Unforgettable

Unforgettable
Don't Leave Me


__ADS_3

Bell terakhir telah berbunyi. Semua siswa sudah berlomba keluar dari kelasnya masing-masing. Fika saat ini masih membereskan alat tulisnya dengan teliti. Takut jika ada salah satu yang tertinggal. Kelas Fika sudah sepi melainkan hanya ada dirinya dan juga bu Evi yang juga sedang membereskan buku di depan.


Setelah selesai berkemas. Baru saja Fika kakinya akan melangkah maju, namun suara panggilan mendahuluinya.


"Fika.."


Merasa di panggil ia pun menoleh.


"Eh, iya bu?" Sahut Fika seraya menoleh pada bu Evi.


"Kemari sebentar,"


Respek Fika segera berjalan menghampiri bu Sinta. "Ada apa bu?"


"Gini, ibu mau minta tolong sama kamu. Tolong bawakan buku-buku ini ke perpustakaan. Bisa?"


"Bisa bu bisa!"


Bukan hal yang aneh untuk Fika jika ada guru yang meminta tolong padanya karena ia memang gemar membantu para guru disana. Meskipun dalam hal prestasi ataupun dalam belajar ia tidak pernah unggul, namun keramahan dan juga sikapnya yang sangat sopan membuatnya dikenal banyak guru. Jadi wajar jika para guru memberikan amanah ataupun kepercayaan untuknya.


Fika pun langsung meraih tumpukan buku tebal itu ke lengannya hingga menutupi setengah dagunya.


"Kamu hati-hati yah bawanya."


"Iya bu, siap!"


Di tengah lorong yang cukup sepi, Fika berjalan sedikit sempoyongan menahan berat buku itu agar tetap seimbang di tangannya. Perlahan-lahan ia melangkah, hingga ia telah sampai di depan anak tangga menuju lantai dua tempat perpustakaan berada.


Ia sedikit menunduk untuk melihat langkah kakinya menginjak anak tangga pertama. Namun saat ia baru saja akan melangkah justru kakinya kembali terhoyong ke belakang karena berat  seolah ada yang telah mendorongnya dari depan.


Untung saja ia masih bisa menahannya sehingga buku itu tidak jatuh.


"Huft.. tenang dan perlahan..." gumamnya.


Langkah demi langkah dengan tertiti dan hati-hati ia terus menaikki tangga hingga ia berhasil berada di dasar atas kemudian akan berbelok menuju tangga selanjutnya. Lagi-lagi langkahnya kembali terhenti, karena ia baru menyadari ada sesuatu yang menghalanginya disana. Ia pun sedikit memiringkan kepala karena pandangannya sedikit terhalang buku.


"Ma-maaf kak, permisi, boleh Fika lewat?"


Bukan jawaban ataupun respon untuk memberi jalan. Keempat cewe yang sedang berdiri berjajar menghalangi tangga itu hanya diam menatapnya sinis sebari melipat tangan di dada. Suasana tidak enak sudah bisa ia rasakan. Namun tidak mungkin juga dia harus kembali, sedangkan bu Sinta sudah memberikan amanah untuknya. Bukan seorang Fika jika dia tidak bisa menyampaikan amanah dengan baik. Mau tidak mau dia harus mampu melewati ke empat kakak kelasnya. Walaupun ia tahu akan resikonya.


"Ma-af, kakak bisa geser sedikit? Soalnya Fika mau ke perpustakaan,"


Terdengar suara dengusan. "Ya elo tinggal lewat aja!" Ucap sinis cewe berambut pendek.


Bagaimana mungkin Fika bisa lewat? Sedangkan mereka menghalanginya ? Bahkan mereka tidak memberikan sedikitpun celah.


"Tapi kak, Fika bawa buku banyak. Tolong.. sedikit saja buat Fika lewat."


Tiba-tiba cewe berambut panjang melangkah maju lalu mendorong bahu Fika sedikit membuatnya terperanjat menahan tubuhnya serta keseimbangannya hingga kakinya berada di ujung lantai tangga dan hampir saja jatuh ke tangga di bawahnya. Fika mencekal lebih erat buku-buku tebal itu, tenaganya mulai terkuras karena terus menahan beban berat di tangannya.


"Heh cupu! Lo kira lo itu siapa hah!?" Sentak cewe berambut panjang yang kini berada di depannya. "Beraninya merintah kita!"


Fika gemetar, ia shock mendengar sentakan tiba-tiba tanpa tahu sebabnya. Fika sedikit mundur agar tidak terlalu dekat dengan cewe itu. Namun dua cewe lainnya justru ikut melangkah tepat berada di belakang tubuhnya sekarang.


"Mau kita apain nih si cupu?" Tukas cewe di belakangnya.


"Heeem.." Gadis berambut panjang itu kini berjalan memutari Fika yang berdiri kaku. "Enaknya kita bully, apa kita permaluin nih?"


"Dua-duanya aja Ta! Biar dia mikir!" Usul temannya.


"Boleh juga."


Fika berada di posisi begitu mendesak, ditambah rasa pegal berganti menjadi rasa sakit karena tangannya sudah terlalu lama menahan tumpukan buku itu.


"Ma-maaf kak, kalo Fika punya salah. Tapi tolong jangan apa-apain Fika."


Tiba-tiba gelak tawa mereka buncah memenuhi udara. Layaknya sedang mendengarkan lawakan komedi.


Saat itu juga cewe berambut panjang yang berada di depan Fika mengulurkan tangannya hingga mendarat pelan di pipi kanan Fika. Kemudian menepuk-nepuknya.


"Uuhh.. kacian banget sih.."


Gelak tawa masih memenuhi mereka. Keringat dingin bercampur panas mulai membasahi permukaan kulit Fika, ia tidak mampu bergerak sedikitpun karena kedua tangannya saat ini telah di pegang erat oleh kedua cewe di belakangnya.


Cewe di depannya masih dalam posisi menepuk pipinya,


Dari perlahan,


pelan,


sedang,


hingga agak cepat,


dan...


PLAAAKKKK


Tamparan keras begitu nyaring. Suara jeritan Fika pun tak kalah keras bebarengan dengan suara buku terjatuh dari tangannya.


Matanya terbelalak serta rasa perih yang membekas merah di pipinya. Fika menoleh dengan air mata tertahan. Menatap nanar cewe di hadapannya.


"Gimana?"


"Sakit?"


"Apa mau lagi?"


Fika diam tak bergeming, kedua tangannya yang masih dalam posisi dipegangi kini telah mengepal kuat.


"Apa lo!? Mau mukul gue? Mau bales gue!?"


Belum puas hingga sana, cewe bernama Nita itu menarik sebelah kepang Fika hingga ia meringis mengikuti arah tarikkan tangan cewe itu.


"Aw! Sakit kak..!"


Mereka tertawa puas. Selanjutnya cewe yang berambut pendek beralih manarik seragam bawah Fika hingga menampilkan kulit putihnya. Fika tak mampu melakukan apapun karena mereka begitu kuat mencekal pergelangannya.


"Guys! cepet foto!"


Fika terkesiap berusaha berontak. Ia menghentakkan tangan kanannya namun sia-sia.


"Hahahaha..."


"Ini kan ya lo lakuin sama Arga!"


Fika terhenyak, mendongkak menatap cewe itu.

__ADS_1


"Arga?"


"Iyah Arga!"


Fika terdiam, apa mereka ingin membalas Fika karena mereka suka pada Arga? Mereka pasti termasuk ke dalam anggota ArgaLovers grup teebesar fans Arga di sekolah ini. Celaka! Batin Fika.


"Heh cupu! Punya muka pas-pasan aja berani deketin Arga. Jangan sok kecantikan lo!" Teriak cewe di belakangnya.


"Mending lo out deh dari sekolah ini. Karena sekolah ini gakbutuh cewe cupu dan bego kaya lo!"


"Lo denger kata mereka?" Nita mendongkakkan wajah Fika dengan paksa. "Lo gak pantes berada di sini!"


Cewe berambut pendek kemudian segera mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Membuat Fika menyernyit. Cewe itu menarik kerah baju Fika hingga membuatnya kembali terperanjat.


"Nih lo liat!" Sebuah cermin berukuran kecil di sodorkan tepat didepan wajah Fika.


"Lo liat muka lo yang jelek itu! Perhatikan dengan baik!"


Sakit, itulah yang kini ia rasakan. Bukan hanya karena hatinya. Namun batinnya ikut tersiksa. Matanya terpejam lekat, tidak ingin sedikitpun melihat wajahnya sendiri. Terpejam semakin kuat hingga airmatanya luruh membasahi wajahnya.


"Hahahahah..." Sorak riang gelak tawa mereka semakin bahagia.


Fika meluruh dengan tubuhnya tiada tenaga dan kakinya yang lemas tak mampu menahan tubuhnya hingga terduduk lemas di atas lantai. Menahan rasa perih dan juga malu.


Namun cewe bernama Nita kembali menarik kepangannya ke belakang hingga Fika mendongkak menatapnya.


"Itulah akibatnya kalo lo berani deketin Arga nya gue."


Rasa bahagia terlihat dari keempat cewe yang tengah berdiri mengelilingi Fika. Sambil berkacak pinggang mereka lagi-lagi tertawa tidak peduli dengan tangisan Fika yang kian menjadi. Tubuhnya gemetar ketakutan Fika ingin sekali berlari menjauh namun tidak bisa saat Nita mulai mengangkat tangannya bersiap akan mendaratkan kembali  tamparan keras untuknya.


"Bisa pada minggir gak?"


Hening...


Tawa yang tergelak keras lenyap seketika.


Nita tertahan karena mendengar suara bass seseorang dari arah tangga yang sama, membuat ke empat cewe itu saling menoleh satu sama lain. Siapa yang berani mengusik kesenangan mereka?


"Pada tuli lo!?"


Teriakkan keras dari orang itu membuat keempat cewe disana terperanjat hingga reflex berbalik ke arah suara. Seketika mereka membeku sekaligus mata membulat lebar karena melihat orang yang kini berada di depan mereka.


"A-arga!" Sontak Intan kaget bercampur takut.


Laki-laki berpostur atlit itu berdiri tegap sambil memasukkan kedua lengannya di saku celana depan. Ia diam dengan sorot mata tajam namun tetap terlihat tenang.


Keempat cewe yang tadi berjejer itu langsung spontan merapat hingga ke ujung tembok memberi jalan bagi Arga lewat. Namun cowo berambut hitam itu masih diam menatap ke satu objek disana.


Seseorang yang masih diam menunduk menekuk lututnya tanpa peduli keberadaannya.


"Cupu! Minggir lo! Arga mau lewat!"


Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Fika untuk bergeser ataupun berdiri. Dan hal itu semakin membuat Nita geram.


"Eh lo-"


Nita tertahan dikakinya saat akan kembali menghampiri Fika, karena Arga lebih dulu melangkah di depannya. Ia berjalan santai tanpa melihat ataupun meliriknya sedikitpun. Arga melangkah beberapa langkah hingga terhenti sempurna saat sepatunya telah menyentuh sepasang sepatu di depannya. Ia kemudian berjongkok lalu mengangkat tangannya, mendarat lembut di pundak kurus itu.


Gadis yang kini berada di depannya mulai mengangkat sedikit kepalanya yang terasa berat dan pening. Penglihatannya buram karena airmata. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya mencengkram kuat ke lututnya. 


Entah apa yang mendorongnya kali ini, spontanitas Fika menghamburkan tubuhnya ke tubuh kekar Arga, memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya ke dada bidangnya. Ia tidak peduli meskipun Arga akan memarahinya saat ini juga, tidak peduli! Karena inilah yang ia butuhkan disaat dia benar-benar terpuruk dan juga ketakutan.


Arga diam membeku, membiarkan cewe itu memeluknya erat. Hingga puas mengeluarkan airmatanya. Arga bisa merasakan tubuh Fika yang gemetar hebat. Semakin lama Arga sedikit meluruhkan tubuhnya agar Fika dapat memeluknya lebih leluasa. Lalu cowo itu mengangkat tangannya dan mengusapkannya ke puncak kepala Fika.


"Gue disini." Bisik Arga di telinga Fika lembut. Bahkan Fika bisa merasakan hangatnya nafas cowo itu yang langsung membuat tubuhnya merinding seketika.


Benarkan orang yang ia peluk saat ini Arga yang ia kenal? Arga si dingin dan kasar itu? Dia sedang memeluknya? Oh Tuhan jika ini adalah benar biarkan aku bisa merasakan ini selamanya. Batin Fika terus menjerit bahagia.


Mereka berdua saling terdiam dan keheningan yang mereka ciptakan. Sedangkan keempat cewe yang sedang berdiri kaku disana tak juga beranjak pergi. Karena terlalu terkejut sekaligus takut. Mereka tidak menyangka Arga akan muncul bahkan dia memeluk Fika dengan begitu sayang.


"Gimana nih? Kita cabut yuk." Bisik salah satu dari mereka. Yang langsung dianguki ketiga temannya. Namun sayangnya sebelum mereka berhasil kabur. Arga sudah menoleh dan melempar tatapan membunuhnya pada mereka. Sehingga mereka kembali terdiam dan menunduk.


"Kalian," tunjuk Arga. "Mulai sekarang gue gakmau liat lagi tampang kalian di sekolah ini."


Deg!


Keempat cewe itu terbelalak. "Ma-maksud kamu apa Ga? Kita gak ngerti."


Arga bergerak meraih tubuh Fika perlahan penuh perasaan. Sampai keduanya dalam posisi berdiri. Arga kembali mengalihkan pandangan tajamnya pada keempat cewe itu.


"Keluar dari sekolah ini." Ujar Arga dengan nada dinginnya ia berhasil membuat keempat cewe yang ketakutan itu semakin lemas dibuatnya. "Mau ngundurin sendiri? Atau mau gue paksa keluar?"


Fix kali ini mereka tidak bisa melakukan apapun. "Ga maaf tadi kita cuman becanda doang kok. Iya kan Fik? Ki-kita gak serius kok tadi beneran deh. Fik ma-maafin kita yah? Lo mau kan maafin kita?" Ujar Nita gelagapan bercampur takut. Ia berjalan mendekati Fika namun lagi-lagi Arga langsung menahannya.


"Berani lo sentuh cewe gue. Gue jamin hidup lo gak akan tenang." Ketus Arga. Cowo itu memeluk Fika dengan erat. Dan memaksa Fika untuk terus menenggelamkan wajahnya di dadanya.


"Tapi Ga gue cuman mau minta maaf. Gue nyesel sumpah. Gue-"


"Seharusnya kalian bersyukur karena gue cuman nyuruh kalian keluar dari sekolah ini. Oh atau lo mau gue nyuruh kalian buat terjun dari gedung?"


Ketakutan mereka semakin menjadi-jadi. Mereka benar-benar lemas. Tidak mampu lagi berkata apapun. Hingga suara lembut dari Fika di balik dada Arga mulai terdengar. "Arga.." panggilnya lembut.


Arga spontan menunduk dan mengusap kepala Fika. Memberi akses bagi cewe itu untuk mengangkat dan mendongkak menatapnya. "Arga maafin mereka yah? Fika gak papa kok. Lagian mereka udah minta maaf." Ujar Fika. Kedua tangannya masih memegang erat pinggang Arga.


"Gak bisa Fik. Mereka pantas dapetin itu. Lo gak usah mikirin mereka. Mereka udah jahat sama lo." Ujar Arga dengan nada yang sangat lembut.


Fika menggelengkan kepalanya. "Gak boleh gitu. Fika udah maafin mereka. Jadi jangan di besar-besarkan lagi yah? Fika gakmau nanti mereka semakin benci sama Fika."


Melihat Fika yang memelas di depan matanya. Arga merasa tidak sanggup lagi. Ia menghela nafas gusar sebelum kemudian menatap keempat cewe itu.


"Kali ini kalian beruntung karena Fika udah maafin kalian. Tapi lain kali, gak ada maaf lagi buat kalian." Ucap Arga lalu memapah Fika untuk pergi darisana.


"Sebagai hukumannya. Kalian beresin buku itu dan taruh di perpus. Kalau sampai gue masih liat buku itu masih berceceran besok. Kalian akan tau akibatnya." Gertak Arga sambil meleos menuruni anak tangga.


*****


Kini Fika telah terduduk di jok depan mobil Arga. Tepatnya di samping Arga. Sejak keduanya memasukki mobil tidak ada satu pun kata yang terucap. Melainkan hanya keheningan dan juga rasa canggung yang mereka rasakan.


Fika masih larut dalam pikirannya sendiri, mengingat hal apa saja yang telah terjadi tadi. Entah bagaimana menjelaskannya, namun Fika merasa ini adalah mimpi. Mimpi terindah yang pernah ia rasakan. Bagaimana tidak? Sejak Arga menuntunnya turun dari tangga, cowo itu sejak tadi tidak juga melepaskan genggaman tangannya dari Fika. Bahkan hingga sekarang.


Fika benar-benar beku di buatnya. Tangan Arga yang hangat itu terus menggulung lengan kanannya tanpa kendur. Fika fikir setelah ia turun dari tangga tadi Arga akan melepaskan tangannya darinya. Tapi ternyata dugaannya salah. Tanpa berkata apapun cowo itu memegang tangan Fika bahkan Fika sendiri belum mengizinkannya.


Mungkin bagi Arga itu tidak masalah, namun bagi Fika? Itu adalah sengatan yang kuat baginya. Seolah kini sedang memgang benerapa pon listrik di tangannya. Tubuhnya seakan tidak bernyawa. Bahkan Fika sejak tadi tidak berani bergerak sedikitpun karena saking tegangnya di pegang Arga. Ingin sekali ia berteriak. Namun takut jika Arga akan memarahinya. Fika benar-benar tidak bisa melakukan apapun.


"Ekhem.. " Dehaman Arga barusan membuat Fika spontan meliriknya. Arga masih memandang ke depan.Fika terkejut bukan main saat merasakan ada pergerakkan nyata di tangannya sekarang. "Tangan lo dingin banget." Ucap Arga tiba-tiba.


Fika menelan ludahnya, bagaimana ini? Arga pasti sudah bisa merasakan kegugupan dia. Fika ingin sekali menarik tangannya sekarang juga. Sunggung ia sudah tidak sanggup lagi.

__ADS_1


"Kalo dingin pake aja jaket gue di belakang." Ucap Arga lagi membuat Fika refleks menoleh kebelakang melihat jaket hitam Arga yang memang tergeletak disana.


"Mau pake?" Arga menoleh dan kini menatap Fika.


Fika yang langsung speachless itu justru malah terpaku membalas tatapan Arga. Yang baginya terasa sangat intens.


"Hem?" Gumam Arga sambil menaikkan kedua alisnya. Jantung Fika langsung dag-dig-dug tidak karuan. Apa dia kena serangan jantung sekarang?


"Mau gue pakein?" Tanya Arga lagi yang langsung membuat Fika rasanya ingin meleleh. Terutama saat Arga justru mengukir senyuman termanisnya disaat Fika masih melongo menatpnya.


Allahuakbar cobaan macam apa lagi ini? Rintih Fika di dalam hatinya.


Arga tiba-tibq saja mengehentikan laju mobilnya. Fika bingung mengapa Arga melakukan itu, namun yang pasti Arga sedang meraih jaketnya itu. Dan kemudian menarik tangan Fika hingga ia terduduk tegak. "Lo pakai dulu jaketnya." Titah Arga kemudian melepaskan genggamannya.


Fika pun tanpa ada perlawan ia hanya menurutinya saja. Karena sangkin linglungnya ia bahkan tidak menyadari kini jaket hitam Arga itu sudah melekat di tubuhnya. Arga kembali menyalakan mesin mobilnya, namun sebelum ia melaju. Ia kembali meraih tangan kanan Fika dan menggenggamnya seperti sebelumnya.


"Gak usah gugup gitu. Kita kan sering pegangan tangan dulu." Ucap Arga seraya melajukan mobil sport birunya itu. "Kalo lo mau tau, gue rindu masa-masa kita dulu."


Deg!


Serasa ada sentakkan di hati Fika yang menyulut airmatanya ingin menetes. Benarkan apa yang dikatakan Arga barusan? Ia merindukan masa-masa kecilnya bersama dirinya?


"Kalo boleh jujur, gue menyesal dengan kejadian dulu. Menyesal karena udah pergi ninggalin lo." Ucap Arga lirih. Tatapannya memang lurus ke depan, namun tangannya  semakin *** kuat tangan Fika.


Fika yang tadinya merasa gugup untuk menatap cowo itu kini ia menoleh dan menatap lekat wajah Arga dari samping.


"Seharusnya gue gak ninggalin lo saat gue tau lo hilang ingatan. Tapi bodohnya gue malah mengikuti ego gue sendiri." Arga menjeda perkataannya sampai beberapa detik. "Seandainya gue nggak ninggalin lo saat itu.. mungkin lo gak akan kesepian."


Tatapan Fika yang berkaca-kaca itu ia luruhkan beralih memandang tangannya yang di genggam kuat Arga. "Arga gak usah nyesel gitu. Apa yang sudah terjadi gak bisa kita ulang kembali. Fika juga gak bisa nyalahin siapapun karena mungkin itulah jalan terbaik buat hidup Fika."


Arga menatap Fika penuh arti. Lalu tersenyum hangat. "Lo emang gak pernah berubah. Lembut seperti dulu." Ujar Arga dan berhasil membuat Fika tersipu malu.


Arga terkekeh melihat Fika yang malu-malu di depannya. Terlihat sangat menggemaskan, bahkan rasanya ia ingin melahapnya habis malam ini.


Fika menahan senyumannya saat Arga masih juga menatapnya. Jika ditanya bagaimana keadaan jantung Fika saat ini. Keadaannya sungguh menghawatirkan karena jantungnya sudah berdebar tidak karuan.


Arga kembali memusatkan pandangannya saat mobilnya berbelok memasukki gang perumahannya. Fika antivasi ingin turun dari mobil Arga saat mobil itu terhenti di pekarangan rumah Arga namun masalahnya tangannya itu masih di genggam Arga.


"Arga.." panggil Fika. Spontan Arga menatapnya.


"Hem?"


"Ini.. Fika mau turun."


"Tinggal turun." Ucap Arga santai.


"Tapi tangan Fika.."


"Gue gak bisa lepasin tangan lo dari tangan gue." Kata Arga polos.


Fika melongo di tempatnya. Arga seriusan? Astaga.. kenapa dia kaya gini?


"Arga.. Fika mau masuk ke rumah." Rengek Fika lagi. Ia menggerak-gerakkan tangannya yang di pegang Arga berharap akan terlepas.


"Gue juga mau ke rumah." Ucap Arga. Ia masih menatap Fika datar.


"Ih tangannya lepasin dulu Ga. Susah keluarnya entar." Geram Fika. Ia sudah tidak tahan lagi dengan tatapan Arga yang membunuh hatinya itu. Sungguh ia ingin berlari rasanya dari sana.


Ditengah pemberontakkan Fika akhirnya Arga melepaskan genggamanya juga. Coba itu tersenyum jahil sebelum kemudian membuka pintu mobilnya dan keluar.


Fika hendak akan membuka pintu mobil itu namun ternyata Arga lebih dulu membukakannya dari luar. "Silahkan." Ucap Arga membuat Fika menatapnya cengo.


Arga kesambet setan apaan? Batin Fika.


"Arga kenapa?" Tanya Fika bingung.


"Gak papa." Arga tiba-tiba saja mengulurkan tangannya. "Yuk."


Fika meraih tangan Arga yang kemudian langsung ia tarik dan melekat di sampingnya. Sebenarnya yang membuat Fika kaget itu bukan karena Arga menariknya tapi karena Arga sekarang melingkarkan tangannya di pinggang Fika.


Tanpa harus mempedulikan atatapan kebingungan Fika . Arga justru langsung bernyeret Fika masuk ke dalam rumah.


Anehnya Fika tidak melawan sedikitpun. Bahkan saat Arga masih menggandengnya hingga menaikki tangga pun Fika hanya bisa tertunduk memerhatikan langkah keduanya.


"Eh Arga!" Fika kaget saat meyadari Arga malah membawanya ke kamar cowo itu bukan ke kamar Fika. Sontak ia pun berontak mendorong Arga.


"Kenapa?" Tanya Arga dengan tampang sok polosnya.


"Kok kenapa? Inikan kamar Arga." Ujar Fika terlihat gugup.


"Ya trus?"


Fika menganga tidak percaya. Kenapa Arga jadi blibet gini? Tanya Fika di hatinya.


"Ya.. ya Fika gak harusnya disini. Fi-Fika harusnya di kamar Fika bukan dis-"


Perkataan Fika tertahan karena Arga sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan mulut Arga. Hal itu membuat Fika terlonjak kaget dengan mata membelalak lebar. Perlakuan Arga yang secara tiba-tiba itu berhasil membuatnya serangan jantung. Ia bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun karena Arga sudah mengunci tubuhnya dengan kedua tangan kekarnya.


"Hem.." Fika berontak saat Arga semakin memperdalam ciumannya. Entah apa yang ada difikiran Arga saat ini. Namun cowo itu terlihat sudah hanyut dalam nafsunya sendiri. Arga mendorong tubuh Fika hingga punggungnya kini menyentuh tembok. Tangan kanannya beralih menahan tengkuk Fika memaksanya untuk mendongkak sedangkan tangan kirinya ia lingkarkan erat di pinggang Fika memungkinkannya untuk semakin melekat di tubuhnya.


Fika berontak dikarena ia sudah merasa sesak nafas, kedua tangannya meronta-ronta di dada bidang Arga. Tapi sayangnya Arga tidak sedikitpun memberi akses baginya untuk melepaskan diri. Arga justru semakin menekankan bibirnya diatas bibir Fika sebelum kemudian ia meraupnya dengan rakus. Fika terlonjak saat Arga sengaja membuatnya membuka mulutnya paksa. Hingga Arga menelusupkan lidahnya kedalam mulut Fika.


"Arga.." lengguh Fika. Ia tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Namun rasa gelitikan di perutnya membuatnya merasa aneh. "Arga.." panggil Fika mengeluh.


Disaat itu juga Arga beralih mencium leher Fika penuh nafsu. "Ah." Fika merasakan dingin dan hangat di lehernya saat bibir lembut Arga menyentuh dan meraupnya lembut.


"Gue kangen sama lo Fik." Deru nafas Arga terdengar berat. Ia membisik di telinga Fika sambil tidak hentinya mencium leher Fika. Sampai tanda merah di leher Fika mulai tercetak di sana. Tidak puas hingga sana Arga kembali meraup bibir mungil merah Fika yang baginya sangat menggoda iman itu. Ia mengulumnya lembut hingga semakin dalam semakin terasa panas dan sampai raupan terakhirnya cowo itu menggigit gemas bibir bawah Fika hingga membuat Fika meringis perih.


Arga pun melepas pagutannya. Dan menatap Fika. "Maaf, gue lepas kendali." Ucapnya sedikit ngos-ngosan.


Fika masih terdiam dengan menatap kedua mata Arga lekat. Ia sama terengahnya dengan Arga. Bahkan ia bisa merasakan bibirnya yang membengkak dan juga perih karena gigitan Arga barusan.


Melihat ekpresi Fika yang terlihat kaget itu sontak membuat Arga menyentuh bibir Fika dengan satu ibu jarinya. Mengusapnya lembuat kemudian kembali menciumnya perlahan. "Maaf." Ucap Arga kemudian sedikit menjauhkan tubuhnya dari Fika. Memberikan ruang bagi Fika untuk bergerak.


Arga tergerakkan tangannya ke puncak kepala Fika saat cewe itu kembali menunduk. Tanpa di duga Arga kembali menariknya hingga ke dekapannya.


"Jangan pergi lagi. Tetap disisi gue untuk selamanya."


________________


Heem..


Silahkan keluarkan segala uneg-uneg dan juga rasa bahagia atau rasa terharu kalian di kolom komentar yah..😂


Aku cuman minta jangan lupa buat LIKE oke?!


See you in the next chepter》》

__ADS_1


__ADS_2