
Jika hari ini adalah sebuah mimpi, maka aku rela bermimpi untuk selamanya. Asalkan mereka selalu ada berada di sampingku. Kehidupan yang suram telah menghantamku begitu keras, namun sekarang sebuah keajaiban itulah yang membuatku merasa bahagia. Kehadiran mereka di sisiku sudah membuatku merasa cukup hidup di dunia ini. Terutama dengan laki-laki yang selama ini selalu ada untukku, laki-laki yang dahulu membuatku merasa ingin hidup dan ingin bahagia bersamanya. Dialah si cowo kejam dan dingin namun romantis, siapa lagi jika bukan Arga Aldiano. Laki-laki cool dan penuh dengan teka-teki namun membuat siapapun ingin memiliki.
Laki-laki yang membawaku kedalam berjuta perasaan, sekaligus yang membawaku ke dalam kebahagiaan. Laki-laki yang beberapa tahun lalu menikahi ku itu kini telah menjadi imam sekaligus kepala keluarga bagiku dan kedua anakku.
Itu adalah masa-masa indah yang tidak akan pernah aku lupakan. Terutama saat aku megandung anak pertamaku Max. Aku ingat betapa bahagianya Arga saat mengetahui aku tengah mengandung, bahkan sampai merubah sifatnya dari pria cuek dan dingin menjadi pria yang sangat protective. Siapa sangka? Bahkan hingga saat ini pun banyak sekali wanita di luar sana yang tidak percaya bahwa cowo yang menjadi idola di sekolah itu akan menjadi suami dari seorang wanita culun dan bodoh sepertiku.
Tidak heran, bahkan aku sendiri terkadang tidak mempercayainya. Sempat aku berfikir jika semua ini hanyalah mimpi. Namun pemikiran itu lama kelamaan telah menyadarkanku bahwa ini bukanlah sebuah mimpi lagi.
Karena dia selalu ada di sampingku, tertutama saat aku membuka kedua mataku di pagi hari. Wangi maskulin ciri khas dari tubuhnya selalu menjadi canduku selama ini, apalagi melihat kedua mata tajamnya. Sungguh membuatku selalu terbuai saat aku menatapnya. Hal yang paling aku ingat dan sering aku dengar dari mulutnya yang manis saat aku pertama membuka mataku dan mendengar suara seraknya yang mengatakan
"Selamat pagi sayang."
Bisa kalian semua bayangkan betapa bahagianya aku? Dan betapa meronanya kedua pipiku setiap pagi? Aku percaya kalian pun bisa mengetahui seperti apa malunya aku. Namun yang harus kalian tahu adalah bagaimana jantungku berdetak kencang saat pria itu menautkan kedua ujung bibirnya dan membetuk sebuah senyum manis, kalian harus percaya itu membuatku lepas kendali.
Bukan hanya itu saja tapi masih ada banyak lagi hal yang membuatku bahagia bersamanya, dia memperlakukanku bukan hanya sebagai seorang istri tapi sebagai seorang ratu dalam hidupnya.
Wanita mana yang tidak menginginkan laki-laki sepertinya? Aku yakin setelah kalian membaca kisahku ini kalian juga menginginkan sosok laki-laki sepertinya. Di balik sifat keras dan juga keangkuhannya. Terdapat sebuah ketulusan yang tidak pernah dimiliki oleh laki-laki mana pun. Dan hal itulah yang membuatku semakin jatuh cinta padanya.
Bahagiaan rupanya tidak pernah berakhir sampai sana, saat putraku Max Wingston berumur tiga tahun aku kembali mengandung anak keduaku Lily Stephany Liando. Dan di saat itulah aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Memiliki suami yang sangat mencintaiku serta anak-anak yang lucu dan baik.
"Momy momy!"
"Iyah sayang? Ada apa? Kenapa kamu lari-lari begitu?"
"Itu mom, kakak Max dia lobek boneka Lily."
Ah anak itu, Max memang terkadang sangat jahil pada adiknya.
"Lalu dimana kakakmu sekarang?"
"Tcuh!"
Benar sekali, Max anak laki-laki ku itu tengah berdiri mendekap tangannya di ambang pintu. Jika diperhatikan Max sangat mirip dengan ayahnya. Dari mulai tingkah laku sampai cara bicaranya pun sangat mirip. Bisa dibilang dia adalah Arga versi kecil.
"Max, kemarilah."
"Ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain, momy mau bicara sama kamu nak."
Aku tahu meskipun sifatnya yang dingin dan juga cuek tapi dia tidak bisa menolak perintahku.
"Kakak jahat! Lily nggak mau main sama kakak lagi!"
"Lily sayang kamu nggak boleh kaya gitu nak."
"Hump! Nggak mau! Pokonya Lily malah, malah sampe besok."
Yaampun dia terlihat sangat menggemaskan saat seperti itu. Aku jadi teringat dulu saat ia masih dalam gendonganku, dia masih mungil dan tak berdaya namun sekarang dia sudah berumur empat tahun lagi.
"Max? Minta maaflah."
"Gak."
"Max?"
"Nggak mom, lagian Max nggak salah."
"Oh benarkah? Lalu kenapa kamu merobek boneka Lily?"
"Karena jelek."
Aku tidak bisa menahan tawaku, sungguh di balik keseriusan wajah Max memang tidak bisa menyembunyikan kepolosannya untuk saat ini.
"Boneka Lily nggak jelek! Yang jelek itu kakak!"
"Aku tampan, kau tau itu Lily."
"Hump! Jeyek!"
"Apa? Kau juga tidak cantik."
"Lily cantik!"
"Siapa yang bilang kamu cantik Lily? Kamu itu jelek sangat jelek! Dan.. cengeng."
"Huaaaa Momy kakak jahat.. huhu.."
Astaga aku akan benar-benar kewalahan jika seperti ini. Biasanya Arga yang akan menghandle Max namun kali ini tidak karena ia sedang ada pekerjaan tambahan.
"Max kamu tidak boleh seperti itu nak, tuhkan adik kamu menangis."
"Dia memang cengeng mom, jangan terlalu memanjakan dia."
"Tapi nak, adik kamu itu masih sangat kecil."
"Aku tau dia masih kecil, dan aku juga masih kecil. Tapi aku nggak cengeng kaya dia."
Aku hanya bisa menghela nafas, entah mengapa menanggapi Max seakan sedang menghadapi Arga. Dan ujung-ujungnya aku yang pasti kalah.
"Momy.. pukul pantat kakak yah? Bial dia juga nangis kaya Lily.. yah momy yah?"
"Oh Lily mau momy pukul pantat kakak?"
__ADS_1
"Iyah! Pukul sampe melah!"
"Oke."
"Max, sini kamu nak"
"Nggak mau! Aku mau mandi mom."
"Eh mau kemana kamu? Sini momy sentuh pantatnya.."
"MOMYYYYY! JANGAN SENTUH PANTAT KU!!!"
"Ahahhaha..."
Aku tahu meskipun Max masih kecil tapi gengsinya sudah melebihi anak seumur dirinya. Yah contohnya sekarang, Max adalah anak yang paling anti jika tersentuh terutama di pantatnya. Jangankan dipukul di colek pun Max akan langsung lari terbirit-birit, bukan aku yang tega memukulnya tapi karena aku memang tidak pernah melakukan hal itu. Senakal-nakalnya anakku aku tidak akan berbuat demikian.
"Daddy! Momy mau pukul pantatku!"
Yah ini dia sesi adu mengadu dari Max. Arga baru saja datang pantas saja Max langsung berlari ke ruang tamu, rupanya dia sudah menyadari kehadiran ayahnya di sana.
"Loh kenapa momy mau pukul pantat mu hem? Apakau berbuat nakal?"
"Hemm.. nggak daddy, Max cuman lagi bosen aja. Trus Max nggak sengaja robek boneka Lily."
Sungguh hebat, tenyata dia sudah belajar bagaimana mencari pembelaan. Dasar anak itu..
"Oyah? Benarkah begitu?"
"Iyah daddy, Max nggak salahkan?"
"Nggak sayang, tapi kamu tetap minta maaf sama adik kamu yah?"
Arga memang satu-satunya orang yang paling Max turuti. Sifat mereka juga sangatlah sama tidak salah jika Max lebih mendengarkan Arga ketimbang aku. Itu sama saja, karena dia juga adalah ayahnya.
"Maaf."
"Hump! Nggak mau."
"Tuhkan daddy.. dia sendiri yang kaya gitu."
"Lily.. maafin kakak kamu yah sayang?"
Aku yakin dengan Arga seperti itu Lily pasti tidak akan menolaknya.
"Iyah daddy!"
"Nah gitu dong. Ayok salaman."
Akhirnya mereka berdamai juga. Sekarang aku lebih tenang.
"Iyah daddy.."
Tidak mampu aku pungkiri, meskipun usianya sudah semakin bertambah dewasa. Suamiku ini semakin hari rasanya semakin tampan.
"Merindukanku?"
Cup!
"Sangat."
"Maaf karena aku datang terlambat."
"Tidak papa, aku mengerti. Mandilah, setelah itu makan. Aku sudah menyiapkan semuanya tadi."
"Oke, thanks honey."
Cup!
Inilah kehidupanku sekarang, anak-anakku yang mulai tumbuh dewasa berikut denganku dan Arga yang tak lagi muda. Aku harap kedua anakku akan mendapatkan kebahagiaan yang melimpah dalam hidupnya. Namun... meskipun begitu, rasa resah akan khawatir itu akan selalu ada di hati ku. Terutama Max, entah bagaimana menjelaskannya. Namun aku selalu merasa Max akan menghadapi rintangan yang besar. Aku tidak tahu apakah itu hanyalah perasaan ku saja karena terlalu khawatir padanya.
Namun yang jelas aku akan selalu mendoakannya. Dan semoga setiap apapun rintangan yang di hadapi anak-anakku. Mereka akan mampu menghadapinya dengan mudah.
*****
10 tahun kemudian_
New York City_
Padatnya jalanan kota New York sudah menjadi hal biasa bagi semua orang. Walaupun begitu, tidak sama sekali menghalangi kegiatan seluruh orang di sana. Termasuk dengan kedua insan yang kini tengah berdiri di pinggiran jalan berniat untuk meyebrang.
"Ayok kak! Kakak lama ih!" Teriak gadis imut itu, ia kemudian berlari mendahului kakaknya menuju sebrang jalan hingga sebuah mobil berwarna biru melaju dari arah berlawanan datang dan..
"Lily awas!"
BRAK!
"KAKAK!"
Mobil biru itu terheti seketika saat baru saja menabrak tubuh laki-laki yang kini tersungkur ke tengah jalan. Pengemudi mobil itu pun tanpa basa-basi langsung menghampirinya dengan raut wajah takut.
"Oh my god! I'm sorry, a-are you oke?"
Gadis cantik berambut hitam kecokelatan itu baru saja menyetuh pundak milik Max, sehingga membuat Max yang tertunduk beralih manatapnya.
__ADS_1
"Where does it hurt? Are you hurt? Oh my god, I'm so sorry, my car cant-"
"I'm fine."
Jawaban singkat dari Max membuat perempuan di hadapannya itu terbungkam seribu kata. Ia menatap mata tajam Max dan entah mengapa meskipun mata itu terlihat dingin dan kejam tetapi ia sangat nyaman melihatnya. Mungkinkah itu yang namanya cinta pada pandangan pertama?
"Hey wait!'
Max meghetikan langkahnya saat baru saja hendak akan pergi karena perempuan tadi menahan tangannya.
"What?" Tanya Max.
Perempuan itu tersenyum manis, bahkan lebih manis dari siapapun yang pernah Max lihat sebelumnya.
"What's your name?"
Ucap singkat Max, ia kemudian kembali berbalik badan dan mulai melenggang pergi.
"Oke Max! My name LISA! I hope we will meet again! Dont forget my name!" Teriak perempuan itu jauh namun masih dapat terdengar oleh Max. Dan di balik itu Max menyunggingkan senyumannya.
"Lisa? Aku akan menemukanmu lagi."
_____________
THE END
_____________
Siapa yang gak sabar sama Unforgettable 2?
Kalian mau kapan aku Update Unforgettable 2 nya?
Kasih komentarnya oke?
Jangan dulu di close, silahkan scroll terus kebawah.. ada banyak pemandangan indah😂
UNFORGETTABLE 2
COMING SOON
_Sinopsis_
Uang dan kekuasaan adalah senjata utama yang ia miliki. Sex dan kekerasan adalah bagian dari hidupnya. Mempermainkan perempuan adalah keahliannya. Angkuh dan licik adalah triknya.
Kehidupannya yang terlihat sempurna ternyata adalah kehidupan kelam dibalik seorang Max Wingston Grace Laki-laki berdarah dingin, kejam dan tidak berperasaan. Apapun akan ia lakukan demi menghancurkan semua orang yang berusaha menghalangi jalannya.
Hatinya yang telah hancur karena luka membangkitkan jiwa hitamnya untuk membinasakan siapapun yang telah berani berurusan denganya. Hingga pertemuannya dengan seorang wanita bernama Tiffany yang telah mengembalikannya pada masa lalu yang begitu menyakitkan. Penghianatan dan juga dendam adalah hal utama yang benar-benar menghancurkannya. Dan kehadiran Tiffany membuatnya ingin mengulang kembali masa pahit itu dengan cara yang berbeda.
Akankah Max mampu memperbaiki masa lalunya? Dan membuat ketakutannya itu hilang dari dirinya? Ataukah justru semakin membuatnya hancur?
Akankah Tiffany mampu bertahan dengan perlakuan Max yang kejam padanya?
INGIN TAU? SILAHKAN BACA NANTI😊
******
__ADS_1