
Malam ini cukup sejuk karena hujan turun dengan deras. Fika yang masih sibuk dengan novel barunya sepertinya enggan untuk berpindah ke topik lain.
Tangannya yang membuka lagi halaman selanjutnya beriringan dengan suara ketukan pintu membuatnya harus menghentikan kegiatannya lalu segera turun dari ranjang.
Tangan lentik itu pun membukakan pintu cepat. Saat itupula matanya terbelalak lebar, tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Kak Gino!" Jeritannya tidak mampu ia tahan saat melihat wajah tampan berseri itu lagi yang sudah lama tidak ia lihat. Rasa rindunya ia hamburkan dengan memeluk laki-laki tegap itu dengan erat. "Kaka kapan pulang?"
laki-laki tampan itu pun tersenyum hangat.
"Baru saja Fik, kamu sudah tidur?"
Fika menggeleng. "Belum kak,"
"Bagus deh, itu artinya kaka gak ganggu kamu."
"Enggaklah kak."
Sesaat mereka bercengkrama, terdengar suara pintu lain terbuka tepat di belakang mereka, membuat keduanya terdiam dan menoleh ke arah pintu yang memunculkan sosok datar lengkap dengan sorot mata elangnya.
"Brisik lo pada." Sontaknya ketus.
Gino yang melihatnya pun tersenyum lalu menghampirinya untuk menepuk pundak keras milik si elang.
"Santai bro. Gak seneng liat abang lo datang?"
Arga mendengus kemudian terkekeh. "Gue kira lo udah mati."
"Arga!" Selah Fika, yang langsung di respon oleh Gino. "Gakpapa Fik, udah biasa kok."
Arga hanya mendecak kesal, seolah kebenciannya tiba-tiba saja memuncak. Entah bagaimana ia melampiaskannya namun Arga langsung kembali masuk sambil membanting pintunya tanpa sepatah kata pun.
Fika benar-benar tidak mengerti apa yang ada difikiran laki-laki pemarah itu. Bahkan ia tidak peduli lagi dengan saudara kandungnya sendiri. Fika merasa tidak enak terhadap Gino yang terlihat sedih karena kehadirannya sudah tidak diinginkan terutama oleh adiknya. Fika hanya bisa berdiam diri sambil menatap prihatin wajah tampan itu.
"Maafin Arga yah kak," Ucap lembut Fika. Dan berhasil membuat senyum Gino kembali terurai.
"Kenapa kamu yang minta maaf?"
Fika diam sambil menunduk memikirkan apa yang baru saja ia katakan.
"Fik, yang harusnya minta maaf itu Arga. Bukan kamu."
Entahlah, gadis ini sepertinya ingin selalu mewakili setiap sikap baik Arga yang mungkin tidak akan pernah ia lakukan. Bahkan ada terbesit sedikit di hatinya untuk merubah sikap buruk Arga. Namun pertanyaannya, apa dia bisa?
"Kamu tenang saja. Kakak selalu memaafkan sikap Arga." Laki-laki itu meraih tangan Fika yang masih berkelit dengan tangannya sendiri. "Fik, tolong jaga Arga buat kakak yah."
Fika tercekat dan menatap mata Gino yang penuh dengan permohonan dan juga ketulusan. Ketulusan seorang kakak terhadap adiknya. Fika tidak mampu mengatakan apapun bahkan rasanya ia ingin menangis, bagaimana mungkin ia harus menerima amanah dari ibu dan kakaknya Arga. Sedangkan baginya, itu adalah hal yang tidak mungkin. Terlebih lagi, dia bukanlah siapa-siapa dirumah ini.
"Ta-tapi kak," Gadis itu tergagap dan menunduk pasrah. "Fika kayanya gakbisa."
Gino semakin mencengkram kuat lengan gadis itu. Tubuhnya pun semakin mendekat lalu tangannya meraih dagu kecil milik Fika dan membiarkan mata berkaca itu untuk menatapnya. "Kakak percaya kamu pasti bisa."
Benarkah? Tidak mungkin. Batin Fika
"Tapi, Fika gak janji kak."
Pria itu tersenyum setelah mendengar pernyataannya, baginya itu adalah jawaban yang cukup. Setidaknya gadis itu akan lebih berusaha. "Oke, semoga kamu berhasil yah," Gino melihat jam hitam di tangannya menyadari waktu sudah semakin larut. "Fik, ini sudah malam. Kamu sebaiknya tidur gih."
"Iya kak, tapi kakak mau menginap disini kan?"
Pria itu menghela nafasnya. "Enggak Fik, kakak sekarang mau balik lagi ke hotel."
__ADS_1
"Loh kenapa? Kan kakak baru aja pulang."
"Kakak masih ada keperluan. Selain itu, kamu tau sendiri Arga tidak akan membiarkan kakak tinggal disini walaupun hanya satu malam."
Fika menurunkan bahunya lesu lalu mengangguk mengerti. "Kakak hati-hati yah."
Gino kembali memberi senyumannya sebelum mengusap puncak kepala Fika dan kembali berbalik untuk menuruni anak tangga. Di ikuti Fika yang masuk kembali kedalam kamarnya. Pertanyaan demi pertanyaan yang saat ini memenuhi otaknya. Kenapa Arga begitu membenci kakaknya? Apa yang sudah kakaknya lakukan? Dan apa yang sudah terjadi pada mereka? Lalu kenapa kak Gino mempercayakan Arga padanya? Apa dia bisa? Apa Arga akan berubah?
"Ya Allah! Kepala Fika rasanya pingin pecah." Teriaknya frustasi sambil menarik kedua kepang panjangnya. "Udah ah, Fika mau tidur. Gakmau mikirin hal yang gakada ujungnya."
Sesaat Fika melangkah untuk kembali naik ke ranjangnya. Tiba-tiba suara ketukan pintu kembali terdengar. Hal Itu membuatnya harus kembali untuk membukakan pintu.
"Katanya kak Gino mau ke hotel. Kok balik lagi sih?" Gumamnya yang langsung segera membukakan pintu itu dengan semangat.
"Kak-"
Perkataannya terhenti. Nafasnya pun seketika tertahan, lidahnya terasa kelu. Bulu kuduknya pun ikut berdiri melihat sorot mata hitam pekat yang terlihat begitu meneror. Baju kaus hitam yang lengkap dengan celana jeansnya yang banyak robekan itu menjadi pelengkap kharismanya semakin keluar memancar.
Siapa lagi jika bukan si kepala batu Arga. Cowo itu mendekap kedua tangannya di dada. Gaya rambutnya yang berantakan itu membuat Fika harus diam sambil mengigit bawah bibirnya. Rasanya pandangannya tidak mampu ia alihkan lagi, meskipun sesekali Arga menguap dikarenakan mengantuk namun wajah berkelas dengan rahang keras itu tidak bisa menghilangkan seincipun ketampanannya.
"Ngapain lo liatin gue kaya gitu?"
Suara barathon Arga membuatnya tersontak kaget dan kembali dari dunia khayalan. Ia tidak menyangka Arga saat ini berada di depan kamarnya. Bahkan sejak pertama kali ia tinggal di sana Arga belum pernah masuk ataupun berdiri di depan pintu kamarnya. Kira-kira apa yang akan dia lakukan? Apa Fika harus mulai takut sekarang?
"A-arga sedang apa? Maksudnya Arga mau apa?" Ucap Fika gelagapan, ia tidak begitu sadar dengan yang baru saja ia katakan. Ia terlalu gugup. Semoga saja Arga tidak menyadari kegugupannya.
Di balik kegugupannya bersama keringat dingin yang mulai bermunculan. Justru Arga mulai bergerak dan melangkah maju lebih dekat. Tentu itu membuat jantung Fika squat jump tidak karuan. "Arga mau ngapain?" Pekiknya.
Tanpa jawaban, Arga masuk dan menendang pintu kamar Fika dengan satu kakinya hingga pintu itu tertutup rapat. Sesaat itu juga Fika mundur karena Arga tidak juga menghentikan langkahnya.
"Gue gakakan mengulang perkataan gue. Jadi lo harus denger baik-baik apa yang gue katakan."
Tatapan Arga begitu menyeramkan seolah ingin menelannya hidup-hidup. Fika penuh dengan ketakutan, hanya mampu mengangguk cepat untuk menurutinya. Fika menelan ludahnya berat sambil menatap kilatan cahaya di mata Arga.
"Pertama,"
Fika menelan ludah.
"Jangan pernah ikut campur urusan gue dan keluarga gue. Karena lo cuman numpang di sini."
Arga melangkah selangkah. "Kedua,"
Fika diam menyerjap dengan tangan menegang sambil mengepalkan tangannya kuat.
"Jangan pernah lo muncul di hadapan gue saat di sekolah."
"Ketiga,"
"Jangan sampai orang-orang tau kalo lo itu satu rumah sama gue. Atau lo akan abis!"
"Arga-" Cengkaraman Arga semakin kuat, membuat Fika harus menahan rasa sakit. Dan juga rasa takutnya yang kian memuncak mendesak airmata. Namun sepertinya Arga tidak peduli meskipun Fika harus menangis darah saat itu juga.
"Keempat,"
"Lo jangan sok peduli sama gue."
Arga semakin merapatkan posisi tubuhnya lalu mendekatkan wajahnya, hingga Fika harus menahan nafasnya sesaat. Menatap cowo itu ketakutan.
__ADS_1
"Dan yang terakhir,"
Arga meremas bahunya kuat semakin kuat.
"Jangan pernah lo panggil nama gue lagi pake mulut lo itu. Karena gue jijik! NGERTI LO!"
Arga menghempaskan kasar tubuh Fika hingga ia terdorong kuat dan membentur ranjang di belakangnya. Fika memekik sambil memeluk kedua bahunya yang dicekram oleh tangan berotot Arga. Sesak di hatinya sekaligus tusukan tajam yang keluar dari mulut Arga telah berhasil menjebol bendungan air matanya.
Arga masih berdiri di tempatnya, menatap kosong Fika yang sedang menangis ketakutan. Cowo itu terlihat santai sambil memasukkan satu tangannya kedalam saku depan. Tanpa terbesit sedikitpun rasa bersalah di hati maupun otaknya ia justru menyunggingkan sedikit bibirnya menyaksikan Fika yang kesakitan akibat ulahnya.
Tangisan Fika yang terisak mulai senjadi-jadi. Namun Arga masih tetap tidak peduli, ia justru kembali melangkah pergi keluar kamar. Meninggalkan rasa sakit yang membekas di hati gadis itu. Fika duduk di lantai dingin sambil menyender ke ranjangnya. Airmata yang terus mengalir, berusaha sekuat mungkin ia hapus. Tangannya mengepal untuk menahan rasa sakit di tubuh sekaligus hatinya.
"Maafin Fika.." Rintihnya. Tak kuasa menahan tangisan. Disanalah ia kembali mengingat sesosok yang begitu berarti dalam hidupnya. Seseorang yang selalu ada dan melindunginya setiap saat. Seseorang yang akan menghapus airmatanya dikala ia menangis. Dan seseorang yang menjadi tempatnya untuk bersandar dan kembali pulang. Airmata kesepian itu, telah kembali menetes saat ia bisa membayangkan wajah manis itu tersenyum padanya.
"Mah.."
"Fika kangen..."
Tangan putih milik gadis itu merongoh sebuah foto di sakunya. Seketika tangannya gemetar bersama dadanya yang terasa sesak melihat seseorang yang tercetak disana.
"Mah, kenapa hidup ini begitu menyakitkan? Mengapa semua orang membenci Fika? Apakah Fika tidak boleh merasakan sebuah kebahagiaan? Apakah Fika tidak berhak mendapatkan kasih sayang dari satu orang saja? Mengapa tidak ada satu pun yang menyayangi Fika? Apakah mamah juga membenci Fika?"
"Mah, maafin Fika yah, karena Fika masih menjadi anak yang cengeng."
"Maafin Fika karena Fika belum bisa menjadi diri Fika sendiri."
"Maafin Fika karena Fika belum bisa menghadapi ketakutan Fika sendiri."
"Dan maafin Fika, karena Fika belum bisa membahagiakan mamah."
Gadis itu mengangkat satu kelingkingnya.
"Fika janji, Fika akan berusaha lebih sabar, berani dan kuat seperti yang mamah mau. Fika gakakan menyerah dan Fika akan melawan semua ketakutan Fika."
Satu bulir airmatanya mulai jatuh kembali.
"Tapi..."
"Satu peemintaan Fika," Ia meremas kuat dadanya yang terasa sakit dan sesak dan kembali menatap foto tua di tangannya.
"Fika ingin bertemu dengan mamah, Sekali.. saja mah."
"Fika pingin ngerasain dipeluk mamah, dicium mamah, seperti tante Ratna yang menyayangi Arga. Bolehkan mah, kalo Fika minta cium mamah."
"Fika juga pingin liat wajah cantik mamah,"
"Mamah emangnya gak kangen sama Fika?"
Airmatanya semakin deras, suaranya gemetar. Ia merangkul kuat lututnya untuk memeluk dirinya sendiri. Matanya tertutup lembut, merasakan sebuah sentuhan serta pelukan hangat yang tidak pernah ia rasakan dari seorang ibu. Jantungnya yang berdegup kenjang perlahan menenang. Airmatanya berhenti menetes. Bibir merah itu berusaha untuk tersenyum walaupun perih, karena hanya dapat membayangkan seseorang yang sangat ia rindukan. Ia semakin menenggelamkan kepalanya ke tengah celah lututnya dan bergumam didalam hati.
"Mah.."
"Mamah dimana?"
"Fika kesepian..."
____
Ekhem.. cek, terima kasih sebelumnya bagi kalian yang sudah membaca ceritaku yang amburadul ini hehe.. mohon maaf yah kalo ada salah-salah kata atau cerita ini membosankan. 😊 Tapi aku cuman mau minta vott sama komentarnya yah. Ya seenggaknya bikin semangat😁jangan jadi silence reader yah. Tapi bagi kalian yang suka dengan cerita ini. Makaaassih banget loh.. 😍😘
__ADS_1
Okelah jangan terlalu banyak pidato, see you next chapter》