
Seperti biasanya Fika masih setia berdiri di tempatnya untuk menunggu angkutan umum lewat. Cewe itu masih membaca novel sebelumnya karena belum sempat ia selesaikan akhir-akhir ini. Jam pun telah menunjukkan pukul 3 sore dan keadaan sekolah pun sudah semakin sepi.
Lussy tidak bisa menemani Fika saat bell pulang berdering cewe itu justru langsung berlari keluar. Bahkan Fika tidak sempat bertanya padanya. Aneh, semenjak kejadian di aula itu sepanjang pelajaran berlangsung Lussy menjadi pendiam. Apakah dia masih marah? Mungkin saja. Fika tidak bisa mengetahuinya saat ini.
Tid!Tid!
Suara klakson motor berbunyi membuat Fika mengalihkan pandangannya dari buku ke arah suara itu.
"Sendirian aja nih cewe. Mau abang anterin gak?" Suara bass yang tidak asing itu membuat Fika mengukir senyuman manisnya.
"Apasih Bal."
Iqbal membalas senyuman Fika kemudian membuka helmnya. "Ayo naik."
"Nggak ah, Fika nunggu angkot aja."
"Ngapain nungguin angkot kalo udah ada ojek pribadi disini?"
Perkataan Iqbal tidak memungkiri tawa Fika. Ia tertawa terkekeh. "Apasih Bal. Emang kamu mau apa jadi ojek pribadi?"
"Apasih yang nggak buat lo Fik. Apapun gue lakuin buat cewe spesial kaya lo."
Fika kehabisan katanya. Iqbal dari dulu memang mulutnya semanis madu, sangkin manisnya sampai membuat orang pingin nampol.
"Ayo Fik naik! Gue gak akan ngebut kok."
"Gak mau Bal, aku naik angkot aja."
Iqbal mendecak sebelum kemudian turun dari motornya dan langsung meraih tangan Fika. "Gue gak suka di tolak."
"Apasih Bal, jangan maksa dong."
"Gue emang suka maksa Fik."
__ADS_1
Fika tertawa pelan. "Gak mau Bal."
"Fik!" Fika terdiam menatap kedua bila mata Iqbal yang penuh dengan permohonan. "Please, jangan tolak gue."
Fika berfikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan. "Iya deh. Tapi lain kali kasih tau dulu yah."
"Oke boss!"
Fika menaikki motor Iqbal dengan bertumpu pada bahu cowo itu. Merasakan lengan Fika di bahunya membuat Iqbal tersenyum di balik helm putihnya. Selain itu ada rasa bahagia di hatinya saat ini. Keyakinannya akan mendapatkan Fika semakin kuat. Bahkan begitu menggebu untuk memilikinya.
"Siap?"
"Hem." Gumam Fika.
Iqbal langsung melaju dengan kecepatan standar.
"Sore mang." Sapa Fika tersenyum ramah.
"Sore juga neng."
"Arga udah pulang mang?" Tanya Fika tiba-tiba teringat.
"Oh den Arga sudah pulang dari tadi neng, tuh motornya udah ada di bagasi." Tunjuk mang Nono diikuti Fika yang juga melihat motor sport milik Arga memang sudah terparkir di sana. Ia berbalik melihat Iqbal yang juga masih diam menunggunya disana.
"Iqbal, makasih yah udah nganterin Fika. Tapi sekarang kamu mendingan cepet pulang deh. Fika takut ketauan Arga."
Iqbal mengembangkan senyumnya. "Lo jangan khawatir, masalah Arga bisa gue tangani. Justru gue khawatir sama lo. Gue takut Arga nyakitin lo lagi."
Fika tau Iqbal memang laki-laki yang baik, dia selalu memperhatikannya dan juga perhatian padanya. Ia selalu bersyukur memiliki sahabat sepertinya. Namun kekhawatirannya terhadap Arga rasanya masih ia bisa atasi sendiri.
"Iqbal jangan khawatir, Fika baik-baik aja kok. Meskipun sifat Arga sedikit kasar, tapi Fika tau Arga nggak bakalan sampai nyakitin Fika."
__ADS_1
Iqbal menatap sendu Fika. Ia tau perkataannya hanya ingin membuatnya tenang. Namun Iqbal tau betul Fika selalu tersakiti oleh Arga. Dan ia tidak akan membiarkannya lagi.
"Yaudah, kalo menurut lo gitu. Gue pulang dulu yah. Jangan sungkan buat hubungin gue kalo lo butuh bantuan." Ucap Iqbal yang langsung dianggukki Fika. Cowo itu kembali menyalakan motornya kemudian pergi.
Sesampainya di dalam rumah, Fika langsung menaikki anak tangga. Ia terus melihat ke sekeliling ruangan mencari keberadaan cowo dingin itu. Namun anehnya ia sama sekali tidak merasakan auranya saat ini. Rumahnya seperti kosong tidak berpenghuni. Hingga pada saatnya Fika akan membuka pintu kamarnya dan tiba-tiba mendengar sebuah alunan piano yang menggema hingga sampai ke gendang telinganya.
Fika menatap arah lorong gelap dari sisi kabar Arga. Ruangan dimana tidak bisa ia masukki karena Arga yang melarangnya. Fika tidak pernah tau apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Jika dilihat lorongnya saja membuat orang ketakutan untuk memasukkinya namun saat ini dan baru pertama kalinya Fika mendengar ada suara permainan piano di rumah ini.
Hal itu benar-benar mengundang rasa penasaran Fika. Walaupun ia tau Arga pernah melarangnya namun rasa penasarannya juga tidak bisa dikalahkan. Ia berfikir mungkin saja Arga juga berada di ruangan itu.
Tanpa ia sadari dengan nalurinya Fika melangkah masuk kedalam lorong gelap yang misterius itu. Sedikit ada rasa takut. Namun ia juga ingin mengetahui sebenarnya ada apa di balik ruangan itu?
Setelah berjalan sedikit melewati gelapnya lorong yang dingin, akhirnya Fika mampu melihat sebuah cahaya di ujung sana. Ia pun sesegera mungkin menghampiri cahaya itu hingga ia menembus keluar dari kegelapan dan masuk kedalam ruangan bercahaya disana.
Fika takjub. Matanya berbinar menatap lampu-lampu kristal yang menggantung mebghiasi langit-langit ruangan itu. Tak hanya itu, dekorasi ruangan ini layaknya seperti sebuah istana megah. Selain langitnya yang memiliki background awan dan langit biru tetapi di sisilain ruangannya juga terdapat hiasan pot bunga warna-warni di sepanjang ruangannya.
"Luar biasa." Fika tak henti-hentinya untuk kagum bahkan ia sendiri hampir lupa dengan suara alunan piano yang masih berbunyi saat ini.
"Suaranya semakin keras. Ini pasti tempatnya." Fika melangkah semakin jauh. Ia tidak peduli jika Arga menangkap basah dirinya saat ini. Namun yang terpenting sekarang ia hanya ingin melihat siapa orang yang sedang memainkan piano dengan indah itu?
Ternyata setelah di telusuri di ruangan itu hanya ada terdapat satu pintu besar berwarna putih berbalutkan emas tepatnya di ujung ruangan tersebut. Fika melangkah perlahan, mengendap-endap berusaha tidak mengeluarkan sedikitpun suara.
Entah mengapa semakin ia semakin dekat dengan suara alunan musik piano itu semakin membuat hatinya terenyuh dan jantungnya berpaju semakin cepat. Nada itu, rasanya nada yang tidak asing di telinganya. Fika pernah mendengarnya namun ia lupa dimana ia pernah mendengarnya. Semakin ia mendekati pintu ternyata ada sedikit celah disana, pintunya sedikt terbuka sehingga memungkinkan Fika untuk bisa melihat siapa orang yang ada di dalam sana.
Fika berusaha untuk mengintip hingga akhirnya ia belalakkan kedua bola matanya. Fika menutup mulutnya yang terasa ingin berteriak keras. Tubuhnya terasa lelah dan lemas, perlahan kakinya melangkah mundur. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Apakah dia bermimpi? Atau itu memang kenyataan?
Tubuh Fika terhuyung hingga terhentak menyentuh dinding di ujung ruangan. Tubuhnya gemetar hebat. Ia mengepal kuat dengan mata berkaca-kaca. Tatapannya masih pada tempat itu. Pintu putih besar yang menyembunyikan sesosok orang yang selalu ingin ia temui salama ini. Walaupun ia baru melihat punggungnya namun ia merasa sosok itu adalah dirinya. Ia lah sosok yang selama ini Fika cari, sosok yang ia rindukan, dan sosok yang selalu membuatnya bahagia sekaligus menderita.
Dengan lirih Fika mengucapkan satu kata nama.
"Alan."
__ADS_1