Unforgettable

Unforgettable
Kecemburuan 2


__ADS_3

Pagi hari telah tiba, Fika dan Arga telah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah keheningan yang panjang di antara keduanya selama sarapan. Hingga akhirnya Arga memanggil Fika untuk segera turun dan berangkat.


"Lama lo!" Sewot Arga saat melihat Fika yang baru saja keluar melewati pintu.


"Maaf tadi Fika lupa bawa hape."


Fika berlari menghampiri Arga yang tengah bersandar di mobil sprotnya. Dan tanpa memperdulikan Fika lagi, cowo itu langsung membuka pintu dan melemparkan tasnya ke dalam mobil.


"Cepetan!" Sentak Arga lalu masuk ke dalam mobil. Sedangkan Fika berlari memutari mobil Arga dan masuk duduk di samping Arga.


"Den, maaf ada yang nyariin di depan?" Ujar satpam rumah Arga tiba-tiba datang mengetuk kaca mobil Arga.


"Siapa?"


"Waduh, mamang kurang tau den. Cuman mamang pernah liat non Fika pulang bareng dia."


Arga menyernyit lalu menoleh menatap Fika penuh tanya.


"Fika gak tau. Yang pernah nganter Fika pulang cuman Iqbal. Apa mungkin itu Iqbal?


Mendengar perkataan Fika, langsung membuat Arga membali memalingkan wajahnya.


"Gak usah di urusin mang. Kita mau berangkat udah mau telat."


"Tapi den trus dia gimana?"


"Usir dia."


"Tapi den-"


"Kalo gak ada yang mau di omongin lagi, kita mau pergi."


Mang Tono mengehela nafas pasrah. "Iyah den."


Mobil Arga mulai berjalan keluar. Baru saja melewati gerbang namun Arga terpaksa kembali menghentikannya karena ada seseorang disana yang justru dengan sengaja menghadang jalan mobilnya dengan motor. Hal itu tentunya membuat Arga kesal. Arga pun menekan klakson mobilnya bertubi-tubi.


Tid!tid!tid!tid!


Sayangnya orang itu sepertinya enggan untuk pergi.


"Cari mati!" Gertak Arga.


Arga mematikan mesin mobilnya segera lalu membuka pintu mobil dengan kasar. Fika yang masih berada di dalam merasa was-was takut akan terjadi perkelahian antara Arga dan juga Iqbal di sana. Mau tak mau ia pun ikut turun dari mobil Arga.


"Minggir lo!" Teriak Arga.


Cowo yang kini tengah duduk di motor sport merah itu pun tergerak membuka helmnya menampakkan wajah tampannya yang berseri-seri. Kini kedua cowo tampan dan kaya ini saling melempar tatapan dingin.


"Kalo gue gak mau gimana?"


Arga menajamkan tatapannya. "Itu artinya lo cari mati sama gue."


Iqbal menyeringai. Cowo itu turun dari motornya. Tidak sedikitpun berniat untuk menyingkir. Tatapan cowo itu teralihkan dengan Fika yang masih berdiri kaku di samping mobil Arga.


"Fik, lo bareng gue aja." Ajak Iqbal santai bahkan sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Arga di sana.


"Lo gak usah takut Fik, gak akan ada yang nyakitin lo selagi gue di sini."


Sepertinya ucapan Iqbal barusan ditujukan untuk Arga. Dan Arga sendiri tentu memahaminya. Satu hal yang harus dicatat, Arga cowo itu tidak akan pernah melepaskannya. Apa yang sudah ada dalam genggamannya maka selamanya akan di sana. Jika ada yang merebutnya maka harus berhadapan langsung dengannya .


Iqbal tergerak lalu menarik lengan bebas Fika, cowo itu hendak akan menuntun Fika ke motornya. Namun tentu saja Arga tidak akan menbiarkannya begitu saja. Arga sendiri langsung sigap meraih tangan kiri Fika untuk mempertahankannya berada di sisinya.


"Lo pikir akan semudah itu? Lewati gue dulu kalo lo bisa." Arga terlihat serius dengan ucapannya. Bahkan cengkraman di lengan Fika terasa sangat kuat. Cowo itu benar-benar tidak akan melepaskannya.


"Lo pikir gue takut?"


Arga menggertakkan rahangnya, begitupun dengan Iqbal. Cengkraman kedua cowo itu tiba-tiba semakin menguat di tangan Fika. Fika pun sudah bisa merasakan kesakitan.


Arga menarik Fika hingga tubuhnya oleng dan menubruk dada bidang milik cowo itu. "Lo mau lepasin dia secara halus? Atau mau gue yang lakuin secara kasar?"


Ucapan Arga terdengar sangar dan menakutkan. Namun sepertinya tidak untuk Iqbal. Bukannya melepaskan Fika, tapi Iqbal justru dengan lancangnya meraih pinggang ramping Fika menariknya dan mendempetkannya dengan tubuhnya.


"Sekarang Fika bersama gue."


Sungguh tenaga kedua cowo ini benar-benar kuat. Bahkan untuk menolak pun sangat sulit. Fika sama sekali tidak di beri kesempatan untuk menolak ataupun melawan. Ia hanya mampu pasrah di ombang-ambing mendarat di dada Arga atau dada Iqbal. Bagaimana pun ia tidak sanggup melawan keduanya.


Tatapan Arga menajam. Tangannya sudah mengepal kuat di samping saku celananya. Yang mungkin siap untuk melayangkan kembali pukulan keras untuk Iqbal.

__ADS_1


"Singkirkan tangan lo darisana." Nada bicara Arga penuh penekanan. Menandakan ia benar-benar serius.


Bukannya melepaskan. Sepertinya Iqbal semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Fika. Bahkan Fika sampai menahan dada Iqbal dengan tangannya agar tubuhnya tidak semakin menempel dengan cowo itu. "Iqbal." Ucap lirih Fika.


Fika berusaha meronta namun Iqbal tidak membiarkannya sedikitpun. "Lo aman sama gue Fik." Kekeuh cowo itu.


"Gue peringatin lo sekali lagi." Tegas Arga lagi. Kemarahan Arga rupanya telah sampai hingga di ubun-ubunnya. Sebentar lagi akan meledak. Bersiaplah untuk perang dunia ke 3.


Hal yang membuat kemarahan Arga meledak saat ini bukan karena Iqbal yang tak juga melepaskan pelukannya tetapi karena cowo itu dengan lancangnya mencium puncak kepala Fika dengan sengaja.


Arga menggeram layaknya serigala yang siap menerkam mangsanya. Perbuatan Iqbal kali ini sudah melewati batas. Tidak! Arga tidak akan membiarkannya melakukan hal yang lebih dari itu. Buku-buku tangan Arga telah mengeras kuat, urat-uratnya menjalar terlihat jelas di tangannya yang memutih.


"Waktu lo habis!" Arga menarik Fika kasar hingga Fika tersentak dan berada di posisi belakang Arga. Sedangkan Arga sendiri telah mencengkram kerah maju Iqbal kuat.


"Kenapa lo marah Ga?" Tanya Iqbal polosnya. Entah hanya kepolosannya atau memang cowo itu tengah memancing emosi Arga semakin dalam.


"BACOT LO!"


Bug!


Arga menghantam wajah Iqbal keras hingga cowo itu terhuyung menabrak motornya sendiri. Iqbal mampu merasakan perih di wajahnya sekarang. Namun Arga tidak sedikitpun membiarkannya untuk lengah. Karena saat ini Arga kembali mencengram kerah Iqbal, mengangkatnya hingga wajah keduanya sejajar.


"Lo melangkah di luar garis peringatan. Dan ini hukuman bagi si pelanggar!"


Bug!


Bug!


Bug!


"Arga!" Fika berteriak semampunya ia meraih pundak Arga berusaha menariknya dari Iqbal. Namun sayangnya Arga terlalu kuat, cowo itu masih memberikan pukulannya untuk Iqbal sampai cowo itu tertatih lemah bahkan tubuhnya telah ambruk.


"Arga hentikan! Arga please.." Fika hampir saja menangis, ia benar-benar tidak kuat lagi melihat Iqbal yang telah lemah dengan wajah memar penuh darah akibat pukulan Arga.


"ARGA STOP!" Teriakan Fika kali ini membuat cowo itu berhenti. Arga menoleh menatap Fika dengan tatapan menyala-nyala. Emosinya belum juga turun namun saat mata itu menangkap sebuah air mata yang luruh dari mata cokelat milik Fika membuat kemarahan yang membara itu padam seketika.


"Arga cukup.." Suara Fika terdengar parau. Ia takut, sungguh ketakutan. Apa yang Arga lakukan telah membuatnya katakutan terutama dengan melihat keadaan Iqbal saat ini.


Tangan Arga tergerak untuk meraih lengan Fika namun saat itu juga Fika melangkah mundur. Fika menghindari Arga? Yah, cewe itu terlalu takut, takut jika Arga juga akan menyakitinya. "Fik," panggil Arga lembut.


"Fik." Arga berusaha untuk menyentuh pundak Fika namun betapa terkejutnya ia saat justru Fika menepis lengannya.


"Please Ga, beri aku waktu buat Iqbal. Kamu udah bikin dia terluka!" Suara Fika terdengar gemetar, cewe itu menahan segala amarah dan juga ketakutan bersamaan. Sungguh kali ini hatinya terasa sakit. Mengapa Arga memukul Iqbal? Dan kenapa Arga tidak boleh Iqbal dekat dengannya? Sebenci itukah Arga pada Fika? Bahkan untuk memiliki sahabat pun ia hancurkan.


"Fik."


"Fika akan ikut Arga. Tapi tolong kasih waktu buat Fika obatin Iqbal!!" Kini nada Fika meninggi membuat Arga sendiri terdiam. Cowo itu berdiri kaku dengan ekpresi tak mampu dibaca. Detik berikutnya Arga kembali mengontrol dirinya lalu memasukkan lengannya yang penuh darah ke dalam saku.


Ia melangkah mundur dan diam menyenderkan tubuhnya di mobil sambil menyaksikan Fika yang tengah mengobati Iqbal.


Beberapa menit kemudian.


"Iqbal kalo masih sakit jangan dulu sekolah yah. Nanti Fika izinin ke wali kelas Iqbal."


"Gak usah Fik. Gue baik-baik aja, cuman luka kecil doang."


"Luka kecil apaan? Memar gini kok. Pokonya Iqbal jangan dulu masuk sekolah. Iqbal harus istirahat di rumah." Kekeuh Fika.


Iqbal tersenyum manis meskipun sedikit perih namun cowo itu tak tanggung-tanggung untuk tersenyum membuat Fika sedikit lega. "Segitu pedulinya lo sama gue?"


"Peduli lah, Iqbal kan sahabat Fika."


Iqbal kembali mengurai senyumnya. "Iyah, tapi lo juga harus percaya Fik, kalo gue gak papa."


Iqbal menyentuh puncak kepala Fika sayang. "Gue kan cowo tangguh. Hanya pukulan kecil begini gak akan sedikit pun menghentikan gue buat ngejar lo Fik."


Fika memukul pundak Iqbal tanpa tenaga. "Apasi. Ngomongnya ngawur mulu."


Iqbal tertawa kecil kemudian mencubit pipi tembem Fika dengan gemas. "Gue serius beb."


"Ish!" Fika meringis lalu menepis tangan Iqbal dari pipinya. "Sakit tau."


"Bodo."


Miris yah rasanya menyaksikan kemesraan di tengahnya terik matahari pagi. Tentu saja keakraban yang kini tengah berlangsung behagia itu di saksikan oleh satu cowo berdarah dingin yang tidak hentinya menatap kedua insan yang tengah berbahagia disana.


Kesal, marah, sakit hati bercampur aduk. Namun apa daya dia. Saat ini cowo yang bernama Arga itu tidak mampu melakukan apapun. Sadis rasanya menyaksikan gebetan di gebet orang tuh. Apalagi gak dianggap. Sakitnya melesat sampe ke tulang.

__ADS_1


"Ekhem." Arga berdehem membuat kedua manusia yang tengah tertawa renyah itu berhenti. Sepertinya Fika dan Iqbal sudah melupakan keberadaan Arga di sana. Haha.. mampus! Ups maaf greget saya.


"Selesai. Iqbal jangan terlalu banyak gerak aja. Nanti kali lukanya kebuka lagi, Iqbal olesin ini aja yah. Bisa kan sendiri?"


"Gak bisa."


"Ih masa gak bisa sih?"


"Gue mau nya diolesin sama lo."


"Ish! Dasar manja."


"Gak papa. Gue kan manjanya sama lo doang."


"Astaga.. apasi Bal." Fika menggeleng-gelengkan kepalanya merasa geli sendiri dengan omongan Iqbal yang meningkat manis pagi ini.


"Ekhem." Suara deheman kembali terdengar. Fika pun segera membereskan kotak obat disana lalu memasukkan kembali ke tasnya. Ia bangkit diikuti Iqbal yang juga bangun dari duduknya.


"Iqbal, Fika pergi dulu yah."


"Oke, jaga diri lo yah. Kalo dia macem- macem langsung telpon gue."


Fika tersenyum. "Arga gak akan nyakitin Fika. Percaya deh."


"Oke deh. Gue akan ngawasin lo dari belakang."


"Hem.. yaudah terserah Iqbal."


Fika berbalik dan melangkah mendekati Arga. Cowo itu menatapnya misterius.


"Udah selesai?" Tanya Arga tiba-tiba.


"Udah." Jawab Fika singkat.


"Kalo gitu kita berangkat sekarang."


Fika mengangguk dan tanpa menunggu lagi perintah Arga, dia langsung masuk kedalam mobil cowo itu.


"Gue titip Fika." Ujar Iqbal masih berani pada Arga.


Arga tidak mempedulikan omongan Iqbal, cowo itu berbalik dan akan membuka pintu mobil namun sebelum itu Arga kembali melihat Iqbal.


"Lo gak berhak." Ucap Arga dingin membuat Iqbal menyeringai mengerikan.


"Lo juga gak berhak atas dirinya. Saat ini dia bukan milik siapapun. Tapi..."


Iqbal melangkah mendekati Arga.


"Gue pastiin dia akan jadi milik gue nanti."


Senyuman Iqbal menghilang saat melihat Arga yang justru tersenyum miring padanya.


"Dan sebelum dia jadi milik lo."


"Gue yang akan lebih dulu milikin dia."



Maaf lama banget yah up nya.. maafkan saya guys. Karena minggu kemarin saya sakit jadi gak bisa nulis cerita.


Di bab ini jujur sebagai penulisnya sendiri aku benar-benar greget sama Arga. Hehe padahal aku sendiri yang buat karakternya gitu.


Menurut kalian gimana dengan bab ini?


Sama gregetnya gak? Atau justru biasa aja..


Kasih komentarnya yah sama jangan lupa likenya. Biar aku semangat!


Sedikit bocoran. Untuk bab-bab berikutnya Arga akan mulai memahami perasaannya looh.. jadi jangan bosen terus pantau cerita ini yah.


Yang mau tau karakter Arga.


Ini dia fotonya...



♡Arga Aldiano♡

__ADS_1


__ADS_2