Unforgettable

Unforgettable
Sebuah hubungan


__ADS_3

Beberapa menit yang lalu Fika dan Arga telah sampai di sekolah. Dan di saat itu pula Arga dan Fika kembali berpisah. Seperti biasanya bersikap biasa saja dan menganggap tidak pernah mengenal satu sama lainnya. Mereka memang datang bersama namun Arga menurunkan Fika di halte sekolah. Otomatis tidak akan ada yang tahu jika mereka berangkat bersama.


Walaupun begitu, Fika dan Arga memang menyetujui kesepakatan itu. Karena disisi lain dari pihak Fika pun tidak ingin jika menjadi bahan gosipan orang-orang terutama para fans gila Arga. Dan Arga sendiri memang sama tidak menginginkan hal yang sama.


Fika berjalan melewati gerbang setelah ia menyapa Iqbal yang melewatinya menuju parkiran. Cewe berambut kepang dua ini berjalan di tengah luasnya lapangan upacara yang cukup ramai di penuhi para siswa yang juga berhamburan menuju gedung sekolah.


"Kok Lussy gak angkat telpon Fika sih? Tumben banget." Fika bergumam sendiri saat terus memerhatikan kontak di ponselnya. Sudah beberapa menit yang lalu tepatnya sesaat ia baru sampai ke sekolah, Fika menghubungi Lussy beberapa kali. Namun tidak biasanya cewe cerewet itu justru tidak bisa di hubungi sama sekali.


Padahal biasanya Lussy adalah orang pertama yang selalu menghubungi Fika. Terutama di pagi hari. Maka dari itu Fika merasa khawatir dengan cewe itu.


Fika saat ini berjalan melewati koridor sekolah, ia bergegas ingin segera masuk ke kelas. Tentu saja ia ingin menemui Lussy, karena bukan hanya pagi ini saja tapi Lussy dari kemarin memang sangat sulit untuk di hubungi.


"Eh Metta!" Teriak Lussy saat ia melihat keberadaan teman sekelasnya di ambang pintu kelas. Cewe berkepang itu berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Iyah kenapa Fik?"


"Kamu liat Lussy gak?" Tanya Fika sambil mengedarkan pandangannya ke dalam kelas.


"Lussy? Nggak tuh, gue gak liat dia. Tapi tas nya ada sih."


Fika terdiam. Ia mencoba menebak-nebak kemana kira-kira Lussy pergi? Biasanya pagi-pagi gini dia paling malas keluar kelas karena alasan masih mengantuk. Tapi sekarang justru dia pergi dan entah kemana.


"Oh gitu, makasih yah Met. Aku ke dalam dulu."


"Oke."


Fika memasukki kelasnya. Dan langsung duduk di bangkunya. Benar saja disana memang sudah ada tas Lussy, tapi dimana orangnya?


"Fik lo cari Lussy yah?"


Suara cempreng dari seorang cewe berambut kuncir membuat Fika berbalik menatapnya. "Iyah Sa, kamu tau gak dia dimana?"


"Tadi gue liat dia lari ke arah lapangan basket di atas."


Fika langsung menyernyit. Sedang apa Lussy ke sana? Sedangkan ia tahu betul Lussy paling tidak suka dengan permainan basket.


"Coba lo cek aja ke sana Fik. Siapa tau dia emang beneran di sana sekarang." Ujar Salsa menyarankan.


"Iyadeh, makasih yah Sa. Fika pergi dulu."


"Sama-sama."


Fika berjalan keluar kelasnya dan langsung berlari menaikki anak tangga menuju lapangan indor di lantai atas. Jantungnya berdegub kencang pikirannya melayang saat mengingat lapangan basket tentu saja ia berharap semoga tidak ada anak basket disana. Bisa habis jika Fika bertemu mereka lagi, apalgi waktu itu Arga sudah pernah memperingatinnya untuk jangan pernah mendekati anak-anak basket. Ya.. terkecuali dirinya..


Namun apaboleh buat, keadaan telah memaksanya. Bagaimana pun ia tetap harus menemui Lussy sahabatnya. Sebagai sahabatnya sudah sepatutnya Fika merasa khawatir dengan keadaan Lussy saat ini. Tidak  salah bukan jika Fika juga ingin mengetahui apa yang sedang Lussy lakukan? Dan entah mengapa perasaannya semakin tidak enak saat memikirkannya. Ia hanya berharap tidak terjadi apapun pada sahabat satu-satunya itu.


Namun yang lebih anehnya saat ini lorong yang sedang ia lewati sangatlah sepi.


Padahal biasanya disini adalah tempat paling ramai dintara seluruh tempat di sekolah ini. Padahal bell masuk pun belum berbunyi tapi kenap disini tidak ada sama sekali orang? Fika terus membatin berharap tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Lussy!" Fika berteriak sambil terus berlari menelusuri lorong.


"Lussy!"


Fika berlari kesana dan kemari namun tetap nihil, disana begitu sepi senyap seperti tidak ada kehidupan. Bagamana ia akan menemukan Lussy jika tidak ada satu pun orang disana?


Fika belum juga menyerah. Ia mencoba mengecek setiap ruangan di dekat lapangan basket, namun ruangan-tuangan disana  juga sama tidak ada orang. Kemana semua orang? Aneh, ini terlalu aneh bagi Fika. Semua ini seperti sudah direncanakan oleh seseorang. Entah apa tujuannya, namun jujur hal ini semakin membuat Fika takut.


Hening semu hening, hingga Fika tiba-tiba menghentikan langkahnya karena ia mendengar suara seseorang dalam..


"TAPI KENAPA!?"


Suara teriakan seorang cewe yang menggema hingga terdengar keluar itu membuat Fika melangkah mundur dari posisinya.


"Lo gak denger? Gue udah bilang GUE GAK BISA!"


Fika tertegun saat juga mendengar ada suara laki-laki dari dalam. Apa yang sedang terjadi disana? Apa mereka bertengkar? Sekitar banyak pertanyaan dibenak Fika. Dan semakin membuatnya penasaran. Ia menyudutkan dirinya ke dinding berharap jika mereka tidak menyadari keberadaannya.


"Tapi gue-"


"CUKUP! Lo gak bisa maksa gue, dan sebaiknya lo pergi sekarang!"


"Tapi-"


"Gue gak akan mengulang perkataan gue lagi, itupun kalau lo gak mau gue membenci lo selamanya."


Fika mengepalkan tangannya saat ia mendengar jelas suara tangisan di dalam. Jantungnya semakin berdegub kencang saat mendengar teriakkan laki-laki yang berada di dalam itu. Sepertinya memang ada permasalahan di antara mereka. Namun seharusnya Fika tidak peduli dengan urusan mereka. Namun entah menagapa ia merasakan ada sesuatu yang familiar disana.


Bahkan ia juga bisa merasakan rasa sakit dari cewe yang tengah bertengkar dengan laki-laki itu. Berani sekali cowo itu berteriak kasar di hadapan seorang perempuan!


"LO JAHAT!"


Suara teriakan cewe itu kembali terdengar bebarengan dengan suara tangisannya yang semakin menjadi.


"LO BENER-BENER JAHAT!"


"GUE BENCI SAM LO! BENCI!"


BRAAAKKK!


Suara pintu terbuka keras membuat Fika yang berada di samping pintu itupun terperanjat kaget. Namun hal yang semakin membuatnya shock bukan hanya karena ia ketauan tetapi karena seseorang yang telah keluar dari ruangan itu.


"LUSSY!" Secara reflex Fika pun berteriak padanya. Lussy pun sama kagetnya dengan Fika. Ia menatap Fika dengan mata merah berlinang airmata.


Sungguh seluruh tubuh Fika menegang. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Penampilan Lussy benar-benar kacau, rambutnya berantakan serta kancing bajunya yang lepas dibagian atas dan bawahnya. Apa yang sudah terjadi padanya? Apakah dia disakiti seseorang?


Fika dan Lussy masih saling terdiam hingga detik berikutnya Lussy langsung berlari melewati Fika dengan sedikit menyenggol bahunya.

__ADS_1


"LUSSY!"


Fika ikut berlari dan berusaha mengejar Lussy. Namun sayangnya Lussy lebih cepat darinya. "Lussy tunggu!"


"Lussy kamu kenapa?"


"JANGAN GANGGU GUE!"


Fika berhenti. Ia kaget mendengar penolakan Lussy. Jujur itu adalah pertama kalinya Lussy tidak ingin Fika mendekatinya. Sebenarnya dia kenapa?


"Lussy kalo ada masalah kamu bisa cerita sama Fika. Jangan kaya gini." Fika berusaha untuk meraih Lussy hingga tangannya hampir saja menyentuh pundak cewe itu. Namun hal yang tidak terduga, Lussy justru menepis kasar tangan Fika bahkan ia juga menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap tajam Fika.


"Lo gak denger apa budeg!? Gue bilang JANGAN GANGGU GUE!"


Fika tertegun. Ia meremas lengannya sendiri dengan ekpresi penuh kebingungan.


"Maaf Lussy, tapu Fika cuman-"


"CUKUP!"


Fika terlonjat mendongkak menatap wajah Lussy. Untuk kesekian kalinya Fika kaget dengan sikap Lussy kali ini. Ia takut sangat takut, mata Lussy yang menajam menatapnya kuat bahkan seperti ada sesuatu yang terpendam disana.


"Lussy kenapa?" Fika kembali meraih lengan Lussy namun Lussy langsung menepisnya kasar.


"Lo mau tau gue kenapa?"


"Lussy.."


PLAK!


Lagi-lagi Lussy menepis lengan Fika. Ia kini mengepalkan lengannya kuat-kuat. Fika yang melihay itu hanya mampu diam menatap nanar dirinya.


"Lo mau tau hah?"


"Gue akan kasih tau."


Lussy melangkah maju.


"Asal lo tau.."


"GUE MUAK SAMA LO!!"


Fika semakin kaget, nada bicara Lussy semakin kasar. Belum pernah ia mendengar Lussy berteriak sekeras itu padanya. Meskipun ia sering mendapatkan amarah dari Lussy dalam hal mengajar, namun belum pernah Lussy berkata kasar padanya. Bahkan melihat bagaimana Lussy menatapnya saat ini begitu membuat Fika ketakutan. Seperti ada dendam. Tapi mengapa? Apa salah Fika sehingga membuat Lussy seperti itu?


Lussy mendengus melihat ekpresi Fika.


"Gue tau lo pasti bingung kenapa gue muak sama lo kan?"


Fika terdiam. Ia hanya mampu menyernyitkan dahinya dengan ekpresi semakin kebingungan. Dan hal itu justru semakin membuat Lussy mendengus keras.


"Lo gak perlu pasang muka polos lo itu di depan gue! Itu hanya bisa bikin gue makin muak sama lo!"


Jantung Fika semakin berdetak kencang. Sepertinya apapun yang ia lakukan saat ini selalu salah di mata Lussy, lalu.. apa yang harus ia lakukan?


"Lussy, maaf kalo Fika ada salah.. tapi kita bisa bicarain baik-baik kan?"


"GAK PERLU!"


Fika melangkah selangkah mundur.


"LO GAK PERLU LAGI JELASIN APAPUN SAMA GUE! KARENA GUE UDAH TAU SEMUANYA!"


"CIH! DASAR CEWE MUNAFIK!"


Fika tertegun. Sakit rasanya ketika dihina oleh sahabat sendiri.


"Lussy kamu sebenernya kenapa? Fika gak bener-bener gak ngerti-"


"LO GAK NGERTI KARENA LO BEGO!"


"OH.. atau.. sebenernya lo itu selama ini hanya pura-pura bego? Heh.. cewe bermuka dua kaya lo itu patut di kasih reward."


"Lussy.."


"JANGAN SENTUH GUE!"


Lussy mendorong bahu Fika hingga ia terhuyung dan hampir terjatuh.


"LO GAK USAH SOK PEDULI LAGI SAMA GUE!"


"Dan jujur, gue nyesel udah kenal sama cewe bermuka dua kaya lo. Dari luar lo emang terlihat polos tapi dalemnya BUSUK! Cewe kaya lo ini gak pantes jadi temen gue, tapi cewe kaya lo itu pantesnya di tempat sampah! Bahkan lo lebih hina dari sampah!"


Fika gemetar. Kini rasa sakit semakin menyiksanya. Perkataan Lussy seolah telah mengiris hatinya begitu dalam. Sahabat satu-satunya yang ia miliki mengatakan hak yang sungguh menyakitinya. Bahkan ia sendiri tidak tau apa kesalahannya sehingga membuat Lussy membencinya seperti ini.


"Lussy.. Fika.." Genangan airmata yang mengalir mulai lurih dari balik kelopak matanya. Fika masih berusaha meraih lengan Lussy lembut. Namun Lussy tetap sama menghindarinya bahkan tidak berhenti menepis lengan Fika. Bahkan kali ini Fika mampu merasakan perih ditangannya. Sebenci itukah kamu padaku Lussy?


"CUKUP! CUKUP!"


Lussy berteriak sambil meremas kepalanya yang terasa berdenyut pusing. Ia menatap Fika yang tengah meneteskan airmatanya. Namun anehnya hal itu sama sekali tidak membuatny iba. Amarah dan kebencian yang menggulungnya sekarang telah menutupi mata dan hatinya. Lussy menggeram mengeoalkan lengannya sekuat yang ia mampu. Lalu ia mengangkay telunjuknya di depan wajah Fika.


"Mulai sekarang..."


"LO BUKAN SAHABAT GUE LAGI."


Fika melotot, ia meremas dadanya yang semakin terasa sesak. Airmatanya semakin tidak mampu ia bendung. Ia luruh dalam sebuah kata-kata. Bahkan jatuh dan hancur seketika saat Lussy membuang gelang persahabatan mereka ke lantai.


Fika tak mampu berkata-kata lagi. Ia menangis tersedu, menatap gelang pink berplat biru itu diinjak kasar oleh Lussy. Seolah-olah persahabatan yang mereka bangun selama ini tidak ada artinya sama sekali.

__ADS_1


Fika berjongkok dan mengambil gelang itu gemetar.


"Mulai sekarang, jangan pernah lo temuin gue lagi. Anggap aja kita belum pernah kenal sebelumnya."


Fika mendongkak. Tangannya mengepal kuat menatap Lussy. Ia bangkit dengan hati yang terluka.


"Tapi kenapa?! Selemah itukah persahabatan kita? Hanya karena satu masalah dan persahabatan kita hancur begitu saja? Bahkan Fika sama sekali tidak tau kesalahan Fika dimana. Fika gak tau sebenernya apa yang sudah terjadi. Tolong.. jelasin dulu sama Fika apa yang sudah terjadi?"


"Gak ada yang perlu di jelasin lagi!  Semuanya sudah hancur! Harapan gue! Cita-cita gue semuanya hancur dan itu gara-gara lo!"


Bak!


Lussu mendorong kuat Fika hingga ia menabram pintu di belakangnya. Lussy kembali berbalik dan berlari sekencangnya dari sana. Ia kembali menangis dan menutup wajahnya dengan kedua lengannya.


"Lussy tunggu!" Fika yang berusaha bangkit itu ingin berniat ingin kembali mengejarnya Lussy. Namun saat yang bersamaan seseorang melangkah dari sampingnya membuatnya tertegun lalu melihat orang yang kini berdiri di sampingnya.


Shock kembali melandanya, Fika membulatkan mata lebar-lebar. Tenggorokannya mengering seketika. Tangannya meremas ujung roknya. Kenapa dia?


"Lo gak papa?" Suara baraton yang sudah tidak asing lagi merasuki gendang telinganya. Fika berusaha bangkit namun tatapannya masih tertuju pada cowo itu.


"Ar..ga."


Sungguh rasanya terasa lemas. Beberapa kali Fika mendapatkan kejutan dalam waktu yang sama. Rasa pening yang menggulungnya kali ini sangat menyakitkan. Kebingungan, ketakutan, kekecewaan, kekagetan semuanya menjadi satu. Entah apa yang saat ini cowo itu lakukan, namun mengapa harus selalu dia?


Entah dorongan darimana, Fika tiba-tiba dengan sadar tak sadar meraih tangan kekar Arga. Ia meremasnya dengan kedua tangannya yang mungil. Airmatanya kembali jatuh. Sungguh hatinya begitu kalut. Rasanya berkata pun ia sudah tidak mampu lagi.


"Arga.. tolong jelasin apa yang udah terjadi?"


Arga menatap Fika dengan tatapan tidak dimengerti. Cowo itu membiarkan Fika menyentuh lengannya dengan santai. Namun diamnya Arga justru semakin membuat Fika ketakutan. Sebenarnya apa yang telah terjadi?


"Arga sebenernya apa yang sudah terjadi? Kenapa Lussy jadi membenci Fika? Pasti susah terjadi sesuatu kan? Arga.. tolong jelasin.." Tubuh Fika meluruh tak lagi bertenaga. Ia berjongkok dengan airmata yang kembali menetes.


Sedangkan Arga masih terpaku di tempatnya.


"Arga.." Fika memanggilnya dengan penuh lirih. Pikirannya kacau hingga ia kembali mendongkak menatap cowo itu.


"Apa hubungan kamu dengan Lussy?"


Sama sekali tidak ada jawaban. Arga hanya menatap Fika dengan wajah sedatar-datarnya.


"Arga.. jujur sama Fika, kamu sama Lussy mempunyai hubungan?" Sekali lagi Fika berusah untuk membujuknya. Meskipun rasanya begitu sakit, namun Fika harus siap dengan sebuah kenyataan jika memang Arga dan Lussy memiliki suatu hubungan.


"ARGA!" Fika berteriak. Sungguh ia benar-benar geram kali ini. Kediaman Arga semakin membuat hatinya berantakan. Ia mengejat dan kembali meraih tangan Arga.


"Arga Fika mohon jelasin sama Fika!"


Arga tergerak. Hatinya juga terasa sakit terutama melihat airmata yang kembali ia lihat di depannya.


"Lo akan tau nanti."


Arga melepaskan cengkraman Fika, lalu melangkah dan meninggalkannya.


"Arga tunggu!" Fika mengejarnya.


"Arga!"


"Arga jelasin dulu!"


"Arga!"


"Arga!"


Arga sama sekali tidak menoleh. Cowo itu telah berbelok dan menuruni tangga. Sedangkan Fika, ia kembali melurih ke lantai dan menekuk lututnya sendiri seraya menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa?"


"Arga..."


"Lussy.."


"Apa hubungan kalian?"



Maaf lama up nya. Bagi yang udah setia menunggu makasih yah..  dan bagi kalian yang suka suport aku makasih juga yah.


Mungkin nanti aku akan membuat jadwal buat update.. untuk kalian sendiri mau aku update seminggu berapa kali?


Kalo tiap hari aku gak akan bisa, karena aku juga banyak kerjaan.


Aku kasih pilihan yah.


-update 2 kali seminggu atau


-update 3 kali seminggu?


Dan hari apa aja?


Komen yah.. dan jangan lupa likenya Oke😊


Aku tunggu komenan kalian..


See you in the next chept》》》


♡IQBAL BRAMASTYO♡


__ADS_1


♡FIKA PRICILLA♡ lagi lepas kepangannya yah😂



__ADS_2