
BYUUURRR
"Wah wah wah, putri cantik lagi bobo cantik yah?" Angel menyeringai puas saat menyaksikan Fika menggigil kedinginan akibat disiram air es olehnya tadi sebanyak satu ember penuh.
"Dingin yah? Duh kasian banget, sekarang gak ada yang bisa meluk yah? Sini deh gue peluk, mau gak?"
Fika tertunduk lesu, kini bukan hanya rasa sakit tapi akibat siraman air es dari Angel barusan telah membuat tubuhnya mati rasa. Fika mengigil hebat di tengah malam dengan ruangan yang sama-sama ber AC.
"HEH!" Angel menoyor kepala Fika. Kemudian kembali menyiramkan air satu gelas ke wajahnya.
"Masih ngantuk lo? Gue itu dari tadi ngomong sama lo bego!" Teriak Angel tepat di depan wajah Fika.
Bagaimana Fika bisa menjawab perkataan Angel? Sedangkan mulutnya sendiri di sumpal dengan kain.
"Hah.. sudahlah. Lagian lo juga bakalan mati."
Untuk hal itu Fika sama sekali tidak kaget. Karena semenjak ia sudah berada di tangan Angel ia sudah pasrah dengan segala yang ada. Bagaimana pun ia tidak bisa melarikan diri dari Angel. Ia hanya bisa berharap dalam hatinya sebelum ia benar-benar menghadapi ajalnya.
"Duh anjir! Tangan gue gatel banget pingin cepet mampusin lo. Tapi... sayangnya gue harus nunggu dulu si boss."
"Lagian si boss lama banget sih datengnya. Udah mah gue sendirian disini. Entar kalo ada polisi gimana?" Gumam Angel. Tangannya tak henti-henti memeriksa ponsel. Berharap ada kabar terbaru dari bossnya.
Sampai sebuah ketukan keras di balik ruangan itu terdengar.
"Astaga.. bikin kaget aja."
Angel mendekati pintu dan segera membuka pintu itu yang menampakkan satu orang laki-laki dan satu lagi perempuan.
"Lama banget sih!" Semprot Angel pada kedua orang itu.
"Santai aja si, lebay." Cibir perempuan berambut panjang itu.
"Ini pasti elo kan yang bikin lama? Gue tau banget gimana lo dandan. Sampai lima jam aja blom beres!" Cecar Angel kembali yang berhasil membuat perempuan itu membulatkan mata.
"Kamu jangan sembarangan ngomong yah! Kamu-"
"Apa hah!?" Tantang Angel melototinya.
"Ih kamu nyebelin yah orangnya." Cetus perempuan itu.
"Elo lebih nyebelin dari gue Alicia." Bantah Angel tak mau kalah.
"Iihh!"
Situasi semakin kacau sekarang. Pertengkaran di antara Angel dan juga Alicia semakin membuat runyam suasana. Tentu hal itu telah memancing pria di anatara mereka itu untuk melerai kedunya.
"Hei! Kalian kenapa jadi pada berantem? Harusnya kalian itu akur." Ujar laki-laki di samping Alicia itu. Dia menahan Alicia yang baru saja hendak menghampiri Angel.
"Tapi kak Gino dia yang mulai duluan!" Tuduh Alicia pada Angel.
"Yeh songong ya lo. Orang gue ngomong sesuai fakta kok." Cemberut Angel. Keduanya saling melempar tatapan tidak suka.
Hal itu membuat Gino mendengus keras.
*Ribet kerja sama dengan cewe. Yang ada rencanaku akan berantakan.* Batin Gino. Cowo berambut hitam itu kemudian berjalan mewati Angel dan membiarkan kedua cewe yang sedang bermusuhan itu menatapnya dari ambang pintu.
"Kak Gino tunggu!" Panggil Alicia seraya berlari mengikuti jejak Gino yang sudah masuk ke dalam dan menghampiri Fika.
*Akhirnya.. setelah sekian lama menunggu. Kini tiba saatnya permainan seru akan segera di mulai. Setelah banyak yang ku korbankan serta kesabaran yang tidak ada hentinya, akhirnya akan terwujud. Kalau lihat saja Arga, kau akan kalah kali ini."
"Fika." Panggil Gino lembut membuat mata Fika yang tertutup itu terbuka perlahan.
Saat kedua mata cokelatnya itu terbuka, Fika langsung bisa melihat jelas wajah orang yang baru saja memanggilnya itu. Hal pertama yang Fika tunjukkan adalah membelalakkan kedua matanya. Ia merasa kaget berikut senang, karena ia mengira kehadiran Gino saat ini adalah untuk menolongnya. Sungguh saat ini Fika merasa sangat bersyukur karena itu artinya dia memiliki kesempatan untuk selamat.
Mulut Fika yang tersumpal kain itu di buka oleh Gino. Cowo itu meraih kepala Fika dan menahannya agar tidak terdongkak. Setelah ikatannya lepas. Fika pun tidak mampu menahan lagi jeritan bahagianya.
"Kak Gino! Ka-kakak tau Fika di sini? Kak, tolongin Fika. Fika di culik sama Angel. Dia-"
"Suutt." Gino menghentikan perkataan Fika dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir mungil Fika. Membuat kerutan di kening Fika terpampang jelas.
"Ck, Fika sayang.. kamu bisa tenang sedikit tidak? Kakak pusing denger ocehan kamu yang gak bermutu itu. Jadi tolong diam oke?" Kata Gino bersamaan senyuman liciknya.
Fika termenung. Dia sungguh kaget mendengar tuturan Gino yang baginya terdengar aneh itu. Mengapa perkataan Gino barusan terdengar sangat menyebalkan bagi Fika? Tapi kenapa? Bukankah dia akan menolong dirinya sekarang?
Gino bangkit dari jongkoknya. Ia kemudian memberi intruksi pada Angel untuk membawakan benda pipih yang berada di atas meja. Angel pun langsung mengerti dan segera membawakan benda tersebut kepada Gino.
__ADS_1
"Nih kak." Ucap Angel.
"Thanks."
Melihat keakraban Gino dengan Angel barusan membuat Fika yang menyaksikan hal itu pun semakin kebingungan. Bagaimana Angel bisa mengenal Gino? Apa mereka sudah saling kenal sebelumnya? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Batin Fika terus bertanya-tanya mengenai hubungan Gino dan juga Angel. Namun hal yang paling membuatnya semakin kaget adalah kehadiran Alicia di sana.
"Mungkin banyak sekali pertanyaan di benak kamu saat ini kan Fika?" Ujar Gino. Cowo itu berbalik badan dan menatap tajam Fika. "Baiklah, tidak usah! Biar aku yang menjelaskan."
"Sejak awal aku mengenal kamu, bagiku kamu hanyalah sebuah alat. Alat pemancing paling ampuh yang pernah ada."
Bungkan hanya kaget tapi hati Fika terasa di remas kuat. Bagaimana mungkin orang yang selama ini dia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Justru dia berbuat hal sejahat ini padanya? Lalu apakah kasih sayang yang ia berikan selama ini hanyalah sebuah acting belaka? Fika tak lagi mampu menahan air matanya. Dengan tatapan nanar Fika berusaha kuat untuk bicara.
"Kenapa.. kakak lakuin ini? Fika gak pernah nyakitin kakak. Lalu kenapa kakak berubuat kaya gini sama Fika?" Lirih Fika. Yang justru di respon senyuman licik dari Gino.
"Kamu pikir perempuan sepertimu itu pantas diberi simpati olebhku?" Tanya Gino berhasil menohok Fika. Tawa hambarnya tiba-tiba saja pecah terurai keudara. "Seharusnya kamu tau diri Fika. Kamu itu cuman seorang anak yang tidak diinginkan! Bahkan dari sejak kamu lahir, orang tua kamu tidak sedikitpun menginginkanmu."
Pecah sudah hati dan air mata Fika. Hati yang sebelumnya sudah terluka kini telah hancur seolah barusaja di lemparkan dari tempatnya berada.
"Yaaah.. walaupun begitu. Namun, adikku yanh udik itu justru malah menyukaimu." Gino kembali tertawa lepas. Sampai ia mengadahkan kepalanya.
"Kalian itu memang pasangan yang sangat-sangat cocok. Yang satu polos dan bego dan yang satu lagi udik dan sok dewasa. Kalian akan menjadi pasangan yang sempurna. Tapi-"
Gino melangkah mendekati kembali Fika. Ia mendekatkan wajahnya di hadapan Fika. "Tapi.. itu pun kalau kamu masih hidup malam ini."
*****
"Ga lo bisa sabar dikit gak sih? Ini udah malem, lo mau kalau satpam komplek nyeret kita?"
Iqbal yang sejak tadi kesal akibat Arga yang terus menggedor pintu rumah seseorang begitu keras membuat Iqbal khawatir dan takut sendiri. Bagaimana tidak? Kali ini mereka sedang berada di depan rumah milik ayah Arga. Mereka sudah berdiri disana sekitar 10 menitan. Namun selama itu pula belum ada satu orang pun yang membukakan pintu rumah besar itu.
"Anjing!" Umpat Arga. Cowok itu sudah habis kesabaran. Ia benar-benar emosi. "Gue gak keberatan kalau harus nunggu sampai pagi disini. Gue yakin, laki-laki brengsek itu yang udah culik Fika."
"Kita gak tau kebenarannya Ga, lo juga jangan emosi gini dong. Kalau lo emosi gue yang makin emosi tau gak!? Kesel gue liat lo kaya gini. Kita bisa aja panik tapi harus dengan hati di pikiran yang dingin." Ujar Iqbal dengan penuh kesabarannya cowo itu terus berusaha menenangkan Arga yang temprament.
Tidak lama setelah itu suara pintu terbuka. Membuat Arga dan juga Iqbal berbalik kepada orang yang membukakan pintu itu.
"Arga? Ka-kamu Arga kan?" Tanya perempuan paruh baya itu. Dia tersenyum sumringah menatap Arga.
"Maaf nyonya, saya tidak punya urusan dengan anda. Tapi saya punya urusan dengan suami anda." Desis Arga. Terlihat bahwa ia tidak menyukai perempuan itu.
"Oh.. kamu ingin bertemu dengan ayah kamu? Dia-"
"Saya akan memanggilnya." Ujarnya kemudian pergi.
Beberapa menit kemudian orang yang sejak tadi Arga tunggu akhirnya muncul juga. Pria paruh baya dengan baju kemejanya keluar dari balik pintu menatap Arga putranya dengan wajah bengis.
"Ayah fikir kamu sudah lupa dengan rumah ini." Ucap Albert.
Arga tidak ingin menanggapi pertanyaan tidak penting Albert barusan. Ia tidak ingin basa-basi lagi.
"Dimana Fika?" Tanya Arga dingin.
"Apa? Fika? Astaga Arga, apa kamu datang jauh-jauh kesini hanya untuk bertanya mengenai anak tidak berguna itu? Apa tidak ada hal penting lain yang ingin kamu bicarakan selain dia?"
Perkataan Albert bukan hanya telah menyinggung hati Arga melainkan membuat kepalan di tangannya menguat.
BUG!
Arga langsung melayangkan satu pukulan keras di wajah Albert. Membuat pria itu terhuyung dan menabrak pintu di belakangnya.
"Kasih tau Fika dimana? Kalau enggak jangan salahin gue kalau gue hajar lo!"
Tidak ada lagi yang namanya sopan-santun bagi Arga saat ini. Kekesalannya sudah di akhir batas.
"Ga! Udah Ga. Bagaimana pun dia bokap lo." Teriak Iqbal dia masih menahan tangan Arga agar cowok itu tidak kembali memukul ayahnya sendiri.
"Dia bukan bokap gue Bal!" Teriak Arga tidak kalah tingginya. "Gue gak pernah punya bokap kaya dia!"
Albert bangkit pria paruh baya itu menepis darah di sudut bibirnya seraya menatap Arga.
"Dasar anak tidak tau diuntung!"
PLAK!
"Albert!"
__ADS_1
Kini giliran Merlin yang menahan Albert untuk dia tidak lagi memukul Arga.
"Sudah cukup kalian!" Teriak Merlin. Kedua matanya berkaca-kaca. Ia tidak sanggup lagi menahan beban di dalam hatinya. Sampai kemudian ia menatap Arga.
"Arga.. kenapa kamu cari Fika disini? Bukankah Fika tinggal bersama kamu nak? Apa yang sudah terjadi padanya?" Tanya Merlin penuh ketulusan.
Namun sayangnya Arga justru menatapnya dingin.
"Arga.. a-aku ingin tau, bagaimana Fika dan bagaimana-"
"Apa ibu sepertimu berhak untuk tau?" Pertanyaan singkat Arga membuat Merlin terdiam dengan rasa sakit yang mendalam. Arga benar, setelah apa yang sudah terjadi. Dia memang tidak berhak untuk mengetahui apapun tentang Fika.
"Dasar anak kurang ajar! Berani kamu bilang seperti itu pada ibu tiri mu?"
Arga mendelik Albert tajam.
"Ibu tiri?" Arga tersenyum miring lalu memandang kembali Merlin. "Bagi ku dia gak lebih dari seorang pelacur."
"KAU!"
Albert sudah kembali mengangkat tangannya berniat akan menampar lagi Arga. Namun gerakannya berhasil terhentikan karena Arga lebih dulu menahan lengannya.
"Aku kesini hanya ingin menanyakan dimana Fika. Jika kau tidak tau, aku akan pergi." Desis Arga tajam.
Albert menghempaskan tangan Arga darinya dengan penuh kekesalan. "Dia tidak ada disini." Ujar Albert membuat kedua alis Arga bertaut.
"Benarkah? Jangan mencoba berbohong, karena aku-"
Suara panggilan di ponsel milik Arga membuat cowo itu terhenti.
"Ga angkat telponnya. Kali aja ada yang udah nemuin Fika dimana." Saran Iqbal.
Arga pun segera menronggoh saku celananya. Namun hal yang membuatnya bingung adalah ternyata yang memanggilnya itu sama sekalu bukan temannya. Melainkan adalah Gino kakak kandungnya.
Ada sedikit keraguan di hati Arga untuk mengangkatnya. Namun entah mengapa kali ini ia merasa inginba sekali mengangkat telpon dari musuhnya itu. Arga segera mengger layarnya dan di saat yang bersamaan sambungan telpon terhubung.
"Apa?" Singkat Arga yang langsung membuat suara di ujung telpon itu tertawa.
"Lo ini.. nggak berubah. Tenanglah sedikit."
"Gue gak ada waktu."
"Oke, oke. Gue gak bakalan ngomong banyak sama lo. Tapi mungkin dia mau ngomong sama lo."
Arga menyernyit, dia siapa? Sampai beberapa detik kemudian suara tangisan dan jeritan seseorang yang sangat Arga hafal membuatnya terbelalak dengan rahang mengetat kuat.
"ARGA!"
"Arga tolong Fika.."
Suara rintahan di ujung telpon itu membuat hati Arga semakin sakit berikut amarahnya yang semakin melambung.
"FI-FIKA! Lo dimana? Gue akan jemput lo. Lo bilang sama gue lo ada dimana?" Panik Arga cowo itu sampai susah bicara akibat terlalu panik.
"ARGA .. Aku di-"
"Hallo Fika!? Fik! Fika? Lo masih disana?"
"Iyah aku masih disini." Suaranya berubah kembali menjadi suara bass dari Gino.
"Anjing! Lo apain Fika hah?"
"Gue? Gue gak ngapa-ngapain dia. Cuman.. main sedikit."
"Sial!" Umpat Arga. Cowo itu merasa sangat frustasi. "Kasih tau sekarang dimana Fika?"
"Oke, gue akan kasih tau. Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
"Bawa surat pengalihan harta kakek ke sini."
_________
Besok aku up lagi yah.. di tunggu aja.
__ADS_1
Jangan lupa Like and komen.
Spoiler antara 2 dan 3 bab lagi Unforgettable tamatðŸ˜ðŸ˜