UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI

UPAYA MENYEMBUNYIKAN HATI
BAB 1


__ADS_3

Halo guys. Have a nice day! Nama gua Assyla Permata. Biasa dipanggil Syla atau Sisil. Ingat ya, Syla bukan Sila! Juga Sisil bukan Sisir!


Bisa dibilang gua itu cewek tercantik di sekolah. Haha halu! Tapi itu kenyataannya. Gak cuma cantik, gua juga lumayan pintar di kelas. Gua sekarang baru duduk di kelas 10 smk. Haha kebanyakan jantannya di smk daripada cewek.


Gua memilih jurusan elektro di sekolah. Alasan gua milih jurusan elektro adalah jika ada cowok yang nakal sama gua, bakal gua setrum dia. Serius! Asal lu ingatkan gua aja buat nyetrum cowok berengsek itu.


Ngomong-ngomong, gua udah punya pacar. Namanya Albert Alvaro, panggil aja Al. Menurut gua, Al itu sekilas mirip orang Jepang. Asli deh itu cowok cakep bener. Tapi lu jangan mau sama Al. Karena dia itu milik gua. Titik! Gua pacaran sama dia sejak smp kelas tujuh smp.


Gua tuh benci sama cewek yang sekelas sama gua pas di smp terutama sama cewek-cewek yang sekelas dengan Al. Mereka itu pada caper (cari perhatian) sama Al. Tapi beruntungnya Al tidak pernah merespon. Kalo sampe Al berani merespon mereka, gua bakal tonjok Al!


Awal mula gua jadian sama Al itu, pas wawancara masuk smp. Gua sama Al masuk berdua ke ruangan wawancara. Terus kita di tanya-tanya tuh kenapa gua sama Al milih smp ini. Pertama gua dulu yang jelasin alasan gua mau masuk smp ini.


Gua bilang, alasan gua masuk smp ini karena pilihan orangtua gua bukan kemauan sendiri. Terus, setelah gua jelasin panjang kali lebar, dilanjut Al yang jelasin kenapa dia mau masuk smp ini. Dia bilang alasan dia mau masuk sekolah ini karena ikut-ikutan temen sd-nya.


"Aneh!" celetuk gua sambil tersenyum kepada Al. Al membalas senyuman gua.


Setelah wawancara selesai, gua di suruh kenalan sama Al.


gua melirik ke arah Al, "Ini cowok kok mirip orang Jepang yak?" gumam gua dalam hati.


Al mengulurkan tangannya kepada gua, lalu gua balas uluran tangannya.


"Albert Alvaro." ujar Al sembari tersenyum.


"Assyila Permata." jawab gua membalas senyumannya.


Setelah kenalan, gua dan Al dipersilahkan keluar meninggalkan ruang wawancara. Gua pamit kepada si yang gua panggil reporter kemudian bergegas keluar ruangan. Dilanjut dengan Al yang keluar ruangan menyusul gua.


Al berjalan di belakang gua. Gua menoleh ke belakang sebentar, Al tersenyum. Kemudian gua balik tersenyum kepada dia sampai tidak memperhatikan jalan.


"AWAS!" suara Al sedikit berteriak.


Ketika gua berbalik, gua langsung kejedot pintu. Gua mengernyit sambil memegang dahi. Bukan karena sakit, tapi karena malu yang akhirnya gua memilih berpura-pura sakit akibat kejedot pintu. Al memegang kedua pundak gua.

__ADS_1


"Gapapa?" ucap Al yang kelihatan khawatir.


"Gapapa kok, hehe." jawab gua sambil tersenyum malu.


Di dalam hati gua menggerutu, "Gapapa-gapapa. Orang kejedot pintu lu bilang gapapa! Emang dasar cowok gak peka!" gerutu gua dalam hati.


Al melepaskan tangannya dari pundak gua dan membukakan pintu. Lalu gua dipersilahkan keluar duluan dengan keadaan tangan yang masih menempel di dahi.


Al menutup pintunya kembali kemudian dia pamit.


"Assyla, lu udah gapapa kan? Gua mau ke orangtua gua." Al yang memandang iba kepada gua.


"Panggil aja Syla! Iya Al, udah gapapa kok. Lu pergi aja." gua tersenyum kepadanya. Kemudian tangan Al menepuk pundak kiri gua lalu pergi.


Gua berjalan ke arah umi gua yang menunggu di depan gerbang sekolah. Gua sudah tidak lagi memegang dahi. Karena gua rasa dramanya cukup.


Ketika gua jalan, banyak cowok yang memperhatikan gua termasuk cowok yang jadi osis di sana. Gua berjalan tegak penuh percaya diri dan tidak menghiraukan orang yang memperhatikan. Gua tersenyum ke arah umi gua, begitu juga umi yang tersenyum ke arah gua.


"Wawancaranya udah?" ujar umi gua sembari tersenyum.


Setelah itu gua pulang dibonceng umi gua pakai motor. Sepanjang jalan gua merasa, kalau gua itu cewek paling bodoh karena kejedot pintu di depan Al. Mungkin dia bakal beranggapan kalo gua itu cewek konyol atau bisa jadi dia kepedean karena gua kejedot karena memandangi dia. Bodoh!


"Ini tes terakhir ya, Kak?" ucap umi gua.


"Hah?" gua sama sekali tidak mendengar apa yang umi gua katakan karena gua pakai helm.


"Ini tes terakhir?" ulang umi gua.


"Enggak laper." jawab gua sembarangan.


Karena yang gua dengar itu, "Kamu laper enggak kak?" bukan, "Ini tes terakhir kak?" makanya gua jawab tidak lapar, hehe.


Please, jangan panggil gua budi alias budek dikit. Semua orang kalau lagi pakai helm bakal mendadak budek. Percaya deh sama gua.

__ADS_1


Sesampainya di rumah. Gua masuk kamar untuk menyimpan tas dan berganti baju kemudian bergegas main ke teman gua yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah gua.


"Mau kemana, Kak?" tanya umi.


"Main." gua yang sembari berjalan.


Gua sering berpikir kenapa umi gua selalu manggil gua dengan sebutan kakak? Padahal kan, gua tidak punya adik ataupun kakak. Entahlah, gua bingung.


Gua terus berjalan menuju rumah teman gua, Fayza. Disaat gua hampir sampai rumahnya. Fayza terlihat keluar rumah lalu berbelok ke gang yang berada di samping rumahnya. Gua penasaran Fayza mau kemana. Akhirnya gua lari mengikuti Fayza.


"FAY, FAYZAAA!" teriak gua kepada Fayza. Fayza menoleh ke belakang.


"OYYY." teriak Fayza yang kemudian berhenti menunggu.


Gua terus berlari sampai akhirnya tiba di hadapan Fayza. Fayza kembali membalikkan badan lalu berjalan. Gua berusaha menyesuaikan langkah dengan langkah Fayza agar terlihat sama.


"Lu mau kemana, Fay?" gua yang kelelahan akibat lari mengejar Fayza.


"Gua mau ke warung," Fayza.


"Gua ikut!"


"Ayo."


Gua tidak tahu Fayza ke warung mau beli apaan. Tapi gua ngikutin dia ke warung. Karena niat awal gua kan emang mau main ke Fayza. Yakali gua main orangnya tidak ada di rumah.


Fayza melirik ke arah gua dan wajahnya terlihat kaget ketika melihat wajah gua. Gua terheran-heran kenapa dia memasang wajah kaget terhadap gua. Gua tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa, karena gua memang tidak tahu.


"Jidat lu kenapa benjol?" ujar Fayza sambil menatap ke arah benjol gua.


Gua langsung memegang jidat gua yang benjol. Sebelumnya gua tidak tahu kenapa jidat gua bisa benjol. Kemudian gua ingat kejadian tadi pagi kejedot pintu di ruang wawancara.


Gua cerita kejadian tadi pagi yang menyebabkan gua benjol. Disaat gua terus cerita, Fayza tertawa seolah jijik terhadap gua.

__ADS_1


"Kenapa lu ketawa?" gua yang berhenti bercerita karena Fayza memotong cerita gua dengan tertawa.


"Lu liat yang cakep dikit aja sampe gak fokus jalan. Ampe kejedot pula, haha." jawab Fayza yang terus tertawa. Gua tersenyum tanpa dosa.


__ADS_2