
Suara dentuman bola yang memantul keras di ruangan ini sudah menjadi hal yang biasa. Lapangan basket indoor ini tidak pernah sepi dari keramaian anak-anak basket. Bukan hanya anak basket melainkan anak cherrs pun turut berkumpul di tempat ini.
Tempat ini sudah menjadi kawasan mereka, karena tempat ini juga bukan hanya untuk melatih kemampuan mereka tetapi tempat mereka bermain dan nongkrong bersama selama jam istirahat tiba.
"Lo sebenernya kenapa?"
Suara bass ciri khas dari lelaki yang kini berjalan masuk ke ruangan basket membuat semua mata disana tertuju padanya.
"Kenapa apanya? Aku gak kenapa-kenapa kok." Ucap cewe yang kini tengah merangkul manja lengan cowo itu.
Entah mengapa setelah sepeninggalannya dari kantin, Arga terlihat sangat kesal. Terlebih karena Angel telah membohonginya.
"Trus maksud lo line gue tadi apa!?" Sentak Arga. Ia menatap Angel dengan tajam.
Angel tersenyum hingga mata sipitnya tertutup, ia melepaskan rangkulannya lalu menelengkup kedua sisi wajah Arga. "Aku line kamu biar kamu nyamperin aku."
Dengan geram Arga menepis kedua lengan Angel dari wajahnya. "Apa harus dengan berbohong? Lo bilang tadi ada yang gangguin lo dan lo terluka! Kenapa lo bohong!?"
Arga semakin meninggikan suaranya, amarahnya telah meningkat sejak ia melihat keadaan Angel yang sebenarnya. Semua orang di sana pun tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Bahkan anak basket yang sedang latihan pun mulai menghentikan kegiatannya.
Angel masih tetap dengan senyumannya, seolah apa yang dia lakukan bukanlah hal yang besar. "Karena aku mau tau, kamu khawatir nggak sama aku. Ternyata dugaan aku benar, kamu khawatir kan sama aku?"
Arga kembali menghemapaskan tangan Angel sesaat cewe itu akan kembali meraihnya, ia mendengus. "Gue benci sama orang yang memanfaatkan orang lain dengan kebohongan." Arga mengucapkan kalimat itu dengan datar dan dingin.
Kemudian ia berjalan meninggalkan Angel yang masih berdiri tercenung di ujung lapangan. Dan menuju tempat dimana teman-temannya berada. Ia mengambil posisi duduk di samping Rizal.
"Turunin tensi boss." Kata Rizal sambil menepuk pundak keras Arga.
Arga tidak menjawab, ia tahu apa yang dia lakukan tadi bukanlah hal yang keterlaluan karena dia sendiri memang benci dibohongi. Angel bukan hanya mempermainkannya tetapi Angel benar-benar telah membuat Arga muak.
"Boss, sebenernya lo suka nggak sih sama si Angel?" Tanya Rizal kemudian. Cowo campuran Amerika Indo itu terlihat begitu penasaran. Karena bukan hanya ia yang tahu kedekatan Arga dengan Angel tetapi hubungan mereka sudah membuming ke seluruh warga sekolah.
"Mana mungkin dia suka sama si Angel." Sosor Andre tiba-tiba. Ia duduk di samping kanan Arga. "Si kampretkan gay."
Celetukkan Andre barusan berhasil membuat Arga mendeliknya sinis. Namun apalah Andre, dia sama sekali tidak memperdulikan lirikkan tajam Arga. Justru cowo itu akan semakin semangat membuat tensi darah Arga naik.
"Omongan lo Dre, bisa bangunin singa tidur." Ujar Steven sambil terkekeh. Namun sama sekali tidak membuat Andre takut.
"Ciaelah, singa kalo di kasih daging juga nanti diem." Ujar Andre santai lalu menyenderkan tubuhnya.
"Diem bego!" Nico sambil menoyor kepala Andre hingga cowo itu pun langsung diam.
Beberapa menit telah berlalu, jam sudah menunjukkan waktu istirahat telah berakhir. Arga bersama yang lainnya pun sudah mulai meninggalkan lapangan.
"Ga."
Panggilan seseorang dari belakangnya membuat Arga menoleh tanpa berkata.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo. Bisa?"
Setelah mengetahui orang yang memanggilnya, Arga berbalik mendekap tangannya di dada. "Kenapa Nic?"
Nico tidak menjawabnya, ia justru kembali duduk dan diikuti Arga yang duduk di sampingnya.
"Sorry sebenernya gue gakmau ikut campur urusan lo. Cuman gue khawatir lo bakal menyesal nanti."
Arga menyernyit belum faham dengan pembahasan Nico. "Maksud lo?"
"Ga. Lo masih dendam sama si Fika?"
Arga sudah mengerti maksud dan arah tujuan pembicaraan Nico, ia memalingkan wajahnya dan menatap kosong ke arah depan. "Ini bukan urusan lo Nic."
Nico mendecak membuat Arga mengerngit di tempatnya. "Lo pikir dengan sikap lo yang kasar sama si Fika bisa bohongin perasaan lo?"
Arga mulai menggertakkan rahang kokohnya. "Nic, gue gakngerti apa maksud lo. Kalo emang lo mau belain dia di depan gue. Itu sama sekali gakberguna."
"Ga, si Fika gakada hubungannya dengan kejadian itu. Lo masih mau hukum dia yang gak bersalah?"
Entah sejak kapan namun tangan Arga sudah mengepal kuat di sampingnya. "Lo gak tau apa-apa Nic. Lo gakusah ikut campur!"
Nico naik pitam. "Gue sahabat lo dari kecil Ga. Kita tumbuh sama-sama, dan gue tau betul perasaan lo sama dia. Apa kejadian waktu itu udah bikin hati lo mati Ga!?" Nico berteriak sarkastik. Ia tidak mampu menahan lagi amarah yang sudah ia pendam sejak lama.
"Sekali lagi ini bukan urusan lo Nic. Jangan ikut campur!" Arga bangkit diikuti Nico yang langsung menghadangnya pergi.
__ADS_1
"Kita bertiga bersahabat Ga! Jangan pernah lo lupa dengan semua itu, gue sayang sama dia dan gue yakin lo juga sayang sama dia!"
Tiba-tiba Arga mencengkram kerah Nico lalu mendorongnya kuat hingga ia terjatuh. "Gue bilang jangan ikut campur!"
BUG!
Arga menghantam wajah Nico hingga cowo itu kembali tergeletak. Sepertinya Nico tidak berniat untuk membalas. Ia kembali bangkit sambil memegangi sisi wajahnya yang terkena pukulan Arga.
Arga dengan amarah yang menggulung semakin menajamankan tatapannya terutama saat Nico tiba-tiba tertawa hambar.
"Lo gakbisa bohingin perasaan lo Ga. Gue tau waktu itu lo juga khawatirkan saat ada kabar siswi IPS yang kecelakaan kan?"
Hening.
Nico terkekeh. "Dan lo langsung takutkan kalo siswi itu adalah Fika?"
Arga terbungkam, ia membalikkan tubuhnya membelakangi Nico, tangannya kembali mengepal kuat sampai buku-buku tangannya memutih.
"Dan lo ngerasa legakan pas tau ternyata bukan Fika yang kecelakaan? Itu terlihat jelas saat lo balik lagi ke kelas. Gue emang bukan psikolog, tapi tampang lo yang datar bisa mudah ditebak sama orang. Kalo lo lagi bahagia waktu itu."
Nico lagi-lagi tertawa hambar, sedangkan Arga masih berdiri kaku dengan amarah semakin memuncak.
"Gue tau meskipun mulut lo bilang benci tapi hati lo nggak. Hati lo emang keras karena kebencian, tapi hati kecil lo masih punya perasaan. Meskipun lo benci sama si Fika, tapi lo gakakan ngelupain kenangan lo sama dia."
"Cukup Nic."
"Mungkin Fika gakbisa mengingat lo, tapi lo akan selalu berada di hatinya Ga."
"Asal lo tau Ga, dia itu-"
BUG!
Arga menghajar Nico berkali-kali bahkan tidak sedikitpun memberikanya kesempatan untuk melawan. Arga mencengkram kerah Nico agar memudahkannya untuk lebih keras menghajar cowo itu. Nico yang berada di bawah Arga berusaha meronta dengan menahan kepalan tangan Arga lalu menendang perut Arga hingga ia terhuyung ke bekalang. Tidak sampai jatuh, namun Arga bisa merasakan sakit di perutnya.
"Kenapa lo emosi Ga?!" Sentak Nico sambil menyeka darah di ujung bibirnya. Ia menunjuk wajah Arga dengan telunjukanya. "Jadi orang jangan terlalu munafik sama perasaan. Yang ada lo yang bakal kualat!"
Arga yang sudah tidak terkendali kembali mencengkram kerah Nico dengan kuat, tangan kirinya siap melayangkan kembali pukulan keras darinya. Namun Arga masih berusaha menahanya.
"Jangan bikin gue hilang kendali Nic, atau lo akan menyesal!"
"Menyesal?" Nico berbalik mencengkram kerah Arga. Keduanya saling melontarkan tatapan dingin. "Lo yang bakal menyesal Ga, bukan gue."
"SIALAN!"
BUG!
Arga kembali memukul wajah Nico bahkan lebih brutal dari sebelumnya. Urat-urat tangan Arga yang mengeras semakin jelas terlihat dari sisi tangannya. Rambutnya yang berkeringat bergetar meluapkan seluruh amarah yang sudah beledak di ubun-ubunnya.
Setelah Arga merasa cukup, cowo itu akhirnya menarik dirinya dan membiarkan Nico tergeletak mengeluh kesakitan. Darah di tangannya sama sekali tidak ia rasakan.
"Lo bener Nic, hati gue udah mati karena kebencian. Hati yang udah hancur gakakan mungkin balik lagi. Gak akan ada yang sama lagi." Arga mengepal. "Dan menghancurkan dia.. adalah tujuan hidup gue sekarang."
Arga melengkah tegap setelah mengucapkannya dan meninggalkan Nico yang masih tergeletak lemah di sana. Dan disaat ia melewati pintu lapangan, detik itu juga suara dering ponselnya berbunyi.
Arga tetap melangkah sambil merogoh sakunya mengambil beda pipih yang kini ada ditangannya. Dua pesan masuk, yang satu dari ibunya dan satunya lagi nomor tidak di kenal. Arga lebih dulu membuka pesan dari nomor yang tak dikenal itu. Dan disaat itu pula ia mengerutkan keningnya.
085xxxxx7xxx5
Malam ini di atas ring.
*****
"Ibu manggil saya?"
"Silahkan masuk."
Fika melangkah perlahan memasukki ruangan kepala sekolah sesaat ia mendapat kabar dari Lussy bahwa bu Shinta atau kepala sekolah memanggilnya.
Ia duduk di kursi di depan meja bu Shinta dengan kepala menunduk. Disaat ia mengangkat kepalanya ragu, bu Shinta ternyata sedang sibuk membaca beberapa dokumen di sana. Entah dokumen apa namun rasanya Fika pernah melihatnya.
Terdengar suara helaan nafas berat bu Shinta. Hal itupun semakin membuat Fika deg-degan sendiri. Tidak biasanya ia di panggil kepala sekolah. Dan hari ini adalah untuk pertama kalinya.
"Fika Pricilla."
__ADS_1
Fika kembali mendongkak dan menatap kedua mata cokelat bu Shinta. "Iya bu?"
"Kamu coba lihat ini." Bu Shinta menyodorkan map yang tadi ia baca kepada Fika.
"Ini apa bu?" Tanya Fika ragu.
"Baca saja."
Fika mengamati setiap kata per kata yang tertera disana, angka demi angka ia perhatikan bahkan detak jantungnya tidak henti-henti berdenyut kencang. Data-data di tangannya adalah data nilainya dari kelas sepuluh semester 1 hingga saat ini.
"Ini.."
"Itu adalah hasil rekap nilai kamu Fika. Sebelumnya ibu sudah memperingatkan kamu, tapi sekarang apa boleh buat. Nilai kamu turun drastis. Bahkan bisa dibilang lebih parah dari sebelumnya."
Keringat dingin mulai bermunculan membasahi keningnya, Fika berusaha menelan salivanya dengan berat.
"Ibu tau, kamu anak yang baik. Maka dari itu ibu selalu mempertahankan kamu, tapi.. jika kejadian ini terus terulang ibu tidak tau apakah bisa menolong kamu lagi atau tidak karena semuanya juga tergantung diri kamu sendiri."
Fika menunduk lemah dan berkelit dengan tangannya. "Bu, Fika janji akan lebih berusaha lagi." Ucap Fika parau, sejujurnya ia sendiri tidak tahu apakah dia mampu mencapai target seperti yang bu Shinta inginkan. Namun selama ini ia juga selalu berusaha bahkan ia rela jika harus less private sampai sore dengan Lussy hanya untuk mencapai nilainya dengan baik.
Walaupun begitu, pada kenyataannya mencapai nilai rata-rata saja Fika begitu kesulitan.
"Tapi kamu tenang saja,"
Fika mengangkat kepalanya dengan mata sayu menahan air mata yang hampir ingin keluar.
"Ibu punya solusi buat kamu."
"Solusi?"
Tiba-tiba saja bu Sinta tersenyum. Ia bangkit dari duduknya kemudian berjalan memutari mejanya lalu duduk di kursi kosong samping Fika. "Ibu dan guru lainnya sudah sepakat akan memberikan kamu bimbingan khusus. Dan kamu tidak boleh menolaknya."
"Bim- bingan khusus? Maksud ibu, ibu akan membimbing Fika buat belajar?"
"Bukan ibu, tapi salah satu murid sekolah ini. Murid yang paling berprestasi di sekolah ini."
Kerutan di kening Fika semakin jelas. Murid berprestasi disekolah ini? Murid berprestasi di sekolah ini kan banyak. Lussy pun termasuk murid berprestasi. Tunggu, tapi murid paling berprestasi disini dia...
"Arga Aldiano kelas XII IPA 1."
Deg!
Bukan main Fika membelalakkan kedua matanya lebar. Bagaimana mungkin dari sekian banyak murid kenapa cowo keras kepala sedingin es batu itu yang harus membimbing dia? Fika tidak habis fikir bahkan ia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana kakunya dia jika Arga menjadi gurunya. Mungkin dia akan seperti mayat hidup.
Tidak! Saat ini Fika masih menganggap iti hanyalah kesalahan. Untuk itu Fika berniat untuk bertanya ulang pada bu Shinta yang masih setia menatap ekspresi lucu Fika saat ini.
"Arga bu? Ibu gaksalah? Diakan cowo. Ma-maksudnya ya meskipun dia murid berprestasi tapikan dia juga cowo yang nakal bu, emang ibu gak takut kalo nanti Fika di apa-apain gitu sama dia. Gimana kalo nanti Fika jadi ikut-ikutan nakal?"
Pertanyaan beruntun Fika berhasil mengundang gelak tawa bu Shinta.
"Kamu ini, kaya mau diapain aja sama Arga. Justru dengan Arga jadi guru kamu, ibu yakin Arga pun akan terpengaruh sama sikap baik kamu. Iya kan?"
Fika tercenung. Rasanya itu adalah hal yang mustahil. Sebenarnya bukan masalah Fikanya saja tapi apakah Arga sendiri mau mengajarinya?
"Ibu akan hubungi Arga. Nanti setelah itu kamu juga harus menemui dia."
"Tapi bu-"
"Ibu harap kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Jangan kecewakan ibu lagi."
Ucap bu Shinta kemudian berdiri memperbolehkan Fika keluar ruangannya. Sedangkan Fika ia berjalan seperti tak bernyawa lagi. Kenapa harus Arga? Itulah yang kini memenuhu benaknya. Antara sadar dan tidak sadar sesaat ia telah menekan tuas pintu dan di saat itupula ia terperanjat reflex menutupi mulutnya sendiri dengan kedua mata melotot lebar.
"Ikut gue." Ujar Arga dengan nada dingin seperti biasanya. Fika yang masih berdiri kaku disana hanya bisa menyerjap tidak mengerti. Tangannya masih setia menutupi mulutnya.
Arga melirik sekilas lalu berbalik membelakanginya.
"Gakusah lo tutup, gue juga udah ngerasainnya."
_____
Maaf teman-teman, untuk update agak lama soalnya aku udah mulai kerja mana dapetnya shif 3 nih. Dari jam 10 sampai jam 6 pagi nonstop. Mohon doanya aja yah semoga kerjaku di lancarkan dan dipermudah biar bisa update cepet juga.
Jangan lupa like dan komennya yah.
__ADS_1