
"Nyet, lo putus ya sama cewe lo?" Suara Andre yang berteriak dari ujung pintu begitu menggema hingga ke penjuru kelas. Cowo itu berjalan sambil menenteng tas di pundaknya menghampiri Nico yang tengah duduk menaikkan satu kakinya ke atas kursi.
"Mulut lo gakusah kaya toa juga Dre." Protes Nico merasa Andre terlalu berlebihan dan terlalu bahagia karena ia putus.
Andre menyengir menunjukkan sederet giginya yang rapih. "Selow bro. Nanti gue cariin dah yang lebih montok dan semok buat lo." Ujar Andre dengan menepuk pundak keras Nico kemudian duduk di sampingnya.
Nico sama sekali tidak ingin menanggapinya, sedangkan pandangannya kini hanya tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan. "Tumben lo dateng siang Ga?" Ucapnya saat melihat Arga yang ikut duduk di sampingnya.
"Telat bangun." Ujar singkat Arga. Cowo itu meletakkan tasnya di atas meja. Lalu membuka kunci hapenya.
"Bos! Gak kangen sama gue?" Ucapan Andre barusan berhasil membuat Arga mendeliknya tajam. "Kemarin lo kemana aja bos? Kok gak nagabarin aku?" Lagi-lagi Andre mengucapkannya dengan nada yang manja, hal itupun membuat Arga kembali tidak menanggapinya. Ia justru semakin fokus dengan benda pipih di tangannya.
"Elah bos, jawab ke."
"Kemarin gue sibuk."
"Serius?"
"Hem."
"Tapi gue kemarin liat si Fika masuk mobil lo, kalian abis jalan bareng yaa...?"
Arga mengangkat kepalanya sesaat namun kembali lagi menunduk. "Mata lo yang bermasalah kali."
"Halah bos, ngaku aja deh. Lagian banyak yang liat kok. Wah.. jangan-jangan cinta lama sudah tumbuh kembali nih.."
Arga menatap Andre tajam. Tatapannya begitu dingin dan menyeramkan. Bahkan Nico dan Willy pun memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan tajam Arga. Sedangkan Andre ia membeku dan memalingkan muka. "Gakjadi boss.. anggap aja gue lagi ngelantur."
"Woi! Ada pak Warto!" Suara teriakkan seorang siswa membuat seisi kelas langsung bergegas menempati tempat duduknya masing-masing. Seperti yang mereka ketahui, pak Warto guru Matematika itu akan masuk untuk memulai pembelajaran.
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagi pak..."
Pak Warto memasukki ruangan dengan menenteng tas jinjing hitam di tangannya. Namun hal yang menarik di antara para murid adalah keberadaan seseorang yang kini berjalan membuntutti pak Warto. Satu pertanyaan yang sama. Siapa dia?
"Nah anak-anak, sebelum kita mulai pembelajaran. Bapak membawa seorang murid pindahan, dan sekarang dia akan bersekolah disini. "
Suara-suara dari para siswa kelas XII IPA 1 mulai terdengar heboh. Terutama para siswa perempuan, mereka mulai saling berbisik sambil menatap kagum dengan murid pindahan yang kini tengah berdiri di samping pak Warto.
"Astaga dia ganteng banget. Dia jomblo gak yah?"
"Buat gue deh gakapapa"
"Shit! Dia gak kalah ganteng sama Arga.. Oh my god!"
"Kayanya dia pinter deh.. duuh gemes deh gue."
"Gue siap taruhan kalo dia pasti bisa ngalahin gantengnya Arga."
"Hus!! Arga gakada tandingannya tau. Kita blom tau dia punya kemampuan apa aja, sedangkan Arga? Dia udah master dari semuanya."
"Halah.. kita liat aja nanti. Lagian yah, kalo gue sih gak peduli, yang penting bagi gue dia ganteng hehe.."
Antara gemas dan juga kagum, semua perempuan disana mulai mencuri-curi pandang pada murid baru itu. Ditengahnya sebuah kekaguman, namun tentu pasti ada seseorang tidak menyukainya. Terutama dengan orang yang kini tengah mengepalkan tangannya di bawah meja.
Bukan tanpa alasan mengapa ia sangat marah, tapi karena ia begitu tau siapa murid baru yang kini juga sedang menatap ke arahnya sinis. Ia tersenyum seolah ia baru membuka kartu kematian bagi lawannya.
"Silahkan, kamu perkenalkan diri kamu." Ujar pak Warto, yang langsung dianggukki cowo itu.
Cowo bertubuh tinggi itu tersenyum manis bahkan membuat semua perempuan ingin menjerit di tempatnya. Hidungnya yang mancung serta bibirnya yang sedikit tipis kemerahan semakin membuatnya terlihat seperti oppa korea. Cowo itu menenteng tasnya di pundak. Lalu kembali mengurai senyumnya dengan menunjukkan sederet giginya yang putih dan rapih. Ia tersenyum hingga matanya sedikit menyipit.
"Hai, kenalin nama gue Iqbal. Senang bertemu kalian."
*****
2 jam kemudian_ (Di kelas lain)
"Fika, kamu kedepan. "
Fika masih diam membeku di kursinya meskipun bu Retno guru Kimia itu sudah beberapa kali memanggilnya. Sudah sekitar 2 jam lamanya suasana kelas begitu hening dengan sensasi ketegangannya masing-masing. Ekspresi ketegangan mereka begitu terlihat dari bagaimana mereka menatap bu Retno yang berdiri tegak di depan. Tidak ada satu pasang matapun yang berusaha berpaling, atau mereka akan tau akibatnya. Sekali lengah maka dia akan jadi korban hari ini.
Bu Retno adalah guru yang paling di takuti oleh para murid, dialah yang memiliki gelar guru killer, siapapun akan dibuat terbungkam dan membeku di hadapannya. Terutama saat bu Retno memanggil siswa untuk mengerjakan soal ke depan secara random.
"Fik, maju." Ucap Lussy membisik.
"Fika nggak bisa."
"Maju aja dulu, nanti gue bantu dari sini."
"Gimana caranya?"
"Udah lo maju aja, nanti gue bantu doa dari sini .. hehe.." Lussy menyeringai sambil menepuk pundak Fika yang tegang. Fika benar-benar pasrah. Ingin sekali rasanya ia keluar darisana namun ia tidak bisa. Kakinya terasa membatu, jangankan melangkah ke depan. Berdiri saja rasanya tidak sanggup.
"Ih Lussy aja deh, Fika nggak ngerti."
"Ngertiin aja. Nanti lo juga bisa kok, percaya sama gue."
"Kalian berdua!" Bu Retno berteriak membuat Fika dan Lussy terhentak menoleh. "Ngapain kalian bisik-bisik?"
__ADS_1
"Eh nggak bu, tadi katanya Fika mules bu. Makanya dia nggak bisa bangun dari kursinya. Kalo dia bangun takutnya mencret bu."
"Hahahahha..." Ucapan Lussy yang secara spontan keluar dari mulutnya tanpa harus berfikir panjang membuat seisi kelas tergelak keras menertawakan. Suasana kelas yang tadinya hening mencekam menjadi ramai penuh gelak tawa. Sedangkan Fika sediri, ia hanya tersenyum kecil sambil menunduk malu.
"Sudah-sudah! Kalian jangan ribut!" Teriakan bu Retno kembali membuat kelas menjadi hening.
"Fika, benar perut kamu mulas?" Tanya bu Retno sambil melangkah mendekati Fika di mejanya.
"Em.. hem.. i-iya bu." Entah kenapa Fika justru mengiyakan perkataan Lussy. Sedangkan Lussy sendiri sedang cekikikan di sampingnya.
"Kamu mau ke UKS? Atau mau ke toilet?"
Entah mengapa pertanyaan dari bu Retno membuat kelas kembali ramai, mereka berusaha sekuat mungkin menahan tawa. Namun sepertinya tidak bisa.
"Em.. enggak bu, Fika disini aja."
"Kamu ini mulas beneran atau mulas karena di suruh kedepan?"
'Dua-duanya juga bisa sih'
"Dia beneran mulas bu, iyakan Fik?" Sosor Lussy ngotot. Lussy benar-benar menjebak Fika.
"Yasudah, Fika kamu ke UKS saja. Lussy, kamu antar Fika ke sana."
"ASHIIIAAPP BU!"
*****
"Lussy kenapa ngomong gitu sih?"
"Ngomong apa?"
"Ngomong kalo Fika mules. Padahalkan enggak."
"Yaelah, harusnya lo berterima kasih sama gue. Kan lo jadi selamat dari bu Retno ya kan?"
"Iyasih, tapikan itu bohong."
"Gakpapa, nanti dosanya kita bagi dua."
Fika menyernyit, sedangkan Lussy dengan wajah tanpa dosanya terus menariknya menuju ruangan UKS.
"Eh, ada apaan tuh?" Ucap Lussy antusias.
Tidak biasanya ruangan UKS seramai itu, entah siapa yang terluka namun sepertinya membuat semua orang heboh sekaligus khawatir. Lussy pun berlari dengan manarik pergelangan Fika untuk melihat apa yang terjadi.
"Weh coy ada apaan nih? Kok rame-rame? Lagi bagi sembako?" Tanya Lussy beruntun membuat orang yang mendengarnya ikut pun terkekeh.
"Lah trus apaan dong?"
"Itu loh, biasa si ratu sekolah kita terluka pas lagi atraksi di lapangan."
"Heh, Siape?"
Cewe berambut panjang ikal itu pun mendecak lalu menarik tangan Lussy agar melihat ke balik jendela UKS. "NOH, kak Angel. Diakan ratu sekolah kita. Masa lo gaktau."
"Dih mana gue tau, emangnya dia kenapa sih?"
"Katanya kakinya terkilir, makanya tadi kak Arga langsung bawa dia ke sini."
"Buset, lebay amat. Keenakkan dia tuh di gendong sama kak Arga."
"Yaelah, udah biasa kalie.. kak Angel kan ratunya dan kak Arga rajanya. Sosweetkan mereka."
Lussy mendelik. "Cih! Sosweet pale lu? Itu namanya lebay. Lagian siapa sih yang ngasih mereka julukan kaya gitu? Pasti anak bar-bar."
Fika terdiam bahkan sama sekali tidak mendengarkan percakapan Lussy dengan Riham. Namun kedua mata cokelatanya hanya terfokus dengan dua orang yang sedang berada di dalam UKS.
Entah mengapa melihat hal itu dadanya terasa sesak, terutama saat melihat Angel memeluk Arga dengan sengaja ketika kakinya tengah di perban. Adegan itu di saksikan oleh banyak orang, bahkan bisa membuat semua cewe menangis karenanya.
Angel tengah memeluk Arga tanpa sedikitpun rasa ragu meskipun ia sendiri tau semua orang tengah menatap ke arahnya. Dan anehnya Arga sama sekali tidak risih ataupun marah saat Angel semakin mengeratkan pelukan di lehernya. Cowo itu justru mengusap puncak kepala Angel dan lengan kirinya mengusap pundak cewe itu. Hal itupun memberi kesempatan bagi Angel untuk menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arga.
"Duh anjay mata gue kelilipan liat yang kaya begituan!" Umpat Lussy membuat Fika beserta Riham meliriknya.
"Fik, mending kita balik nyo. Jangan liat yang begituan entar kita dewasa sebelum waktunya."
"Eh mau kemana lo?" Riham berbalik saat Lussy juga berniat meninggalkan area.
"Manjat pohon! Ya balik lah. Sorry banget yah, gue masih suci gakmau liat yang kaya gitu entar gue mau lagih. Brabe entar urusannya."
Riham terkekeh bahkan hampir terbahak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan Lussy yang sudah menarik Fika keluar dari kawasan UKS, namun disanalah juatru Fika yang menahannya.
"Fika disini aja deh Lussy, gakenak sama bu Retno kalo balik lagi."
"Elah, bilang aja kalo perut lo udah baikkan."
Fika menggeleng, "Fika disini aja yah."
"Cuy markucuy, gue itu kasian sama lo, entar kalo lo dewasa sebelum waktunya nanti siapa yang tanggung jawab?"
__ADS_1
Fika kembali mengurai senyumnya. "Enggk kok Lussy, lagian Fika gak bakal ngapa-ngapain kok. Fika cuman pingin disini aja."
"Lo tuh ya, dibilangin susah! Serah lo dah!" Lussy sedikit cemberut. Namun ia juga tidak bisa memaksa Fika lagi. Mau tak mau dia juga harus tetap berdiri menunggu hingga semua orang membubarkan dirinya. Itu artinya hingga menunggu adegan lebay itu selesai.
Lussy sama sekali tidak tertarik melihat, bahkan ia berdiri menyenderkan tubuhnya membelakangi kaca sambil bersenandung pelan. "Lama amat yak? Gakada cougan yang lewat lagih. Mata gue rasanya makin seret liat mulu makhluk astral lewat. Sialnya gue liat adegan lebay disana lagih. Lu sih minta disini segala pusing gua!"
Lussy terus memprotes dan bergumam sendiri. Namun hal itu tentu saja di dengar oleh Fika di sampingnya. "Maaf Lussy, kan Lussy sendiri yang bikin Fika ke sini."
Lussy mendengus gusar. "Iyeh gue salah. Pokonya salah gue, puas lo!"
Fika tertawa kecil namun matanya kembali tertuju ke dalam.
'Sebuah perasaan timbul karena adanya sebuah kepedulian. Namun mengapa rasanya sangat sakit saat justru melihatnya bersama yang lain? Aku tidak tau kapan rasa ini timbul, namun aku juga tidak tau kapan perasaan ini juga hancur. Aku sadar, aku bukanlah perempuan yang cantik bahkan jauh dari kata sempurna. Namun apakah salah jika aku berharap akan sebuah kebahagiaan? Mengapa Tuhan menciptakkan ku hati jika pada akhirnya hanya untuk tersakiti'
"Fik!"
"Fika!"
"Lo mewek?"
Lussy berteriak histeris tanpa memperdulikan suaranya yang begitu berisik. Tentu saja ia terkejut saat justru melihat Fika yang sebelumnya baik-baik saja dan sekarang tiba-tiba meneteskan airmata.
"Fik? Lo mewek gara-gara gue bentak barusan?" Lussy berusaha menarik tangan Fika yang menghalangi wajahnya sendiri. "Fik sumpah jangan bikin gue takut. Sorry banget. Gue cuman becanda kalie haelah. FIK!"
"Fika gakpapa. Fika mau ke toilet." Fika tiba-tiba berlari menjauh dari Lussy. Lussy pun langsung ikut mengejarnya. Orang-orang disana pun ikut terheran apa yang sudah terjadi pada kedua cewe itu.
"Fik tungguin gue!"
"WOI! FIKA PRICILLA!"
"Sebenernya lo kenapa!?"
Fika berlali dua kali lebih gesit dari Lussy. Bahkan sudah sedikt menguras tenaganya. Namun tidak menyerah hingga sana, Lussy masih berusaha sekuatnya mengejar Fika tanpa peduli orang-orang sekelilingnya yang terheran-heran melihatnya.
BRUK!
"Aduh!" Lussy menghantam sesuatu yang menurutnya begitu keras. Cewe itu terhempaskan ke lantai bahkan pantatnya sudah mulai terasa perih. Ia bersumpah siapapun yang sudah menabraknya barusan ia tidak akan melepaskannya.
"Woi! Sengak ya lo!?" Lussy berteriak sekuat pita suaranya sendiri, sambil mendongkak angkuh ia mengepal lalu terhentak berdiri. "Lo! Lo yang nabrak gue barusan kan?"
Lussy naik pitam. Ia tidak mampu berfikir jernih saat ini. Yang ia tau saat ini ia begiru kesal. "Jangan diem aja lo! Gagu lo?"
Orang yang kini di depan menatap datar Lussy justru berkacak pinggang ikut menatapnya sangar. "Yang lo panggil gagu siapa hah?"
"Pake nanya segala, ya elo lah!" Teriak Lussy dengan menunjuk sembarang cowo di depannya.
"Heh cewe aneh! Yang nabrak gue itu elo bukan gue. Punya otak gak lo?"
Lussy meremas bawah roknya. "Lo yang aneh! Cari kesempatan kan lo? Gue udah hafal tipe-tipe cowo sok ganteng kaya lo. MODUS tau gak!"
Cowo itu membulatkan matanya. "Gue tau gue ganteng. Dan gue gak sembarangan milih cewe. Apalagi cewe aneh dan narsis kaya lo. Lo kira lo siapa berani ngomong gitu di depan gue? Lo blom tau siapa gue hah?"
"Ih apa untungnya gue tau siapa lo?" Lussy telah menggali lubangnya sendiri kali ini, tentu saja cowo yang terkenal dengan nada Andre sekarang sudah semakin menaikkan amarahnya.
"Dre udahlah. Dia sahabatnya Fika, lo tau kan." Ujar Willy mencoba menenangkannya.
"Bodo amat! Cewe ini udah kurang ajar sama gue Wil!"
Lussy melipat kedua lengannya di dada. Ia masih menatap sinis Andre yang juga menatapnya kesal.
"Asal lo tau. Cewe kaya lo ini bukan tipe gue." Andre mengatakannya penuh penekannan lalu berjalan melalui Lussy yang mengepalkan tangan.
"SIAPA JUGA YANG MAU JADI TIPE CEWE LO! DASAR TERONG ASEM KURANG AJAR!"
Andre bersama Nico dan Willy sama sekali tidak menanggapi Lussy yang berteriak keras di tengah-tengah lorong yang begitu ramai. Mereka terus berjalan tanpa sedikitpun menoleh pada Lussy. Sedangkan Lussy menggeram kesal di tempatnya. "Awas aja lo. Gue pasti balas lo, dasar cowo bar-bar."
*****
'Aku adalah bintang, bintang kecil yang berada di tengah ribuan bintang-bintang lainnya. Tidak berarti dan juga tak dianggap. Aku hanyalah sesosok pengagum dimana hanya mampu melihatmu bahagia tanpa merasakan sebuah kebahagiaan.'
"Jangan menangis."
Suara bass menghentak Fika yang sedang menunduk di pojokkan lorong. Ia mengangkat lemah wajahnya dan menatap sayu seseorang yang kini mengusap air mata di pipinya dengan hati-hati. Seolah-olah takut jika kulitnya akan rusak karenanya.
Ia tersenyum manis menelengkup wajah kecil Fika dan menariknya ke dalam pelukkannya yang hangat.
"Gue akan selalu melindungi lo Fik."
"Iqbal.. kamu.."
___
Maaf lama yah😁
Aku berusaha update cepet kok.
Jangan lupa like sama komennya untuk bab ini yah..
Oyah bagi kalian yang mau hubungi aku boleh di cek IG aku aja kalian bisa DM aku.
ini IG aku _ @kkurnasih
__ADS_1
Makasih bagi yang masih setia buat cerita ini..😊