Unforgettable

Unforgettable
Mengapa?


__ADS_3

Sinar terang sang surya yang menyorot lembut menembus balik kaca besar menampakkan gadis manis yang masih tertidur pulas diatas ranjangnya. Mata indahnya tertutup damai seolah alam pun ikut berdamai bersama dirinya. Angin sejuk di pagi hari menerpa wajah dan kulitnya yang halus membuat tubuh mungil itu merasakan kesegarannya.



Tubuh yang terbaring bebas menggeliat lembut serta mata yang tertutup rapat kini mulai terbuka perlahan. Berusaha mengontrol cahaya yang menyorot menembus pupilnya hingga mata indah itu kembali terbuka sempurna.



Ia kembali menggeliat saat mengangkat setengah tubuhnya untuk mengambil posisi duduk. Matanya yang sayu kini menatap jam dinding yang baru menunjukkan pukul 6 pagi. Ia menyibak selimut putih yang menutupi tubuhnya dan kaki jenjang putihnya turun perlahan dari ranjang.



Kepalanya masih terasa pusing, namun ia tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan menuju samping lemari tempat handuk pinknya tergantung disana. Ia pun meraihnya dan berjalan ke kamar mandi.



Kebiasaan rutin yang dilakukannya di pagi hari tidak pernah ia lewatkan satu pun. Air dingin yang kini mengguyur kepala dan sekujur tubuhnya telah mengembalikan seluruh kesadarannya. Ingatan serta kejadian dikamarin hari membuat jantungnya mulai terpacu cepat terutama mengingat kejadian malam hari yang entah bisa disebut kebeuruntungan atau memang kesialan yang haqiqi. Namun gadis bernama belakang Pricilla ini hanya mampu mengingatnya dengan senyum tertahan. Aneh, kejadiannya begitu cepat, mengagetkan dan terlalu membingungkan.



Apakah yang terjadi padanya semalam itu hanyalah sebuah mimpi belaka? Jika itu memang mimpi, itu adalah mimpi terindah yang pernah ia rasakan. Namun anehnya semua itu terasa begitu nyata. Bahkan terlalu nyata hingga ia tidak bisa membayangkan bagaimana wajahnya saat itu. Iyah, Fika menganggap hal itu hanyalah mimpi. Mimpi indahnya mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan.



Selesai membersihkan diri, gadis berambut panjang yang kini tergerai hingga punggung ini berjalan keluar berniat mengganti bajunya dengan seragam sekolah. Di samping itu, ia kembali melihat jam dinding, masih terlalu cepat. Rasanya ia belum siap bertemu dengannya pagi ini. Ia terlalu malu apakah ia harus bersembunyi darinya hari ini?



Setelah selesai segalanya Fika memutuskan untuk keluar kamar namun dengan perasaan tidak karuan. Saat ia baru saja membuka pintu, ternyata pintu lainnya juga ikut terbuka dan hal itu berhasil membuatnya kembali terperanjat sekaligus diam membeku.



Mata membulat sempurna bertabrakkam dengan mata tajam dingin layaknya elang. Fika keluar berpasan dengan Arga yang juga keluar dari kamarnya. Apa ini yang dinamakan jodoh?



Arga diam berdiri seperti biasanya memasang buka sedatar tembok. Cowo berseragam lengkap dengan kancing atas terbuka itu hanya diam menatap Fika sedingin-dinginnya. Fika yang berada di hadapannya pun hanya bisa berdiam diri dengan kepala menunduk. Tak sanggup lagi menahan pesona dan juga tatapan meneror dari cowo itu.



"Se-la..mat pagi Ar-" Fika mengatakannya dengan terbata serta tubuh gemetar namun sayangnya Arga telah meleos begitu saja meninggalkannya disana seperti biasanya dingin dan cuek. Bahkan Fika belum sempat menyelesaikan kalimatnya.



Fika yang memiliki ribuan stok kesabaran di hatinya hanya mampu menghembuskan nafas pasrah lalu berjalan membuntutti Arga dari belakang sedikit menjaga jarak.



"Akhirnya kalian turun juga, mamah udah siapin sarapan buat kalian." Teriak Ratna di ujung dapur dan mengintruksikan kedua insan ini menuju meja makan yang sudah tersedia makanan untuk sarapan.



"Makannya yang banyak yah, biar kalian semangat sekolahnya. Jangan lupa susunya juga diminum. Arga, mamah gakmau yah kalo kamu buang lagi susu buatan mamah. Fika kamu juga diminum yah susunya. Kalian jangan membudzirkan makanan, mamah udah cape-cape buatinnya." Papar Ratna masih sibuk membereskan dapur.



Fika yang menoleh ke arah Ratna pun kembali tersenyum lalu mengangguk lembut. "Iyah tante. Makasih."



"Mah, Arga berangkat duluan." Ucap Arga tiba-tiba membuat Fika reflex menoleh dan menatapnya heran. Tidak biasanya Arga berangkat lebih dulu, bahkan ingin melewatkan sarapannya. Apa ada sesuatu?



Ratna yang berada di dapurpun kini berjalan mendekatinya. "Gak sarapan dulu?"



"Gak usah mah, nanti Arga makan di sekolah aja."



Ratna terlihat sangat kecewa namun Arga menelengkup sisi wajahnya. "Masakan mamah Arga bawa." Perkataan Arga barusan berhasil mengembalikan senyuman di bibir Ratna. Sikap Arga yang terbilang lembut dan manis itu tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun kecuali Ratna dan seseorang yang berarti dalam hidupnya. Adegan inilah yang menurut Fika sesuatu yang langka. Arga yang memiliki sikap dingin, cuek, dan keras telah menunjukkan sisi lain dari dirinya. Dan hal itulah yang membuat Fika semakin kagum terhadap sosok di depannya.



Fika yang menyaksikan hal itu pun tersenyum hangat. Walaupun dia tidak pernah merasakan keramahan dari seorang Arga tetapi ia bisa merasakan kehangatan laki-laki itu. Jika saja rasa kasih sayang yang diberikan Arga itu bisa ia rasakan, mungkin dia akan menganggap hidupnya terlalu sempurna. Bahkan itu membayangkannya saja rasanya tidak pantas untuknya. Ia sadar, bahwa kasih sayang akan datang disaat kepedulian mendatang. Dan siapa yang peduli padanya? Ia bahkan hanya bisa mengharapkan sebuah belaskasihan dari semua orang. Rasa sakit di hatinya mulai kembali terurai, teringat orang tua yang tidak pernah ada disisinya dan saudara-saudara yang tidak pernah peduli akan keberadaannya. Semakin menusuk dan meremas batinnya. Jika saja ia bisa mengembalikan waktu, ia bahkan tidak ingin terlahirkan di dunia ini jika hanya untuk membebani orang lain.



"Arga pamit dulu mah." Ucap Arga yang di angguki Ratna lalu berjalan melewati pintu.



Fika yang masih berdiri kaku disana pun akhirnya mendekati Ratna. "Hemm.. tante, Fika juga berangkat dulu yah." Ucap Fika tiba-tiba.



"Loh kamu juga gak sarapan dulu?"



"Dibekal aja tan. Nanti Fika makan di sekolah." Ucap Fika sambil tersenyum hangat.



"Kalian berdua ini, gak ngehargai mamah banget. Ah, lain kali mamah gakmau masakin buat kalian lagi." Ujar Ratna merajuk. Sedangkan Fika hanya tersenyum kaku. Entah mengapa ketiadaan Arga di sana ia merasa hampa.



"Maaf tante, bukannya begitu tapi Fika baru ingat kalo hari ini Fika ada tugas yang belum selesai. Jadi Fika harus berangkat pagi, belum lagi nunggu angkot takutnya kelamaan tante." Kata Fika selembut mungkin dan hal itu membuat Ratna menghela nafas lembut.



"Yasudah, kamu hati-hati yah." Ujar Ratna mengelus puncak kepala Fika.



Fika tersenyum dan mengangguk. Tak lupa untuk mencium tangan Ratna, ia pun segera menyusul Arga ke luar.



"Anak muda zaman sekarang, PDKT nya kaya gitu yah. Sembunyi-sembunyian. Arga juga, sifat dinginnya udah keterlaluan sama kaya bapaknya. Fika yang lembut kaya gitu di cuekkin." Ratna mendecak. Dan bersandar ke balik pintu sambil memegang dagunya.



"Kayanya aku harus turun tangan."



*****



"Mampus deh! Beneran ini mah kali ini lo mampus Fik! Haduh sumpah gue keringet panas sama dingin pada nyatu nih gilaaa.."



"Lussy kenapa? Kebelet?"



"Iyeh kebelet pingin jitak pale lu."



"Oh..."



"Buset ya lo. Kenapa lo bisa tenang gini si? Hadeeuh.. kalo gue pasti udah pingin hilang dari muka bumi ini trus menjelajah waktu supaya bisa ngilangin pelajaran Kimia sekarang dan selamanya."



"Emangnya kenapa?"



"Yaampun hidup gue gini amat si, ketemu sama orang yang datarnya lebih datar dari tembok raksasa china. Bikin tensi darah gue naik aja lu."



Fika yang tengah duduk memerhatikannya pun berdiri lalu menepuk-nepuk pundak Lussy. "Lussy yang sabar yah."



"Halah!" Lussy menghempaskan tangan Fika kesal. "Lagian lo ngapain si pake mecahin proyeknya?!"



Fika merengut. "Fika kan udah bilang, proyeknya jatuh di tangga. Masa Fika ngerusak proyek Fika sendiri."



"Ya trus sekarang harus gimana coba? Hari ini pengumpulan proyeknya! Dan kalo bu Retno tau lo nggak ngumpulin tugas hari ini beeuuhh.. Abis lo sama dia, lo nggak akan bisa tidur nyenyak apalagi makan enak kalo urusannya udah sama bu Retno."



Fika mengerutkan kening. "Apa hubungannya? Emangnya nanti bu Retno ngelarang Fika makan sama tidur?"



Lussy menepuk jidatnya. "Maksud gue bukannya gitu Fika Pricilla yang OONnya naturaaal! Itu cuman sebuah kiasan doang! KI.A.SAN! NGERTI GAK SIH LO?"



"Nggak."



Lagi- lagi Lussy membuang nafas frustasi. "Susah ngomong sama anak jahe!"



"Anak jahe?"



"Udah mending lo diem, gue lagi mencoba berkonsentrasi sama otak genius gue bentar..."



Shuutttt .....



Suara desussan para siswa memberi aba-aba untuk tenang dan jangan berisik dikarenakan sudah ada guru yang berjalan menuju kelas mereka. Membuat Lussy dan yang lainnya berhamburan menuju kursinya masing-masing.



"Weh! Bu Retno datang! Heh Fik lo Yasinan gih biar slamet. Cepetan!"



"Gakmau, masa Yasinan si."



"Haelah. Banyak protes lo, biar lo slamet dunia akherat!"



"Gkmau ah, Lussy aja gih."



"Gue bantuin wirid. Lo yang Yasinan!"



"Fika baca ayat kursi aja deh."



"Yaudah serah lo, yang penting minta keselamatan."


__ADS_1


Seorang guru laki-laki yang berpakaian dinas lengkap dengan gaya rambut di sisir rapih ala cepak memasukki ruangan sambil membawa sebuah map berwarna merah di tangannya dan melangkah masuk ke dalam kelas.



"Lah kok cowo? Sejak kapan bu Retno jadi cowok?"



Fika terkekeh geli mendengar pertanyaan konyol Lussy, namun anehnya dia seperti tidak menyadari perkataanya sendiri mungkin karena efek terlalu tegang plus perut keroncongan.



"Assallamualaikum anak-anak, selamat pagi."



"Waalaikumsaallam pak.. pagi..."



"Langsung saja ya, mungkin kalian heran kenapa di jam pertama ini malah bapak yang masuk kan?"



Lussy: *Firasat buruk*



Fika: *Bau-bau keberuntungan*



"Iya pak, Bu Retno nya kemana pak?" Ujar salah satu siswi di bangku paling depan.



"Begini, sehubungan bu Retno sedang ada tugas di luar kota, jadi hari ini beliau tidak bisa masuk untuk mengajar. Oleh karena itu, daripada jam pertama ini kosong, maka bapak yang akan mengisinya dengan pelajaran bahasa Indonesia."



"Loh trus tugas bu Retnonya gimana pak?"



"Nah kalo masalah proyek kalian itu, ibu Retno menitip pesan kalau proyek kalian di kumpulkan minggu depan saja."



Fika: *Ya Allah pingin sujud syukur*



Lussy: *TAI*



Sorak riak heboh antara lega dan bahagia terpampang jelas dari para wajah-wajah polos mereka. Namun ada pula yang terlihat kecewa, mungkin karena mereka yang sudah menyelesaikan tugasnya susah payah namun tidak bisa langsung dinilai hari ini. Tetapi beda halnya bagi mereka yang belum selesai mengerjakannya, terutama cewe yang saat ini sedang tersenyum sumriah di bangkunya menahan tangisan haru sambil mengepal tangan tanda keberhasilan Yes!



"Elah seneng nya itu muka tolong di kondisikan mba, nanti kelewatan seneng bisa balikin bu Retno lagi kesini lo."



Fika tercengir. "Hehe.. maaf, kelewat seneng."



"Iya, elo yang seneng gue yang pengap barusan."



"Hehe, makanya Lussy jangan tegang-tegang. Santai aja."



Lussy membuang nafas lega. "Gila beneran slamet ya lo. Berarti gaksia-sia wirid gue tadi."



"Hehe.. alhamdulillah rezeki anak sholeh."



"Ciaelah.. anak sholeh. Tobat aja belom lo."



Fika diam sedikit merengut, namun tidak ia pungkiri betapa bahagianya saat ini karena keberuntungan sedang berpihak untuknya. Hatinya mulai terasa lega karena memang sebelumnya ia telah pasrah jika seandainya bu Retno benar-benar akan memberinya hukuman. Walaupun begitu, ia harus tetap kembali mengerjakan proyeknya yang hancur itu nanti. Setidaknya ia memiliki kesempatan kedua yang langkah ini.



*****



"Fik, cepetan ke buset!"



"Bentaran ih, dikit lagi."



"Lama lo!"



"Sabar."



"Sabar-sabar, udah kaya patung liberty gue disini. Laper gue pingin makan!"




"Lama lu kaya siput rawa."



"Emang siput rawa kaya gimana?"



"Lo searching aja di internet sono."



"Fika gak punya kuota."



Lussy mendengus keras, berusaha untuk tetap sabar. Mereka berjalan menuju kantin yang seperti biasanya meludak padat.



"Tuhkan bener kata gue, kantin udah kaya tempat konser BTS. Rame gak ketulungan."



"BTS apaan?"



Tidak berniat menjawab, Lussy terus mencari celah untuk mengantri.



"Fik, lo duduk di meja sono noh! Gue mau ngantri dulu oke."



"Oke."



Tanpa ragu Fika berjalan ke arah meja yang baru saja Lussy tunjuk. Awalnya memang seperti biasa saja, namun beberapa langkah ia melewati deretan meja kakak kelasnya suasana menjadi berubah mulai terasa horor.



Fika yang tadi berjalan cukup santai, sekarang menjadi terasa kaku karena banyak pandangan yang tidak menyenangkan dilontarkan untuknya.



"Oh itu, cewe yang nantangin Arga?"



"Yups! Cupu banget kan?"



"Dasar gktau malu, deketin Arga yang jauh dari peradaban dia."



"Ahahaha.. bagaikan langit dengan semut."



"Tapi kok bisa sih dia berani banget sama Arga? Padahal disini kan gakada cewe yang deket sama Arga kecuali Angel."



"Yaampun si Arga juga kayanya benci banget sama itu cupu. Cuman dianya aja yang gakpunya malu, kalo gue suruh milih mendingan Arga buat gue aja dari pada sama si cupu."



"Ih kok lu jadi ngarep gitu? Lebih cocok sama Angel jauh kemana-kemana."



"Emang cewe mana si yang gakmau milikin Arga? So, nggak salah kan kalo gue juga pingin milikin dia?"



"Bener juga lo."



Jika saja Fika tidak melewati meja keempat cewe itu, mungkin hingga saat ini mereka masih membicarakannya. Meskipun tatapan mereka masih tertuju padanya tapi tenang saja, Fika masih memiliki stok sabar di hatinya. Buktinya saja ia masih bisa bertahan meskipun seluruh orang di kantin kini menatapnya tidak suka. Lagi pula ia juga tidak bisa melawan ataupun melakukan apapun. Apa boleh buat, semua sudah terjadi.



Fika sendiri hanya bisa menghela nafas lega saat ia telah sampai dan menempelkan bokongnya di kursi. Namun apa daya dia yang kini hanya bisa menundukkan kepala malu dan berharap Lussy segera datang.



"Boleh duduk disini gak?"



Suara lembut seseorang yang terdengar sangat jernih berhasil membuat Fika mengangkat kepalanya. Ia menatap kedua mata sipit cokelat milik perempuan yang kini tengah berdiri berkacak pinggang tersenyum ramah padanya.



"Boleh kak," Ucap pelan Fika nyaris tidak terdengar.



"Makasih." Ujar perempuan itu lalu duduk di depan Fika. "Eh, kamu udah pesen makanan belum?"



"U-udah kok kak." Fika masih merasa kebingungan mengapa Angel ingin duduk dengannya. Apa yang ingin cewe itu lakukan?

__ADS_1



"Gakusah tegang gitu, santai aja. Aku gakbakalan ngapa-ngapain kamu kok."



Seolah ia tahu apa yang ada dipikiran Fika namun tebakannya memang tepat. Dan Fika kembali mengurai senyumnya.



"Maaf kak, ada perlu apa yah?" Tanya Fika akhirnya.



"Rupanya kamu gak nyaman yah aku duduk disini?" Ucapan Angel barusan membuat Fika kambali mendongkak dan menatapnya gugup.



"Enggak kok kak, Fika cuman bingung aja kenapa-"



"Aku disini?" Potong Angel yang lagi-lagi benar. Fika menganguk pelan namun membuat Angel tersenyum.



"Aku gakada niat apa-apasih. Cuman aku penasaran aja sama kamu. Yah, kamu tau sendirilah perihal kejadian kemarin itu berhasil buat kamu makin banyak di kenal, sekaligus mengundang banyak penasaran."



Entah mengapa perasaan Fika mulai tidak enak. Masalah kejadian kemarin itu memang ia lakukan secara terpaksa, terlebih kejadian yang menimpa setelahnya itu benar-benar diluar nalar Fika. Jika saja ia mengetahui tragedi itu akan terjadi sebelumnya, mungkin Fika tidak akan menantang Arga basket.



"Jadi.. ada hubungan apa kamu sama Arga?"



Deg!



Fika terhentak dengan pertanyaan itu, apa yang harus ia katakan sekarang? Tidak mungkin juga ia mengatakan hal yang sejujurnya atau Fika akan habis di tangan Arga.



"Kamu gakusah takut, aku bisa jaga rahasia kok."



Ini orang bisa baca pikiran atau emang seorang peramal? Lagi-lagi Angel bisa menebak apa yang ada dibenak Fika. Fika semakin gugup, ia tidak hentinya melilin roknya di bawah meja untuk mengurangi kegugupannya. Seandainya ada keajaiban saat ini yang bisa menolongnya, ia pasti akan sangat bersyukur.



"Lama yah? Sorry, biasa antri puuanjaaang mamen. Gila ih cacing di perut gue gakmau diem sumpah dah. Nih Fik bakso lo."



Fika menghela nafas lega, malaikat penolongnya telah tiba. Lussy mulai duduk di samping Fika tanpa ada rasa ragu ataupun terganggu. Ia justru begitu santai mengabil semangkuk sambal didepannya. Apakah dia tidak menyadari Angel disana?



"Makan, makan.. gila Fik gue kaya gkmakan dua minggu aja. Beuh ini bakso enak tenan serius dah. Lo harus coba."



Sedangkan Angel duduk menatap bingung kedua cewe di depannya yang bahkan sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya.



"Ekhem.. hai." Sapaan Angel membuat Fika beserta Lussy mengangkat kepala bersamaan dan menatapnya.



"Eh ada kak Angel, siang kak. Baru keluar yah? Tumben duduk disini? Temen-temennya pada kemana kak? Pada kabur yah?"



Angel mengurai senyum. "Ada kok, mereka ada di meja biasanya. Cuman aku lagi pingin ngobrol aja sama Fika. Iya kan Fik?"



Fika mengangguk. "I-iya kak."



Lussy mengangguk-nganggukkan kepalanya lalu menyeruput mie baksonya. "Kalo gakada keperluan lagi, cepet pergi yah kak. Soalnya lagi males ribut nih."



'Yaampun Lussy' Batin Fika.



Ia menyenggol sikut Lussy sedikit keras namun cewe itu sama sekali tidak menghiraukannya.



"Oke, lagian aku gakmau cari ribut kok." Ucap Angel sama santainya.



Suasana kantin yang tadi ricuh tidak karuan entah mengapa menjadi sepi senyap. Ada apa? Pikir Fika. Fika menatap Angel yang justru menatap arah lain di belakangnya. Fika pun akhirnya mengikuti pandangan Angel, dan ketika itu juga matanya membelalak.



'Arga' Batinnya kaget.



Pantas saja semua orang terdiam, ternyata ada cowo super duper keren dan tampan di kantin ini. Namun Fika yakin senyapnya suasana kantin bukanlah karena kedatangan Arga semata, tetapi karena cowo itu kini tengah berdiri di belakang kursinya. Apa yang sedang ia lakukan? Desussan-desussan halus mulai terdengar, tatapan orang-orang pun kini tertuju pada Fika.



"Arga, kamu pasti cari aku kan? Maaf yah aku tadi gak ngasih tau kamu."



Suara nyaring yang menggema kesuluruh penjuru kantin membuat semua mata tertuju padanya. Terutama Fika yang berada tepat di hadapannya.



Angel yang tersenyum riang menatap Arga kini beranjak berdiri lalu mendekatinya, dan tak sungkan-sungkan ia mengaitkan lenganya ke tangan kekar Arga.



"Sekali lagi maaf yah Ga." Ucap Angel dengan nada sedikit manja. Cewe itu meraih jari-jari tangan Arga dan menyatukannya dengan jari-jari miliknya. Arga sendiri terlihat tidak terganggu ataupun risih. Ia hanya diam pasrah dengan perlakuan Angel.



"Ayo." Angel menarik tangan Arga. Dan Arga pun mengikuti langkahnya.



Suasana kantin yang sepi senyap itu tiba-tiba meludak ramai. Ada yang bersorak-sorak kagum dan ada juga yang tertawa membahak beserta hinaan. Bukan hinaan untuk Angel maupun Arga tetapi untuk cewe berkepang yang kini menunduk malu di mejanya.



"Gak sadar diri sih! Mikir tuh pake otak jangan pake dengkul! Ahahha..."



"Urat malunya udah pada putus cuy."



"Muka berantakan aja pingin menangin pangeran sekolah."



"BEGO!"



"Udah jelek, culun hidup lagih ..aahahah.."



"Aduh yah guys, kalo gue jadi dia. Mending gue terjun dari gedung sekolah deh. Malu anjay malu..."



"Eh diakan gakpunya malu guys.. jadi maklumi aja."



"Oh iya yah. Diakan gakpunya malu, dasar muka tembok!"



"Enyah lo!"



"Pergi aja lo dasar CUPU!"



BRRAAAAK!



Hening...



"Pada bisa diem gak lo semua?! Ngebacot gaktau adat sama tempat! Punya mulut tuh di pake ngomongin yang berguna bukan ngehina orang yang gak bersalah. Percuma lo semua sekolah tapi mulut pada busuk! Kalian bilang cupu? Justru kalian yang cupu! Kalo berani ngomong sini depan muka gue! Jangan beraninya kroyokan lo kira ini ajang partai bisa seenak congor lo doang?! Dan kalian bilang gak punya otak? Lebih gak punya otak mana yang ngehina orang tanpa sebab?! Sebelum ngehina itu liat diri lo sendiri! Udah ngerasa pada sempurna lo? Makan sama nasi aja pada blagu lo semua! Najis!"



Lussy berteriak begitu lantang di tengah-tengah kantin yang menghening. Semua orang terdiam mendengar Lussy meluapkan kekesalannya. Meskipun dia seorang adik kelas, namun kemarahan Lussy yang setara dengan amarah banteng itu tidak ada satupun yang berani melawannya.



"Fik gakusah mewek! Kita balik!"



Yah, Fika memang sudah meneteskan airmata sesaat Lussy berteriak. Fika sangat bersyukur memiliki sahabat sepertinya, Lussy telah mewakili rasa sakit dan juga rasa kesal dihatinya yang tidak mampu ia ungkapkan.



Tanpa menunggu lama Lussy menarik paksa Fika dan berjalan cepat meninggalkan kantin.



____



Aduh panjang ya ..😁


Maaf yah, kalo udah nulis tuh suka gak kerasa gitu, udah 3 ribu kata lagi.



Semoga gakbosen sama cerita ini yah.. akan ada banyak kejutan-kejutan lain setelah ini guys.. jadi mohon bersabar.



Jangan lupa komen dan likenya yah.



See you next chept》


__ADS_1



__ADS_2