Unforgettable

Unforgettable
Rahasia Terbesar


__ADS_3

#Sekedar ngasih tau, kalau bab ini sangat panjang. Jadi mohon kesabarannya untuk membaca. Dan mungkin bersiap kembali untuk baper yah😂


Oke langsung aja, happy reading!


______


Fika menyusuri koridor. Sesampainya ia kesekolah gadis berambut kepang dua ini tidak ingin membuang waktunya untuk langsung masuk ke dalam kelas. Sesampainya di kelas, Fika sudah di sambut dengan keramaian teman-temannya yang tidak kalah hebohnya di pagi hari. Namun meskipun begitu, bagi Fika semuanya terasa sunyi.


Seiring dengan berjalnnya waktu, Fika telah kehilangan segala sekarang. Mulai dari keluarga, sahabat, dan juga orang yang ia cintai. Mereka datang dan pergi tanpa permisi. Namun yang lebih mirisnya mereka pergi karena sebuah kebencian.


Seperti halnya dengan orang yang kini tak luput dari pandangan Fika. Ada banyak terlintas kenangan-kenangan indah yang dulu ia lalui bersama namun sekarang kenangan itu hanya bisa ia bayangkan dalam pikirannya sendiri. Lussy yang sedari tadi duduk sambil tertawa bersama teman sekelasnya membuat Fika merasa sesak sendiri.


Dulu sebelum kejadian waktu itu, Lussy adalah orang yang selalu menemaninya dimanapun ia berada. Ia adalah sosok pelindung bagi Fika. Sosok wanita pemberani, pintar dan juga humoris. Ia tidak menyangka semua kejadian ini akan terjadi secara bersamaan. Seandainya ia bisa mengembalikan waktu, maka ia akan melakukannya saat ini juga.


"WOY GUYS! GUYS! ADA BERITA HEBOH NIH!"


suara teriakkan seorang laki-laki yang sama dari kelas Fika berteriak heboh memasukki kelas. Cowo itu terlihayt begitu antusias dan bersemangat, hingga semua orang yang berada di kelas pun beralih menatapnya.


"Apa sih lo? Bikin heboh aja pagi-pagi." Ujar Reza si ketua kelas yang bijak.


Firman selaku pembawa berita heboh pun akhirnya menatap Reza. "Sorry pak ketu, tapi gue beneran berita heboh sekarang. Gue yakin kalian semua bakalan tertarik dah."


"Berita apaan? Jangan bilang berita kucing lo lahiran lagi. Bosen tau dengernya, kasian tuh kucing lo hamilin mulu!" Serongot pak ketu. Namun hal itu di tanggapi cengiran lebar oleh Firman.


"Hehe.. tau aja pak ketu, tapi sorry kucing gue lahirnnya minggu depan. Kalo sekarang gue beneran bawa berita heboh."


"Iya berita apaan? Set dah!" Geram Reza.


"Itu.. si Arga dia lagi berantem sama si Iqbal."


Buncahlah seluruh orang yang berada di kelas, tak sedikit dari mereka yang langsung heboh mendengernya. Terutama orang yang kini berdiri panik yaitu Fika. Arga dia berantem sama Iqbal? Tapi kenapa? Batin Fika khawatir.


"Hehe.. gue udah bilang kan pasti heboh." Ujar Firman merasa bangga dengan berita heboh yang ia dapatkan.


"Mereka emangnya ribut dimana?" Tanya Reza ikut merasa penasaran. Bukan hanya Reza tapi semua orang merasa penasaran, terlebih perkelahian Arga dengan siapapun pasti akan tranding topik satu sekolah.


"Mereka ribut di lapang basket indorr." Jawab Firman begitu santai.


"Eh liat yuk! Penasaran gue."


"Gue juga. Mereka kan kedua cowo famous disini. Kira-kira siapa yah yang bakalan menang?"


"Pasti Arga lah. Dia kan yang paling cool sejagat plus kuat."


"Tapi Iqbal juga cool kok, siapa tau kali ini dia yang bakalan menang."


"Yaudahlah, daripada kita ribut disini mendingan kita langsung cus ke lapangan sekarang!"


"Iyalah ayo!"


Satu persatu dari mereka akhirnya berdesakkan keluar kelas. Terlebih lagi Reza dan Firman sudah lebih dulu keluar ikut melihat membuat seluruh siswa di kelas semakin tidak kondusif.


Sedangkan Fika, dia juga sedang berjuang untuk berebut keluar kelas dengan teman-temannya. Setelah ia berhasil tanpa basa-basi lagi ia mempercepat langkahnya menuju lapangan basket berada.


Sesaat kaki jenjang Fika menyentuh lantai 2, matanya langsung terlonjak takjub. Disana sudah dipenuhi seluruh murid, bahkan mereka semua berdesakkan layaknya sedang mengantri tiket konser. Fika sama sekali tidak bisa lewat. Sampai saat yang bersamaan Andre kebetulan melewati dirinya.


"Eh Dre!" Teriak Fika. Ia menarik kaus cowo itu sedikit kuat membuat Andre spontan berbalik padanya.


"Eh Fik lo disini juga? Wah kebetulan, cepetan ikut gue sekarang." Andre meraih tangan Fika hal itu membuat Fika kebingungan.


"Dre, sebenernya ada apa? Kenapa Arga sama Iqbal berantem?" Pertanyaan Fika seakan hanya angin lewat bagi Andre, karena saat ini Andre sedang berjuang menerobos puluhan orang disana sambil Fika dengan cepat.


"Dre, jawab ih!" Fika terdengar sangat penasaran. Ia bahkan tidak mendapatkan respon sedikit pun dari Andre. Ia hanya mengikuti langkah cowo itu hingga akhirnya Andre berhasil membawanya masuk ke dalam lapangan yang sudah dipenuhi puluhan orang.


"Gila Dre! Gawat!" Teriakkan Nico yang mengahmpiri Andre dan juga Fika itu membuat keduanya panik seketika.


"Apaan? Jangan bikin gue jantungan nyet!"  Andre terlihat kesal dibuatnya, namun tidak sedikitpun membuat Nico peduli.


"Gue gak bisa lagi halangin Arga. Kalo terus dibiarin dia bakalan habisin si Iqbal sampai mampus ini." Suara Nico terdengar gemetar bercampur nafasnya yang ngos-ngosan. "Kalo si setan Arga udah ngamuk gini mah gue gak kuat sumpah."


"Ya sama gue juga! Untung gue udah bawa penangkalnya sekarang."


Perkataan Andre barusan membuat Nico beserta Fika saling menatapnya bingung.


"Penangkal? Penangkal apaan?" Tanya Nico dengan muka seriusnya.


"Nih!" Andre mengankat lengan kanannya yang tengah memegang tangan Fika. Bagi Andre Fika lah yang menjadi penangkal Arga. Namun Fika sendiri ia masih menatap cowo itu dengan bingung.


Kok perasaan aku jadi gak enak yah? Batin Fika.


"Oh iyah gue hampir lupa! Bagus deh Dre, untung lo bawa Fika. Yaudah Fik cepetan gih kesana. Akhiri semuanya sekarang!" Ucap Nico serius namun terdengar gokil bagi Andre.


"Lo kaya lagi main drama aja nyet." Kekeh Andre yang kemudian melepaskan tangan Fika. "Fik sekarang cuman lo yang bisa hentiin Arga sama Iqbal. Gue yakin dengan adanya lo pasti mereka bakalan berhenti ribut."


"Iyah Fik. Kita dukung lo kok tenang aja. Kalo lo kenapa-kenapa si Andre bakalan tanggung jawab." Sosor Nico ikut menyemangati.


"Apaan lo, main gue aja. Lo juga lah."


"Iyeh iyeh gue tanggung jawab."


Alih-alih menanggapi Andre dan juga Nico, Fika justru sudah lebih khawatir dari sebelumnya. Apalagi mendengar suara penonton yang semakin meninggi dan heboh membuatnya semakin berfikir yang tidak-tidak kengenai Arga dan Iqbal.


"Eh Fik kita blom ada planning!" Teriak Andre. Cowo itu kaget saat Fika berlari ke dalam kerumunan lebih dulu darinya. Entah apa yang ada difikiran Fika sekarang. Namun firasat Andre tidak enak.


"Nic, feeling gue gak enak sumpah. Gue takut kejadian waktu itu ke ulang lagi.  Dan bisa jadi lebih parah." Ucap Andre. Ia mencoba meyakinkan Nico yang juga terlihat berfikir sesaat.


"Gue juga ngerasanya gitu. Gue takut Arga nekat men."


Karena merasa sependapat, Andre dan Nico langsung bergegas mengikuti jejak Fika menerobos kerumunan disana.


Fika terengah. Ia rela menerobos dengan susah payah agar bisa melihat Arga dan juga Iqbal di sana. Suara riuh antara pendukung dan juga si pengompor membuat Fika teringat kembali dengan kejadian dulu. Yang dimana ia memisahkan Arga dengan Vino. Rasa takut yang ia rasakan juga sama, bahkan lebih dari itu. Karena orang yang kini sedang berkelahi itu keduanya adalah orang yang sangat berarti dalam hidup Fika.


Mata Fika menyerjap saat ia sudah bisa melihat kedua cowo yang sama-sama kuat itu beradu jotos. Terlihat disana Iqbal baru saja menonjok perut Arga yang langsung dibalas tonjokkan keras di wajah Iqbal dari Arga. Sorakan semakin membuncah saat Arga berhasil menjatuhkan Iqbal di bawahnya. Dan memberikan tonjokkan bertubi-tubi pada wajah Iqbal sampai cowo itu sudah terlihat sangat lemas.


Fika yang menyaksikan hal itupun ikut merasa lemas. Bagaimana mungkin ia tega melihat Iqbal yang seperti itu? Tanpa berfikir panjang Fika spontan langsung berlari ke tengah lapangan. Terdengat suara teriakkan Andre dan juga Nico disana namun tidak sedikitpun mengerungkan niat Fika. Fika melesat dan langsung menarik pundak Arga penuh tenaga hingga Arga pun terhentak karena tariakkan Fika yang membuat tubuhnya condong ke belakang.


"Arga please jangan lakuin lagi." Isak Fika namun tanpa sedikitpun menatap Arga. Ia sudah tidak bisa menahan airmatanya terutama saat kedua mata indahnya itu melihat Iqbal yang sudah terkulai lemah dengan darah di wajah dan bibirnya.


Arga yang baru manyadari orang yang menariknya adalah Fika pun membuat matanya mulai menajam menatap Fika sangar. "Ngapain lo disini?!" Teriak Arga.

__ADS_1


Namun Fika sama sekali tidak merespon Arga. Ia hanya terfokus pada Iqbal yang sudah menutupkan matanya. "Iqbal bangun Bal, ini aku Fika.. Bal please bangun.." Fika menggoyang-goyangkan bahu Iqbal dengan lembut berharap cowo itu akan bangun.


Arga yang kini berdiri menyaksikan kekhawatiran Fika terhadap Iqbal pun membuatnya semakin kesal bukan main. Ia mengepalkan tangannya kuat sampai ia kembali berteriak.


"LO TULI!? GUE BILANG LO NGAPAIN DISINI?!"


Mendengar teriakkan Arga yang menggelegar hingga ke penjuru lapangan itu membuat Fika spontan berdiri dan langsung berbalik menatap lekat cowo yang meneriakkinya itu.


"KAMU!" Tunjuk Fika pada wajah Arga. "Sampai kapan kamu akan bersikap kekanak-kanakkan? Apa kamu belum puas nyakitin aku? Sampai-sampai kamu mau nyakitin Iqbal juga? Kamu pikir kamu itu siapa hah?"


Deg!


Arga terhenyak, ia manatap Fika tidak percaya. *Dia neriakkin gue?* Batin Arga.


"Kamu liat!" Fika menunjuk Iqbal. "Iqbal kaya gitu semua gara-gara kamu! Kenapa kamu tega ngelakuin itu hah? Selama ini aku selalu sabar dengan semua sikap kasar kamu Arga. Tapi untuk sekarang.." Fika meneteskan airmatnya sambil menggeleng lemah. "Sekarang.. aku sudah muak dengan sikap kamu!"


Deg!


Semua orang terdiam, suasana yang riuh menjadi hening senyap. Mereka terdiam melihat kedua insan yang kini saling melempar tatapan itu.


Fika terdiam mencoba menetralkan amarahnya, namun disisilain ditengah heningnya ruangan. Justru suara tertawa Arga membuat semua orang termasuk Fika sendiri terkejut.


Arga tertawa seolah ia baru mendengat hal yang sangat lucu. Sampai kemudian ia berhenti dan kembali menatap Fika. "Jadi lo baru muak sama gue? Lo tau, lo seharusnya muak sama gue dari dulu."


Fika menyernyitkan dahinya.


"Tapi.. buktinya lo masih bertahan suka sama gue kan?"


Deg!


"Maksud kamu apa?" Tanya Fika.


Arga tersenyum miring. " lo itu terlalu naif. Bahkan dengan begonya lo jatuh cinta sama gue yang justru benci sama lo."


Suara desas-desus dari semua orang mulai kembali terdengar. Andre dan juga Nico yang sudah berdiri khawatir disana pun hanya bisa terdiam sambil berdoa semoga tidak akan ada hal buruk yang menimpa Fika lagi. Tidak sedikit dari mereka mulai membicara hal yang tidak-tidak mengenai Fika. Namun Fika sendiri ia tidak memperdulikannya.


"Fika emang suka sama Arga. Tapi setelah sekarang.. Fika baru sadar. Ternyata Fika udah salah." Fika melangkah selangkah kedepan Arga. "Asal Arga tau.. kesalahan terbesar dalam hidup Fika adalah telah menyukai Arga selama itu. Bahkan jika Tuhan memberikan kesempatan bagi Fika untuk kembali ke masa lalu, Fika akan meminta tidak ingin pernah bertemu ataupun mengenal Arga seumur hidup Fika."


Seakan ada sentakkan yang keras bagi Arga. Cowo berparas tampan itu hanya bisa terdiam dengan dahi terkerut menatap kedua manik mata Fika yang berbeda tidak seperti biasanya.


"Mulai sekarang dan seterusnya. Aku Fika Pricilla berjanji, tidak akan menyukai lagi laki-laki yang bernama Arga Aldiano. Dan jika Fika melanggarnya.. Fika rela mati saat ini juga!"


Gemuruh dari para penonton yang kaget dengan sumpah serapah Fika tentunya sangat menghebohkan. Terlebih Arga yang hanya diam sejak tadi seperti biasa menunjukkan wajah datarnya. Namun ada hal yang berbeda di hatinya kali ini. Ada rasa sakit yang mendalam dikala Fika mengatakan tidak akan menyukainya lagi.


"Fik.." Mendengar suara lengguhan yang Fika tahu berasal dari Iqbal membuatnya spontan berbalik dan langsung berjongkok.


"Bal kamu gakpapa kan? Aku anter ke rumah sakit yah?" Fika meraih tangan Iqbal yang basah di penuhi keringat. Iqbal sendiri hanya mampu menuruti peegerakkan Fika untuk mengalungkan tangannya ke leher cewe itu. Meski terasa berat namun Fika masih bisa kuat menahan tubuh Iqbal.


"Fik." Suara yang terdengar lirih itu berasal dari Arga. Entah pada yang merasukki dirinya saat tangannya justru terangkat ingin menahan Fika yang akan segera pergi itu.


"Urusan kita sampai disini Ga. Mulai sekarang kita gak akan berurusan lagi." Ucap Fika dingin. Kemudian berjalan sambil memapah Iqbal di sampingnya.


Tangan Arga yang mengangkang berniat ingin menahan Fika ia kepalkan sekuatnya lalu kembali menurunkannya. *Kenapa? Ada apa dengan gue?* Batin Arga. Pandangan matanya masih juga tertuju pada Fika yang sudah hampir tenggelam dikerumunan sana.


*****


"Auh!"


Sudang berulang kalinya Fika mengajak dan membujuk Iqbal untuk membawanya ke rumah sakit. Namun Iqal terus saja menolaknya. Dengan alasan tidak ingin merepotkan Fika. Dia lebih memilih di obati di UKS ketimbang harus ke rumah sakit yang baginya itu terlalu berlebihan.


"Gue udah lebih baik dengan adanya lo Fik." Ujar Iqbal mencoba untuk tersenyum.


Fika berdecak. "Ih, bandel banget sih. Kan ini juga buat kebaikan kamu. Lagi pula lukanya juga cukup parah. Fika cuman bisa ngobatin tahap awal aja. Please Bal denherin Fika yah, kita ke rumah sakit sekarang?" Kekhawatiran Fika murni tidak dibuat-buat, ia terus tidak hentinya menggenggam tangan Arga dengan sesekali mengusap pipinya dengan lembut.


Iqbal tersenyum kembali, ia merasa senang melihat Fika yang begitu perhatian terhadapnya. Seandainya dari dulu Fika terus memerhatikannya seperti ini, mungkin dia akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.


"Makasih Fik, tapi gue beneran gak papa. Cowo kan harus kuat." Ujar Iqbal seraya mengusap puncak kepala Fika gemas.


"Kuat si kuat cuman kalo udah babak belur kaya gini beda ceritanya!" Gerutu Fika. Ia merasa kesal walaupun Iqbal terus tersenyum padanya.


Iqbal terkekeh. "Beneran Fik, gue gak papa. Kenapa lo jadi bawel gini sih?"


Fika kembali mendecak. "Ih Fika gini karena Fika peduli sama Iqbal tau!"


Lagi-lqgi Iqbal kembali terkekeh dibuatnya. Kali ini dia mencubit ujung hidung Fika dengan gemas. "Iyah bawel.. makasih yah udah peduli sama gue." 


Fika menepis tangan Iqbal di hidungnya kemudian mengurai senyum. "Sama-sama. Lagian Iqbal kaya gini juga gara-gara Fika. Jadi seharusnya Fika yang minta maaf sama Iqbal."


Mendengar pernyataan Fika barusan beehasil membuat Iqbal menyernyit dibuatnya. "Maksud lo? Gara-gara lo?"


"Iyah gara-gara Fika. Arga mukulin Iqbal pasti karena dia benci sama Fika dan ngelampiasin itu ke Iqbal karena Iqbal orang yang paling deket sama Fika."


Iqbal terdiam. Ekpresinya berubah seketika. Entah apa yang kini ada difikiran cowo itu namun mengetahui Iqbal yang sama sekali tidak meresponnya, Fika pun akhirnya menatap cowo itu. "Iqbal kok diem aja? Dengerin Fika ngomong gak sih?"


Sedetik setelah Fika menanyakan dirinya, Iqbal langsung mencubit pipi Fika hingga Fika mengaduh kesakitan. "Sakit Bal!" Protes Fika seraya penepis lengan cowo itu.


"Lo tuh yah, polosnya kebangetan. Gue sampai bingung lo itu emang polos atau kurang gizi pekaan?"


"Mana ada guzi kepekaan? Emang kenapa si? Kok Iqbal malah ngomong gitu?" Tanya Fika. Kini ia terlihat kesal karena terus di huat bingung oleh Iqbal.


Terdengar suara helaan nafas berat Iqbal. Cowo itu menyandarkan punggungnya ke bagian kepala ranjang UKS. Tatapannya lurus kedepan tidak menatap Fika sama sekali.


"Bal kamu gakpapa kan?" Melihat Iqbal yang berubah seperti itu membuat Fika kembali merasa kahawatir. "Bal kalo ada yang masih sakit bilang yah. Jangan di tahan sendiri." Ujar Fika. Ia berniat akan menyentuh sebelah pipi kanan Iqbal namun dengan segera Iqbal menahannya. Lalu menatap dirinya dengan serius.


"Fik, lo harusnya nggak kaya gini."


Nada suara Iqbal terdengar berbeda sekarang.


"Lo seharusnya lakuin ini ke Arga bukan gue."


Fika menyipitkan matanya. "Loh emangnya kenapa? Kan Iqbal yang dipukulin Arga. Kenapa Fika harus peduli sama dia? Lagian dia juga gak pernah peduli sama Fika."


"Tapi lo salah Fik." Nada bicara Iqbal mulai meninggi. Tentu hal itu membuat Fika terkejut menatapnya heran.


"Kamu kenapa sih Bal? Kamu lagi kesel sama Fika?"


Iqbal menatap Fika tajam. "Iyah gue kesel. Kesel sama sikap lo itu. Lo tau gak si Arga mukulin gue karena dia cemburu!"


Deg!

__ADS_1


"Hah?" Fika terperangah. Apa dia tidak salah dengar? Arga cemburu?


"Mungkin sikap Arga selama ini kekanak-kanakkan karena dia lebih milih mempertahankan egonya sendiri. Tapi sejauh yang gue kenal, Arga bukan tipe cowo brengsek yang bakalan nyakitin cewe. Apalagi cewe itu adalah cewe yang dia sayangi."


Fika mengepalkan tangannya dan membalas tatapan Iqbal. "Usah cukup Bal, Arga itu dia cowo yang dingin dan kejam. Apa kamu bilang? Dia gak akan nyakitin cewe? Huh, mungkin dia gak akan nyakitin cewe lain. Tapi aku Bal! Aku satu-satunya cewe yang dia sakitin!" Suara Fika terdengat gemetar. Iqbal tahu apa yang kini Fika rasakan. Karena dia memang tahu persis apa yang Arga lakukan Fika padanya, namun hal itu kembali membuat Iqbal merasakan miris dihatinya. Karena dia tahu bahwa Arga melakukan itu karena terpaksa.


"Fik, lo denger gue baik-baik." Iqbal meraih bahu kecil Fika memaksanya untuk menatapnya lekat-lekat. "Please kali ini lo harus percaya sama gue."


"Dari dulu Fika selalu percaya sama Iqbal. Bahkan sampai Fika mengetahui kebenaran yang menyakitkan sekalipun, Fika masih percaya sama Iqbal."


Iqbal tertegun dengan ucapan Fika. Mendenger ucapan Fika seperti itu membuatnya semakin merasa bersalah. Bertahun-tahun dirinya telah membohongi dan menyakiti Fika secara tidak langsung. Namun dengan baiknya Fika masih memaafkan dirinya yang justru menyakiti. Jika orang lain mungkin Iqbal sudah dijadikan musuh selamanya. Itulah salah sayu mengapa Iqbal sangat menyukai Fika. Selain polos dan lugu, tapi dia memiliki hati emas yang tidak dimiliki oleh semua orang.


Iqbal tersenyum dan beralih mengusap puncak kepala Fika. "Makasih lo udah percaya sama gue selama ini. Tapi untuk sekarang lo harus percaya sekali sama gue."


"Apa?" Tanya Fika.


Iqbal terdiam sesaat sampai detik berikutnya dia mengatakan. "Arga ngelakuin kasar sama lo bukan tanpa sebab Fik. Sebenarnya dia udah ngelupain kejadian bahwa lo melupakan dia. Tapi kendala yang sesungguhnya adalah ayah Arga."


Fika menyerjapkan matanya. "Ayah Arga?" Fika merasa bingung, karena sebelumnya Fika belum pernah mengenal apalagi bertemu dengan ayah Arga. Karena yang tahu selama dia rumah Arga kalau orang tua Arga telah bercerai sejak lama. "Apa hubungannya Fika sama ayah Arga?"


Iqbal menghela nafasnya. "Lo gak tahu kejadian yang sebenarnya, dan gue yakin.. kalo lo tau lo pasti bakalan shok berat."


Fika tiba-tiba meremas tangan Iqbal kuat. "Bal please jangan rahasiain lagi, Fika udah cape sama teka-teki ini. Fika lelah terus-terusan jadi orang yang gak tau apa-apa! Fika mau semuanya terungkap sekarang juga!" Iqbal menatap miris Fika. Ia tahu pasti selama ini Fika sudah sangat tersiksa dengan semua ini. Mungkin inilah saatnya ia mengetahui kebenarannya. "Bal, apapun yang kamu tau please ceritain sedetail-detailnya sama Fika yah?"


Iqbal tanpa ragu lagi menganggukkan kepalanya. "Gue akan kasih tau lo, tapi lo harus janji. Kalau gue kasih tau ini, lo harus lebih kuat dari sebelumnya."


Fika mengerti maksud dari Iqbal. Ia menyuruhnya untuk lebih tegar lagi untuk menghadapi segala kenyataan pahit. "Fika janji." Ucap Fika serius.


Iqbal tersenyum manis. "Hal pertama yang harus lo tau." Iqbal menjeda perkataannya. Sebelum sedetik kemudian mengela nafas dan berkata. "Ibu lo masih hidup, dan dia sekarang adalah istri sahnya ayah Arga."


Deg!


Fika terdiam. Entah sesuatu apa yang telah menusuk hatinya. Namun begitu mendengar kalimat itu dari Iqbal membuatnya tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. "Bal, kamu ngomong apaan sih? Ibu aku? Istri sahnya ayah Arga?" Fika tertawa paksa sebelum kembali bicara. "Gak mungkin Bal, itu gak mungkin. Mamah aku gak akan ngelakuin itu." Lirih Fika. Tanpa ia sadari satu bulir airmatanya sudah jatuh begitu saja mengalir di pipinya yang mulus.


"Fik, inilah kenapa gue nyuruh lo buat lebih kuat dari sebelumnya. Gue tau kenyataan itu menyakitkan. Tapi apa yang gue bilang sekarang ini bukanlah kebohongan." Fika menatap Iqbal dengan mata merah penuh kekecewaan.


"Sejak kapan Bal?" Fika merasa semua itu hanyalah mimpi, ia masih mempercayai ibunya hingga sekarang walaupun dia tidak pernah bertemu dengannya lagi.


"Sejak saat sesudah Alan dikabarkan meninggal. Sebenarnya alasan Arga benci sama lo bukan karena lo lupain dia. Tapi karena ibu lo yang udah rebut kebahagiaan keluarga dia-"


"CUKUP BAL!" Fika berdiri menatap Iqbal penuh amarah. Iqbal sudah bisa menebak semua ini akan terjadi maka dari itu ia berusaha untuk tetap tenang.


"KAMU JANGAN BILANG KAYA GITU! IBU AKU GAK MUNGKIN NGELAKUIN ITU. FIKA PERCAYA SAMA IBU!" Isak tangis Fika semakin menjadi. Dan hal itu memaksa Iqbal untuk ikut berdiri meraihnya dan memeluknya. Berusaha menangkan Fika.


"Gue tau itu sangat rumit. Gue ngerti lo pasti gak percaya kan? Tapi.. kenyataan memang selalu menyakitkan Fik. Saat lo semakin berharap maka semakin besar juga lo akan sakit hati. Sama halnya lo berharap ibu lo datang kembali buat lo. Karena kenyataannya dia yang udah ninggalin lo demi kebahagiaannya sendiri."


"Satu hal lagi yang perlu lo tau." Fika berhenti terisak. Dan mengangkat wajahnya menatap Iqbal.


"Apa?" Tanyanya lirih.


"Arga selama ini ngelindungi lo dari ayahnya. Mungkin lo gak tau sudah beberapa kalinya ayah Arga mencoba nyelakain lo. Dan lo bisa selamat seperti sekarang itu karena Arga yang selalu ngawasin lo."


Deg!


"Tanpa lo sadari... Arga selama ini selalu ada kemanapun lo pergi. Dia bagaikan bayangan yang tidak pernah lo tau keberadaannya."


Tanpa sanggup ia tahan lagi. Fika kembali meneteskan airmatanya. "Arga..?"


"Arga sangat sayang sama lo Fik. Lo gaktau udah keberapa kalinya Arga dateng ke apartemen gue cuman mau ngancem gue buat gak nemuin atau deketin lo lagi. Bahkan dalam beberapa waktu dia sama gue sering beradu jotos cuman karena gue suka ngajak lo pulang bareng."


"Dari sosok dingin dan juga kejamnya, justru tersimpan kasih sayang yang mendalam di hatinya buat lo."


"Mungkin dipandangan semua orang Arga adalah orang yang tidak memiliki hati nurani. Namun bagi gue, yang udah kenal Arga lama. Dia adalah sosok yang berhati tulus."


Fika gemetar. Sekujur tubuhnya menegang. Bahkan kakinya pun terasa lemas.


"Fik, setiap orang itu berbeda. Dan cara mencintai pun berbeda-beda. Termasuk apa yang Arga lakuin buat lo. Dia ngelakuin hal kasar dan keji itu sama lo bukan karena dia gak suka sama lo. Tapi itu adalah bentuk rasa cintanya sama lo."


Fika ambruk. Ia menangis sejadi-jadinya. "Kenapa Iqbal baru ngasih tau sekarang!?" Fiak bertiak frustasi. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi. Terutama mengingat dirinya yang telah bersumpah untuk dirinya sendiri. Ia hanya bisa menyesali perbuatannya setelah ini.


"Maaf Fik, gue baru punya keberanian ngungkapin ini semua ke elo." Iqbal berjongkok mengusap punggung Fika. "Ini bukan akhir cerita Fik. Lo masih bisa mengubah cerita ini menjadi cerita yang lebih indah dari sebelumnya. Gue yakin kali lo ngerti posisi Arga, Arga juga pasti bakalan nerima lo."


Fika menggeleng lemah di tengah derainya airmatanya. "Nggak Bal, semuanya sudah berakhir."


Iqbal menyernyit. "Belum Fik. Semuanya belum berakhir." Iqbal berusaha meyakinkan Fika. Sampai gadis itu mengangkat kepalanya.


"Nggak Bal. Sewaktu sebelum Iqbal sadar tadi, Fika sudah ngangkat sumpah bahwa Fika nggak akan suka lagi sama Arga apapun yang terjadi. Atau Fika akan mati."


"Apa!?" Sontak Iqbal. "Lo kenapa bersumpah kaya gitu si?"


"Fika gaktau, Fika terbawa emosi. Fika cuman ngekutin naluri aja."


"Tapi Fik, kita juga gak akan tau apa yang bakalan terjadi suatu saat nanti. Meskipun lo bersumpah sekali pun, lo gak akan bisa melawan takdir. Karena pada dasarnya Tuhan lebih tau apa yang paling terbaik untuk hambanya. Jadi.. meskipun lo bersumpah kaya gitu, belum tentu juga Tuhan mengabulkan sumpah lo. Karena Dia juga lebih tau kebenarannya daripada kita."


Mendengar penjelasan Iqbal yang terdengat sangat bijak bagi Fika. Membuatnya kembali merasa tenang.


"Kamu benar. Hanya Tuhan yang akan tau kelanjutan cerita ini. Tapi.. apa Arga akan menerima Fika lagi setelah apa yang udah Fika lakukan tadi?"


Iqbal tersenyum manis, ia mengusap sayang kepala Fika. "Dia itu cinta mati sama lo. Apapun kebodohan ataupun kecerobohan yang lo lakuin pasti akan dia maafkan. Percaya sama gue."


Sungguh Fika tidak menyangka bahwa Iqbal bisa berkata manis dan bijak secara bersamaan. Dengan rasa bahagia Fika pun menghamburkan tubuhnya ke tubuh Iqbal sampai keduanya saling berpelukan erat.


"Makasih Bal. Setelah ini Fika akan langsung nemuin Arga."


"Semoga lo berhasil Fik."


Iqbal dan Fika saling melempar senyuman. Ruangan yang sempit penuh dengan bebauan obat itu kini berubah menjadi tempat yang hangat bagi keduanya. Sampai-sampai seseorang yang sejak tadi berdiri di balik pintu dengan kedua tangan di dekap dan kaki dilipat itu iktu merasakan kehangatannya. Wajahnya yang datar sedatarnya itu kini berubah menjadi sebuah senyuman manis di wajahnya.


Arga yang sudah berdiri hampir setengah jam itu tidak merasa kelelahan sama sekali. Terutama saat mendengar percakapan kedua insan yang berada di dalam ruangan UKS itu.


Entah hal lucu apa yang membuatnya kini tertawa. Namun ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan UKS sambil bergumam pelan.


"Yah.. semua rahasia gue udah terbongkar. Dasar lo Bal, tukang gosip kelas kakap."


_______


Panjang yah? Maaf sebelumnya agak lama updatenya😁


Kasih komentarnya untuk bab ini yah.. jangan lupa buat Like nya.

__ADS_1


Oyah spoiler nih.. kalau Unforgettable bentar lagi selesai😭 jadi harus terus pantau yah biar tau endingnya gimana.


See in the next chept》》》


__ADS_2