Unforgettable

Unforgettable
Sebuah Pilihan


__ADS_3

"Iqbal.. kamu.."



"Shuuttt.. jangan banyak bicara. Menangislah sepuasnya."



Entah apa yang kini dirasakan oleh Fika, pelukkan dari Iqbal terasa hangat dan menenangkan tapi mengapa hatinya merasa hampa? Rasanya tidak sehangat saat ia bersama dengannya.  Laki-laki dingin namun mampu membuat hatinya hangat hanya satu ialah Arga..



Namun tidak ia sadari sejak tadi tangannya meremas kaus Iqbal dengan erat.



"Gue tau, lo nangis karena apa."



Perkataan Iqbal barusan menyentak Fika, ia menatap lekat wajah tampan Iqbal di dalam pelukannya. "Kamu tau?"



Iqbal mengurai senyumnya. "Apasih yang gak gue tau? Lo nangis terharu karena tau gue disini kan?"



Ekspresi Fika berubah, ia menundukkan kembali wajahnya. Ternyata Iqbal tidak benar-benar mengetahui kenapa ia menangis. Tapi itu hal yang bagus, setidaknya jangan sampai cowo itu tau kalau dia menangis karena melihat Arga dengan cewe lain. "Kamu kok ada disini?"



Iqbal mengurai pelukkan diantara mereka. Ia menelengkup wajah Fika. "Gue sekarang sekolah disini."



"Kenapa? Bukannya kamu sekolah di Amerika?"



Iqbal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tercengir. "Gue bosen disana, lagian gakseru juga kalo gakada lo."



Fika ingin tersenyum namun rasanya bibirnya masih tertahan. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya kembali.



"Fik, lo jangan sedih lagi yah." Iqbal menyentuh dagu kecil Fika membuatnya untuk menatapnya. "Sekarang lo gakusah takut lagi, ada gue yang bakal lindungin lo."



Ucapan Iqbal tidak memungkiri airmata Fika kembali menetes, tentu saja itu adalah hal paling berarti yang pernah ia dengar dari seseorang. Dan Iqbal sahabat kecilnya dialah yang pertama kali mengucapkannya. Fika menyentuh kedua lengan Iqbal. "Iqbal.. makasih yah, udah mau jadi sahabat Fika."



Iqbal menyentuh puncak kepala Fika sayang. "Itu bukan apa-apa. Dan gue gak mau ngelindungi lo karena kita sahabat."



Fika menyernyit terutama saat Iqbal tiba-tiba mendekatkan wajahnya lalu membisikkan. "Gue pingin lindungi lo karena gue sayang sama lo."



*****



KRRIIIINNGGG



Suara keras bell begitu nyaring kesluruh penjuru sekolah. Menandakan sekolah hari ini telah usai. Suruluh siswa berhamburan keliar dari kelasnya masing-masing dan menyerbu parkiran. Fika dan Lussy pun sudah keluar dengan segera dan berjalan menuju pintu gerbang berada.



"Ih sumpah yah, gue najis banget tuh sama si Mela. Sok-sok an cari perhatiannya kak Willy idih, eneg gue liatnya juga. Lo liat gak tadi gimana ekpresinya kak Willy? Gue yakin dia juga pingin muntah liat si Mela."



"Fik pokonya lo harus jauh-jauh dari komplotan cabe-cabean. Entar lo ketularan bisa brabe entar. Ih amit-amit dah."



"Sebel banget gue. Masih cantikan gue kemana-mana daripada tuh cabe!"



Fika hanya terdiam dengan pikirannya sendiri, bukan karena ia tidak peduli dengan apa yang Lussy ucapkan melainkan ia sendiri tidak terlalu mengerti apa yang Lussy maksud. Ia hanya menunduk sambil memegang satu kepangannya, dan menatap langkah kakinya sendiri.



"Fik! Gue balik duluan yah, bokap gue udah nyampe tuh." Fika mengangkat kepalanya, lalu menangguk setelah tersenyum pada Lussy. Setelah kepergian Lussy, Fika berjalan melewati gerbang yang sudah lumayan lenggang. Seperti biasanya, ia akan menunggu hingga angkutan umum lewat.



Ia duduk di bangku yang disediakan di pinggir jalan. Namun ada hal yang membuatnya kembali tidak fokus. Ia melihat sosok yang terasa tidak asing dimatanya. Ia berdiri dan berusaha melihat jelas cowo yang sedang menyebrang menuju ke arahnya.



"Kak Gino? Kak Gino!?" Teriakkan Fika terdengar oleh cowo ber setelan kasual itu. Cowo dengan postur tubuh tinggi dan tampan itu tersenyum manis kepadanya.



"Kak Gino kenapa ada disini?" Ucap Fika menghampiri Gino.



"Kangen sama kamu Fik."



Fika terkekeh geli. "Mana ada. Kaka ke sini pasti mau ketemu Arga kan? Tapi kayanya Arga masih ada di ruangan basket."



Gino menggelengkan kepalanya. "Kaka kesini cari kamu."



"Cari aku? Memangnya ada apa?"



Alih-alih menjawab pertanyaan Fika, Gino justru malah merogoh sakunya membuat Fika menyernyit bingung. "Kaka mau nunjukkin ini sama kamu."



Gino menunjukkan sebuah kertas kecil beserta sebuah foto berukuran mini diberikan kepada Fika. "Ini apa kak?"


__ADS_1


"Kamu liat aja. Kamu akan tau."



Ada sebuah tulisan disana, Fika pun berusaha membacanya dengan seksama. "Ini.."



"Coba kamu lihat fotonya juga." Fika melihat foto kecil di tangannya dan disaat itupula dadanya terasa sesak, tidak perasaan ini begitu mendalam. Bagi Fika ini semua adalah jawaban dari apa yang selama ini ia cari. Bahkan tidak terasa airmatanya kembali menetes.



"Kaka ini gak bohong kan?"



Gino mengangkat tangannya dan mengusap airmata Fika. "Kaka gak mungkin bohong sama kamu. Apa yang kamu lihat itu adalah kenyataannya."



Tidak kuasa menahan gejolak bahagia, reflex Fika menghamburkan tubuhnya ke tubuh kekar Gino. Gino pun membalas pelukan Fika dengan sama eratnya. "Makasih kak.. makasih banget."



"Sama-sama. Sekarang kamu bisa tenang. Dan kakak janji, suatu saat nanti kamu akan bertemu lagi dengan ibumu."



*****



"Ga! Tungguin gue anjrit!"



Suara menggelegar Andre mengejar Arga begitu menggema di parkiran. Bahkan hampir setiap mata tertuju padanya namun sepertinya Andre sama sekali tidak menghuraukannya, ia hanya terfokus dengan punggung cowo di depannya.



"Sumpah tega banget lo pada ninggalin gue, sialan!"



"Lo sendiri tadi kemana kampret, dicariin juga." Tempas Willy sambil menoyor ringan kepala Andre.



"Gue di toilet."



"Ke toilet tapi gak balik-balik ngapain aja lo disana?"



"Privasi lah. Kepo lo!"



Di tengah perbincangan receh antara Willy dan Andre namun tidak sedikitpun membuat Arga beserta Nico untuk ikut campur. Nico dan Arga memang memiliki kesamaan yaitu cuek terhadap sesuatu. Namun Nico tidak se cuek dan se dingin Arga. Bahkan sejak ia membali dari UKS entah mengapa Arga sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sebenarnya Nico, Andre dan juga Willy begiyu penasaran mengapa Arga menjadi lebih pendiam. Namun mereka lebih memilih diam daripada kena masalah dari Arga.



"Ga, lo itu kenapa?" Tanya Nico akhirnya. Sepertinya ia sudah tidak tahan dengan diamnya cowo itu. "Dari tadi siang lo gak ngomong sama kita. Lagi kesel lo?"




"Ga! Kalo lo ada masalah ngomong sama kita. Kita itu sahabat lo Ga." Ujar Nico lagi dengan menepuk pundaknya dan disaat itu juga Arga menghentikan langkahnya serentak.



"Gue gakpapa Nic."



"Gakpapa gimana? Ga, se garang-garangnya muka lo tapi gue tau saat ini lo lagi ada masalah. Ngeliat ekspresi lo aja gue udah tau lo lagi kesel sama seseorang."



Arga tiba-tiba menepis tangan Nico di pundaknya. "Bukan urusan lo." Arga melengang pergi.



"Si kampret setannya lagi datang lagi kayanya." Ucap Andre mengamati.



"Tapi gue rasa si Arga lagi cemburu deh." Perkataan yang tiba-tiba keluar dari mulut Nico barusan membuat Willy dan Nico saling menoleh.



"Cemburu sama siapa dia?" Tanya Willy.



Nico mendecak. "Kalian liat aja di sana! Fika lagi sama siapa?"



*****



Setelah kepergiannya Gino, Fika kembali menunggu seperti biasanya. Namun suara deruman motor kembali membuat Fika berdiri di tempatnya.



"Ayo naik." Ucap cowo berhelm merah itu.



"Nggak ah. Fika naik angkot aja."



"Gue gak suka di tolak. Cepet naik."



"Gak mau Bal, kamu duluan aja gih."



Iqbal membuka helmnya dan membenarkan rambutnya yang berantakan. "Kalo gitu, gue akan tetep disini."



Fika menyernyit. "Jangan gitu, kamu pulang duluan aja. Fika udah biasa kok naik angkot."

__ADS_1



"Gue udah bilang kao gue gaksuka penolakkan. Lo ikut gue, atau ..."



"Atau apa?" Suara berat dari seseorang yang baru saja datang membuat keduanya terdiam menatapnya. "Atau apa?" Ucapnya ulang.



Iqbal terlihat sangat tenang, ia menyenderkan tubuhnya ke motor sprot merahnya dengan mendekap tangan di dada. "Enggak, gue cuman mau maksa Fika balik aja. Masalah buat lo?"



Cowo itu menggertakkan rahangnya. "Fika pulang bareng gue. Jadi lo sebaiknya pergi dari sini!"



Iqbal tiba-tiba tertawa hambar. "Lo kira lo siapa berani ngusir gue? Lagian emangnya Fika mau pulang bareng sama lo?"



Fika tidak mampu melakukan apapun ia hanya mampu diam dengan kepala menunduk. Suasananya terlalu tegang baginya, karena kedua cowo tampan dan dingin ini sekarang tengah berdiri tepat di samping kanan dan kirinya.



"Ayo pulang." Fika terhentak saat salah satu dari kedua cowo itu menggenggam tangannya erat.



"Gak Fik, lo pulang bareng gue aja." Ujar Iqbal ikut menggenggam tangan Fika.



Bagaimana ini? Fika sudah berada di dalam posisi yang sangat mendesak. Ia harus memilih salah satu dari mereka. Tapi.. untuk saat ini dia masih membutuhkan jarak yang aman antara dirinya dengan laki-laki yang kini menggenggam tangan kanannya. Siapa lagi jika bukan Arga Aldiano. Cowo yang ia kagumi sekaligus cowo yang menyakitinya.



"Arga.." Fika berucap membuat kedua cowo itu tertegun. Fika melepaskan genggaman tangan Iqbal namun tangan kirinya meepis tangan Arga. "Maaf, Iqbal lebih dulu nawarin Fika pulang."



"Gak bisa! Lo pulang bareng gue!" Arga kembali mencengkram tangan Fika bahkan membuat Fika meringis kesakitan.



"Lepasin Ga! Lo gak denger dia mau pulang sama gue!" Teriak Iqbal mendorong tubuh Arga untuk menjauh.



Arga tidak tinggal diam ia mencengkram kerah Iqbal mendekat kepadanya. "Lo jangan ikut campur!"



BUG!



Arga menghajar perut Iqbal hingga cowo itu terhuyung dan jatuh. Fika yang menyaksikan hal itu pun tidak bisa menahan jeritannya. Ia segera menghampiri Iqbal tanpa memperdulikan tatapan tajam Arga.



"Iqbal kamu gakpapa kan?" Fika meraih bahu Iqbal membantunya untuk kembali berdiri. Mengapa Arga tega melalukan ini pada sahabatnya? Arga benar-benar kejam.



"Arga! Kamu bisa gaksih jangan mukul orang?!" Fika berteriak pada Arga. Bahkan Arga sendiri tertegun dengan teriakkan Fika yang terdengar berbeda. "Aku tau kamu gak suka sama Iqbal. Tapi kamu gak usah mukul dia kaya gini! Sekarang aku ngerti, cowo kaya kamu tuh gak pernah punya hati nurani! Kamu itu cowo egois yang gak pernah mikirin perasaan orang lain! Kamu jahat Arga!"



Arga terbungkam. Ia membeku di tempatnya sendiri. Tatapannya yang membara berubah menjadi tatapan yang tidak bisa di mengerti oleh siapapun. Tangannya yang tadi mengepal kuat, telah terurai lemah. Luapan amarah Fika membuat Arga terdiam sepenuhnya.



"Jangan ganggu Fika lagi."



Fika menunduk, mengepal menguatkan rasa sakit yang kini ia rasakan. Entah keberanian darimana, namun saat ini ia sudah tidak sanggup lagi menahan beban dihatinya. Rasa sakit dan juga penderitaan yang terus ia rasakan, terasa ingin ia luapkan saat ini juga. Mungkin ini terdengar egois, tapi ia juga manusia biasa yang memiliki batas kesabaran.



Fika menuntun Iqbal menuju motornya. "Iqbal kita ke klinik dulu yah, buat obatin luka kamu."



Iqbal mengangguk dan segera kembali memakai helmnya. Fika pun memakai helm yang sudah di berikan Iqbal untuknya.



Kejadian ini membuat Fika semakin merasa bersalah, karenanya Iqbal menjadi sasaran amarah dari cowo dingin tak berperasaan. Jujur ia merasa kecewa pada laki-laki yang saat ini masih diam menatapnya. Ekpresinya yang tidak mampu ia pahami membuat Fika hanya bisa menghela nafas panjang berusaha tidak lagi memperdulikannya.



"Siap?"



"Siap."



Suara deruman motor kembali terdengar. Iqbal sudah menyalakan motornya dan mulai berangkat dengan kemenangan Fika berada bersamanya. Sebelum berjalan sepenuhnya Iqbal melirik Arga yang sedang menatapnya tajam, ia pun bisa melihat kepala kuat di lengan cowo itu saat Iqbal tersenyum miring di balik helmnya.



_______



Hem.. kira-kira apa yang akan terjadi ?



Menurut kalian Iqbal itu jahat atau enggak?



Kalian lebih suka Iqbal atau Arga nih?



Beri komentarnya yah.. dan jangan lupa likenya juga😊



See you next chept》》》



__ADS_1


__ADS_2