
Sebelum membaca persiapkan diri untuk baper dan juga siap kesabaran karena bab ini sangat panjang..
Happy Reading!
Hari menjelang malam, angin sepoy berhembus menembus celah jendela putih yang menerbangkan beberapa gorden putih hingga sampai ke kulitnya yang halus.
Gadis berambut kepang dua ini tengah menyangga dagunya dalam keheningan bersama pikirannya yang melayang. Bagaimana tidak? Seluruh peristiwa mengerikan yang selama ini ia takutkan telah terjadi begitu saja. Datang secara beruntun dan begitu menyiksanya.
Kehilangan sahabat bukanlah sesuatu yang mudah ia lupakan. Bahkan untuk mendapatkannya saja ia sudah merasa sangat beruntung. Namun takdir berkata lain, mungkin sudah saatnya orang-orang yang ia sayangi akan menghilang dalam hidupnya.
Hidup akan terus berjalan meskipun dalam kesendirian dan penderitaan. Fika hanya seorang gadis lemah yang tidak memiliki benteng pelindung dalam hidupnya hanya mampu pasrah dengan setiap keadaan. Menyesalpun tidak ada gunanya. Karena pada kenyataannya takdir telah menentukannya.
Jika saja sebuah keajaiban menghampirinya. Fika berjanji ia akan memberikan apapun selagi ia mampu untuk mendapatkan setitik kebahagiaan.
Dertt .. dertt..
"Hallo,"
"Hai sweety.."
"Tante? Ini tante Ratna kan?"
"Yes baby, gimana kabar kamu sekarang?"
"Hem.. baik tan. Tante sendiri gimana kabarnya disana?"
"Syukurlah, kalo tante tentu baik-baik saja bahkan lebih dari kata baik."
"Alhamdulillah kalo gitu tante, sepertinya tante betah banget yah disana?"
"Hehe.. yah bisa dibilang begitu, disini banyak sekali tempat perawatan. Relaxasi yang menakjubkan, kapan-kapan kamu juga harus kemari temenin tante."
"Fika mau sih ikut tante, tapi.."
Perkataan Fika tergantung karean ia baru saja menyadari keberadaan seseorang dikamarnya. Ia pun berbalik dan benar saja, raut wajah datar dan dingin yang kini ia lihat mulai merasuki permukaan kulitnya. Sungguh setiap ia melihat kedua bola mata tajam itu selalu membuatnya membeku seketika.
"Fik? Fika kamu masih disana kan?"
"Eh, i-iya tan. Fika masih disini."
"Oh.. tapi kenapa kamu jadi diam saja? Apa Arga ada disana?"
Tebakkan yang tepat, Arga si cowo dingin itu kini tengah berdiri mendekap dadanya dan menatap intens Fika yang tengah duduk di samping jendela kamar.
"I-iyah tan, tante mau ngobrol sama Arga?"
Untuk kesekian kalinya Fika melirik Arga yang masih mematung di tempatnya. Sungguh mengerikan, bahkan tatapan Arga sama sekali tidak ia alihkan dari dirinya.
"Oh gak usah lah, nanti dia juga telpon kalo butuh tante. Lagi pula.. sekarang ini tante lagi kangennya sama kamu. Kalo Arga sih, ah si dingin itu. Apa dia masih bersikap dingin sama kamu?"
Fika mendesah berat kali ini, ingin ia menjawab jujur tapi Arga saat ini berada di sampingnya. Bisa-bisa habis dia di lahap Arga nantinya.
Fika hanya terkekeh kecil. "En-enggak tan, udah ada perkembangan. Tante gak usah khawatir."
Mendengar jawaban dari Fika barusan, membuat Arga reflex mengangkat sebelah alisnya. Hal itupun membuat Fika semakin menegang.
"Oh yaampun, tante lupa. Tante masih punya janji hari ini. Tante akhiri dulu yah sayang obrolannya, nanti kita lanjutin lagi."
"Iyah tante."
"Kamu jaga diri baik-baik yah disana. Kali Arga nakal langsung laporin aja ke tante."
Fika tersenyum simpul. Ia tidak berani menatap Arga. "Iyah tante. Tante juga jaga kesehatan yah disana."
"Iyah sayang pasti. Tante tutup yah telponnya."
"Iyah tante."
TUT (sambungan terputus)
"Jadi selain nangis lo juga suka ngegibahin gue?"
Suara baraton milik Arga dengan pertanyaan terkonyol yang pernah ia dengar membuat Fika menatapnya sambil melotot.
"Si-siapa yang gibahin Arga? Fika nggak-"
"Gausah di jelasin! Mendingan lo sekarang tepatin janji lo ke gue."
Fika menyernyitkan dahinya. "Janji? Janji.. apa?"
Arga mendesah. Tiba-tiba saja cowo itu mengambil sebuah kotak dari atas sofa dan melemparkannya kepada Fika.
"Hari ini lo akan pergi ke pesta bareng gue."
Fika seketika tersentak mendengar hal itu, iyah kali ini Fika mengingatnya. Fika ingat bahwa ia telah berjanji pada Arga jika ia akan ikut ke pesta apabila cowo itu memberikan jawaban perihal Lussy. Dan janji itu harus di tepati malam ini. Astaga.. bagaimana Fika menghindarinya kali ini?
"Jangan untuk kabur, hal itu akan sia-sia karena gue akan tetep maksa lo."
Bagaimana ini? Tunggu, Fika bisa berpura-pura tidak enak badan dengan begitu ia bisa lepas dari janjinya.
"Sebaiknya lo buang fikiran lo itu jauh-jauh, kalo nggak mungkin gue akan melakukannya dengan cara kasar."
Glek.. Fika menelan ludahnya berat. Mengapa Arga mengetahui semua isi fikirannya? Fix kali ini ia tidak akan mampu untuk kabur. Pasrah, mungkin itu yang akan ia lakukan sekarang.
"Em.. tapi Arga Fika.. nggak.." Antara malu dan ragu, Fika ingin sekali jujur namun ia juga merasa malu mengatakannya. Entah mengapa padahal selama ini dia tidak pernah memperdulikan komentar orang lain. Tapi untuk Arga? Entahlah, ia selalu ingin menunjukkan hal terbaik.
"Nggak apa?" Suara Arga lagi-lagi membuat jantung Fika berdetak kencang.
"Fi-Fika nggak.. nggak bisa dan..dan."
"Gue tau."
JLEB!
Kenapa rasanya sakit? Padahal memang itu kenyataannya. Batin Fika. Sungguh ia merasa malu sekali. Tidak seharusnya dia mentakan hal itu, toh semua orang juga tau kalo dirinya memang tidak bisa berdandan. Bahkan ia memang sadar bahwa penampilannya sehari-hari terbilang kuno. Namun apa yang mampu ia lakukan? Berdandan pun itu tidak akan membuat Arga jatuh cinta padanya. Benarkan?
Padahal jika ingin jujur, dari lubuk hati Fika yang paling dalam ia ingin sekali berpenampilan lebih baik setidaknya untuk pesta pertamanya ini. Sebenarnya bukan karena pestanya melainkan karena dia, Arga Aldiano. Tidak salahkan jika ia ingin merasakan pantas saat bersanding dengan cowo tampan itu? Wajar saja, karena bukan hanya dirinya melainkan ribuan wanita di luar sana pasti menginginkannya.
Tapi.. Apakah dirinya pantas?
"Maaf Arga.. tapi Fika-"
"Gak usah sedih gitu."
Fika terhentak dan mendongkak menatap kedua manik mata tajam Arga.
"Gue udah undang seseorang kesini buat bantuin lo."
__ADS_1
Fika menyernyitkan dahinya, membantunya? Maksudnya Fika akan di dandani seseorang? Tapi siapa?
"Siapa?"
"Lo akan tau." Arga memasukkan tangannya ke saku seperti biasa, kemudian hendak untuk berbalik namun sebelum itu ia kembali menoleh dan berkata. "Pakai gaun itu, jangan kecewain gue."
DEG!
Mengapa suara Arga berubah menjadi seseksi itu? Astaga... bahkan Fika hampir sesak nafas mendengarnya. Perkataan Arga terakhir seolah ia memohon agar Fika tampil sangat cantik dengan memakai baju pemberiannya. Oh.. sungguh Fika ingin meleleh saat ini juga.
Arga melangkah keluar kamar Fika setelah memastikan tidak ada kehadiran cowo itu Fika secara reflex melompat ke atas kasur dan meloncat-loncatkan dirinya disana. Entah bagaimana perasaannya saat ini namun ia rasanya ingin melayang ke langit ketujuh. Hatinya ingin meledak seketika. Rasa bahagia dihatinya membuatnya lupa akan seluruh kesedihannya.
Bahkan sesekali Fika menjerit tidak karuan disana. Sambil memejamkan mata sipitnya ia meloncat-loncat layaknya anak kecil dengan senyum lebar terukir di wajahnya yang polos.
Tok tok tok
"Fik! Lo di dalem yah?"
Fika menghentikan loncatannya saat mendengar suara ketukan pintu dan teriakan seorang cewe disana. Tunggu, siapa dia?
Fika merasa familiar dengan suara itu.
"Iyah Fika di dalam." Teriak Fika sambil turun dari ranjangnya. Fika hendak akan membukakan pintu itu namun pintunya justru lebih dulu terbuka dan menampakkan sosok familiar itu disana.
"Angel."
Fika tidak percaya dengan apa yang ia lihat, cewe berambut panjang cantik dengan gaun pestanya tersenyum manis di ambang pintu menatap Fika bahagia.
"Hai! We meet again?"
"Angel kamu ngapain disini?"
Fika merasa bingung, apa yang Angel lakukan? Dan mengapa ia juga membawa kotak besar ditangannya?
"Lah, emang Arga gak ngomong yah sama lo?"
"Arga?"
"Hah, aku yakin pasti dia gak ngasih tau lo. Ish dasar si cowo kulkas kebiasaan kalo ngomong pasti setengah-setengah. Udah dibilangin juga tetep aja dasar cowo kepala batu."
Fika masih melongo memerhatikan Angel yang terlihat sangat kesal. Hingga tiba-tiba Angel menepuk pundak Fika dan menatapnya serius.
"Lo tenang aja Fik, masalah si cowo kulkas itu biar gue yang tanganin. Tapi sekarang, kita harus siap-siap dulu. Oh bukan .. bukan kita tapi lo."
"Aku?"
Angel mendesah. "Astaga Fika.. gue yang bakal bantuin lo buat berdandan. Dan gue akan buat lo seperti bidadari turun dari surga. Sekaligus membuat cowo dingin berkepala batu itu kelepek-kelepek liat lo oke!?"
Fika menyerjapkan matanya. Jadi Angel disurih Arga untuk mendandaninya? Itu bagus. Tapi hal yang menganggunya sebenernya kalimat terakhir dari perkataan Angel. Membuat Arga klepek-klepek padanya? Astaga.. sungguh membayangkannya saja sudah membuat kedua pipi Fika merah padam. Apalagi jika sungguhan? Mungkin saja ia akan menyembunyikan wajahnya sendiri ke dalam tas.
"Jangan buang waktu, let's make your amazing baby!"
Beberapa menit lamanya setelah Angel puas mengobrak abrik seluruh peralatan make upnya yang puluhan jenis itu. Akhirnya ia bisa menghasilkan make up yang pas untuk Fika. Make up yang lebih soft tidak terlalu berlebihan dan masih menunjukkan wajah natural dari Fika. Angel hanya membuat aura natural kecantikan Fika lebih menonjol. Sehingga membuat orang akan lebih nyaman saat memandang wajah Fika yang cantik dan imut.
"Astaga Fika!"
Fika terlonjak kaget ia mengerutkan dahinya menatap khawatir Angel yang tiba-tiba saja berdiri dan menatapnya aneh.
"Kenapa Ngel?"
"Fik astaga gue gak nyangka sumpah!"
"Yaampun Fika kenapa lo selama ini menetupi semuanya?"
Fika semakin kebingungan, sebenarnya Angel sedang membahas apa?
"Fika Pricilla yang polosnya selangit! Lo gak nyadar apa? Lo itu CUANTIK BANGET! YAAMPUN GUE AJA KALAH TAU! IRI SUMPAH!"
Cantik? Apa Angel baru saja menyebutnya cantik? Tidak mungkin!
"Fik! Gue jamin, kalo penampilan lo kaya gini percaya deh semua cowo pasti ngejar lo! Astaga gue pangling banget."
Fika tersipu. Benarkah ia secantik itu?
"Fik, make up udah selesai. Lo tinggal pakai bajunya. Tapi lo punya dress party kan?"
Sejenak Fika terdiam, karena ia juga tidak mempunyai baju-baju seperti itu. Bahkan pakaiannya saja hanya sedikit. Tapi mengingat hal itu ia kembali teringat dengan perkataan Arga tadi sebelum keluar. Fika pun segera berdiri dan berjalan menuju ranjangnya dan mengambil kotam besar berwarna silver disana.
Kotak itu masih tersegel dengan pita berwarna putih.
"Itu apa?" Tanya Angel sesaat merasa penasaran dengan benda yang di pegang Fika.
"Entah. Kata Arga ini gaun."
Angel tersenyum geli. "Astaga.. ternyata si cowo kulkas itu ada sisi romantisnya juga yah. Gak nyangka."
Angel kembali terkekeh geli, sedangkan Fika hanya **** senyum malu sambil memegang erat kotak itu.
"Cepetan buka Fik!" Titah Angel tidak sabaran sekaligus penasaran.
Fika pun menurut, ia mengangguk lalu membuka lilitan pitanya dan membuka box tersebut dengan hati-hati sekaligus deg-degan.
"OH MY GOD! Itu kan gaun keluaran terbaru dari Chanel!" Angel terlihat shock dan histeris bahkan sangkin tidak percayanya ia langsung merebut kotak di tangan Fika dan mengekuarkan drees itu dari tempatnya. Seketika itu pula mata Fika berbinar, dress dengan atasan renda hitam dengan rok nya yang berwarna putih transparan dan hiasan pita hitam di pinggir pinggangnya itu sungguh terlihat sangat indah.
"FIKAAA LO BERUNTUNG BANGET SIH..."
Fika masih tidak mengerti mengapa Angel yang masih sangat histeris melihat dress pemberian dari Arga itu hanya mampu menatapnya bingung sekaligus senang. Karena ia sendiri tidak tau perihal fastion, yang ia tahu saat ini adalah dress itu sangat indah.
"Fik, asal lo tau yah. Ini dress keluaran terbaru dari produk Chanel."
"Chanel?"
"Iyah Chanel! Lo tau gak berapa harganya?"
Fika kembali menatap dress yang kini sedang di pegang Angel.
"Gak tau. Emang harganya berapa?"
Angel mendesah. Bahkan ia membalikkan tubuhnya sangkin gregetnya dengan seluruh kepolosan Fika.
"Fik lo harus inget dan catat di otak lo yah. Harga dari dress ini hampir setara dengan lo beli mobil lambhorgini yang harganya mencapai 2.8 USD alias 37 miliar."
Fika melotot. Ia menganga tidak percaya. Bahkan ia merasa jantungnya semakin berdetak kencang.
"Lo tau gak kenapa dress ini mahal?"
Lagi-lagi Fika menggelengkan kepalanya.
"Haduh! Denger Fik! Meskipun dress ini terlihat sederhana tapi dress ini adalah designan khusus dari 3 designer terkenal di dunia dan dress ini adalah dress satu-satunya yang mereka buat! Dress ini baru di publikasikan kemarin dan memang gue udah tau kalo dress ini banyak di buru semua orang di dunia. Tapi gue gak nyangka Fik, kalo yang beli dress ini ternyata dibeli sama cowo berkepala batu itu. ASTAGA ... dan dia beli ini khusus buat lo FIKA PRICILLA!!!!!"
__ADS_1
Angel ngos-ngosan. Rasa greget dan juga semangatnya menyatu begitu saja. Sungguh Angel merasa iri dengan apa yang Arga berikan pada Fika kali ini.
Sedangkan Fika ia tidak tau lagi harus berekspresi apa. Mengetahui harga dan juga keistimewaan dress itu justru membuat menjadi minder untuk mengenakannya. Dress itu terlalu mahal dan istimewa. Apakah Arga sungguh memeberikannya khusus untuk dirinya? Tapi kenapa? Apakah Fika orang yang khusus baginya?
"Fik! Kita hampir telat, ayok cepet pake bajunya! Duh gue udah gak sabar liat baju itu nempel di tubuh lo. Udah sono cepet!"
Angel mendorong Fika menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit di kamar mandi Fika akhirnya keluar juga dengan penampilannya yang super duper berbeda.
Angek yang sejak tadi menunggu di ambang pintu kini menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Ia menatap Fika naik turun dari atas kepala hingga kakinya. Sungguh ia merasa terharu dengan penampilan Fika yang begitu cantik laur biasa. Ditambah polesan make up yang diberikannya semakin membuatnya terlihat sempurna.
"Gimana? Em.. bagus gak?" Tanya Fika sedikit ragu.
Angel yang merasa specless itu hanya memberikan respon acungan dua jempolnya. Sungguh ia tidam mampu berkata apapun lagi. Fika sangat menakjubkan.
"Jelek yah?" Fika memelas, ia justru tidak percaya diri dengan menundukkan kepalanya. Dan hal itu membuay Angel kembali geram.
"Fik lo tau gak arti dari dua jempol yang gue acungin ini?" Angel mendekatkan kedua jempolnya bersamaan ke depan wajah Fika. "Gue jujur gak bisa berkata-kata lahi Fik, gue specless liat penampilan lo. Mungkin tingkah gue lebay kali ini tapi jujur Fik gue jujur sejujur-jujurnya lo SUMPAH CANTIK BANGET. PERFECT, LOOK LIKE ANGEL, PREETY, BEUATY, AND AMAZING!"
Mendengar tuturan angel yang pangjang kali lebar itu membuat Fika terkekeh. "Makasih Ngel, udah bantuin Fika."
"Hem.. Its okey, hehe... gue udah gak sabar liat ekpresi si cowo kulkas itu kalo liat penampilan lo sekarang. Hehe.. kira-kira dia bakal beku kaya batu es gak yah? Iiiiiihh gak sabar gue!! Ayok Fik kita kebawah!"
"Eh Ngel tapi-"
"Syuutt.. jangan banyak tapi-tapian, lo harus nurut sama gue oke."
Bukannya Fika tidak mau tapi jujur Fika juga merasa belum siap dilihat oleh Arga. Tapi apaboleh buat Angel sudah menarik tangannya hingga hampir menuruni tangga.
"ARGA!"
Angel melepaskan genggamannya lalu berlari ke pembatas tangga. Sedangkan Arga dia ada di lantai bawah sedang duduk santai sambil meminum jusnya, cowo tampan itu juga ternyata sudah siap dengan mengenakan kemeja berwarna putih sedangkan tuksedonya masih ia letakkan di kursi.
"ARGA!" Panggil Angel kembali, dan hal itu membuat Arga mendongkak melihat ke atas tangga. "LO UDAH SIAP GAK LIAT BIDADARI TURUN DARI SURGA?!"
Mendengar teriakkan Angel barusan membaut ekpresi Arga berubah drastis. Cowo itu mengambil menumannya dan menguknya sedikit.
"Kalo itu bidadari, gue akan langsung menciumnya."
Mendengar perkataan Arga barusan membaut kedua cewe di atas terbelalak lebar. Fika langung panas dingin, sedangkan Angel dia menyeringai licik.
"Oyah? Seriusan? Gimana kalo kita taruhan!"
Arga mengangkat sebelah alisnya.
"Kalo Fika terlihat cantik dan luar biasa saat pertama lo liat dia maka lo harus ngasih gue mobil lo. Tapi kalo saat pertama lo liat dia biasa-biasa aja, gue yang bakal kasih mobil sport gue buat lo. Gimana?"
Arga terkekeh. Dan tersenyum miring.
"Oke."
Angel melombat-lombat senang. Sedangkan Fika disana melotot tidak percaya dengan taruhan mereka. Apakah orangkaya seperti mereka sering bertaruh seperti itu? Sungguh Fika benar-benar tidak mengerti dengan kehidupan orang kaya yang dengan mudahnya melepas barang mahal dan berharga seperti brrtukar permenkaret dengan teman sebayanya.
"OKE DEAL!" Teriak Angek semangat. Ia pun beralih menatap Fika dan memberikannya kode untuk melangkah turun. "Ayo Fik. Lo harus percaya diri!"
Fika menelan ludahnya, entah dorongan dari mana tapi ia merasa percaya diri sekarang. Fika melangkah perlahan-lahan dengan haknya yang berwarna silver. Perlahan tapi pasti, kaki Fika yang putih mulus dan panjang itu mulai melangkah menuruni satu persatu anak tangga. Suara dentuman dari hak sepatunya berdentang nyaring di ruangan luas rumah Arga.
Hal itu pun telah memancing gendang telinga milik cowo yang kini tadinya duduk memerhatikan ponsel dan beralih menatap wanita yang tengah menuruni anak tangga dengan begitu anggun.
Mata elang milik cowo itu seketika terbeku dan terkunci seolah tidak mampu lagi ia alihkan lagi. Tangannya yang tadi menggenggam ponsel antara sadar tidak sadar ia taruh di sembarang tempat. Jujur bukan bohong, jantung Arga saat ini berdetak kencang bahkan keringat baru saja keluar dari ubun-ubunnya.
Fika melangkah semakin rendah ke lantai bawah hampir sampai. Namun sebelum itu Fika menghentikan langkahnya dan terhenti menatap Arga yang juga tidak hentinya menatap bidadarinya turun.
Tatapan mereka saling bertubrukan sedikit lama. Hingga Arga tiba-tiba menujukkan senyumannya lalu menumpu sebelah pipinya dengan satu tangan. Hal itu membuat Fika terkejut bukan main, tingakah Arga seperti itu seolah ia sedang menikmati sebuah pemandangan indah di depan matanya. Yang bahkan sama sekali tidak ingin ia lepaskan.
Arga tidak bisa membohongi dirinya sendiri kali ini karena jika ia melakukannya maka ia menyiksa dirinya sendiri.
Tatapan Arga yang begitu intens itu membuat Fika gugup dan saat itu pula ia memiliki cara untuk mengatasi ke gugupannya. Ia pun kembali menatap Arga namun kali ini ia menunjukkan senyuman manisnya pada Arga. Dan hal itu membuat respon kuat bagi Arga. Bahkan justru kini Arga terlihat sangat gugup.
Fika melanjutkan langkahnya dengan perlahan, dan Arga terus memerhatikannya tanpa sedikitpun terlewatkan.
"Très belle (Sangat cantik)" ~ Bahasa Prancis.
"Gue denger itu ARGA ALDIANO!" Angel berjalan di belakang Fika dan menghampiri Arga di tempatnya. "Lo pikir dengan lo ngomong bahasa Prancis gue gak ngerti? Gue gak bego Ga! Jadi.. gue menangkan?"
Arga terkekeh, namun pandangannya masih pada Fika.
"Merci d'avoir fait mon ange descendre du ciel (Terima kasih telah membuat bidadariku turun dari surga)"
Angel tersenyum sombong. "c'est mon travail et vous devez tenir votre promesse (Ini adalah karyaku, dan kau harus menepati janjimu)"
"Pas de problème, prenez le chat sur la table (tidak masalah, ambil kucinya di atas meja)"
Angel menyeringai gembira. Ia langsung berlari menuju meja dapur Arga dan mengambil kunci mobil cowo itu.
"Je vais rentrer à la maison! Amusez-vous les gars! (Aku pulang! Selamat bersenang-senang guys!)"
Arga dan Angel saling melaimbaikan tangan sedangkan Fika sejak tadi diam tidak mengerti apapun yang di ucapkan Angel dan Arga.
Kini hanya tinggal Arga dan Fika berdua, suasana kembali tegang dan mencekam. Bahkan Fika semakin tegang karena Arga tiba-tiba saja berdiri dari tempatnya.
Cowo itu melangkah mendekatinya, semakin dekat dan dekat hingga...
CUP!
Arga secepat kilat mencium bibir mungil Fika dan kembali menyentuhnya dengan satu jempolnya seraya berkata.
"You're so beautiful."
Akhirnya... guys percaya atau enggak aku ngetik sampai jam 3 pagi loh. Seriusan. Ini demi kalian guys😭.
Karena moment di bab ini adalah moment yang paling ditunggu maka aku relain waktu aku deh buat nulis.
Asal kalian tau bab kali ini mencapai 3176 kata bahkan lebih.
Jadi.. please kasih komentar dan like nya yah untuk bab ini kesan dan bagaimana perasaan kalian setelah membaca bab ini?
Okelah aku udah ngantuk juga jadi mau bobo dulu.. kalian jangan bosen yah sama cerita ini..
See tou in the next chept》》
Catatan: Maaf kalo ada typo aku gak revisi
Penulis abal mencoba untuk berkarya
__ADS_1