
"Jangan pergi lagi. Tetap di sisi gue untuk selamanya."
"Heem.. Arga?"
"Hem?"
"Anu.."
"Kenapa?"
"Fika.."
"Kenapa?"
"Fika sesak nafas."
Mendengar perkataan Fika barusan sontak membuat Arga mengendurkan dekapannya. Ia sedikit mengurai pelukannya dari tubuh Fika.
"Maaf." Ucap Arga seraya mengelus kepala Fika. Ia menatap lembut Fika sebelum kemudian tersenyum. "Maaf atas segalanya. Maaf karena gue selalu nyakitin lo." Ucap Arga.
Ia kemudian meraih tangan Fika kemudian mengecupnya penuh perasaan. "Gue gak akan ngulangin kesalahan yang sama. Karena gue janji akan selalu bahagiain lo."
Ucapan Arga barusan tidak bisa memungkiri bagi Fika untuk menahan senyumnya. Rasanya sudah lama sekali Arga berbicara lembut seperti itu. Jujur Fika sangat merindukannya, merindukan dia yang lembut dan juga perhatian sekaligus pembuat baper tingkat dewa.
"Fika juga minta maaf sama Arga. Sebenarnya semua ini bukan seluruhnya kesalahan Arga. Tapi semua ini karena Fika yang melupakan Arga-"
"Suuttt.."
Arga menghentikan perkataan Fika dengan meletakkan jari telunjaknya dibibir mungil Fika. Membuat Fika kembali waspada.
"Gue gak mau lo lupain gue lagi. Cukup sekali lo lupa sama gue. Tapi mulai dari sekarang, yang ada di fikiran lo cuman harus ada gue."
"Tapi-"
"Gue gak mau dibantah. Lo harus nurut."
Fika lagi-lagi kembali **** senyumnya, ia tertunduk malu dengan wajah memerah padam.
"Lo kangen gak sama gue?"
Deg!
Fika mendongkak menatap Arga. "Hah?"
Arga mencolek ujung hidung Fika. "Gue tau lo denger. Mau gue ulangi lagi?" Tanya Arga membuat Fika salah tingkah di tempatnya.
"Kalo gitu gue akan ulang."
Arga tiba-tiba melangkah selangkah dari Fika membuat Fika reflex kembali mundur sampai ia bisa merasakan pungungnya telah menyentuh dinding. Tidak sampai sana, Arga mengangkat kedua tangannya dan menepelkan di samping kepal Fika menekuknya dan membiarkan Fika terjebak di dekapannya.
"Lihat gue." Kata Arga. Karena Fika terus saja menunduk.
Bagi Arga tatapan Fika saat ini terlihat sangat polos. Hal itu membuatnya semakin gencar ingin mengerjainnya. Rasanya menyenangkan saja ketika melihat wajah Fika yang polos seperti itu tiba-tiba memerah karena malu dibuatnya.
Arga berlarih ke samping telinga Fika. Berhembus disana. Dan membisik. "Lo kangen gak sama gue?"
Entah bagaimana, tapi saat ini tubuh Fika langsung merinding dibuat Arga. Suaranya yang terdengar serak namun lembut itu beehasil memacu detak jantungnya untuk bekerja lebih cepat dari biasanya. Fika gugup ia tidak tahu harus berkata apa saat Arga menarik kembali kepalanya dan menatap lekat Fika. Sedangkan Fika hanya bisa menelan salivanya berat.
"Lo gak usah jawab. Tapi cukup dengan... cium gue."
Fika melotot lebar. Kedua lengannya ia kepalkan kuat. Tawaran Arga baginya adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan. Memang sebelumnya Fika pernah melakukannya, tapi saat itu keadaannya berbeda. Entah kenapa rasanya Fika lebih malu sekarang ketimbang dulu yang mencium Arga di hadapan Iqbal dan Alisia.
"Terserah sih, kalo lo gakmau berarti gue yang bakal cium lo lagi."
Sungguh rasanya Fika ingin mendorong Arga menjauh dari dirinya sekarang. Rasanya pasokan udara disana semakin menipis, membuat Fika semakin sesak nafas. Terutama saat Arga sudah mulai mendekatkan kembali wajahnya.
"Hem?" Arga bergumam sambil tersenyum miring pada Fika. Memberi kode baginya untuk memilih antara dicium dan mencium. Namun hal itu justru semakin membuat Fika tidak bisa menjawabnya. Karena sepertinya keduanya juga memang tidak adil baginya.
"Kalo masih ragu. Gue gak ragu buat cium lo."
Arga baru saja menahan dagu Fika membuatnya medongkak memberi akses bagi Arga untuknya mencium. Arga sudah hampir menyentuh bibir merah mungil Fika sampai suara teriakkan seseorang kembali menghentikan aksinya.
"ARGAAAAA!"
Arga terhenti dan menatap Fika yang juga kebingungan sama sepertinya.
"FIKAAAA!"
Arga beserta Fika saling mengerutkan keningnya. Sebelum kemudian menyadari siapa orang yang tengah memanggil mereka di bawah sana.
"Mamah!" Sontak keduanya. Fika langsung mendorong Arga menjauh. Sedangkan Arga terlihat lebih santai darinya.
"Lo mau kemana?" Tanya Arga saat Fika baru saja hendak akan keluar dari kamarnya.
"Keluar lah. Nanti tante lihat kita di sini." Ucapnya, ia terlihat panik membuat Arga terkekeh geli.
"Memangnya kenapa kalau mamah lihat kita? Palingan juga dinikahin." Celetuk Arga membuat Fika membelalak.
"Ih! Fika gak mau!" Fika menghempaskan genggaman Arga. Ia kemudian menjulukan lidahnya di depan Arga.
Arga terkekeh. "Oh jadi lo gak mau nikah sama gue?"
Fika menggelengkan kepalanya cepat seperti anak kecil yang menolak permen. Arga menarik Fika kembali sehingga tubuhnya menubruk dada milik Arga.
"Kalo gitu gue bakalan paksa lo." Arga tersenyum licik. Kemudian dengan seenak jidatnya ia kembali meraup bibir Fika dengan rakus.
"ASTAGA ARGA!"
__ADS_1
Mendengar suara teriakkan kencang seseornag disana sontak membuat Arga dan Fika saling menjauhka diri. Keduanya menatap kearah suara yang menampakkan seseorang tengah shock akibat melihat hak yang tidak harus dilihat.
"Hai mah, udah pulang." Ujar Arga santai dengan wajah tanpa dosa.
Ratna yang masih membeku dengan satu tangan membekam mulutnya itu akhirnya menatap Arga sipit. "Oh my god!"
Ratna melangkah mendekati Arga. Ia melihat Arga dan Fika bergantian sebelum akhirnya kembali menatap anak laki-lakinya horor. "Kamu! Arga tolong jelaskan sama mamah! Pokonya jelaskan sedatail-detailnya."
Fika sudah tegang tidak karuan disana. Apalagi dengan bibirnya yang masih membengkak karena Arga tentu membuatnya tidak sedikitpun berani menatap Ratna. Ia terus saja menunduk sambil merutuki dirinya sendiri. Sedangkan Arga? Dia malah bertender di dinding dekat pintu sambil tersenyum lebar.
"Mamah mau tau sekarang atau nanti?"
Ratna memutar bola matanya. "Tentu saja sekarang. Arga apa mamah sudah kelewatan banyak?" Tanya Ratna berhasil membuat Fika terkejut bukan main.
Apa maksud dari pertanyaan tante barusan? Batin Fika.
Melihat ekspresi Fika yang sudah mampu ia tebak, Arga si cowo nakal itu malah terkekeh geli. "Enggak sih mah, mamah belum tertinggal jauh. Lagi pula.. Arga masih permulaan kok. Kalau mamah mau Arga bisa melakukannya sekarang."
Ratna yang langsung mengerti maksud dan tujuan Arga bukannya marah melainkan menepuk pundak putranya itu dengan bangga. "Lanjutkan!" Kata Ratna sambil mengedipkan sebelah matanya pada Arga.
Fika tertohok ia menatap horor kedua anak dan ibu itu dengan tidak percaya. Apa-apaan ini? Apa yang sedang mereka lakukan? Fika terheran-heran sampai tidak mampu lagi berfikir panjang. Apa yang ia lihat seolah bertolak belakang dengan pikirannya sendiri.
Jadi selama ini ibu Arga mendukung hubungannya dengan Arga? Sampai sejauh ini? Bahkan sepertinya jika Fika dan Arga melakukan hal yang macam-macam pun Ratna tidak akan mempermasalahlannya. Ini sungguh Gila!
Fika menatap Arga bingung berikut juga Arga yang justru menatapnya girang. "Yaudah mah sana! Kayanya tuan putri ingin dilayani." Ujar Arga sambil terkekeh.
Fika menundukkan kepalanya saat Ratna beralih melihatnya. Kemudian berjalan mendekatinya untuk meraih tangan Fika yang mendingin.
"Jangan tegang gitu dong sayang, mamah gak bakalan gigit kamu." Ucap Ratna membuat Fika membalas menatapnya.
"Tan-tante maaf yah Fika-"
"Suttt.. jangan minta maaf ah. Seharusnya yang minta maaf itu mamah. Karena mamah udah ganggu kemesraan kalian iya kan Arga?" Ratna melirik Arga yang kini merubah posisinya.
"Tapi tante Fika-"
"Jangan panggil tante."
"Hah?"
Ratna tersenyum lalu membelai rambut kepang Fika. "Panggil mamah."
"Mamah?" Fika melirik Arga yang masih setia memandangnya. "Tapi kenapa Fika harus panggil mamah? Fika kan bukan anak tante."
"Memang kamu bukan anak tante, tapi kamu... calon istri anak tante." Ucap Ratna cekikikkan. "Bukan begitu Arga?"
Arga juga tertawa, ia memandang Fika dengan satu kedipan matanya. "Kapanpun kau siap honey."
Aaaaargh! Fika rasanya ingin menjerit sejerit-jeritnya sekarang! Ya Tuhan tolong kendalikan pesonanya itu. Arga dia sungguh membuat Fika mati dalam serangan jantung mendadak.
"Laper gak?" Tanya Arga saat ia menatap Fika yang terkihat sudah lemas tiada tenaga. Sebenarnya lemasnya Fika bukan karena ia belum makan melainkan lemas karena terlalu banyak dibaperin.
"Ayok." Arga menarik perlahan tangan Fika. Fika pun tidak sedikitpun melawan, dia hanya mengikuti kemana Arga melangkah.
*****
"Arga, boleh mamah bicara sebentar?"
Arga menatap Ratna setelah ia selesai meneguk minumannya hingga habis.
"Boleh mah, mengenai apa?" Tanya Arga.
Ratna mengetuk-ngetukkan tekunjuknya di atas meja. Sebelum kemudian beralih ke Fika. "Fika.. sayang, bisa kamu tinggalkan kami berdua sebentar?"
"Oh, boleh mah. Kalau gitu Fika ke kamar duluan." Ujar Fika dan langsung berdiri.
"Maaf yah sayang, Arganya mamah pinjam dulu." Goda Ratna yang langsung membuat Fika speachless saat melewatinya dengan senyum tertahan malu. Tanpa harus menjawab lagi, Fika langsung menaikki tangga menuju kamarnya.
"Ekhem, sudah puas belum menatapnya?" Kata Ratna saat menyaksikan putranya itu tak juga berhenti menatap Fika hingga ke atas tangga.
"Gak akan pernah puas mah." Balas Arga yang langsung mengundang senyum Ratna.
"Mamah bahagia melihat kalian berdua sudah berdamai sekarang. Tapi kamu harus ingat, masih banyak hal yang mungkin akan kalian lewati."
Nada bicara Ratna terdengar sangat serius. Ia mantap putranya penuh keseriusan. Begitu pun dengan Arga, ia sudah bisa mengerti maksud ibundanya itu.
"Arga tau mah."
Helaan nafas Ratna membuat Arga menatapnya juga. "Ada satu hal yang harus kamu tau Ga."
"Mamah, sebenarnya sudah mengetahui hubungan ayahmu dan ibunya Fika sejak dulu."
Arga terkejut. Ia menggertakkan rahangnya kuat.
"Ini semua salah mamah, jika saja dulu mamah mengatakan hal ini sama kamu. Mungkin kamu juga tidak akan sekeras sekarang."
Arga tediam hanya setia mendengarkan.
"Saat itu, tepatnya saat setelah kamu kecelakaan. Sebenarnya hubungan mamah dan ayah mu sudah tidak harmonis. Pasalnya ayah mu yang tidak pernah sejalan dengan mamah. Ia selalu menentang mamah begitupun mamah yang selalu menentang dia."
"Sejak awal mamah sudah tau kalau semua ini akan terjadi. Karena mamah yang sudah merenggut kebahagiaannya."
Arga mengerutkan keningnya. "Maksud mamah?"
Ratna kembali menghela nafasnya. "Mamah yang sudah merebut ayah kamu dari ibunya Fika."
Deg!
__ADS_1
Arga mengepalkan tangannya.
"Dulu, semasa mamah masih remaja. Mamah dan ibunya Fika adalah sahabat. Kami selalu bersama hingga kami berada d bangku kuliah. Bisa dibilang kami tidak terpisahkan, persahabatan kami sangat kuat saat itu. Hingga akhirnya ayahmu datang kedalam persahabatan kami."
"Ayahmu datang disaat kami sama-sama ingin memiliki cinta. Sampai-sampai tanpa mamah dan ibu Fika sadari bahwa kami telah bersaing mendapatkan ayahmu."
"Saat itu mamah sangat berambisi untuk mendapatkan ayahmu. Sampai-sampai mamah berkorban banyak untuknya. Apapun yang ia inginkan mamah turuti, bahkan demi menjadi wanita idamannya.. mamah rela mengorbankan hidup mamah."
"Namun ternyata usaha mamah itu berakhir sia-sia, karena mamah baru menyadari bahwa ayahmu tidak pernah mencintai mamah."
"Ayahmu hanya mencintai Merlin ibunya Fika. Namun meskipun begutu, karena keegoisan mamah. Mamah mencoba untuk memisahkan mereka dengan cara memaksa kakekmu untuk menikahkan mamah dengan ayahmu."
"Kamu boleh mangatakan kalau mamah ini kejam. Tapi apa yang mamah lakukan karena mamah sangat mencintai ayahmu."
"Lalu.. bagaimana ayah bisa menerima pernikahan itu?" Tanya Arga.
"Kejadiannya begitu bersamaan saat ayahmu mendengar kabar bahwa Merlin juga akan bertunangan dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Mungkin hal itu juga yang mendorong ayahmu untuk segera melaksanakan pernikahannya dengan mamah. Dia hanya terbawa emosi dan berusaha melampiaskannya."
"Apa yang terjadi setelah itu?" Tanya Arga lagi.
Ratna menundukkan kepalanya. "Rumah tangga kami tidak pernah harmonis. Bahkan ayahmu sama sekali tidak pernah menyentuh mamah. Sampai kejadian ayahmu mabuk karena frustasi mendengar Merlin yang akan menikah, dia lepas kendali malam itu. Ia memaksa mamah melakukan hal itu, karena ia menganggap mamah itu adalah Merlin."
Arga semakin mengepalkan tangannya kuat. Pelipisnya mengerat beserta rahangnya yang semakin ia kokohkan. "Jadi selama itu mamah membiarkan pria brengsek itu terus menganggap mamah sebagai Merlin? Bahkan sampai memiliki aku?"
Ratna mengangguk lemah. "Selam itu.. dia tidak pernah melakukannya dengan sadar.".
BRAK!
Arga menggebrak meja dengan keras. Ia mengacak frustasi rambutnya. "Mendengar cerita mamah, aku merasa kalau aku ini anak haram." Desis Arga membuat liningan air mata Ratna terjatuh.
"Kenapa mamah masih bertahan dengannya sampai aku lahir mah?" Teriak Arga marah dan juga kecewa.
"Mamah mencintai ayahmu nak."
"Persetan dengan cinta mah! Seharusnya mamah meninggalkan dia!" Arga kembali menggebrak meja makan dengan kedua tangannya. "Lalu.. kenapa mamah baru melepas pria brengsek itu setelah aku celaka?"
"Itu karena.. ayahmu yang meminta izin sama mamah untuk pergi bersama Merlin."
Kepalan tangan Arga semakin menguat, buku-buku tangannya sudah memutih.
"Kamu tau kan kalau ayah Fika sudah meninggal saat itu, dan itu menjadi kesempatan bagi mereka untuk kembali bersama."
"Mengapa mamah mengizinkan mereka?" Tanya Arga.
"Karena mamah sudah lelah. Lelah mencintai seseorang yang tidak pernah mencintai mamah bertahun-tahun lamanya."
"Lalu.. jika mereka ingin bersama. Kenapa mereka juga meninggalkan Fika?"
Pertanyaan Arga barusan membuat Ratna terhenti menangis.
"Mamah juga mengira Fika juga akan ikut bersama mereka. Tapi nyatanya mamah salah. Fika gadis malang itu ditinggalkan oleh Merlin seorang diri di rumahnya. Itu karena ayahmu membenci Fika."
Arga terdiam. "Itulah pertanyaan terbesar yang Arga ingin tau, kenapa ayah menbenci Fika?"
"Karena Fika sangat mirip dengan ayahnya. Ayahmu tentu akan sangat membencinya. Bahkan dulu mamah pernah mendengar ayahmu akan melenyapi Fika."
"Bukan hanya dulu mah, tapi sekarang pun masih." Ujar Arga dengan nada dingin.
Ratna menatap Arga terkejut. "Benarkah? Aku kira dia sudah mengurungkan niatnya itu sejak lama."
"Tidak mah. Dia masih mengincar Fika."
"Kamu harus melindungi Fika nak, dia anak yang baik. Walaupun dia adalah anak dari Merlin tapi mamah sangat menyayanginya."
"Mamah jangan khawatir. Arga tidak akan membiarkan seorang pun menyakitinya."
*****
Di ruangan lain, gadis yang sejak tadi mondar-modar di depan jendela itu tak juga bisa menghentikan kekhawtirannya. Ia merasa penasaran dengan apa yang sedang Arga dan Ratna bicarakan. Bukan masalah kepo melainkan karena ia tadi mendengar suara gebrakan keras di bawah seperti ada sebuah perkelahian membuatnya semakin parno. Ia takut Arga meluapkan amarahnya. Dan membuat Ratna terluka. Entah darimana fikiran itu terlintas tapi Fika tahu betul bagaimana cowo menyeramkan itu saat marah.
BRAK!
Fika terlonjak hampir terjatuh saat gebrakan suara pintu yang terbuka secara mendadak itu. Ia pun segera berbalik ke arah pintu itu yanga kesetika membuatnya membeku.
"Merindukanku?" Ucap laki-laki yang sejak tadi ia fikirkan.
Detak jantung Fika berdebar kencang saat melihat laki-laki itu tersenyum padanya. Dan tubuhnya seakan membeku saat cowo itu mulai melangkah mendekatinya. Apakah ini mimpi? Kenapa dia terlihat lebih tampan dari biasanya?
Arga tiba-tiba saja membentangkan kedua lengan bebasnya. Memberi akses bagi Fika untuk menyentuh ataupun melakukan apapun terhadap dirinya.
Fika masih terdiam menatap Arga. Ia menatap laki-laki berkaca-kaca. Hingga sebuah dorongan kuat di hatinya untuk melangkah dan menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Arga yang hangat dan nyaman.
Arga membalas erat pelukan Fika. Ia mencium puncak kepalanya penuh kasih sayang. Sampai Fika mampu merasakan pelukan lebih mendalam dari cowo itu.
"Fika sayang Arga." Gumam Fika yang masih mampu Arga dengar dengan jelas.
"Gue lebih sayang sama lo." Balas Arga diiringi dengan satu kecupan manis di kening Fika.
_____
Beri komentarnya buat bab ini yah..
Jangan lupa like and komennya.
Oyah aku udah up cerita Fantasi yang judulnya "Randolf" bisa di chek masih baru sih baru kemrin. Tapi dibaca juga yah soalnya aku yakin kalian juga bakalan baper banget dah sama cerita itu.
__ADS_1