Unforgettable

Unforgettable
Sebuah perasaan


__ADS_3

Setelah melewati malam yang panjang, hari ini Fika kembali terbangun dengan wajah kusam serta mata sembab dikarenakan menangis sepanjang malam. Bagaimana tidak? Sesaat setelah Iqbal mengantarkannya kembali pulang Fika belum bisa melepas antara rasa bersalah dan juga rasa sakit dihatinya.


Mengingat semuanya kembali membuat Fika semakin tersiksa. Bahkan untuk menjalani hari pun rasanya ia tidak sanggup lagi.


Hari ini Fika harus pergi ke sekolah, walaupun sangat malas namun ia telah selesai merapihkan dirinya dan bersiap untuk turun dari tangga. Ia melihat kesekeliling ruangan yang memang sangat sepi terlebih ia cuman tinggal berdua dengan Arga.


Ngomong-ngomong dimana Arga sekarang? Dari kemarin malam hingga saat ini Fika belum melihat cowo itu sama sekali. Ia bahkan tidak tau kapan cowo itu pulang ke rumah. Karena Fika sendiri lebih dulu datang sebelum cowo itu.


Sepertinya Arga telah banyak menghabiskan waktunya dengan perempuan bernama Alisia itu, hingga ia sendiri lupa akan waktu.


Tapi apa peduli Fika? Saat ini dan mulai saat ini, Fika tidak akan peduli lagi dengan apapun yang dilakukan cowo itu. Yah, semalaman suntuk Fika tidak tertidur nyenyak hanya untuk memikirkan hal itu. Dan mungkin inilah keputusan terbaiknya. Fika akan berusaha melupakan Arga. Namun pertanyaannya. Apakah dia mampu melupakannya?


Fika menuruni anak tangga dan sempat melihat ke arah dapur yang sama sepinya. Ia pun kembali berjalan menuju pintu dan keluar berniat menunggu angkutan umum untuk pergi ke sekolah. Sebelum itu ia juga tidak lupa untuk mengunci pintu rumah dan menitipkannya pada satpam rumah Arga.


"Pagi neng, berangkat yah?" Sapa satpam penjaga rumah Arga.


"Iya mang, Fika nitip kunci yah."


"Siap neng."


Fika menyerahkan kunci itu sambil berkata. "Arga udah berangkat yah mang?"


"Oh.. den Arga udah berangkat dari tadi subuh neng,"


"Dari subuh?"


"Iyah neng, soalnya temen den Arga kesini."


"Temen? Cewe apa cowo mang?"


"Cewe neng."


Fika mengerutkan keningnya, ia hafal betul dengan sifat Arga. Cowo dingin seperti es batu itu tidak mungkin mengajak teman perempuannya pergi bersama. Kecuali jika itu adalah Angel atau..


"Mang tau gak ciri-ciri cewenya?"


"Wah neng, kalo wajahnya mamang kurang jelas. Cuman den Arga manggil nama dia itu Alis-"


"Alisia?" Tukas Fika langsung.


"Nah itu neng, iyah A-lisia."


Seberapa keras Fika mengatakan bahwa ia  tidak peduli namun mendengar Arga kembali pergi bersama Alisia tidak bisa memungkiri bahwa ia kini telah kecewa dan cemburu. Hatinya kembali terasa sakit. Namun semua itu tidak ada gunanya sama sekali, Fika hanya mampu berdiam diri dan menghadapi kenyataannya bahwa dia memang tidak pernah diinginkan.


"Fika berangkat dulu yah mang." Suara Fika terdengar lesu. Bahkan semangatnya yang tadi sempat ada kini hilang kembali. Fika yakin hari ini moodnya akan hancur total.



Setelah beberapa menit diperjalanan, Fika akhirnya telah sampai ke sekolah tepat waktu. Ia kini sedang berjalan menaiki anak tangga menuju lantai 2. Entah apa yang merasuki dirinya saat ini. Ia sama sekaki tidak mampu mengontrol pikirannya. Sepanjang perjalanan yang ada di benaknya hanyalah Arga. Ia tidak mampu menahan dirinya lagi sekarang. Bahkan tanpa ia sadari, kini ia sudah berdiri tepat di depan pintu lapangan basket.


Jika memang ini adalah akhirnya, maka biarkanlah aku yang pergi dengan hati yang tenang. Jawabanmu adalah penentunya.


Fika meyakinkan hatinya, ia berusaha kuat dan memberanikan dirinya untuk melangkah masuk ke dalam ruangan. Kali ini ia tidak peduli dengan tanggapan oeang lain terhadapnya. Bahkan ia sama sekali tidak peduli meskipun kini banyak pasang mata yang tengah memerhatikannya disana.


Karena meskipun masih pagi namun lapangan basket tidak pernah sepi pengunjung, terutama bagi anak-anak basket tempat ini adalah tempat nongkrong paling ideal bagi mereka.


Fika terus melangkah tanpa ragu, tatapannya kini tertuju dengan sekelompok cowo yang telah duduk santai di kursi penonton. Bukan tanpa alasan, tapi karena diantara sekelompok orang itu ada sosok yang sedang ia cari sejak tadi pagi. Tentu saja, Arga ada disana.


Cowo itu tengah duduk santai sambil asik mengobrol dengan Nico, saking asiknya bahkan ia sendiri tidak menyadiri Fika yang tengah berjalan menghampirinya saat ini.


"Arga." Panggil Fika halus.


Semua cowo yang tengah duduk disana pun langsung menatap Fika bersamaan. Mereka terlihat kebingungan terutama dengan cowo yang barusan dipanggil namanya.


"Arga, boleh Fika bicara sama Arga sebentar?"


Arga terlihat sama sekali tidak berekpresi, cowo itu menatap datar Fika dan kembali tidak menghiraukannya.


"Arga, Fika mohon.. cuman sebentar saja." Pinta Fika memohin dengan tulus.


Arga yang masih terdiam itu akhirnya disenggol kuat oleh Nico membuatnya menggeram sendiri. Detik berikutnya Arga pun akhirnya berdiri. Mata elangnya melirik Fika sekilas memberi isyarat.


Namun apalah Fika, dia adalah type cewe yang kurang peka dan mengerti isyarat dari cowo itu. Fika malah menatap Arga canggung membuat Arga menjadi geram sendiri.


"Lo mau ngomong sama gue kan?"


Fika tertegun. Ia mengangguk ragu. "Iyah."


Arga mendengus setelah kemudian berbalik. "Ikut gue."


Fika yang gelagapan langsung mengangguk dan mengikuti Arga dari belakangnya. Mereka berjalan ke arah ruangan ganti baju. Dan sesaat di dalam. Arga menghentikan langkahnya.


"Langsung aja."


Fika mengerti apa yang Arga maksud. Namun entah kenapa, justru ia terasa tidak mampu mengucapkan apapun.


"Gue gak punya banyak waktu." Ujar Arga dingin. Cowo itu masih juga berdiri di depan Fika tanpa berbalik menghadapnya.


"Arga... se-semalam pergi kemana?"


Berat! Terasa berat. Lidah Fika terasa kaku. Mengucapkan hal sepele saja terasa mengucapkan sebuah kalimat berbahaya. Di depan Arga keberanian yang telah ia kumpulkan mampu musnah dalam sekejap sesaat cowo itu berada di dekatnya.


"Lo kesini cuman mau tanya itu?"


Arga berbalik badan. Cowo itu menatap Fika tajam dan dingin. Wajah tanpa ekspresinya membuat Fika semakin ketakutan setengah mati.


"Apapun yang gue lakuin bukan urusan lo."


Fika tau itu. Fika sangat sadar poisinya, namun apa yang harus ia lakukan? Sedangkan dia sendiri selalu melawan kenyataan.


"Maaf... tapi Fika cuman khawatir sama Arga."


Fika tidak tau lagi harus mengatakan hal apa. Namun jujur Fika memang menghkawatirkan cowo itu meskipun dia sendiri tau apa yang dilakukan cowo itu kemarin malam. Tetapi Arga? Dia tampak tidak sama sekali peduli. Ia hanya diam dengan wajah dinginnya menatap Fika.


"Kalo gakada hal penting. Gue pergi."


Fika bingung, apa yang harus ia lalukan sekarang? Masih banyak hal yang ingin ia ungkapkan. Namun saat ini Arga sendiri telah berbalik badan dan hampir saja keluar pintu.


Keringat panas dan dingin mulai bercucuran keluar. Fika tidak punya pilihan untuk menghentikan Arga. Ia tau ini akan sangat berisiko namun sampai kapan ia harus memendamnya? Sunggung ia tidak akam kuat!


"ARGA!" Fika berteriak sehingga membuat Arga kembali menghentikan lamgkahnya.


"Gue udah bilang, kalo gak ada hal penting gue-"


"FIKA SUKA SAMA ARGA."

__ADS_1


Hening.


Fika tak mampu menahan lagi airmatanya. Entah itu sebuah kebahagiaan atau memang sebuah beban berat. Namun Fika begitu senang bisa mangatakannya sekarang.


Namun Arga, entah mengapa cowo itu masih juga diam tidak bereaksi sedikitpun. Sampai detik berikutnya cowo itu pun berbalik dengan wajah datarnya.


"Lo tadi bilang apa?"


Fiak mengangkat wajahnya. Ia tersenyum hangat menatap wajah datar Arga. "Fika suka sama Arga."


Arga menatap Fika dengan tatapan misterius. Ia menatap Fika penuh arti.


"Arga.. Fika tau, Fika bukan cewe yang pantas buat Arga. Tapi.. Fika gak bisa bohongin perasaan Fika sendiri. Kalo Fika suka sama Arga-"


"Dan gue benci sama lo."


Deg!


Seketika senyuman Fika pudar. Ia menatap bingung Arga. Mengapa? Apa benar yang dia katakan itu?


"Arga.." Fika berniat untuk mendekati Arga namun cowo itu langsung melangkah mundur.


"Lo kurang jelas?"


Fika terhenti dan terdiam.


"Gue benci sama lo. Dan itu gak akan pernah berubah."


Sesak. Itulah yang saat ini Fika rasakan. Perasaannya sakit dan hancur dalam sekejap. Sebenci itukah Arga padanya? Lalu apa arti dirinya waktu itu? Apakah dia hanya sebagai pelampiasan sesaat?


Airmatanya kembali menetes. "Tapi kenapa? Kenapa Arga benci sama Fika? Apa Fika pernah berbuat jahat sama Arga?"


Arga berbalik badan. "Lo emang gak berbuat jahat. Tapi apa yang keluarga lo lakukan itulah yang membuat gue benci sama lo."


"Tapi Fika sama sekali gak tau apa yang keluarga Fiak dulu lakukan sama Arga. Arga.. Fika mohon jangan benci Fika lagi. Fika-"


"CUKUP!"


Fika tertegun. Arga yang sejak tadi terdiam kini kembali berbalik badan menampakkan wajah sangarnya. Tatapannya bahkan lebih dingin dari sebelumnya.


"Arga..-"


"Gue bilang cukup! Lo gak usah ngomong lagi."


Fika bingung. Apa yang harus ia katakan sekarang?


"Arga, Fika tau Arga marah. Tapi Fika tulus sama Arga. Dan Fika-"


BRAAAK!


"GUE BILANG CUKUP!"


Fika terhentak kaget saat Arga menonjok lemari loker dengan begitu keras mungkin orang-orang diluar pun mampu mendendengarnya. Fika kini terdiam bingung sesaat menyaksikan Arga yang terlihat frustasi. Bahkan ia sempat tertawa hambar dan sesaat kemudian cowo itu kembali berbalik.


"Sepertinya lo udah masuk perangkap gue."


Deg!


Perangkap? Apa maksudnya perangkap?


Arga berjalan mendekati Fika. "Lo sudah masuk perangkap gue."


Fika mengerutkan dahinya.


"Asal lo tau.. gue selama ini selalu benci sama lo. Dan gue baik sama lo cuman ingin menjebak lo."


Mata Fika berkaca-kaca. "Jadi.. Arga selama ini.."


"Yah.. selama ini gue gak pernah ngasih lo harapan sedikitpun, kecuali hanya untuk balas dendam sama lo!"


"Dan gue gak pernah sedikitpun tertarik apalagi suka sama cewe culun dan bego kaya lo! Dimata gue lo cuman cewe malang gak berguna! Bahkan lo di buang sama ibu dan keluarga ko sendiri! Itu karena lo adalah anak-"


PLAK!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Arga. Cowo itu bisa merasakan perih di pipinya karena tamparan Fika yang cukup keras itu.


"Ternyata Fika memang salah menilai Arga."


Arga tertegun. Ia menatap Fika yang kini terlihat penuh amarah. Airmatanya yang menetes menandakam betapa sakit hatinya serta matanya yang merah menandakan ada amarah yang terpendam di baliknya.


"Iyah, Fika memang cewe bodoh yang gak tau apa-apa. Dan sekarang Fika sadar, kebodohan terbesar yang pernah Fika lalukan adalah MENCINTAI ARGA."


"Bahkan setelah semua sikap kejam Arga sampai saat Fika menyaksikan Arga bersama cewe itu. Tidak sama sekali membuat Fika menyerah untuk mengejar Arga. Mungkin Arga memang memanfaatkan Fika. Tapi Arga gak pernah tau, bagaimana Fika berjuang buat Arga."


Arga speechless ia kaget dengar tuturan Fika barusan. Ternyata Fika telaj mengetahui kebersamaannya dengan Alisia. Hal itu membuat Arga terdiam membeku.


"Baik. Mulai saat ini dan mulai detik ini. Aku ... FIKA PRICILLA akan berhenti mencintai Arga Aldiano. Mulai saat ini, Fika gak akan peduli lagi. Apapun yang Arga lalukan bukanlah urusan Fika. Mulai saat ini Fika gakakan berusaha menjadi pelindung Arga lagi. Dan mulai saat ini..."


"FIKA BENCI SAMA ARGA!"


Fika berlari sekuat yang ia mampu. Bahkan tubuhnya sempat menubruk tubuh Arga hingga cowo itupun mampu merasakan sakit. Namun itu semua tidak sepadan dengan rasa sakit yang Fika rasakan.


Mungkin inilah.. waktu dimana seorang Fika Pricilla menyerah..


Arga diam terpaku. Entah mengapa sejak sepeninggalan Fika dirinya merasakan pukulan hebat. Tubuhnya terasa lemas. Bahkan kedua kakinya terasa tidak sanggup lagi untuk berdiri.


Bayangan Fika yang menangis di hadapannya terus terpampang di ingatannya yang kuat. Kenapa? Mengapa begini? Bukankah ini yang dia inginkan? Membuatnya menderita adalah tujuan hidupnya. Dan saat ini ia telah menderita. Tapi kenapa? Kenapa dia merasa sakit saat melihat dia menangis seperti itu?



Fika berlari keluar dari ruang ganti baju sekuat yang ia bisa. Ia tidak peduli jika semua orang kini menatapnya aneh. Bahkan sahabat-sahabat Arga pun sampai berdiri dan berniat untuk mendekatinya. Tapi Fika sama sekali tidak menghentikan larinya. Ia justru melewati mereka dengan cepat dan terus berlari hingga keluar ruangan.


Airmatanya masih mengalir dengan deras. Ia tidak kuat menahan amarah dan juga kesedihannya secara bersamaan. Jika saja ia bisa mengulang waktu, ia tidak mau bertemu dengan cowo dingin tanpa perasaan Arga Aldiano.


Fika merasa sangat lelah, semua orang telah meninggalkannya. Dan kini harapannya juga telah musnah. Lalu bagaimana ia bisa menjalani hidup ini dengan bahagia? Sedangkan dia sendiri tidak sama sekali diinginkan oleh siapa pun. Haruskah ia pergi? Pergi sejauh mungkin dari mereka. Tapi.. dia harus pergi kemana? Akankah ada orang yang ingin menolongnya?


"Eh awas dong! Kita mau lewat!"


Fika tertegun saat medengar bentakan seseorang di tangga membuatnya terhenti dan memberi ruangan bagi cewe itu bersama teman-temannya. Sebenarnya Fika merasa keheranan, karena tidak seperti biasanya semua orang terlihat terburu-buru. Bahkan sekarang banyak sekali yang menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


Apa yang sedang terjadi? Batin Fika heran.


"Ma-maaf kak, ada apa yah?" Tanya Fika pada seseorang yang baru saja akan melewatinya.


"Oh itu, katanya ada cowo yang mau nyatain perasaannya di lapangan. Kayanya bakal seru."

__ADS_1


Fika tidak habis fikir namun siapa orang yang begitu berani melakukan hal konyol seperti itu?


"Nama cowonya siapa kak?"


"Entah.. gue gak tau. Kalo lo penasaran mending ikut gue aja kesana. Lumayan itung-itung hiburan sebelum mulai pembelajaran."


Fika tersenyum simpul. Ia mengangguk ramah dengan tawaran orang itu. Fika memang sangat penasaran, tapi.. moodnya tengah nerantakan saat ini. Lagi pula itu semua tidak ada hubungannya dengan dia kan?


"FIKA!"


Tunggu, apa Fika tidak salah dengar? Ada seseorang yang memanggilnya sangat keras. Bukan bukan secara langsung.. tapi seperti suara seseorang memanggil dengan menggunakan megafone. Fika berjalan penuh penasaran mencari sumber suara berada.


Dan sesaat ia sampai keluar lorong, ia begitu kaget saat melihat banyaknya orang yang tengah berkecimbung mengelilingi lapangan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Fika semakin kebingungan.


"FIKA PRICILLA!"


Fika terkejut bukan main. Kedua matanya kini tertuju pada lapangan dan melihat seorang cowo yang tengah berdiri diatas bangku dan memegang sebuah megafone. Apa yang dia lakukan? Dan kenapa dia memanggil namanya?


"FIKA PRICILLA!!"


Tidakk.. Fika tidak salah dengar lagi. Orang itu memanggil namnya dengan keras dan begitu jelas.


"FIKA GUE TAU LO PASTI LIAT GUE SEKARANG!"


Fika menelan salivanya berat, orang itu.. orang yang tidak asing baginya. Fika mencoba melangkah lebih dekat kedalam kerumunan. Untuk memastikan kalau penglihatannya tidak salah.


"FIKA! SUDAH SANGAT LAMA GUE NUNGGU SAAT-SAAT INI. DAN AKHIRNYA.. GUE BERANI NGELAKUIN INI BUAT LO!"


Fika terbungkam. Jantungnya berdegum sangat cepat. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya terasa sangat lemas. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dan apa yang akan cowk itu lakukan? Sungguh ingin rasanya Fika menghilang saat ini. Ia tidak sanggup untuk menunjukkan wajahnya disana. Ia malu, takut, sekaligus bingung semuanya bercampur aduk tidak karuan. Sedangkan cowo itu terus melakukan aksi gilanya sekarang.


"FIKA! SELAMA BERTAHUN-TAHUN GUE MENUNGGU LO. DAN SEKARANG... GUE AKAN BILANG SEMUANYA. DISINI .. DI DEPAN SEMUA ORANG YANG AKAN MENJADI SAKSI CINTA GUE SAMA LO."


Suara bergeming para siswa disana mulai buncah tidak terkendali. Bagaimana tidak? Seorang murid baru yang terkenal sama tampannya dengan Arga itu begitu berani melakukan aksi gila hanya untuk mengungkapkan perasaannya terhadap cewe culun yang sama sekali tidak terkenal di SMA Wijaya. Apa tidak salah? Cowo bernama Iqbal Bramastyo itu mengungapkam perasaannya pada cewe biasa yang jauh dari peradabannya?


"FIKA .. GUE TAU LO DARI SEJAK DULU. GUE GAK PEDULI SIAPA LO DAN APAPUN STATUS LO SAAT INI. YANG MAU GUE BILANG SEKARANG ADALAH.... GUE SUKA SAMA LO!"


DEG! DEG!


Jantung Fika berpacu semakin cepat. Apalagi semua orang sekarang tengah menatapnya horor. Dan Iqbal, cowo itu malah tersenyum sumringah saat ia melihat keberadaan Fika di antara kerumunan disana. Dan secara sengaja orang-orang disana juga menyingkir untuk bergeser dan menyisakan Fika seorang diri yang kini terekspos oleh semua orang disana.


"FIK! GUE TAU LO PASTI UDAH DENGER APA YANG TADI GUE KATAKAN. DAN SEKARANG.... GUE NUNGGU JAWABAN DARI LO."


Fika speechless sungguh ia benar-benar tidak bisa memikirkan apapun. Rasa gugup yang luar biasa telah membuat lidahnya seketika terpaku. Bahkan untuk menelan ludahnya sendiripun rasanya ia tidak mampu.


Iqbal yang masih berdiri disana mampu merasakan kegugupan Fika. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk turun dan berjalan menghampiri Fika.


Tentu hal itu tidak hanya membuat semua orang heboh tapi membuat Fika semakin mati rasa.


Iqbal tersenyum hangat menatap Fika, senyumannya begitu tulus dan menenangkan. Perasaannya pun begitu tulus. Sakin tulusnya ia telah melupakan rasa malu untuk dirinya sendiri. Lalu bagaimana dengan Fika?


Bahkan cewe itu sama sekali tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Lalu bagaimana ia bisa menjawab perasaan Iqbal? Sedangkan ia sendiri ragu dengan perasaannya.


"Gue masih nunggu jawaban lo Fik."


Iqbal kini telah berdiri tepat di hadapan Fika yang membeku. Kerumunan disana semakin membanyak. Bahkan anak-anak basketpun telah turun dan ikut menyaksikan. Termasuk cowo yang kini memandang tajam ke arah kedua insan yang sedang saling kasmaran di tengah lapang itu.


"Lo yakin gak akan nyesel?" Ucap Nico sedikit sinis.


"Maksud lo?"


Nico tersenyum miring lalu tertawa hambar. "Lo hanya mementingkan ego lo sendiri Ga. Cewe kali dianggurin lama kelamaan bakal cepet di rebut orang."


"Mungkin sekarang lo masih bisa bersikap biasa-biasa aja. Tapi nanti.. lo bakal ngerasain gimana sakitnya saat lo liat dia sama yang lain."


Alih-alih menjawab perkataan Nico, Arga justru semakin menajamkan tatapannya ke arah yang sama dimana Iqbal dan Fika berdiri sekarang. Satu tangan Arga bertumpu pada sebuah kayu di sampingnya. Dan tampa ia sadari. Tangannya telah meremas kuat kayu itu bahkan hampir rapuh karenanya.


"Terima! Terima! Terima! Terima!"


Sorak-sorak para penonton gratis pun mulai ramai. Mereka berteriak sambil bertepuk tangan meriah. Berharap pernyataan Iqbal itu bisa diterima oleh Fika. Yah.. walaupun kenyataannya tidak semua orang yang bisa menerimanya namun tidak sedikit bagi mereka yang justru mendukung aksi Iqbal itu.


"Terima aja! Dia juga ganteng kok!"


"Iyah terima aja! Tapi kalo lo gakmau gakpapa buat gue aja!"


Bisikkan-bisikkan yang mulai mempengaruhi Fika semakin membanyak terutama cewe-cewe yang berada dekat dari posisinya. Bagaimana ini? Fika masih bingung dengan jawabannya sendiri. Bahkan Iqbal sendiri merasa greget dengan diamnya Fika yang sangat mengulur waktu.


Sebenar lagi bell masuk akan berbunyi. Jika Fika tidak juga menjawabnya sudah dijamin usaha Iqbal akan berakhir sia-sia.


"Please jawab Fik." Paksa Iqbal akhirnya. Cowo itu kini meraih lengan Fika erat. Meskipun cowo itu bisa merasakan dinginnya tangan Fika. Namun cowo itu berusaha membuat tangan itu hangat saat tangan hangatnya menyentuh kedua tangan Fika.


"Gue butuh jawaban lo sekarang Fik. Tolong.. jangan buat usaha gue sia-sia lagi."


Entah bagimana mengungkapkannya namun Fika merasakan kalau Iqbal begitu tulus padanya. Kedua mata cowo itu menatapnya begitu lembut, jauh berbeda dari tatapan seseorang yang justru ia sukai.


Apakah seseorang yang harusnya ia kasih hati adalah dia?


"Iqbal.. maaf tapi Fika-"


Iqbal meremas kuat tangan Fika. Satu tangannya meraih sebelah pipi Fika dengan lembut.


"Selama ini gue selalu nunggu lo Fik. Bahkan disaat lo dalam terpuruk sekalipun gue selalu ada buat lo."


Benar, itu memang benar. Iqbal lah sosok yang selalu ada untuk Fika selama ini. Tapi.. mengapa Fika tidak bisa memberikan sedikitpun hatinya padanya?


"Fik-"


"Iqbal.." Fika menurunkan tangan Iqbal dari wajahnya. Ia menelengakup kedua tangan Iqbal lembut membuat Iqbal menjadi kebingungan sampai saatnya Fika kembali bicara.


"Iqbal.."


"Fika mau jadi pacar Iqbal."



Sudah lama sekali yah guys.. maaf maaf aku emang janji minggu2 yang lalu cuman mau bagaimana keadaan sama sekali gak ngedukung. Aku baru saja pindah jadi masih repot sama urusan sendiri.


Tapi makasih banget bagi yang masih setiiiiaaa buat nunggu update cerita ini.


Sekali lagi makasih yah😊 Miss You All😍


And see you in the next chept》》


Gak bakal lama lagi kok😁


Jangan lupa like dan komennya yah!

__ADS_1


__ADS_2