Telah dibaca : lebih dari 3.58 ribu di Wattpad
Sinopsis : Seorang gadis polos yang selalu merasa kesepian dan merasa tidak ada seorangpun yang mengerti dirinya
Namun kehidupannya berubah saat ia bertemu dengan seorang laki-laki yang misterius dan ternyata bukanlah manusia biasa, pertemuan itu membawanya kedalam kerumitan dan dunia yang berbeda
Hingga akhirnya ia menemukan sebuah kenyataan hidup dan jatidiri yang sesungguhnya
Namun apakah ia akan menerima siapa ia yang sesungguhnya? Dan apakah ia akan menemukan apa yang dia cari selama ini?
2
Coming soon_
Gendre : Teenfiction
Belum Di Publikasikan
Sinopsis : Reputasinya sebagai ketua geng sekaligus pemilik gelar cewe ternakal hampir terancam karena kehadiran seorang cowo yang berhasil menarik perhatiannya.
Berawal dari rencana untuk menaklukan berubah menjadi sebuah obsesi yang membuatnya melakukan apapun untuk mendapatkan cowo idamannya.
Andra sebagai ketua geng motor adalah cowo berbahaya yang tidak di ketahui oleh banyak orang. Sisi gelapnya telah menyeret Jessie kedalam kehidupannya yang rumit sekaligus kedalam dunia cinta yang menyesatkan dirinya.
Akankah Jessie dan Andra akan bersatu dalam perbedaannya?
Masih banyak lagi ceritanya tapi untuk sekarang 2 dulu yah..
See you in the next chept》》》
__ADS_1