
Iqbal masing juga tercenung di tempatnya, meskipun saat ini Fika telah berada di sampingnya. Namun cowo itu spertinya enggan untuk berbicara padanya. Sejak sepulangnya mereka dari taman hiburan, keduanya hanya mampu terdiam saling melempar bisu dan keningan yang mencekam.
Selepas Iqbal membawa Fika pulang ke rumah Arga membuatnya tidak juga kembali, kejadian saat di bianglala tadi menjadi alasannya saat ini. Ia tidak menyangka Arga akan melakukan hal senekat itu, bahkan dia memanfaatkan situasi yang ada. Jika bukan karena Fika, mungkin sejak awal Iqbal sudah menghajar Arga habis -habisan tanpa memberinya ampun.
Jika ditanya perasaannya saat ini, dia benar-benar sangat hancur berikut kesal. Ia juga tidak mampu menyalahkan Fika, karena mereka sudah terjebak ke dalam permainan yang mereka buat sendiri. Iqbal sadar, dia juga telah salah menyetujui permainan itu namun apa boleh buat semua ini telah terjadi. Bahkan ada sedikit penyesalan di hatinya, seandainya dia tidak memaksa Fika untuk ke taman hiburan mungkin saja semua ini tidak akan pernah terjadi.
Fika terduduk manis di samping Iqbal hanya mampu diam dengan sekali-kali melirik cowo itu. Posisi mereka saat ini berada di bangku pinggiran rumah Arga. Ia tidak ingin ada seorang pun yang tau keberadaanya bersama Iqbal termasuk Arga sekalipun.
Ingin rasanya Fika membuka percakapan di keheningan ini, namun setelah melihat ekpresi wajah Iqbal.. justru kembali membuatnya ragu untuk memulainya. Sepertinya akan sia-sia saja. Fika juga tidak bisa melakukan lebih banyak, sementara ia sendiri masih merasa sangat bersalah padanya. Tapi disisi lain, dia juga dalam posisi yang mendesak saat itu. Ia tidak mampu melawan ataupun membantah Arga, kelakuan cowo itu memang sudah dikuar batas. Ini bukanlah keinginannya melainkan Arga yang telah mendominasi dirinya.
"Fik," Panggil Iqbal, suaranya terdengar sangat parau. Entah mengapa namun Fika begitu khawatir padanya.
"Iya Bal? Kamu gak papa kan?" Fika masih ragu untuk bertanya, namun bagaimana pun ia tidak mungkin membiarkan kebisuan ini terus berlangsung.
Terdengar suara helaan nafas Iqbal. Cowo itu mengubah posisinya sedikit bergeser menatap Fika.
"Fik, ada sesuatu yang mau gue tanya sama lo."
Fika menyerjap, entah mengapa perasaannya berubah menjadi tidak enak. Melihat ekspresi Iqbal yang serius membuatnya merasa takut.
"Iqbal mau tanya apa?"
"Tapi gue mau lo jawab dengan jujur." Kata Iqbal.
Fika menatapnya lekat. "Iyah Fika janji, tapi Iqbal mau tanya apa?"
Sementara Fika menatap Iqbal, Iqbal justru kembali memalingkan wajahnya. Entah sudah berapa kali cowo itu menghela nafasnya, namun kelihatannya ada sesuatu yang mengganjal dihatinya dan tak mampu ia katakan.
"Bal.." Fika berusaha menyentuh pundak Iqbal, dan dalam waktu bersamaan cowo itu menoleh menatapnya.
"Lo masih suka sama Arga?"
Fika terkejut, mengapa Iqbal membahas masalah itu lagi? Apa yang harus Fika katakan sekarang? Sedangkan ia sendiri masih bingung dengan perasaannya sendiri.
"Jawab gue Fik." Desak Iqbal.
Tatapan Iqbal semakin lama semakin mendingin, Fika tau ada sebuah kemarahan disana. Bagaimana ia mengatakannya? Menutupinya pun tidak ada gunanya. Terlebih dia sudah berjanji pada Iqbal untuk berkata jujur.
"Gue masih menunggu,"
Fika mengangkat kepalanya, sungguh ia rasanya ingin lari dari tatapan Iqbal kali ini. Ia takut, takut Iqbal semakin marah dan takut membuatnya semakin kecewa padanya.
"FIK!" Iqbal meninggikan suaranya. Cowo itu meraih pundak kecil Fika dan membiarkan Fika menatap dirinya. "Gue mohon jawab dengan jujur."
"Iqbal.. Fika.. Fika gak tau.." Hanya itu yang mampu Fika ucapkan. Ia bingung harus mengatakan apa. Ia tahu Iqbal pasti kecewa dengan jawabannya. Namun Fika bisa berbuat apa? Membohinginya justru akan semakin menyakitinya.
"Fik, jangan lo tahan-tahan! Gue gak suka lo bohongin gue kaya gini. Gue gak mau selamanya mencintai, gue juga mau dicintai Fik! Kalo emang kenyataannya cinta gue bertepuk sebelah tangan, gue bakal ikhlas ngelepas lo!" Iqbal berhenti sejenak, sebelum kemudian menelengkup kedua pipi Fika.
"Asal lo bahagia, gue rela lo sama Arga."
Derai air mata Fika mulai menetes, tatapan penuh linang dari Iqbal membuat hatinya terasa sakit. Sejahat itukah dia pada Iqbal? Dia laki-laki yang sangat baik, dan mencintainya dengan penuh kasih sayang. Tapi kenapa? Kenapa dia tidak bisa mencintainya? Kenapa dia harus mencintai orang yang justru membenci dirinya? Sungguh rasanya Fika ingin menghancurkan perasaannya sendiri saat ini.
"Iqbal.. maaf Fika gak bermaksud buat nyakitin Iqbal tapi Fika .. Fika gaktau kenapa?" Fika tak mampu lagi untuk berkata, derai air matanya membuatnya tak sanggup lagi utuk menatap cowo itu.
"Gue ngerti Fik. Ini semua adalah salah gue."
Fika menatap kembali Iqbal. "Enggak Bal, ini semua salah Fika. Fika yang terlalu egois sama perasaan Fika sendiri tanpa mempedulikan perasaan Iqbal.."
Iqbal tak bergeming, cowo itu masih juga manatap Fika penuh arti. "Lo salah Fik. Selama ini.. lo yang menilai gue salah. Gue bukan cowo baik seperti yang lo pikirkan."
Fika terdiam. "Maksud Iqbal?"
"Jika lo tau, mungkin lo akan benci sama gue."
Iqbal tiba-tiba saja berdiri. Hal itu membuat Fika ikut berdiri sambil menatapnya bingung.
"Iqbal.. maksud Iqbal apa? Iqbal-"
"Gue gak pantes buat lo Fik."
Iqbal membelakangi Fika. Baru saja Fika ingin menahannya namun cowo itu justru menghindarinya. "Dari sejak awal, cowo yang pantes buat lo cuman Arga."
__ADS_1
"Hah?" Fika semakin kebingungan. Kenapa sekarang Iqbal seolah-olah lebih buruk dari Arga? Ini tidak seperti dirinya.
"Iqbal, sebenarnya Iqbal kenapa?" Fika begitu frustasi, dia benar-benar tidak mengerti apa yang Iqbal maksud. "Iqbal.. jawab Fika!"
Fika meraih tangan Iqbal. Tangannya terasa sangat dingin. Kehangatan yang tadi ia rasakan seolah menghilang dalam diri Iqbal. Kemana Iqbal yang manis dan juga ceria itu? Mengapa Fika merasa dia bukanlah Iqbal yang ia kenal.
"Iqbal, apa ada sesuatu yang Iqbal sembunyiin dari Fika?" Fika sedikit tidak yakin dengan pertanyaannya, namun hal ini membuat dirinya penasaran. Jika memang begitu, mengapa Iqbal menutupi semua darinya?
"Selama ini lo gak tau apa-apa Fik. Yang jelas, gue udah banyak berbohong sama lo."
"Kebohongan? Kebohongan apa?"
Bukannya menjawab, Iqbal malah kembali meraih wajah Fika. "Gue minta maaf sama lo. Karena gue, lo kehilangan segalanya."
Fika menyernyitkan dahi.
"Gue tau lo pasti bingung, namun asal lo tau. Gue ngelakuin ini karena gue cinta sama lo." Iqbal memeluk Fika dengan erat seolah ia tidak ingin Fika pergi.
Namun Fika tidak hanya diam membiarkannya, ia mendorong kuat tubuh Iqbal dan langsung menatap kedua manik mata cowo itu.
"Iqbal jangan berbelit-belit! Jangan bikin Fika bingung, sebenarnya Iqbal itu kenapa? Kenapa Iqbal minta maaf sama Fika? Kebohongan apa yang udah Iqbal lakuin ke Fika?!"
Fika tak mampu lagi menahan emosinya, dadanya yang naik turun akibat luapan emosi membuatnya semakin lelah. "Fika mohon.. jelasin semuanya. Apa semua itu menyakut masalalu Fika? Apa Iqbal tau sesuatu dengan masalalu Fika? Jawab Bal!"
Iqbal terdiam. Ia menunduk dan mengeluarkan sesuatu di sakunya. "Semua kebenaran ada disini. Dan lo akan tau semuanya."
Fika mengerutkan keningnya melihat benda kotak di tangan Iqbal. Setelah kemudian ia meraihnya.
"Ini apa?" Tanya Fika.
"Lo akan tau segera. Dan mungkin setelah itu, lo gak akan mau ketemu gue lagi."
Belum sempat Fika menjawab namun Iqbam sudah kembali berbalik. "Fik, mulai sekarang... kita putus."
Fika terbelalak. Tubuhnya gemetar hebat. Apa dia tidak salah dengar? Iqbal ingin putus dengannya? Tidak! Ini tidak mungkin terjadi.
"Fika gak ngerti-"
Fika menelan ludahnya berat, matanya berkaca-kaca. Apa kah ini kenyataan? Jika iyah, mengapa kenyataan selalu menyakitinya.
"Nggak Bal, Fika gakmau putus sama Iqbal. Iqbal sebenernya kenapa sih? Jangan gini dong Bal." Airmata tertahan Fika tidak mampu ia tahan lagi.
"Bal.. kalo ada masalah. Kita omongin baik-baik. Iyah.. Fika ngaku salah, kejadian tadi pasti buat Iqbal marah kan? Maafin Fika, Fika juga gakmau ngelakuin itu tapi Fika-"
"Cukup Fik."
"Iqbal.."
"Kita akhiri sampai sini."
Iqbal hendak akan melangkah pergi dan Fika langsung berlari menghadang jalan cowo itu.
"Jangan pergi Bal.. Fika mohon."
"Nggak Fik, memang gak seharusnya kita bersama."
"KENAPA!? Kenapa kita gak bisa!?"
Iqbal terdiam.
"IQBAL! JAWAB FIKA! KENAPA KITA-"
"Karena gue yang udah pisahin lo sama Arga! PUAS LO!"
Fika terdiam, ia masih merasa kebingungan. Apa maksud dari perkataan Iqbal?
"Ma-maksud Iqbal apa? Pisahin Fika dan Arga?"
Iqbal mengacak rambutnya frustasi. Cowo itu benar-benar buntu, ia tak tau lagi harus mengatakan apa. Sementara Fika sendiri membutuhkan penjelasan darinya.
"IQBAL JAWAB PERTANYAAN FIKA!"
__ADS_1
Mendengar Fika telah meninggikan suaranya Iqbal pun akhirnya menatapnya.
"Gue emang cowo jahat Fik. Gue yang udah pisahin lo sama Arga dulu. Gue.. gue.." Iqbal luruh. Tubuhnya terasa lemas dan lesu, ia mencengkram bahu Fika dengan kuat. Matanya yang berbinar menunjukkan betapa menyesalnya ia. "Gue minta maaf, karena gue.. Arga benci sama lo. Maaf Fik!"
Fika meneteskan airmatanya. Ia kemudian menghempaskan cengkraman Iqbal kasar. "Maksud Iqbal itu apaa!? Fika sama sekali gak ngerti! Pisahin Fika sama Arga? Maksudnya Apa? Fika.. "
Fika ikut luruh tubuhnya meluruh dan berjongkok. Ia tidak kuat menahan rasa sakit dikepalanya yang kini terasa sangat sakit. Seperti ada sebuah sengatan kuat yang kini menembus kedalam pikirannya. Fika ingin melawan namun semakin lama ia melawan rasa sakit itu semakin menggerogotinya.
"IQBAL.."
Iqbal tak lagi menghiraukan Fika, ia kini berjalan melewati Fika dengan penuh ketegaran.
"Bal!" Panggil Fika.
"IQBAL!"
Iqbal tak juga berbalik, cowo itu terus melangkah. Ia tidak peduli jika Fika terus meneriaki dirinya disana. Yang penting saat ini ia harus pergi sejauh-jauhnya dari Fika.
"IQBAL! FIKA MOHON JANGAN PERGI! KENAPA IQBAL LAKUIN INI KE FIKA? FIKA MINTA MAAF SAMA IQBAL!"
"IQBAL!"
Kenapa? Selalu aku yang merasakan rasa sakit ini? Mengapa semua orang yang ku sayangi pergi meninggalkanku? Apakag aku memang tidak berguna? Mungkin seharusnya aku tidak terlahir ke dalam dunia ini.
Benerapa menit lamanya Fika hanya menangis tersedu-sedu di dekat bangku taman. Ia tidak tau harus berbuat apa sekarang, semua telah hilang. Harapan, cinta dan kasih sayang telah musnah dari kehidupannya. Semua hilang.. dan tak akan bisa kembali lagi.
Fika berusaha untuk bangkit setelah merasa hawa dingin yang menyentuh kulitnya. Angin malam yang dingin ini menjadi saksi bisu penderitaan Fika semakin bertambah. Dan malam ini adalah malam dimana ia kembali tersakiti oleh laki-laki yang ia sayangi.
Betapa buruk nasibnya.. mengapa ia terus bertahan hingga saat ini? Dan kenapa Tuhan terus memberikannya harapan sedangkan ia sendiri tidak merasakan kebahagiaan itu. Fika rapuh, serapuh-rapuhnya seorang wanita. Hidup dan hatinya telah hancur. Tidak ada gunanya ia terus menangis, karena menangis tidak akan bisa mengembalikan semuanya.
Fika berjalan lunglai, tubuhnya lemas tak bertenaga lagi. Ia berniat untuk kembali ke rumah agar dia bisa menenangkan dirinya sejenak sampai sesaat yang bersamaan, Fika tidak sengaja mendang kotak peberian dari Iqbal hingga kotak itu terbuka dan mengeluarkan benda di dalamnya.
Fika menyernyit, bukan karena benda itu namun sesuatu yang di dalam benda itu rasanya Fika tidak asing. Ia pun segera mengambil selembaran kertas kecil. Fika masih juga penasaran, lipatan keras kecil itu ternyata melipatkan sebuah foto kecil di dalamnya. Fika pun tanpa basa-basi langsung membukanya dengan antusias.
Setelah kemudian ia akhirnya melihat foto apa itu. "Ini siapa? Rasanya sangat familiar."
Sepasang anak kecil yang tertera di sana membuat Fika berfikir keras. Siapa kedua anak yang ada di foto itu? Setelah beberapa saat ia terus memerhatikan foto itu. Ia telah menyadari sesuatu.
"Ini.. bukankah ini.. aku waktu kecil yah?"
Fika semakin kebingungan, mengapa ada potret dirinya disini? Dan siapa anak laki-laki di samlingnya ini? Fika semakin penasaran, ia pun akhirnya memutuskan untuk membuka selembaran kertas yang tadi sebagai pembungkus foto kecil itu. Siapa tau ia bisa mendapatkan informasi dari sana.
Dan benar saja, seperti dugaan Fika. Ternyata di balik kertas itu memang ada sebuah catatan kecil. Tanpa menunggu lama, Fika akhirnya mulai membacanya.
Beberapa menit Fika membaca detail tulisan itu semakin gemetar tubuh Fika dibuatnya. Tubub Fika bergetar dahsyat. Ia kembali muluruh, airmata kembali metes.
"Tidak.. ini tidak mungkin.."
Tanpa Fika sadari tangannya meremas kuat foto itu bersama linangan airmata kembali menetes.
"Alan.."
Fika tersenyum. "Kau masih hidup.." Fika semakin sendu, tangisannya semakin menderai di pipinya.
"Selama ini.. aku telah mencarimu, dan ternyata kau ada di sampingku.." Fika terkekeh. "Kau sungguh jahat Alan."
"Jahat!" Fika kembali menangis. "Kenapa kamu tidak mengatakannya? Kau membiarkan aku terus mencarimu dan berakhir sendirian?"
"Ternyata.. mau tidak pernah jauh dariku."
Fika tertawa sesak. Ia kembali menatap foto itu. "Alan.. Arga.. kalian adalah orang yang sama."
Satu komentar untuk bab ini?
Rasa penasaran dan kebingungan kalian selama ini satu persatu akan terungkap. Pantau terus cerita ini, jangan lupa untuk Follow dan juga LIKE nya yah
Jangan jadi silence reader yah guys. Harus meninggalkan jejak sesudah membaca😊
__ADS_1
See you in the next chept》》