Unforgettable

Unforgettable
Extra Part 1


__ADS_3

Angin sejuk memasukki kamar luas seseorang yang tengah tertidur pulas di atas ranjang mewah berukuran King size. Laki-laki yang tengah bertelanjang dada itu tertidur dengan posisi tengkurap menyembunyikan wajah tampannya sekaligus tubuh sixpacknya di dalam buntalan selimut putih.


Laki-laki itu kemudian menggeliat meregangkan seluruh otot-ototnya saat sebuah alarm berbunyi begitu nyaring di atas nakas dekat ranjanganya. Ia segera menyibak selimut yang membungkus tubuhnya itu kemudian berdiri mematikan alramnya.


Ia mengusap wajah tampannya sebelum kemudian mengambil ponselnya yang sangat kebetulan berbunyi. Mata cokelatnya menatap nama yang kini tertera di layar ponselnya itu yang berhasil memancing senyuman tampannya terukir.


Tanpa menunggu lama, pria tampan yang kemudian berdiri di depan jendela kaca sambil melihat pemandangan kota pun mengangkat telponnya.


"Hallo?"


"Hallo, kamu jadi pulangkan hari ini?"


Pria itu tersenyum manis, ia tidak bisa membohingi perasaan kali ini. Bahkan ia sangat merindukan suaranya.


"Iyah, aku pulang."


"Bener yah? Awas kalo gak jadi lagi. Aku tuh cape nyiapin segalanya buat pernikahan kita minggu depan."


"Iyah sayang. Maaf karena pekerjaanku kamu jadi mengurusi semuanya sendirian."


Terdengar suara dengusan di ujung sana. "Udah telat! Aku gak mau maafin kamu. Kecuali kamu pulang hari ini juga!"


Pria itu terkekeh. "Aku tidak akan melanggar janjiku sayang."


"Oke! Aku pegang janji kamu. Tapi kalau gak jadi lagi, mendingan aku nikah sama yang lain aja."


"Oyah? Memangnya laki-laki tampan mana yang bisa memikat hatimu selain aku?"


Terdengar suara umpatan bertubi-tubi di ujung telpon sana yang berhasil membuat laki-laki bernama lengkap Arga Aldiano ini tertawa lepas. Tentu saja, mendengar suara ocehan dari calon istrinya itu adalah sesuatu yang paling ia rindukan selama ia pergi jauh darinya.


Sudah 5 tahun lamanya Arga pergi ke Amerika untuk mengurus bisnisnya. Dan setelah lulus kuliah di Harvard Arga pun memutuskan untuk menetap disana selama beberapa tahun. Yang artinya ia tidak bisa kembali sebelum bisnisnya benar-benar berhasil. Bayangkan saja, dalam selama itu juga Fika calon istrinya di gantungin tanpa status yang menjamin olehnya.


Namun semua itu tidak sia-sia, karena Arga kini sudah berhasil menjadi seorang CEO terkenal dari perusahaan ternama di Amerika. Dan hari ini, pria tampan dan berbakat ini memutuskan kembali ke Indonesia untuk memperjuangkan cintanya kembali setelah dipending dalam waktu yang cukup lama. Itu pun berkat kesabaran dari calon istrinya yang begitu sabar dalam menunggu terutama menghadapi sikapnya.


"Mulai deh pedenya selangit! Udah ah, pokonya kamu hari ini harus pulang titik!"


Arga kembali tertawa pelan. "Iyah sayang. Sabar dong, ngebet banget pingin di halalin yah?"


"Tau ah! Kalo aja dulu kamu gak janji aku juga gak mau huh!"


"Oyah? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu sangat mencintai ku?"


"Iiih Arga! Udah ah."


Arga tak henti-hentinya tertawa. Terutama mendengar suara Fika yang sedang kesal sekarang, sudah ia bayangkan bagaimana wajah gadisnya itu merona akibat rayuannya barusan. Itu pasti sangat menggemaskan.


"Yasudah, aku mau siap-siap dulu. Setelah itu aku langsung pulang ke Indonesia."


"Yaudah, kamu hati-hati yah. Jangan lupa makan dulu, trus pas mau berangkat jangan lupa berdoa. Aku disini setia nunggu kamu kok."


Mendengar tuturan Fika barusan berhasil menyentuh hati Arga. "Iyah sayang. Aku tutup telponnya dulu."


"Hem.. iyah sayang. Love you."


Arga tersenyum. "Apasi kaya anak SMA aja."

__ADS_1


"Iiiiih! Tau ah! Dasar nyebelin!"


Arga tertawa lepas. "Iyah iyah maaf.. Love you too sayang."


Telpon terputus dari keduanya. Arga kemudian langsung bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.


*****


S


enyuman manis terukir indah di bibir merah mudanya. Gadis yang sedang memegang sebuah ponsel di dadanya itu tidak mampu menahan rona dipipinya yang telah memerah.


"Ciee yang udah telponan ama ayangnya.."


Gadis berambut cokelat tergerai bebas itu pun menoleh ke arah perempuan yang sejak tadi duduk di belakangnya.


"Apasi."


"Idih, gak usah malu-malu singa gitu kalie. Gue udah hafal banget gimana bapernya lo sama si Arga." Celetuk Lussy dengan mengibaskan tangannya.


Gadis itu tersenyum simpul. Memang apa yang dikatakan sahabatnya itu tidak ada salahnya sama sekali. Ia mengakui bahwa dirinya memang selalu baper dengan semua hal tentang calon suaminya itu.


Fika akhirnya duduk di samping sahabatnya itu. Ia kemudian menatapnya seraya tersenyum.


"Jujur sampai sekarang aku nggak nyangka kalau akhirnya aku akan segera menikah dengan Arga."


"Jangankan elo gue juga gak percaya."


Fika terkekeh. "Semua perempuan pasti punya laki-laki idaman dalam hidupnya. Tapi tidak semua perempuan bisa bersama dengan laki-laki idamannya. Dan aku merasa sangat beruntung karena bisa memiliki orang yang sangat aku cintai sekaligus laki-laki yang aku harapkan selama ini. Jika semua perempuan bisa merasakannya mungkin mereka juga bisa merasakan betapa bahagianya aku saat ini."


Fika lagi-lagi tertawa. "Lah bukannya kamu sendiri yang nerima dia? Kamu juga suka kan sama dia?"


"Gue? Hahaha.. Nggaklah gue cuman cinta aja sama dia." Ucap Lussy cuek namun ada tulusan di hatinya.


"Ngeles aja." Cibir Fika.


"Hello para laday's!! Lagi pada ngapain nih? Gibahin gue yak?"


Suara baraton yang terdengar menggema memenuhi ruangan itu adalah suara milik laki-laki berjas hitam yang baru saja memasukki ruangan. Laki-laki itu tidak sendirian melainkan ada laki-laki lainnya yang mengikutinya dari belakang. Yaitu Iqbal, Willy dan Nico.


"Beb kangen gak?" Tanya laki-laki yang kini melingkarkan tangannya di pundak Lussy.


"Apasih! Tiap hari ketemu juga gimana gue kangennya? Yang ada bosen gue liat lo."


"Uuh istriku totweet banget si."


Lussy mendelik sangar pada suaminya itu sebelum meletakkan satu tangannya di kening cowo itu.


"Sakit lo? Atau kesambet?"


Andre pun meraih lengan istrinya itu lembut. Sebelum kemudian ia menciumnya.


"Gue kangen." Ucapan Andre barusan berhasil mengundang senyum merekah dari Lussy. Bukannya membalas kangenan suaminya tapi ia malah menepis perlahan wajah Andre agar tidak lagi menatap dirinya.


"Kebiasaan lo! Baperkan gue jadinya."

__ADS_1


Andre pun kemudian tertawa geli bersama Lussy yang tengah tersenyum malu-malu.


"Mentang-mentang penganten baru, mesra-mesraan gak tau tempat dan kondisi lu berdua. Bikin hati orang panas aja lu." Cibir Willy pria itu melipat kedua lengannya menatap jengah Andre yang justru sedang nyengir lebar menatapnya.


"Sirik aja lo curut. Maklumi ajalah gue kan lagi ngebucin ini."


"Serahlo Dre. Kita bodo amatlah." Ucap Nico.


"Napasi kalian? Syirik mulu sama gue? Kan kalian udah pada nikah cuk."


"Meskipun kita semua udah nikah tapi kita gak ngebucin kaya lo." Ucap Iqbal ikut mencibir.


"Lu juga ikut-ikutan Bal, biasanya lu yang paling waras." Cemburut Andre cowo itu pun merasa tidak juga jera, ia malahan mencium pipi Lussy secara terang-terangan. Tentu saja hal itu memancing tabokan para sahabatnya.


"Dari tadi gue ajakin bini gue dah kalo gini caranya." Kata Nico, ia terlihat lebih jengah dari sebelumnya.


"Apa perlu gue juga bawa anak-anak gue ke sini yak? Biar ni curut diem." Ucap Iqbal geram.


"Kalo istri gue sih dia gak bisa soalnya dia suka muntah kalo liat ni anak." Ujar Willy memancing tawa semuanya.


Kebersamaan serta persahabatan yang untuh serta saling menjalin satu sama lain membuat mereka selalu bersama hingga saat ini. Walaupun mereka sudah memiliki kehidupan yang baru, namun mereka tidak pernah melupakan persahabatan mereka hingga saat ini ataupun hingga tua nanti.


Janji persahabatan akan selalu ada miskipun ajal telah menjemput diri mereka masing-masing. Masa SMA yang indah itu telah mereka lewati bersama-sama. Suka maupun duka mereka mencoba untuk menghadapinya secara bersamaan.


Hingga sebuah janji yang mereka ucapkan bersama satu persatu telah terwujud hingga saat ini. Yaitu sebuah piala bergilir. Yang dimana akan mereka dapatkan jika salah satu dari mereka menikah. Piala pertama jatuh pada Iqbal dia menikah dengan seorang perempuan kenalannya dari bangku kuliah dan memutuskan untuk segera menikah pada saat itu bahkan sekarang dia sudah memiliki satu anak.


Sedangkan piala ke dua didapatkan oleh Nico, cowo serius itu telah menikah dengan teman sekelasnya alias mantan pacarnya sendiri. Dan sekarang istrinya tengah mebgandung. Tak lama setelah itu Willy juga menyusul yang akhirnya piala ke empat pun jatuh padanya. Namun hingga saat ini ia belum di karuniai anak.


Setelah beberapa bulan Willy menikah. Andre yang sudah sangat kepanasan karena iri melihat para sahabatnya itu menikah akhirnya ia pun segera melamar Lussy walaupun Lussy sempat menolaknya beberapa kali namun perjuanganya tidak sia-sia karena Lussy juga sudah mencintainya sejak lama. Itulah mengapa saat ini Lussy dan juga Andre sedang bucin-bucinnya karena mereka baru saja menikah mungkin sekitar satu bulan yang lalu.


Dan piala terakhir ini mungkin akan di berikan pada cewe yang sejak tadi menatap iri pada kemesraan Lussy dan Andre. Sebagai seorang perempuan tentunya ia sangat ingin merasakan apa yang para sahabtnya itu rasakan. Bagaimana tidak? Fika sudah merasa bosan dan jengah ketika banyak sekali teman-temannya dari sekolah yanh menanyakan kapan ia menikah? Hal itu membuatnya sangat stres dan juga was-was.


Sedangkan laki-laki yang ia cintai itu sedang pergi jauh darinya. Selama di luar negeri ia hanya bisa menghubungi calon suaminya itu dengan video call saja. Miris sekali kan? Pejuang LDR itu sangatlah berat guys. Jika bukan ibu Arga yang memaksa Arga untuk segera menikahi Fika mungkin cowo itu akan menunda kembali pernikahannya hingga tahun depan.


"Eh lo semua udah denger blom kabar tentang si Alicia?" Tanya Lussy tiba-tiba yang berhasil membuat orang-orang disana terdiam.


"Kabar terakhir yang gue tau sih. Dia udah keluar dari penjara." Ucap Willy acuh.


"Kata rekan kerja gue dia pindah kewarga negaraan." Kata Nico ikut melengkapi.


"Gue malah dengernya dia udah nikah."


Perkataan dari Iqbal barusan bukan hanya membuat mereka terkejut melainkan terdiam seribu kata.


"Dia nikah sama siapa?" Tanya Fika akhirnya.


"Gue gak kenal. Cuman yang jelas dia nikah sama seorang miliader muda di Amerika."


Mereka saling termenung sebelum Lussy kemudian melengguh.


"Hah udahlah. Semoga setelah ini dia berubah ya guys? Gue yakin si kalau dia udah berkeluarga, dia pasti bakal lebih dewasa dan lebih baik lagi." Ucapan Lussy di angguki semuanya. Namun tidak membuat pemikiran liar di benak mereka hilang. Sejujurnya Lussy juga khawatir jika kebebasannya Alicia akan menimbulkan hal buruk untuk Fika. Namun ia berusaha menepis pikirannya itu. Ia berdoa semoga pernikahan Fika dan Arga akan lancar seperti yang mereka harapkan.


_____


Like and Komennya mana nih?

__ADS_1


Langsung aja scroll yah.. udah di update.


__ADS_2