
*Disaat hati ini telah memilihmu disaat itu pula aku berjanji akan selalu melindungimu.*
__________
Motor sport berwarna merah itu melaju kencang seakan terbawa angin. Jalanan kota yang memadat tidak sedikitpun menghalangi kedua laki-laki ini untuk terus melaju kencang disela-sela kemacetan.
Arga cowo itu tidak hentinya memikirkan Fika, fikirannya kalut bercampur amarah yang terus menggulung hatinya. Amarah itu bukan hanya ditujukkan untuk orang yang telah menculik Fika, tetapi khususnya untuk dirinya sendiri. Arga merasa disinilah dia yang paling tidak becus menjaga Fika. Jika saja waktu mampu ia putar kembali, mungkin hari ini Arga akan selalu di samping Fika kemana pun ia pergi.
Tapi kenyataan lebih pahit dari apa yang ia bayangkan. Fika jauh disana dan ia tidak tahu bagaimana keadaan dia saat ini. Mengingat hal itu kembali, Arga ingin sekali memukul orang sekarang.
Arga menurunkan kecepatan motornya sesaat Iqbal memberi aba-aba untuknya berhenti. Keduanya pun menepi kemudian saling melepas helm.
"Ga, lo yakin ini alamatnya?" Tanya Iqbal ia mengedarkan pandangannya ke sekitar jalan disana.
Arga mengikuti Iqbal menatap kesana dan kemari. "Iyah, ini alamat yang dikasih Gino." Ucap Arga yakin.
"Tapi ini lahan kosong Ga. Jangan-jangan dia ngerjain lo." Tebak Iqbal merasa curiga.
Arga pun mengera hal yang sama sampai kemudian ia mengambil ponselnya dan menelpon Gino kembali.
"Gue udah sampai." Ujar Arga.
"..."
"Jangan coba bohongin gue." Ujar datar Arga.
"..."
"Oke."
Arga mengakhiri telponnya lalu menatap Iqbal.
"Kita masuk ke gang sana." Tunjuk Arga ke sebuah gang kecil dan gelap di ujung jalanan yang sepi.
Iqbal mengikuti arahan Arga sebelum kemudian menggidik ngeri. "Seriusan? Gila gelap banget Ga."
Arga tidak menanggapi Iqbal. Ia malah kembali memakai helmnya. "Kita gak punya banyak waktu." Ujar Arga kemudian menyalakan motornya dan melaju menuju gang.
Iqbal mengikutinya dari belakang. Tidak lama kemudian Arga dan Iqbal memasukki gang kecil itu dengan kecepatan perlahan dikarenakan gang itu sangat sempit. Tidak ada satu pun penerangan disana. Sampai kemudian mereka melihat sebuah rumah tua berlantai dua terpampang jelas dari sana.
Tembok rumah itu masih terselimuti semen tanpa cat. Dan halamannya pun sudah penuh dengan dedaunan kering yang berserakan. Rumah itu sepertinya sudah lama tidak berpenghuni. Bahkan penerangan disana pun terlihat hanya ada satu lampu yaitu di lantai paling atas.
"Ga, firasat gue gak enak." Ujar Iqbal. Cowo itu sudah merasa merinding disaat pertama kali ia memasukki gang. Dan setelah melihat rumah itu, kecurigaan dan juga firasatnya semakin kuat.
Lagi-lagi Arga tidak menggubris Iqbal. Setelah mereka berdua memakirkan motornya di depan rumah tua itu. Arga si cowo pemberani itu dengan tidak ragunya melangkah dan berniat untuk masuk ke dalam rumah.
"Gue bawa senter. Lo tenang aja." Kata Arga tanpa sedikitpun menoleh pada Iqbal. Cowo itu kembali melangkah mendahului Iqbal.
"Sikap lo kaya gitu bikin gue parno." Ujar Iqbal sebelum kemudian mengikuti langkah Arga di belakangnya.
Sesaat keduanya memasukki rumah itu, keduanya saling menoleh satu sama lain. Keadaan rumah itu sungguh telah hancur. Bahkan atap dan juga dindingnya sudah bocor dan retak. Tidak ada satu pun barang tersisa disana selain kayu-kayu bekas yang telah usang.
Arga menyorotkan senternya ke arah kiri ruangan. Dan disanalah ia menemukan sebuah tangga.
"E-eh lo mau kemana?" Tanya Iqbal. Cowo itu menarik jaket hitam Arga untuk menahannya pergi.
"Kesanalah." Tunjuk Arga membuat bulu kuduk Iqbal berdiri seketika.
"Kenapa lo? Takut?" Tanya Arga berhasil membuat Iqbal gelagapan serta menelan ludahnya berat.
"Gue cowo man! Mana mungkin gue takut."
Arga mendengus. "Yaudah ayo."
Arga kembali berjalan diikuti langkah Iqbal. Keduanya melangkah perlahan di atas tangga seolah mereka tidak ingin mengganggu apapun dan siapapun yang ada disana. Arga dan juga Iqbal semakin mempercepat langkahnya saat mereka mendengar suara di lantai atas. Mereka berlari secepatnya sampai kemudian beehanti di depan sebuah pintu hitam disana.
Arga berjalan mengendap dan menempelkan telinganya di badan pintu itu berharap mengdengar sesuatu. Namun sayangnya tidak ada sedikitpun suara disana.
Iqbal menepuk pundak Arga membuatnya mengerutkan kening padanya.
"Gue tunggu disini. Lo yang masuk." Titah Iqbal membuat dengusan Arga terdengar.
__ADS_1
"Bilang aja lo takut." Bisik Arga. Kemudian cowo itu meraih tuas pintunya sebelum membukanya perlahan.
"Hati-hati bro. Semangat!" Bisik Iqbal lagi membuat umpatan keras di hati Arga.
Saat Arga membuka pintu itu lebar-lebar, kedua matanya lansung tertuju pada satu objek disana. Dibawah remang-remang lampu yang hampir mati. Satu objek yang membuat hatinya seakan teriris pisau dan sekaligus membuat amarahnya meledak.
Gadis ceria yang telah membuatnya jatuh cinta itu kini hanya bisa terduduk lemah di atas kursi tua dengan tali yang mengikat tangan serta kakinya dengan darah di sekujur tubuhnya.
Arga menatap nanar Fika dengan amarah yang tidak bisa ia utarakan lagi. Rahangnya mengtat kuat serta otot-ototnya yang juga ikut mengetat di kedua kepalan tangannya.
Secara reflex kaki Arga langsung berlari ke arah perempuan yang sangat ia cintai itu dengan teriakan lirih darinya.
"FIKAAA!"
Tubuh Arga meluruh, seakan seluruh energinya hilang begitu saja saat dirinya dengan kedua mata kepalanya sendiri melihat darah dan bekas-bekas luka di wajah Fika. Hatinya seakan di remas dan di cabik-cabik saat tangannya menyentuh wajah Fika yang sudah mendingin.
"Fik, ini gue Fik. Gue disini.." lirih Arga sebelum kemudian meneteskan air matanya.
"Fik, bangun Fik. Buka mata lo.."
Tidak ada sedikit pun respon dari Fika. Gadis itu hanya terdiam dengan kedua mata tertutup.
"Fik, gue udah ada disini, gue mau nyelamatin lo.. " Arga terus berusaha berbicara disela-sela air matanya yang tak henti menetes.
"
Fik gue belum terlambatkan? Bilang sama gue Fik kalau gue belum terlambat.. " Arga mengguncang tubuh Fika berharap ia akan bangun dan mendengarkannya.
"Jangan becanda lagi Fik. Jangan bikin gue takut.."
"Fik gue sayang sama lo, jadi gue mohon lo buka mata lo. Gue gak mau kehilangan lo Fika.."
Deras air mata Arga terus mengalir tak tertahankan lagi. Saat dirinya meraih tubuh Fika dan memeluknya erat. Ia bisa merasakan tubuh Fika yang sudah sangat dingin di kulitnya.
"Fik ngomong sama gue,"
"Fika!"
Arga berteriak memuhi ruangan itu membuncahkan seluruh airmatanya yang terbendung di dalam dirinya. Arga tertunduk memeluk kepala Fika.
"Maafin gue Fik.." lirih Arga seraya mengusap puncak kepala gadis yang sangat ia cintai itu. "Maafin gue karena gue gak bisa jaga lo. Semua ini salah gue, INI SALAH GUE FIK!"
"Kalau bukan karena keegoisan gue, mungkin saat ini lo udah bahagia. Maaf .. maaf karena gue gak bisa jagain lo. Maaf karena gue gak bisa buat lo bahagia."
"Jika waktu mampu gue ulang, gue berjanji akan selalu menjadi orang yang akan ada di samping lo. Dan akan menjadi cowo yang baik buat lo."
"Maaf karena waktu itu gue selalu nyakitin lo. Bahkan gue udah nolak lo berkali-kali."
"Gue emang bodoh! Bodoh!"
Arga beralih memcium puncak kepala Fika dengan lembut bersamaan airmatanya yang menetes.
"Satu hal yang belum sempat bilang sama lo Fik.." Arga meraih wajah mungil sebelum kemudian ia mencium bibirnya lembut penuh perasaan.
"Gue sangat mencintai lo Fik."
Lagi-lagi airmata Arga menetes ketir. Ia mengusap setiap inci wajah Fika dengan penuh kehati-hatian. Sampai suara tepukan tangan seseorang dari belakang Arga membuat cowo itu langsung berbalik badan.
Pok!Pok!Pok!Pok!
"Sungguh mengharukan."
Arga mengepalkan kedua tangannya sesaat melihat orang yang baru saja bicara itu. Amarahnya kembali naik ke ubun-ubun siap untuk meledak.
Cowo berambut hitam dan berwajah tampan itu menyeringai menatap Arga.
"Gimana hadiah gue? Luar biasa kan?" Ucap pria itu seraya memasukkan kedua lengannya di jas miliknya.
Arga yang berdiri di tempatnya tidak lagi menahan dirinya. Tanpa berkata apapun lagi Arga langsung berlari cepat meraih baju pria itu dan ...
BUG!
__ADS_1
Arga menghantam kuat wajah pria itu hingga ia jatuh dan tersungkur. Belum puas sampai sana, Arga kembali *** kerah bajunya memasaksanya untuk bangkit dan kembali menghantam habis-habisan pria yang dahulunya ia anggap kakak kandung itu.
"BAJINGAN LO!" Teriak Arga disela-sela pukulannya. Arga si cowo tempramen itu tidak sedikitpun memberikan kesempatan bagi Gino untuk melawan, bahkan hanya untuk menarik nafas pun Arga tidak akan membiarkannya.
"LO UDAH BERANI NYENTUH DAN SIKSA CEWE GUE! MAKA GILIRAN GUE BUAT BUNUH LO!"
Arga terus menghantam wajah, perut Gino sampai lemas. Bahkan sesekali Arga menendangnya kuat. Gino tak lagi berontak cowo itu sudah muntah darah akibat hantaman Arga yang tanpa jeda itu.
"ARGA STOP!"
Teriakan di ujung ruangan sana membuat Arga menoleh bersamaan dengan Gino.
"Cukup Ga. Semuanya udah terlambat, dia udah pergi Ga. Kamu harus ikhlas." Ucap cewe itu dengan polosnya. Membuat Arga naik vitam.
Arga beralih menatapnya tajam.
"Ga. Kamu jangan khawatir, aku selalu ada buat kamu kok." Dengan beraninya perempuan itu merangkul mesra tangan Arga tanda memperdulikan tatapan tajam dan kebencian di mata Arga. Ia justru melah semakin melengketkan tubuhnya pada Arga.
"DASAR IBLIS!" Umpat Arga seraya mendorong kasar perempuan itu hingga membentur tembok.
"MULAI SEKARANG JANGAN PERNAH LO TUNJUKKIN LAGI MUKA LO ITU DI DEPAN GUE! ATAU GUE GAK AKAN LAGI SEGAN-SEGAN BUAT BUNUH LO!"
Tidak ada sedikipun candaan di wajah Arga. Cowo itu bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Ia menatap jijik terhadap Alicia yang kini terduduk mengeluarkan airmata ketakutannya. Rasa kasihan sudah hilang untuknya di mata Arga. Kini hanya ada kebencian baginya.
Arga mengabaikan Alicia dan beralih menatap Angel yang sudah mematung disana. Cowo itu melangkah kemudian tanpa ragu mencrengkram lehernya kuat.
"Apa lo yang culik Fika?" Desis Arga kilat amarah terjelat jelas di matanya.
"A-arga. G-gue ah!" Arga semakin kencang mengeratkan tangannya di leher Angel membuatnya semakin sesak bernafas.
Belum sempat Angel menyelesaikan perkataannya. Cewe itu sudah di lempar oleh Arga hingga membentur kursi yang di duduki Fika. Angel meringis saat merasakan aliran darah mengalir dari kepalanya.
"KALIAN SEMUA SAMPAH!" Umpat Arga kemudian melangkah mendekati Fika kembali.
Namun saat ia baru saja akan menyentuh Fika sebuah benda dari belakangnya menghentikan pergerakannya.
"Tidak akan semudah itu." Ucap Gino di belakangnya dengan satu pistol yang ia tempelkan tepat di kepala Arga.
"Cewe lo udah mati. Dan sekarang giliran lo."
Arga menyeringai. Kemudian berbalik badan saling bertatapan dengan Gino.
"Kalau itu mau lo. Maka lakukan." Tantang Arga membuat seringaian Gino terurai.
"Oke. Kalau itu mau lo, dengan senang hati."
DOR!
____________
Heem... terserah kalian deh mau komen apa?
Jangan lupa LIKE nya oke?
Bentar lagi tamat.
Jadi aku mau promosi lagi buat cerita berikutnya.
Judul: My Owner
Gendre: Romance and 18+
Sinopsis_
Uang dan kekuasaan adalah senjata utama yang ia miliki. Kekerasan memenuhi hidupnya. Sex adalah bagian dari hidupnya. Mempermainkan perempuan adalah keahliannya. Dan dendam adalah tujuan hidupnya.
Kehidupannya yang terlihat sempurna ternyata adalah kehidupan kelam dari seorang Max Jackqueline Wingston. Laki-laki berdarah dingin, kejam dan tidak berperasaan. Apapun akan ia lakukan demi dendamnya terbalaskan.
Sekalipun itu adalah seorang wanita.
__ADS_1
Hatinya yang telah hancur karena terluka membangkitkan jiwa hitamnya untuk membinasakan seorang perempuan bernama Tiffany Heather. Perempuan muda, cantik dan berbakat itu harus menderita di tangan Max. Penderitaannya sebagai anak yatim piatu ternyata tidak berhenti hingga sana saat Max justru menemukannya dan membawanya kedalam jurang penderitaan lebih mendalam untuknya.