Unforgettable

Unforgettable
Where are You? Fika


__ADS_3

"Wil, si Arga mana? Perasaan tadi udah keluar duluan."


Nico baru saja keluar dari ruang ganti baju. Cowo itu terlihat kebingungan saat tidak melihat keberadaan Arga disana. Padahal ia tahu persis bahwa Arga sudah keluar lebih dulu darinya.


"Si Arga keluar tadi." Jawab Willy. Ia terlihat tidak peduli mengenai hal itu.


"Kok keluar sih? Bentar lagikan latihannya mulai." Ujar Nico ikut jengah dengan tingkah Arga yang memang akhir-akhir ini sering bolos latihan basket.


"Biasa dia sibuk ama ceweknya." Celetuk Andre. Ia menghampiri Nico dan Willy.


"Cewek siapa?" Tanya Nico keheranan.


"Yaelah lo kayak gak tau aja Nic. Masa lo gaktau sih siapa cewek yang selalu nempel kaya prangko sama si Arga. Udah kaya kuman tu cewe." Cibir Andre terdengar sangat tidak suka dengan cewe yang ia maksud.


"Alah, palingan tu cewe ada maunya." Sosor Willy. Ekpresinya terlihat meledek.


"Kalian berdua pada kenapasi? Ngomongnya kaya cewe lagi PMS aja. Lagian cewek yang lagi sama si Arga itu siapa hah? Si fika maksud lo?"


"Kalo Fika mah gue juga gak bakalan ngomong Nic. Lah ini cewe bermuka dua." Sinis Andre. Jika cewe itu mendengarnya mungkin ia akan sakit hati karena ucapan Amdre yang tidak pernah disaring. Cowo itu type cowo yang blak-blakan dalam segala hal. Apapun yang ada dipikirannya maka ia akan mengungkapkannya. Termasuk rasa kesalnya terhadap cewe itu.


Nico terdiam sesaat. Sambil menatap heran ke kedua sahabatnya yang sedang uring-uringan itu. Mereka terlihat kesal sekarang. Nico belum tahu jelas siapa cewe yang mereka maksud sejak tadi. Namun yang ia tahu hanya ada tiga cewe yang selalu Arga ladeni selama ini. Yaitu Fika, Angel dan terkhir Alicia.


"Maksud kalian Alicia?" Ucap Nico akhirnya ia mampu menebak dengan tepat. Namun membuat kedua sahabatnya terdiam kesal.


"Gue heran sama si Arga. Diakan udah dapetin lagi si Fika, tapi kenapa masih aja ngeladenin si Alis?" Gerutu Andre. Entah kenapa emosinya selalu meledak setiap ia mengingat cewe bernama Alisia itu.


"Kalo gue jadi Fika. Gue sih ogah sama si Arga." Celetuk Willy, namun diselingi tawa recehnya. Seperti di paksakan.


Nico tidak mengomentari keduanya. Sejujurnya ia juga merasakan hal yang sama. Ia heran dengan sikap Arga yang selalu bertentangan dengan ketiga sahabatnya itu. Mungkin dulu Nico dan yang lainnya masih bisa memaklumi dirinya karena ia belum meredakan rasa benci terhadap Fika. Mereka juga tidak melarang Arga mau dekat dengan wanita mana pun termasuk Alicia.  Mungkin dulu memang Arga pernah bilang suka pada Alisia, namun Nico tahu betul Arga mengatakan itu hanya sekedar pelampiasan semeta karena saat itu ia masih mencoba melupakan Fika. Tapi sekarang keadaannya sudah berubah. Lalu mengapa Arga masih juga meladeni Alicia?


Tidak ingin berpusing-pusing, Nico si cowo itu mengambil bola basket yang kebetulan tergeletak di sampingnya kemudian mulai mendribelnya. "Udahlah guys, gue percaya sama si Arga." Ujar Nico seraya berlalu menuju tempat ring berada.


Willy dan Andre masih duduk terdiam memerhatikannya. Mereka terlihat lesu saat Arga tidak ada di lapangan.


"Gue benci sama sikap si Arga kaya gini. Dia sekarang jarang latihan. Males gue jadinya." Lagi-lagi Andre menggerutu. Jika sedang kesal dia memang tidak akan berhenti mengomel layaknya cewe-cewe sosialita.


"Ck, emangnya lu aja? Sama gue juga!" Semprot Willy seraya beranjak berdiri. "Udah ah gue gak mau deket-deket lo. Entah ketularan nyinyir gue."


"Emangnya lo kira gue kuman apa?!" Sewot Andre. Cowo itu pun berlari ikut mengejar Willy yang sudah berada di tengah lapang bersama Nico dan anak lainnya.


*****


"Fik bawain yah, lo kan baek."


Ini sudah kresek yang kedua kalinya Fika pegang. Dan dua-duanya adalah milik Lussy. Ia juga heran, tidak tahu sejak kapan Lussy jadi suka membawa bekal banyak seperti itu. Padahal yang ia tahu, Lussy adalah cewe yang paling gakmau ribet. Mungkin karena sudah lama Fika tidak bersamanya jadinya ia kaget dengan perubahan Lussy yang drastis itu.


"Kita mau kemana si?" Tanya Fika saat Lussy menarik lengannya yang penuh kantung kresek itu. "Lussy ngomong dong!"


"Apasi Fik, pokonya lo ngikut aja. Jangan banyak ngomong oke?"


Fika tidak bisa berkata apapun lagi, karena sepertinya akan sia-sia saja.


Bell pulang sudah berbunyi sejak tadi. Makanya saat ini lorong sekolah juga sudah terlihat sepi. Fika masih setia berjalan di belakang Lussy yang justru terlihat sangat buru-buru. Mereka berjalan melewati taman sekolah kemudian berbelok menuju arah gerbang.


"Please Lussy, kalo kamu mau ngajak aku pulang bilang aja. Jangan main seret-seret gini." Protes Fika. Ia semakin jengah dengan sikap sok misterius Lussy.


Namun bukannya menjawab perkataan dari Fika. Lussy justru semakin mempercepat langkahnya. "Lo! Tunggu di sini oke?"


"Eh? Mau kemana?"


"Gue kesana bentar!" Teriak Lussy seraya berlari menjauh keluar gerbang. Meninggalkan Fika di tengah parkiran yang sangat panas.


Fika mendengus jengkel, sebelum kemudian Ia pun memutuskan mencari tempat yang teduh di dekat taman sekolah.


Namun belum sempat ia mencari tempat yang nyaman untuk berteduh. Kedua mata cokelatnya malahan menangkap hal yang semestinya tidak ia lihat.


"Loh itu kan Arga?" Gumam Fika. Ia menyipitkan kedua matanya mencoba memastikan lagi. Siapa laki-laki yang sedang berdiri di pinggir pohon rindang dekat taman bersama seorang wanita yang terlihat sedang memegang tangan cowo itu?


Fika penasaran. Ia pun berjalan perlahan menghampiri kedua orang itu.


"Gak mau! Pokonya kamu harus ikut aku."


"Gue gak bisa."


"Iih kok kamu jahat banget sama aku? Arga aku gak mau denger alasan apa pun lagi. Pokonya kamu harus ikut aku ke luar negeri!"


"Gue udah bilang gue gak bisa. Gak usah maksa!"


Fika berusaha mendengarkan percakapan kedua insan itu di balik pohon. Ia masih tidak percaya bahwa cowo yang sedang ia curigai itu ternyata memang Arga. Tapi sedang apa dia bersama Alisia?


"Kenapa Ga? Oh aku tau, pasti karena cewe yang namanya Fika itu kan?" Teriak Alicia.


Fika terbabalak di balik pohon itu. Ia tidak menyangka bahwa dirinya bisa terbawa kedalam pertengkaran mereka berdua. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


"Arga jawab!"

__ADS_1


Arga menghela nafasnya. "Ini bukan urusan lo Alicia. Lagi pula gue udah pernah bilang sama lo. Kalau gue-"


"NGGAK! Aku nggak mau denger itu lagi Ga. Please jangan bilang itu lagi..."


"Alicia, kita gakbisa terus kaya gini. Lo sama gue ngak seharusnya bersama. Gue-"


"STOP GA! Aku gkmau denger itu lagi! Kamu cuman boleh sama aku Ga jangan sama yang lain! Sampai kapanpun aku gak rela kamu sama cewe lain!" Alicia mendorong kuat Arga hingga punggungnya membentur pohon di belakangnya.


Alicia panik ia terlihat seperti orang kerasukan saat ia menarik Arga kembali mendekat padanya. "Ga, kamu ikut aku yah? Please ikut aku ke luar negeri yah? Aku gak mau pisah sama kamu." Alicia melempar tubuhnya ke dada bidang Arga. Tentu adegan itu membuat Fika yang sejak tadi mengintip. Terasa sangat sakit.


"Ga, aku gak tau sejak kapan aku cinta sama kamu. Aku nyesel dulu udah nolak cinta kamu. Aku nyesel Ga! Jadi please kasih aku kesempatan lagi yah? Aku janji kali ini aku gak akan nolak lagi. Aku akan setia sama kamu."


Arga terdiam di tempatnya. Cowo itu terus membiarkan Alicia memeluknya erat.


"Aku tau kalau selama ini kamu masih cinta sama aku kan Ga? Iyakan Ga?" Alicia mendongkak menatap Arga yang juga menatapnya. Arga masih juga tidak bergeming dia justru menatap miris Alicia yang semakin bertingkah diluar akal sehat. Bahkan terbesit di hati Arga sebuah penyesalan karena dulu ia pernah mencintainya. Ia tidak menyangka jika Alicia akan berbalik mencintainya saat justru ia tidak lagi mencintainya.


Arga akhirnya mendorong tubuh Alicia perlahan menjauh dari tubuhnya. Membuat Alicia menatapnya tidak rela. Cewe berambut panjang itu kembali menarik kaus Arga karena tidak ingin menjauh darinya. "Ga! Aku cinta sama kamu Ga. Please jangan tinggalin aku." Rengek Alicia. Ia mencoba kembali merangkul Arga namun kali ini Arga menahannya.


"Sorry Alis, gue gakmau nyakitin lo. Tapi kita gak bisa bersama lagi. Mungkin gue emang pernah suka sama lo, tapi itu dulu. Dan sekarang .. gue udah memiliki seseorang di hati gue." Tegas Arga hal yang membuat Alicia menatapnya berkaca-kaca. Ia mengepalkan tangannya kuat kemudian mendorong Arga kembali.


"Jangan bilang kamu suka sama cewe culun itu?"  Tuduh Alicia yang memang benar adanya.


Arga terdiam. Fika menegang dengan jantung berdegub kencang. Fika menebak-nebak kira-kira apa yang akan Arga katakan pada Alicia? Mungkinkah dia akan mengakui yang sejujurnya?


"Iyah. Gue cinta sama cewe yang barusan lo sebut culun."


Deg!


Fika *** kuas roknya.


"Asal lo tau, cewe yang lo nilai rendah itu. Sekarang adalah cewe gue. Jadi tolong jaga ucapan lo ALICIA." ucap Arga penuh penekanan di akhir katanya.


Hal itu tentu membuat Alicia mengepal kuat seraya menatap Arga tajam.


"Kamu bohong kan Ga? Nggak mungkin kamu suka sama cewe jelek itu. Aku yakin dia pasti godain kamu kan Ga? Cih! Dasar cewe culun kurang ajar!"


Perkataan Alicia tertahan saat yang bersamaan Arga mencengkram tangannya. "Lo tuli atau apa? Gue bilang JAGA MULUT LO! Gue gak suka lo ngomong kaya gitu tentang cewe gue!" Teriak Arga. Yang secara tidak langsung telah menjebol mendungan airmata cewe yang sedang menguping di balik pohon itu. Dia tidak kuasa menahan airmatanya lagi sekarang. Sungguh hatinya sangat bahagia.


"Apasih yang bagusnya dari cewe itu Ga? Dilihat dari fisik aja masih bagus aku kemana-mana, kamu buta yah? Jangan sampai kamu dibutakan sama cewe penipu itu Ga!"


Dug!


Arga menonjok pohon di belakangnya berusaha melampiaskan amarah yang tidak mmapu ia utarakan.


Arga kembali berbalik namun dengan ekpresi dibgin dan juga menyeramkan. Ia menatap Alicia tajam penuh amarah.


"Lo harus denger Alicia. Kalo sekali lagi gue denger lo ngejelekin Fika, jangan salahin gue kalau gue akan berbuat kasar sama lo. Mulai hari ini dan seterusnya jangan pernah lo temui gue lagi. Anggap aja kita gak pernah ketemu sebelumnya."


Setelah mengatakan hal yang menohok itu. Arga hendak akan pergi namun Alicia menahan dirinya.


"Arga jangan tinggalin aku." Rengek Alicia. Tanpa malu ataupun rasa takut. Alicia terus berusaha menyentuh Arga walaupun saat ini Arga sudah semakin muak dengan tingkah manjanya itu. Mungkin dulu Arga selalu memanjakannya sehingga dia semakin berani. Tapi kali ini, sudah cukup. Arga tidak ingin lagi bersimpati untuk cewe yang kini sedang menarik-narik tangannya itu.


"Arga.."


Arga menghempaskan tangan Alicia. "Gue pergi." Ujar dingin Arga seraya berjalan pergi menjauhi taman.


Alicia mematung. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap nanar ginggung Arga yang sudah menjauh dari pandangannya. Kenapa harus seperti ini? Alisia terdiam dengan rasa sakit menusuk di hatinya. Penolakkan Arga padanya tidak akan pernah ia lupakan.


"Kalau aku gak bisa milikin kamu Ga, maka orang lain juga gak boleh milikin kamu."


*****


Hari menjelang malam. Arga baru saja sampai setelah perjalanannya dari sekolah. Latihan sore tadi memang lebih lama dari hari biasanya. Karena tim Arga sebentar lagi akan menghadapu turnamen maka Arga memutuskan untuk menambah jam latihan lebih lama. Itulah sebabnya dia baru pulang sekarang.


Langit pun sudah mulai gelap. Untungnya di perjalanan tadi jalanan tidak terlalu macet sehingga Arga mampu menempuh waktu yang singkat untuk sampai di rumah.


"Silahkan den," Sambut satpam rumah Arga. Pria paruh baya itu membukakan gerbang rumah Arga sambil menyapa ramah Arga.


"Makasih mang." Ujar Arga. Jika dihitung ini adalah yang kedua kalinya Arga menjawab sapaan dari pak satpam. Karena sebelum-sebelumnya cowo itu hanya akan mengangguk untuk merespon. Dia akan menjawab ketika moodnya sedang bagus. Itu artinya memang moodnya jarang bagus.


Hal pertama yang Arga lakukan setelah keluar dari mobilnya. Ia menenteng tasnya di pundak kanan. Kemudian berjalan menuju arah pintu depan. Langkah Arga kembali terhenti saat baru menyadari bahwa ada orang yang sedang berdiri di depan pintunya kali ini.


Melihat dari postur tubuhnya saja Arga sudah bisa mengetahui siapa orang yang sedang berdiri di depan rumahnya itu. Namun seperti biasanya, Arga tidak akan pernah peduli padanya. Ia berjalan kembali dengan santai bahkan tanpa mempedulikan orang itu Arga meleos melewatinya tanpa rasa bersalah.


"Sampai kapan lo mau kaya bocah?" Celetuk orang itu yang berhasil menghentikan langkah Arga di ambang pintu.


"Gue gak ada urusan sama lo."


"Tapi gue punya urusan sama lo. Ada hal yang perlu lo tau."


"Gue gak peduli."


Arga tidak lagi mempedulikan Gino yang masih berdiri di belakangnya. Ia baru saja akan melangkah namun Gino lagi- lagi membuatnya terhenti.


"Lo yakin gak akan peduli?" Tanya Gino. Ekpresinya tidak bisa ditebak.

__ADS_1


"Sebaiknya lo cepet pergi dari sini, sebelum kesabaran gue habis." Ancam Arga. Namun membuat seringaian Gino timbul.


"Oke, tapi gue harap lo gak akan nyesel." Ucap Gino. Kemudian beranjak pergi.


Arga sudah menahan dirinya sekuat mungkin. Kesabarannya memang tidak pernah bisa ia kendalikan saat melihay Gino kakak kandungnya sendiri. Kakak sekaligus musuh terbesarnya selama ini. Selama ini Arga masih cukup bersabar untuk membiarkan Gino masuk ke dalam rumahnya bahkan untuk mendekati Fika. Tapi semakin lama ia biarkan, semakin membuat kebebasan bagi Gino untuk bertingkah seenaknya.


Tidak semua orang yang tahu, yang pasti hanya Arga dan Gino sendirilah yang tahu kenapa mereka bisa bermusuhan hingga mendarah daging. Bahkan Ratna ibu mereka pun tidak tahu menahu menagapa kedua putranya itu bisa saling memusuhi. Sudah beberapa kali Ratna menanyakan hal itu pada Arga. Namun bukan jawaban yang ia dapatkan melainkan amukan dari Arga. Ia paling benci ketika ibunya menanykan perihal dirinya dan kakaknya itu. Oleh sebab itu, Ratna sampai saat ini tetap membiarkan mereka mungkin sampau takdir yang menyatukan mereka lagi.


"Loh Ga kamu udah pulang?" Suara Ratna yang baru saja menuruni tangga itu menyita perhatian Arga untuk menatapnya.


"Iya mah. Maaf Arga pulang telat, soalnya abis latihan basket." Kata Arga seraya memasang senyuman tipis.


"Gak papa. Asalkan kamu gak lupa pulang aja." Canda Ratna berhasil memancing senyum Arga terurai. "Fikanya mana Ga?"


Pertanyaan Ratna barusan bukan hanya membuat Arga menyernyit melainkan memudarkan senyumannya. "Fika?" Tanya Arga heran.


"Iyah Fika.. masa kamu lupa sih Ga. Fika kan satu sekolah sama kamu. Satu rumah lagih."


"Arga tau mah. Tapi bukannya Fika udah pulang dari siang?"


"Hah? Fika belum pulang Ga. Mamah kira dia pulang bareng kamu."


Arga mulai gelagapan. Pasalnya setelah pulang sekolah tadi dirinya belum bertemu dengan Fika sekalipun. Arga memang sempat mencari Fika hanya untuk memastikan dia sudah pulang atau belum. Namun saat ia ke kelasnya tadi siang, kelasnya memang sudah kosong. Dan Fika pun sudah tidak ada di sana. Semenjak itu Arga mengira Fika sudah pulang lebih dulu darinya. Namun kenyataannya dia belum pulang sampai saat ini. Dimana ia sekarang?


Arga segera meronggoh saku celananya dan menyalakan ponselnya. Jemponya bergerak cepat di layar ponsel itu sampai saatnya Arga menghubungi satu nomor disana.


Tak lama kemudian telponnya terhubung.


"Lussy, Fika sama lo sekarang?" Tanya Arga ia terlihat sangat panik.


"Hah? Fika? Loh bukannya dia balik bareng lo yah?"


Arga memejamkan matanya. "Dia gak pulang bareng gue Lussy! Apa lo tau dia dimana?"


"Gue sih taunya tadi siang Fika gue suruh nunggu di parkiran. Tapi pas gue balik lagi, dia udah gak ada. Gue kira lo ngajakin dia balik. Oh atau-"


TUT!


Arga mematikan sambungan telponnya. Ia tahu akan sia-sia saja mendengarkan ocehan Lussy yang jelas-jelas tidak tahu keberadaan Fika.


Arga kembali mencari nama di kontak ponselnya. Sampai ia menemukan satu nama itu lalu memanggilnya.


"Hallo, tumben lu nelpon gue. Ada apa Ga?" Ucap seseorang di ujung telpon sana.


"Fika mana Bal?" Tanya Arga akhirnya.


"Fika? Lo kan serumah ama dia, kenapa lo nanya gue? Apalo-"


"Fika gak ada di rumah."


"Hah? Gak ada gimana?"


Arga frustasi, ia mengacak rambutnya sendiri. "Gue gak tau. Gue kira dia udah pulang Bal. Tapi ternyata dia blom pulang sampai sekarang."


"Wait wait, jadi maksud lo Fika hilang gitu?"


Hati Arga semakin sakit rasanya mendengar kata itu. Entah bagaimana mengungkapkannya. Tapi Arga saat ini begitu panik.


"Gue akan cari dia." Ucap Arga hendak akan menutup telpon.


"Gue juga akan bantu lo Ga. Lo tenang dulu, gue hubungi anak lain juga. Lo jangan cari sendirian."


"Gue bisa ngelakuinnya sendiri."


"Jangan egois Ga. Lo gak tau apa yang lo hadapi. Pokonya lo tunggu gue dan anak lain ke rumah lo. Gue jamin gak akan lama. Tunggu kita bro."


Tut!


Panggilan keduanya terputus.


"Ga. Kamu harus cari Fika sampai ketemu." Ujar Ratna. Ia juga ikut khawatir seperti Arga bahkan jiwa keibuannya membuatnya semakin ketakutan. "Ga, janji sama mamah. Bawa Fika dengan keadaan selamat."


Arga menatap Ratna. "Arga janji mah. Bahkan meskipun dengan nyawa Arga sendiri."


__________


Wah ... kira-kira Fika kemana guys?


Menurut tebakan kalian siapa nih yang membuat Fika hilang?


Tulis di kolom komentar yah..


Jangan lupa LIKE nya oke!


See you in the next chept》》》

__ADS_1


__ADS_2