
"Ga kita semua udah siap." Ujar Iqbal memberi tahu Arga bahwa semua orang disana sudah berkumpul siap untuk mencari keberadaan Fika.
Setelah Arga memberi tahu Iqbal bahwa Fika menghilang. Sesuai dengan janjinya Iqbal menghubungi semua temannya. Gini bukan hanya seluruh anak tim basket yang bersedia membantu pencarian mereka. Tapi si cewe-cewe chearleaderss pun ikut berpartisivasi dalam pencarian Fika. Walaupun mereka tidak terlalu dekat dengan Fika. Tapi tidak sedikitpun membuat mereka enggan untuk membantu.
Kehadiran tim chearleaders disana membuat akses pencarian mereka semakin luas. Walaupun disana tidak ada kehadiran Angel si ketua chear. Namun mereka tetap semangat untuk mencari Fika.
"Kita berangkat sekarang." Kata Arga. Cowo itu memakai jaket hitamnya sebelum kemudian berjalan mendahului yang lainnya menuju motor merahnya.
"Kita berpencar. Bagi beberapa tim, kalau ada masalah jangan ragu buat hubungin gue atau yang lain." Amanat Arga sebelum kemudian ia memakai helmnya.
Setelah mendengar intruksi Arga, semuanya mulai bersiap menuju kendaraan masing-masing. Arga pun sudah menyalakan mesin motornya dan siap melaju cepat.
Di tengah dinginnya malam hari ini. Segerombolan motor sport yang jumlahnya lebih dari 15 itu melaju dengan kecepatan di atas standar. Arga bersama Iqbal saling beriringan menusuri jalanan kota yang ramai.
Angin malam yang berhembus menerpa tubuh Arga terasa lebih dingin dari sebelum setelah ia kini merasa kehilangan. Serasa baru saja kemarin ia merasakan kehangatan dari wanita yang ia cintai namun hari ini ia justru kehilangan dirinya.
*Maafin Gue Fik. Maaf..*
Arga marah, sedih semua bercampur aduk di dalam dirinya. Hal yang paling ia ingin lakukan saat ini adalah memukuli dirinya sendiri. Bahkan untuk menjaga Fika saja ia tidak bisa. Arga sungguh menyesal karena ia tadi siang tidak langsung menemui Fika. Ia malah lebih memilih menemui Alicia terlebih dahulu. Sungguh Arga benar-benar menyesal. Bahkan ia telah bersumpah saat ini juga. Jika sampai terjadi sesuatu pada Fika maka dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"WOI GA!"
Teriakan Iqbal yang begitu lantang itu berhasil menggugah kembali kesadaran Arga. Arga tadi hampir saja menabrak tepian jalan. Jika sija Iqbal tidak meneriakinya. Mungkin Arga sudah jatuh disana.
Iqbal tahu bagaimana situasi yang Arga rasakan. Maka dari itu ia kemudian mengangkat satu tangannya dan mengintruksikan bagi Arga untuk berhenti. Arga pun menepikan motornya kemudian membuka helmnya saat Iqbal turun menghampirinya.
"Ga, gue tau gimana perasaan lo saat ini. Gue juga ngerasain hal yang sama kaya lo. Tapi please Ga jangan jadi cowo lemah. Fika butuh lo man! Gue yakin dimana pun dia berada saat ini. Dia pasti lagi nunggu lo. Tapi kalau lo nya kaya gini? Gimana lo bisa nemuin dan nyelametin Fika? Masa gini aja lo nge down si? Ayolah Ga! Mana Arga yang dulu penuh ambisi itu? Kemana Arga yang bilang akan selalu ada disisi Fika?" Papar Iqbal yang berhasil membuat Arga menatapnya.
"Ga, jangan salahin diri lo karena lo udah kecolongan sekarang. Lo juga manusia. Hal yang perlu lo lakuin saat ini cuman bersabar dan pantang menyerah. Gue yakin kita pasti bakal dapetin Fika. Lo gak sendirian Ga, ada gue dan anak-anak lainnya juga. Lo harus yakin sama diri lo sendiri." Ujar Iqbal lagi dengan satu tepukan keras ke pundak Arga. Sedangkan cowo itu masih diam tak bergeming.
"Sorry Ga, gue ngebacotin lo. Tapi jujur mulut gue udah gatel pingin ngebacot. Jadi please, kali ini aja deh lo dengerin gue." Kata Iqbal terus berusaha meyakinkan cowo itu.
Arga menatap Iqbal. Sorot mata tajamnya terkilat jelas di sana.
"Kita berangkat." Ucap Arga. Yang langsung di respon senyuman Iqbal.
Kedua cowo tampan itu langsung menuju motornya masing-masing dan bersiap tancap gas untuk kembali ke misi utama.
"Ga, kita mau cari kemana dulu?" Tanya Iqbal.
Arga terdiam sejenak. Sebelum kemudian menjawab.
"Rumah Alicia."
*****
Di tempat lain. Dengan kedua tangan dan kakinya terikat kuat tengah menangis penuh kesakitan. Tubuhnya terasa remuk akibat terus-terus di hantam pukulan yang bertubi-tubi dari seseorang yang sejak tadi memadangnya keji.
PLAK!
Satu pukulan kembali melayang menghantam tubuh mungilnya yang sudah tidak mampu lagi untuk bertahan. Mulutnya yang terbekam kain itu membuatnya harus menahan beribu jeritan kesakitan yang ingin ia keluarkan.
"Sakit?" Tanya seorang perempuan yang tengah menenteng sebuah ikat pinggang hitam di lengannya. "Sakit gak? Oh atau masih mau lagi?" Tanya perempuan itu dengan seringaian liciknya ia mencengkram dagu Fika memaksanya untuk mendongkak.
"Uh kasian banget si lo. Muka lugunya jadi hilang." Perempuan berambut panjang itu menghempaskan cengkramannya di wajah Fika membuat Fika kembali meringis kesakitan.
__ADS_1
Air mata pedih yang kini Fika rasakan mengalir begitu saja seiring dengan apa yang ia rasakan di dalam hatinya.
"Lo gak usah masang muka sok polos itu di depan gue! Asal lo tau yah, gue eneg liat muka lo. Cuih dasar munafik!"
Tidak puas hingga sana, perempuan itu menarik kepangan Fika kebelakang memungkinkan untuk Fika mendongkak kembali. Fika berusaha menahan rasa perih di tubuhnya dan sekarang ia harus menahan rasa perih di kepalanya akibat tarikan kasar dari perempuan itu.
"Apa hah!?" Teriak perempuan itu saat ia tahu bahwa Fika sedang menatapnya tidak suka.
PLAK!
kini satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi sebelah kanan Fika. Membuat bekas merah berikut rasa perih semakin bertambah. Fika memejamkan matanya tak kuasa menahan rasa sakit sekijur tubuhnya. Luka dan juga darah sudah mengalir mengotori baju dan juga kursi yang ia sedang duduki. Entah sudah seberapa banyak airmata yang ia teteskan. Rasa sakit yang ia rasakan begitu bertubi-tubi bukan hanya karena tubuhnya yang sudah terluka parah, melainkan saat mengetahui siapa dalang dari penculikan dirinyalah yang semakin membuatnya lebih sakit. Kini ia hanya mampu berharap akan ada seseorang yang menolongnya.
*Arga... tolong Fika*
*****
"ALICIA! DIMANA LO!"
Teriakan itu tentu saja berasal dari seorang Arga Aldiano. Sesaat dirinya dan Iqbal sudah sampai di depan rumah Alicia. Tanpa basa-basi lagi Arga langsung menerobos pintu rumah Alicia yang kebetulan tidak terkunci. Masa bodoh dengan sopan santun. Yang terpenting saat ini Arga harus bertemu dengan Alicia.
"JANGAN BERSEMBUNYI LO ALICIA! GUE TAU LO DISINI!" teriak Arga kembali. Cowo itu sudah di kendalikan oleh emosi. Ia sudah tidak mampu menahan bendungan kemarahannya yang semakin menggebu di dadanya. Terutama dengan Alicia yang tidak juga keluar membuatnya semakin naim darah.
"Ga kita mencar aja." Ujar Iqbal menyarankan. Arga menyetujui sarannya dan mereka pun akhirnya berpencar.
Arga menuju lantai atas berniat mencari Alicia di kamarnya. Sedangkan Iqbal dia mencarinya di lantai bawah.
"Alicia keluar!" Arga sudah berada di depan pintu kamar Alicia yang masih tertutup. Hal itu membuat Arga harus mengetuk keras pintu kamarnya.
"ALICIA!"
Pintu bercatkan biru itu tiba-tiba saja terbuka. Dan menampakkan orang yang sejak tadi Arga cari. Cewe yang sedang memakai baju tidur itu menguap sebelum kemudian menatap Arga.
Baru saja cewe itu hendak akan menyentuk tangan Arga. Namun Arga lebih dulu mengangkat tangannya dengan mencengkram kuat leher cewe itu.
"Dimana Fika!?"
Arga digulung emosi, api amarah tersorot jelas di kedua matanya. Sedangkan Alicia berusaha menahan cengkraman Arga di lehernya yang semakin lama semakin mengetat.
"Tu-tunggu, Ar-arga a..ku gak-" Perkataan Alicia terbata karena Arga semakin kuat mencengkram lehernya. Hal itu membuat Alicia kesakitan sambil memejamkan kedua matanya.
"ARGA!"
Teriakan Iqbal dari atas tangga karena kaget melihat apa yang sedang Arga lakukan membuatnya reflex berlari dan menghampiri cowo itu.
"Lepasin Ga! Lo mau dia mati!?" Cegah Iqbal. Cowo itu mencoba melepaskan cengkraman tangan Arga di leher Alicia. "GA! GUE BILANG LEPASIN!"
Teriakan Iqbal kali ini di denger oleh Arga. Cowo itu melepaskan tangannya dari leher Alicia dengan perasaan tidak ikhlas.
"Lo gila yah? Kita kesini mau cari tau Fika dimana. Kalo lo ngebunuh si dia sekarang kita gak akan tau Fika dimana! Lo bego atau gimana si?!" Omel Iqbal sarkastik.
Arga terdiam. Ia membalikkan badannya tidak ingin melihat wajah Alicia karena ia takut akan lepas kendali lagi.
"Sekali lagi gue tanya sama lo Alicia. Dimana Fika?" Tanya Arga lagi. Kini suaranya terdengar lebih tenang.
"Fika? A-aku gak tau dia dimana."
__ADS_1
Mendengar perkataan Alicia tadi membuat Arga kembali menatapnya tajam.
"Sebaiknya lo jangan berbohong di depan gue Alicia. Atau lo akan tau akibatnya." Gertak Arga. Cowok itu bersungguh-ungguh.
"Ta-tapi Ga, aku beneran gak tau Fika dimana. Kamu nuduh aku nyembunyiin dia? Lagian buat apa? Gak ada untungnya buat aku."
Alicia memang terlihat tidak tahu apa-apa. Namun tidak ada yang tahukan apakah dia sedang berbohong atau hanya berpura-pura saja.
"Alis, gue tau lo bukan orang jahat. Tapi kalo lo ngelakuin ini karena cinta. Perbuatan lo itu salah Lis." Kata Iqbal. Cowo itu berusaha mengambil simpati dari Alicia. "Mending lo kasih tau dimana Fika sekarang. Kita janji gak bakalan marah ataupun hukum lo. Asalkan lo mau ngasih tau Fika dimana?" Lanjut Iqbal.
Alicia *** rambutnya. "Udah berapa kali sih gue bilang? Gue gak tau Fika dimana. Kenapasi kalian berdua gak percaya sama aku? Lagian kalian liat sendirikan aku lagi dirumah dan lagi tidur. Kalo aku emang nyulik cewe itu, mungkin aku gak ada di sini." Jelas Alicia meyakinkan.
Arga dan Iqbal saling terdiam.
"Oke, untuk sekarang gue percaya sama lo. Tapi kalau sampai gue tau, kalau lo dalang dari semuanya." Arga melangkah selangkah lebih dekat. "Jangan harap lo akan hidup dengan tenang."
Arga dan juga Iqbal kemudian bergegas menuruni tangga dan keluar dari rumah Alicia. Sedangkan Alicia, cewe itu hanya mematung di tempatnya. Setelah mendengar suara deruman motor Arga yang meninggalkan halaman rumahnya.
Alicia si cewe berambut cokelat itu bergerak cepat mengambil ponselnya. Ia langsung menghubungi seseorang yang sejak tadi menelponnya. Tepatnya sesaat sebelum Arga mengetuk pintu kamarnya.
"Hallo kak! Gawat Arga udah mulai curiga sama aku. Tadi dia kesini.. apa yang harus kita lakukan kak?"
"Kamu tenang saja Alicia, semuanya sudah diatur dengan sempurna. Kakak yakin Arga pasti gak akan tau kalau kamu dan kakak adalah dalang dari semua ini."
"Tapi kak, Arga dia lagi nyari cewe culun itu. Trus kalo ketemu.. cewe culun itu pasti bakalan ngasih tau semuanya." Panik Alicia. Cewe itu sungguh ketakutan akan terbongkarnya kejahatan dirinya.
"Kamu percayakan semuanya sama kakak. Semuanya akan baik-baik saja. Lebih baik kamu hubungi cewe yang kamu manfaatkan itu untuk menghabisi Fika malam ini juga."
"Baik kak, tapi.. kalau ada apa-apa aku boleh hubungin kakak kan?"
"Hahaha.. tentu saja sayang. Kamu bisa hubungi kakak, kapanpun kau mau."
Alicia tersenyum simpul. "Makasih kak, Alicia.. sayang kakak."
Panggilan terputus. Alicia segera kembali menghubungi satu kontak lainnya di sana.
"Hallo Angel, gimana cewe itu?"
"Sesuai permintaan lo. Mandi darah!"
Mendengar jawaban di ujung telpon itu membuat seringainya kembali terurai. "Bagus! Sekarang lo tinggal habisin dia."
"What? Sekarang?"
"Yups."
"Yah.. padahal gue masih pingin main-main sama ni anak."
"Jangan buang-buang waktu Ngel, waktu kita gak banyak. Lo harus singkirin dia sebelum Arga dan lainnya nemuin dia."
"Heem... gitu yah? Oke deh. Laksanakan."
Alicia memutuskan sambungan telponnya. Ia kembali tersenyum sebelum tawa kemenangannya menggelegar keseluruh rumahnya.
"Arga, Arga, siapa suruh kamu nyakitin aku. Inilah akibatnya karena kamu sudah nolak cinta aku. Aku sudah bilang, kalau aku nggak bisa milikin kamu.. so pasti nggak akan ada satu pun cewe yang bakal milikin kamu."
__ADS_1
______________
Apakah kalian mulai membenci Alicia?