Unforgettable

Unforgettable
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Flashback ON_


"Fika mau jadi pacar Iqbal."


"Fik, gue gak salah dengerkan? Lo.. lo beneran nerima gue?"


"Iyah. Fika.. mau jadi pacar Iqbal."


Flashback OFF_


"Jadi... ini akhirnya? Lo nyerah dan lebih mentingin ego lo lagi ketimbang perasaan lo?" Suara nyaring yang menggema di lapangan basket itu berasal dari Nico yang kini masih juga menatap jengah cowo yang sedang duduk termenung di pinghiran kursi penonton.


Bagaimana tidak? Sejak kejadian di lapangan itu membuat sahabatnya itu terdiam berjam-jam lamanya. Bahkan sampai saat ini, di jam berakhirnya pembelajaran.


Cowo bermarga Aldiano itu tak juga menjawab perkataan Nico maupun teman-temannya yang lain. Sejak setengah jam ia hanya duduk dengan posisi satu kaki ditekuk dan kaki lainnya selonjoran. Sedangkan tangan kanannya tak henti-hentinya memantulkam bola basket dengan pukulan rendah. Pandangan cowo itu terlihat kosong, bahkan Andre yang sejak tadi sengaja berjalan bolak-balik di depannya pun tidak sama sekali ia hiraukan.


Sedangkan Andre sendiri kini tengah berkacak pinggang serta menggelengkan kepalanya melihat ketidak wajaran Arga.


"Kalo suka ngomong, kalo gak suka jangan baper. Hidup lo blibet boss, suka dibilang benci. Plinpan lo kaya cewe."


Tidak sedikitpun ada niatan menjawab. Arga masih juga asik dengan bolanya tanpa peduli lagi apapun hinaan ataupun nasihat dari sahabat-sahabatnya. Entah mengapa, ia lebih suka diam untuk saat ini.


“Gini nih kalo tai di kasih nyawa. Gak ngomong tapi cuman ada wujud sama baunya doang.”


“Udahlah Dre, biarin aja.” Willy menghampiri Andre yang tengah berkacak pinggang di depan Arga.


“Ga, jujur gue gak ngerti bahkan gue gak pernah ngerti jalan pikiran lo. Lo itu sebenernya suka sama siapa sih? Fika atau Alisia?”


Mendengar pertanyaan Willy barusan berhasil membuat Arga mengangkat wajahnya. Tatapannya begitu sayu. Jarang sekali Arga memperlihatkan tatapan seperti itu di depan ketiga sahabatnya, mungkin karena perasaannya yang kalut membuatnya tidak mampu menyembunyikannya lagi.


“Ga, please jawab yang jujur. Kita itu sahabat lo. Jujur ke kali-kali sama kita.” Bujuk Willy lagi, ia belum juga menyerah. Sebenarnyaa Willy bukanlah type orang yang kepo masalah perasaan, namun karena melihat perubahan Arga yang meurutnya aneh membuatnya penasaran dengan perasaan sahabatnya itu.


“Ga. Sampai kapan lo mau diemin kita? Ngomong dong! Berasa ngomong sama tembok gue.” Ujar Nico yang sudah merasa lelah.


“Udahlah, kalo lo gakmau jawab mending kita cabut aja!” ucap Andre tiba-tiba, cowo itu sepertinya sudah habis kesabaran, dan entah mengapa melihat Arga yang seperti itu membuatnya sangat muak.


Saat Willy, Andre dan Nico hendak akan pergi Arga langsung beranjak berdiri. Hal itu membuat ketiga cowo yang berniat pergi itu kembali membalikkan tubuhnya dan menatap gentle Arga.


“Sorry, tapi gue emang gaktau.”


Mendegar jawaban Arga barusan membuat ketiga cowo tampan itu mendesis bersamaan.


“Lo gimana sih, masa perasaan sendiri aja bingung. Inget Ga, suka sama cinta itu beda, kalo emang lo cuman sekedar suka doang Jangan pernah lo buat anak orang baper, tapi kalo lo emang cinta sama dia Jangan pernah lo sakitin dia. Apalagi sampai PHP in dia. Cewe itu butuh kepastian bukan cuman ngomong doang.”


Tuturan Andre yang penuh emosi bercampur semangat itu mendapat tepukan tangan dari Willy dan Nico.


“You so a wise man. I pround of you bro!” Ujar Willy dengan menepuk pundak Andre yang langsung mendapat cengiran lebar Andre.


“Hehe.. Gue emang bijak bro, apalagi kalo masalah cewe.”


“Heh! Kembali ke topik.” Sentak Nico kembali serius. Ketiganya kembali menatap Arga yang masih berekspresi datar.


“Jadi Ga, lo cinta sama si Fika kan?” Tanya Nico teramat serius.


“Gue benci dia.”


“Ga-“


“Cukup Nic, gue sekarang lagi gak mood buat ngebahas masalah ini. Lagian kalian bertiga udah tau kan sekarang jawabannya? Dan cewe yang gue suka cuman satu yaitu Alisia, dia adalah pacar pertama gue dan cinta pertama gue.” Arga megatakan itu dengan nada yang dingin sebelum ia melangkah pergi.


“Ga! Semuanya belum terlambat!” Nico lagi-lagi belum menyerah. Meskipun Arga sudah berada di ambang pintu namun ia menghentikan langkahnya kembali.


“Gue gak ngerti maksud lo Nic.” Arga menoleh sedikit. “Harusnya lo yang paling tau, perasaan gue gak akan pernah berubah.”


Nico terdiam. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa, ia tidak habis fikir dengan Arga. sedalam itukah kebenciannya terhadap Fika? Terkadang Nico merasa sedih sekaligus merasa bersalah, terutama mengingat saat dirinya masih bersahabat baik dengan Fika dan juga Arga. masa kecil yang indah dan penuh kenangan. Namun sayangnya, semua itu telah musnah semenjak tragedi yang menimpa Arga dan keluarganya. Masa itu bukan hanya Arga yang merasa hancur, namun Nico selaku sahabatnya pun bisa merasakan betapa hancurnya Arga saat itu. Ia tidak pernah menyangka jika dendam itu akan terbawa hingga sekarang. Persahabatan yang dulunya terasa indah kini menjadi kenangan terburuk bagi mereka. Nico megerti kenapa Arga membenci Fika, sebelumnya ia juga meganggap Arga bear-benar sudah melupakan Fika. Namun melihat keadaan Arga sekarang, Nico telah megetahui bahwa Arga masih meyimpan perasaan bagi Fika. Meskipun cowo bersih keras menyangkalnya. Tetapi Nico lah paling tahu Arga. Entah apa yang akan terjadi pada kedua insan itu nanti, namun jika boleh jujur Nico masih berharap mereka bersama. Tetapi takdirlah yang tetap menetukan.



Setelah kembali ke kelas dan mengambil tasnya, Arga berjalan menuju parkiran. Cowo itu baru saja akan megeluarkan kunci mobil sportnya saat dirinya justru berpasan dengan sebuah motor merah yang melaju tepat di hadapannya. Arga begitu hafal siapa pemilik motor itu. Bahkan ia semakin menggertakkan rahangnya saat motor sport merah itu malah berhenti di dekatnya.


“Eh Ga, kebetulan gue ketemu lo di sini.”


Arga menatap cowo itu tajam. “Kenapa?”


Cowo bernama Iqbal itu membuka helmnya. Ia membalas tatapan dingin Arga dengan senyuman ceria, sepertinya mood Iqbal benar-benar sangat bagus.


“Gue gak akan basi-basi Ga. Yah, meskipun gue juga males ngomong sama lo. Tapi karena cewe gue tinggal di rumah lo, jadi gue mau minta izin lo buat gue bawa dia nanti malam.”

__ADS_1


Arga mengangkat sebelah alisnya. “Lo nyamperin gue cuman mau ngomong hal yang gak penting itu? Asal lo tau, itu bukan urasan gue.”


Iqbal tiba-tiba terkekeh. “Gue tau ini gak penting buat lo. Tapi selaku cowo yang baik, gue mencoba menghormati lo sebagai orang terdekat Fika. Yaaah, meskipun dia bukan siapa-siapa lo tapi.. dia tinggal di rumah lo.”


Arga menajamkan tatapannya berikut juga Iqbal, kedua cowo tampan terpopuler ini saling melempar tatapan membunuh. Bahkan mereka terang-terangan meunjukkan ketidak sukaan masing-masing.


“Ekhem.. karena gue udah bilang sama lo, jadi gue mau cabut dulu. Gue gak mau cewe gue nunggu terlalu lama. Thanks ya Ga.” Iqbal menepuk pundak keras Arga. cowo itu tersenyum sebelum kembali memakai helmnya. “Oyah Ga, lo masih inget kan taruhan kita dulu?”


Arga tidak menjawab, hal itu membuat Iqbal mendengus berikut tertawa kecil.


“Sekarang lo sadarkan, siapa orang yang pantas untuk menang?” Iqbal melirik Arga sinis. “Hanya gue.”


Iqbal melempar senyuman sinis di tengah tatapan Arga yang semakin dingin. Cowo itu lagi-lagi terkekeh sesaat sebelum ia menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan Arga yang masih juga menatapnya.



“Maaf udah lama nunggu yah?” Suara nyaring dan lembut itu berasal dari cewe yang sudah cukup lama Arga tunggu. Cewe bernama Alisia itu kini memasukki mobil sport Arga dan tersenyum manis seperti biasanya menyapa Arga.


“Ga, jangan diem gitu dong. Kamu marah yah? Maaf deh, tapi seriusan aku gak bermaksud bikin kamu nunggu. Tapi tadi Lina temen aku ngajakin ke toko buku sebentar.” Papar Alisia, cewe itu masih mencoba membujuk Arga dengan cara memegang tangan Arga.


“Ga.. masih ngambek yah? Jangan diem gitu ih. Tadi sebelum ke sini aku juga beliin kamu kue kesukaan kamu.”


Belum meyerah Alisia pun menggeser posisi duduknya. “Nih Ga. Kamu cobain yah..” Alisia baru saja akan menyuapi Arga dengan satu potong kue yang dibelinya namun pergerakannya terheti saat Arga justru menahan tangannya.


“Kenapa Ga? Kamu gak suka yah?” Alisia menunjukkan raut wajah sedihnya. Namun sepertinya hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Arga. cow itu justru hanya menatapnya datar. “Arga jangan liatin aku kaya gitu, serem tau.”


Arga akhirnya meghela nafas, cowo itu tiba-tiba membuka mulutnya dan hal itu langsung membuat Alisia tersenyum bahagia. Tanpa menunggu lama Alisia langsung menyuapkan kue di tangannya ke mulut Arga. “Enak?”


Arga tidak menjawab namun cowo itu mengangguk menandakan bahwa kue itu enak.


“Hari ini kita mau kemana Ga?” tanya Alisia masih begitu semangat.


“Lo maunya kemana?”


“Aku? Kalo aku sih terserah Arga aja.”


Arga kembali diam, meskipun ia sejak tadi megobrol dengan Alisia namun tatapannya hanya tertuju ke depan. Ia sama sekali tidak menatap Alisia.


“Gue gak tau.” Ucap Arga setelah beberapa detik terdiam.


“Heemm.. gimana kalau sekarang kita ke taman hiburan? Kalo gak salah malam ini pembukaannya.”


“Iyah, kita ke sana yah.. please..” Alisia memohon pada Arga dengan menarik-narik lengan cowo itu. Meskipun tingkah Alisia yang terbilang manja, namun Arga sama sekali tidak merasa risih dibuatnya. Entah itu karena sudah terlalu biasa atau memang Arga menyukai cewe manja.


“Arga..” Alisia semakin merangkul erat sebelah tangan Arga hingga akhirnya cowo itu pun menghela nafa pelan.


“Oke, kita pergi.”


“Yey! Makasih!!”


Alisia merangkul leher Arga erat. Cewe itu kemudian menyenderkan kepalanya ke pundak lebar Arga. Terasa nyaman dan aman.



“Beb, pegangan dong.”


“Apaan sih Bal? Malu ih.”


“Kenapa harus malu? Pacar ini kok.”


“Iya cumankan disini banyak orang Bal, malu dong..”


“Gausah malu beb, punya cowo kaya gue gak malu-malu in kok. Yang ada beruntung, jadi jangan malu lagi yah..” Iqbal merasa gemas dengan tingkah malu-malu Fika. Sejak Fika turun dari motornya cewe itu sama sekali tidak berani menatap mata cowo itu, Iqbal tau Fika pasti sangat malu secara status mereka sekarang sudah menjadi sepasang kekasih. Maka dari itu Iqbal memutuskan untuk mengajak Fika pergi malam iini sekaligus untuk merayakan hari jadi mereka.


Namun pertengkaran konyol mereka tak juga berhenti, karena Iqbal yang teus kekeuh ingin memegang atau bergandegan Fika sedangkan Fika sendiri justru terus menjauhinya.


“Beb, seriusan pegangan entar kalo lo ilang gue kan sedih.”


Mendengar tuturan Iqbal barusan membuat Fika mendelik horor.


“Beb, jangan jauh-jauh. Sini si.” Iqbal menarik paksa Fika hingga cewe itupun akhirnya berdempetan dengan cowo itu. “Nah gini kan enak, keliatannya tuh romantis beb. Sini pegang tangan gue,”


Fika yang masih membeku di samping Iqbal itu hanya mampu pasrah saat Iqbal memegang erat tangannya. “Bal malu ih, orang-orang liatin kita.”


“Kita cuman pegangan tangan beb, gak sampai ciuman. Atau lo mau kita ngelakuin itu?”


Fika langsung melotot dengan ucapan Iqbal yang menurutnya brutal itu. Ia langsung menyikut lengan Iqbal membuat cowo itu tertawa membahak.

__ADS_1


“Udah ah, yu beb kita masuk.” Iqbal masih memegang erat tangan Fika.


“Kita kaya mau nyebrang aja pegangan tangan.” Gerutu Fika masih merasa tidak nyaman.


“Gakpapa asalkan lo nyebrangnya ke hati gue aja.” Perkataan Iqbal barusan tidak memungkiri untuk Fika terseyum malu. Pipinya terasa memanas mungkin Iqbal bisa melihat ada warna kemerahan di wajah Fika akibat ulahnya.


“Baper ya beb?” Goda Iqbal sambil mencubi sedikit ujung hidung Fika hal itu membuat Fikalangsung mendorong Iqbal dari dari dekatnya.


“Iqbal ih!” Fika tidak kuat menahan lagi menahan rasa malunya, secara reflex ia pun berlari menjauhi Iqbal. Iqbal yang memerhatikannya geli itu pun langsung megejarnya. Alhasil mereka pun kejar-kejaran layaknya seorang anak kecil. Mereka berlari ke sana kemari dan tertawa lepas bersama, keduanya bahkan sama sekali tidak memperdulikan orang-orang yang kini menatap mereka aneh. Sampai saat Fika belari ke ujung gerbang dan disanalah dia tidak mampu menahan tubuhnya sendiri hingga..


BRUKKK!


“Eh kamu gak papa?” Suara nyaring seorang perempuan membuat Fika tertegun dan langsung mendongkakkan wajahnya.


“FIKA!” Teriakkan keras dari Iqbal menyusul menghampirinya, raut wajah cow itu terlihat sangat panik.


“Fika gkapapa.”


Iqbal merangkul pundak Fika dan membantunya untuk kembali berdiri.


“Lain kali hati-hati, gue kan jadi khawatir beb.”


Fika tidak menjawab pertanyaan Iqbal, tapi cewe itu justru menatap cewe yang barusan hampir saja ia tabrak.


“Maaf yah, tadi aku gak hati-hati.” Ucap Fika sesopan mungkin.


“Santai aja, aku juga gak kenapa-napa kok.”


Fika tersenyum hangat, namun ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya. Ia merasa pernah bertemu degan cewe yang kini teseyum padanya itu, namun Fika tak mampu mengingatnya.


“Lo gak papa?”


Suara baraton seorang laki-laki membuat ketiga orang ini menoleh bersamaan, hal tak terduga itu membuat Fika tebeku dengan mata membulat lebar.


“Arga..”


Arga si cow besetlan jaket hitam dan kaus putih itu berjalan mendekati ketiganya. Hal itu tidak hanya membuat Fika semakin tegang tetapi semakin membuat jantungnya berdegub kecang terlebih Arga menatapnya dengan sagat intens. Jujur itu membuat Fika gugup.


“Lo gak papa?”


Fika tertegun, apakah Arga berbicara padanya?


“Fika.. bai-“


“Lo gak papa kan Alisia?”


“Seperti yang kamu lihat, aku gak papa. Jangan khawatir gitu.”


Fika membeku, seolah waktu telah meghetikan pikirannya. Megapa ia begitu berharap kalau Arga akan peduli tentangnya? Harusya ia sadar, Arga sampai kapanpun tidak akan pernah peduli padanya. Bodoh, ia benar-benar bodoh. Megapa dengan kesalah fahaman kecil ini saja membuat hatinya terasa sesak? Padahal memang sudah seharusnya seperti itu. Lagi pula, sekarang dia sudah memiliki Iqbal cowo baik yang akan selalu ada bersamanya.


“Wah dunia ini kecil yah Ga. Kita kayanya berjodoh.” Ucap Iqbal memecah keheningan yang mencekam.


Arga menoleh dan seperti biasa, ia menunjukkan mata elangnya yang tajam mentap Iqbal. Namun sekelias matanya teralihkan dengan cewe yang kini berdiri di samping Iqbal.


“Yah, sepertinya kita bejodoh.” Arga terseyum miring. “Kebetulan sekali kan Fika?”


Fika tertegun, ia mecoba menatap Arga namun ia tidak saggup. Ia hanya mampu terdiam dengan kepala sedikit megangguk kecil.


“Eh kayanya seru deh kalo kita double date. Iya kan Ga?” Alisia terlihat begitu bersemangat, terutama saat ia melihat pasangan yang kebetulan adalah teman Arga.


“Ide yang bagus. Gimana menurut lo? Iqbal..” Pertanyaan Arga terdegar seperti sebuah tantangan, dan tentu Iqbal tidak akan melewatkan hal yang menarik ini. Sedangkan Fika pastinya ia sangat-sangat tidak setuju. Ia tidak mau tersiksa dengan adanya Arga apalagi Arga saat ini bersama Alisia. Ia yakin mala mini akan menjadi malam tepanas yang pernah ada.


“Iqbal…” Fika mencoba memberi isyarat pada Iqbal degan cara sedikit menarik kaus cowo itu, namun sayangnya Iqbal tidak menghiraukannya sama sekali. Cowo itu justru terseyum miring menatap Arga.


“Kayanya malam ini bakal jadi malam yang seru.”


Arga membalas tatapan tajam Iqbal. Keduanya terseyum namun seyuman itu bukan hanya menunjukkan kesepakatan mereka, melainkan senyuman licik diantara keduanya yang menunjukkan persaingan yang ketat dan kuat.



Hai guys kangen gak sama cerita ini? Maaf yah lama.. beberapa hari ini aku agak buntu buat lanjut cerita. Tapi yah.. aku terus berusaha buat jalan ceritanya semakin seru. Jangan bosen-bosen yah buat mantengin terus cerita ini.


Jangan lupa buat like dan komennya yah.. ditunggu.


Maaf kalo banyak typo


Eh iyah.. sekalian follownya yah😁 karena setelah cerita ini aku akan upload lagi lebih banyak cerita yang menarik. Yang tentunya pasti kalian suka 😘 jadi di follow yah..

__ADS_1


Untuk sekarang segini dulu yah.


See you in the next chept》》


__ADS_2